Monday, 1 May 2017

Menahan Rinduku Padamu Seperti Menahan Kentut!

Sudah hari keberapa ini aku memikirkanmu, dalam hati berulang kali aku mengutuk diri kenapa bisa kenal kamu? Kenapa bisa sedekat ini denganmu? Dan kenapa ketika aku sudah menerimamu dalam kehidupanku kau tiba-tiba pergi. Bukan, bukan pergi untuk selamanya memang, kita masih berada dalam suatu daratan yang sama dan sangat dekat. Saking dekatnya kita tak pernah ketemu, aneh bukan? Hahaa... memang hubungan kita hanya sebatas percakapan di layar handphone



Asal kamu tahu, alasanku menerimamu adalah aku takut kehilangan sosokmu dalam hari-hariku. Tapi sayangnya ketika aku sudah menerima, kau tetap saja menghilang kemudian tiba-tiba muncul dan menghilang lagi. Sudah, aku sudah menyampaikan unek-unekku ke kamu. Sering malah, tolong kabari aku sekalipun kau tak memperhatikanku tak apa. Seketika kau menjawab, kamu ini aneh banget sih! Kan udah aku kabarin kalau aku lagi nonton pertandingan bola, main futsal,  ngobrol sama temen, banyak deh kesibukan ku!

Saya jadi heran sendiri dengan hati ini tiba-tiba marah, jengkel terus sabar dari semua tingkahmu ini. Bagiku ini beban pikiran yang menghantui hampir setiap hari. Mungkin seketika kau berkata, ngapain dijadiin beban sih? Anggap semuanya ringan baik-baik saja. Aku sudah berusaha semampuku untuk membuat bahagia, menyenangkan. Tapi lagi-lagi aku gagal, berulang kali aku menjadi murung dan membuang waktu dengan percuma karena pikiran gak karuan ini. 

Memang benar dari hati terkecilku, aku ingin kamu selalu ada atau setidaknya ketika hari libur atau minimal memberikan kabar sekata dua patah kata kapanpun. Terkadang aku butuh teman curhat ketika malam-malam hening, tak lain adalah kamu. Namun lagi-lagi aku hanya bisa menatap handphone dengan harapan kosong. Kau tak berusaha untuk hadir. Mungkin ini salahku juga yang terlalu lemah jadi wanita, dikit-dikit merengek dan mengeluh ga karuan. Menumpahkan semuanya kapadamu, hingga kamu sendiri bosan dan berkata “ngeluh terus ke aku, kapan ngajak bahagianya?” ya maaf aku hanya butuh seorang yang bisa menjadi sandaran penguat ketika pikiranku ga karuan, ketika semua terasa berat dijalankan. Akupun siap menjadi pendengarmu bila kau sedang butuh teman curhat, butuh ketenangan, butuh saran dan masukan. Aku ga akan menyalahkan kamu sebagai seorang pria yang memang seyogyanya menjadi pelindung seorang wanita. Kamu juga manusia, berhak atas keinginanmu sendiri. 

Aku ga bisa terus-terusan seperti ini, aku ingin menjadi wanita yang ceria bahagia aktif dan mempesona. Memang kebahagian bisa diciptakan sendiri bagaimanapun caranya, atau aku bisa saja menciptakan semua itu dengan suatu kepura-puraan, toh orang lain tetap menganggapku sebagai wanita yang memiliki sifat-sifat tersebut. Tapi bagiku semua itu percuma kalau hati terus-terusan memberontak akan dirimu. Dalam hidup ini hanya ada dua pilihan ya atau tidak. Lanjut atau tidak. Tak ada yang namanya boleh ya boleh tidak alias setengah-setengah. Berulang kali aku mencoba untuk menanyakan dalam diri, apakah kamu masih sanggup bersabar? Apakah kamu nggak bisa menerima penejelasannya lagi? Apakah kamu bisa berdiri sendiri tanpa dia disampingmu? Apakah kamu ga akan menyesal nanti? Intinya, apakah kamu masih ingin bersamanya atau tidak?

Kau tahu perasaan yang sedang giat-giatnyaa menyerangku disebut apa? Kalau kebanyakan penulis novel, para sastrawan bilang sih rindu namanya. Itulah sebabnya janda bahasa jawanya adalah rondo, karena ia ditinggal oleh suaminya untuk selamanya dan mungkin ia merasakan rindu. Tapi aku tak ingin menyebut rasaku padamu ini sebagai rindu. Lebih dari itu, rindu yang amat mendalam. 

Untuk apa ada hubungan seperti ini meskipun dalam kenyataannya seperti tak ada apa-apa, hampa. Mengerti maksudku? Analoginya kamu lagi mancing, aku sebagai ikannya. Ketika kail dari pancingan tersebut merobek  mulut si ikan maka tersangkutlah si ikan pada pancinganmu. Tapi sayangnya kamu melepas begitu saja pancingannya, tak mengulurnya ke atas. Si ikan mau beranjak dari tempat tapi merasa kesakitan karena luka, tetap ditempatpun ia tetap merasa sakit. 

Andai aku bisa melepas rindu ini seperti melepaskan kentut, mungkin kita sudah menjadi taik yang ngambang di kali. Kemudian hancur lebur ketika arus air kalinya sangat deras. Memang benar katamu, seyogyanya kita menahan kentut alias rindu ini terlebih dahulu. Kita selesaikan dulu urusan dan kewajiban masing-masing, walau sakit dan berat rasanya. Tak usah tergesah-gesah melepaskannya, aku yakin disuatu waktu dan tempat yang tepat nanti kita akan melepaskan kentut ini bersama-sama. Walaupun toh pada akhirnya kita tetap jadi taik, namun setidaknya ia tidak hancur terkena derasnya air kali karena sudah diikat dengan lem paling rekat seantero per-leman, yaitu lem pernikahan. 
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Nurul sebagai pemenang.

Nurul Fazriyah 
Asal Kota Santri, sedang memperjuangkan S.Far dan S.Ah denganmu. Terimakasih godok.id, telah membuka peluang nambah uang jajan anak kos ☺

0 comments:

Post a Comment