Wednesday, 10 May 2017

Melepas Dekap Mentari

Berawal dari langkah kaki yang selalu menuju ruang yang sama. Dalam balut hangat mentari yang mulai memunculkan sinarnya. Aku menyusuri lorong kampusku seperti layaknya seseorang berjalan dengan santai menikmati pagi. Kubuka engsel pintu  yang biasa kusentuh pertama kali sebelum orang lain bersua. Begitu pun dirinya. Lelaki dengan rambut tertata di atas telinga dan headset yang selalu menempel pada telinganya membuat langkahnya serasa kaku untuk menyapa kehidupan. Ya, Dia teman sekelasku yang tak sering aku sapa dengan jantung yang selalu berdegup.


Pagi itu sangat aneh, pertama kalinya aku melihat punggung yang tak asing bagiku. Membelakangi arahku dengan asik menikmati musik yang diputar dalam playlistnya ditemani nuansa mentari yang masih enggan membulatkan sinarnya. Hatiku bergumam. Pagi ini hangat memang. Namun sayang, ketika hangatnya mentari tak mampu menghangatkan dinginnya tatapan dia.

Langkah kakiku mengambil titik tolak pada bangku pertama dalam barisannya. Aku mencoba menyibukkan diri dengan novel yang kugenggam, berpura-pura tak sadar dengan kehadiran sosoknya. Aku berniat mendengarkan musik. Namun, sial. Headsetku tertinggal di kasur empuk dengan sprei berwarna cokelat kesukaanku. Ah, diam saja. Aku memutuskan untuk membaca dengan serius seakan tak mendengar suara nafas sehelapun.

Tiba saja “Rin, lagi apa?” suara itu seakan terkelabui dengan detak jantung yang kian berdegup. Aku tak ingin menoleh juga menjawab. Lalu, aku hanya memperlihatkan cover novel yang ku genggam tanpa sedetikpun aku melihat sinar bola matanya. “Oh, baca novel pagi-pagi gini.” dia menyahut dengan suara yang terdengar menjauh mengikuti langkahnya. Aku hanya membisu seakan-akan seperti robot yang bergerak akan intruksi.

“Ah sial, kenapa aku tidak bisa melontarkan sepatah kata pun.” hatiku menggumam. Tidak salah jika aku membisu karena perasaan kagumku padanya telah terpendam selama dua tahun kita bersama. Tapi, sayang aku selalu melewatkan kehadiran dirinya yang mulai mengikis dingin tatapannya. Tak pernah dia menyapaku seperti itu. Tak pernah dia melontarkan pertanyaan yang menurutku itu tidak terlalu penting untuk orang seperti dia menanyakannya. Namun, ah sudahlah. Pagi mulai menusuk dingin oleh sinarnya. Keadaan kelas pun sudah mulai ramai. Tak hanya aku dan dia. Namun, penyesalan itu tetap menghantui mengapa aku tak bisa berkata apapun.

Benar memang, ada kata yang sebaiknya tak dikatakan. Ada rasa yang sebaiknya tak diungkapkan. Dan karena itu kadang kita memilih mencintai seseorang dalam diam? Ya. Begitupun denganku. Aku memilih untuk mencintainya dalam diam. Aku yakin. Kelak, dia akan tau betapa kerasnya aku memperjuangkannya. Betapa dalamnya rasa yang aku simpan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan jika dirinya sudah tahu akan hal itu. Dia hanya pura-pura tidak tahu atau mungkin tidak ingin tahu sama sekali.

Terkadang mencintainya terlihat gila. Seperti kebodohan yang menerkam. Tak sedikit mereka yang menertawakanku. "Mengapa aku bisa mencintainya?" Hatiku sedikit berbisik mendengar pertanyaan itu. "Aku mencintai semua yang tak pernah mereka lihat darinya."

Namun, alangkah lucunya realita hidup ini. Dahulu, saat aku bertemu dengannya untuk pertama kali kita saling menyapa dalam senyum bahkan berbicara berjam-jam. Kita sangat dekat, aku tahu semua tentangnya dan dia tahu semua tentangku. Sekarang? Kami bertingkah selayaknya kami tidak pernah mengenal satu sama lain, bertingkah seperti aku tidak mengetahui semua tentangnya disaat aku benar-benar mengetahuinya. Bak orang asing yang terkemas dalam kenangan masing-masing.

Entah apa yang terbesit dalam pikirannya untuk tiba-tiba meninggalkanku dengan sikap dinginnya. Seakan-akan dia menghapusku secara perlahan dari kehidupannya. Seringkali aku ingin bertanya pada dirinya, “Apa arti hadirku selama ini? Bolehkah kita bertukar peran? Kau sebagai yang memperjuangkan dan aku sebagai yang menyia-nyiakan?” Agar dia tahu bagaimana rasanya bertahan lalu dikecewakan. Bagaimana rasanya memberi perhatian namun diabaikan. Dan aku tahu, bertahan untuk disia-siakan adalah hal yang paling bodoh.

Satu hal yang bisa aku renungkan. Terkadang kita disalahkan karena hanya terlalu sayang. Memang benar. Menunggu ada batasnya. Dan aku tahu kapan harus berhenti dan mulai berjalan lagi. Meninggalkan tempat dimana aku pernah berjuang sepenuh hati tetapi tidak dihargai. Melepaskan memang sulit. Namun, bertahan untuk orang yang hatinya sudah pergi entah kemana itu lebih menyakitkan.

Satu pesanku untuknya.

“Kau tak usah menjauh. Aku sudah tahu cara berjalan mundur.”

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Rin Rin sebagai pemenang.

Rin Rin Risnawati

Mahasiswa Politeknik Negeri Bandung kelahiran 1997 yang mungkin dan memang gemar mencari celah kehidupan yang menurut orang lain itu tidak penting. Salam kenal.

0 comments:

Post a Comment