Sunday, 21 May 2017

Misteri Liontin Merah Rani

Hari ini nampak sejuk ketika sang surya matahari sudah tampak dari arah timur bumi, makhluk ciptaan-Nya telah bersyukur akan kehidupan selanjutnya. Aku sendiri sudah terbangun dari kasur, sesudah membereskan tempat tidur, aku menyempatkan diri untuk menghirup oksigen di luar kos. Namaku Rani Kartih asli orang Jawa Timur yang sedang merantau ke Jakarta untuk kuliah di Universitas Ilbon. Aku sendiri sudah 3 tahun berada di Jakarta.
pinterest
Semakin lama matahari naik ke atas langit dan sudah menunjukkan pukul 7 pagi, kebetulan juga kuliah pagi dimulai pukul 8 pagi, jadi masih ada waktu untuk bersiap-siap sebelum berangkat kuliah nanti. Tak membutuhkan waktu lama untuk bersiap berangkat kuliah pagi, aku segera mengunci kamar kos sebelum pergi. Selama di perjalanan, aku asyik mengutak-atik ponsel.
“Nisa, aku sudah otw ke kuliah.” jariku cukup lincah memencet tombol ponsel. Aku naik angkutan umum dan menyempatkan diri untuk membuka lembaran kertas tentang psikologi yang sudah numpuk di tangan. Lalu memeriksa kembali, takutnya ada yang tertinggal sebelum aku berangkat kuliah tadi. Angin cukup kencang menerpaku, hingga lembaran kertas jatuh tak beraturan hingga aku repot untuk merapihkan kembali.

“Kamu butuh ini?” tanya pemuda di hadapanku. Dengan kaget aku langsung mendongak kepalaku ke atas. “Iya?”
“Ini kertas kamu.” katanya. Aku tetap diam dan gak percaya melihat pemuda tampan yang berada di depanku, entah kenapa jantungku berdegup kencang melihatnya. Ya Tuhan, apa ini yang dinamakan pandangan pertama? kataku di dalam hati.
“Makasih sudah bantuin aku.” balasku agak terbata-bata.
“Kalau boleh tahu, siapa nama kamu?” tanyanya.
“Namaku Rani Kartih.”
“Namaku Rahka Gunawan.” kami berdua berjabat tangan, walau aku masih kaget sih.

Suka? Cinta? Hanya bisa dipendam dengan rasa senang. Aku gak tau kenapa hati ini berdegup kencang melihat dia. Rahka Gunawan. Seorang pria tampan dengan pakaian casual simple, bulu mata nampak sangat lentik, tangannya ditambah dengan jam perak. Sangat susah untuk memalingkan wajahku dihadapannya, setiap detik hatiku terasa dagdigdug.
“Kamu kuliah dimana, Rani?” tanya Rahka sambil melihatku.
“Universitas Ilbon.” jawabku.
“Wih, kita satu kuliah ternyata.” Jleb.
"Yakin?"
“Tapi aku jurusan psikologi, kamu apa?” aku bertanya duluan sebelum dia.

“Manajemen Keuangan.” balasnya. Tak lama kami berdua tiba di tempat kuliah.
“Aku aja yang  bayar, Ran?” kata Rahka sambil mengeluarkan uang.
“Makasih, Rahka.” sahutku sambil menunduk. Rahka langsung langsung lari ke dalam kampus.

Jam 16.10 WIB
Sekarang aku dan Annisa sedang berada di kantin kampus, membuat tugas dari dosen killer. Kami berdua tenggelam dalam kesibukkan masing-masing.
“Aku capek ngurusin beginian mulu.” nampaknya Nisa sudah nyerah.
“Dasar dosen gila, sableng.” responku cepat.
“Istirahat bentar lah.”
Saat aku tengah asyik mengobrol dengan Annisa, entah mataku jelalatan kali. Mataku menangkap sebuah objek nyata. Rahka jalan berdua dengan cewek yang tidak asing lagi di Universitas Ilbon: Novy.

Nisa masih tetap berceloteh ria, tapi aku hanya menanggapi dengan ‘iya’ atau anggukkan kepala, gimana  pengen konsen ngobrol ketika penampakan lebih seram dari hantu jatuh di depan mataku. Sedih? Sakit? Hanya bisa dirasakan di dalam lubuk hati yang paling dalam.
“Nisa, kamu kenal sama Rahka Gunawan?” tanyaku gugup. Annisa yang sebelumnya berceloteh ria, tiba-tiba diam dan menanggapinya dengan tampang musammnya. “Tau.”
“Dia udah…” kataku terpotong oleh Annisa.
“Kamu suka ya sama dia?”
Enggak kok.” balasku terbata-bata.

Tiba-tiba musuh terberat Annisa-Novy-datang dari belakangku, aku juga gak tau kenapa dia tau kalau aku dan Annisa ada disini.
Lo kenapa ada disini, Novy?” tanya Annisa yang mulai geram dengan kehadiran Novy.
Gue kesini mau ngundang lo untuk hadir di ulang tahun gue.” katanya sambil melempar kartu undangan dan pergi begitu saja.
“Gila tuh si Novy. Ngapain amat  kita datang.” emosi Annisa sudah mencapai puncak.
“Kita datang sama-sama deh.” Aku berusaha menenangkan Annisa.

Dirasa tugas psikolog sudah selesai, kami berdua menyudahkan dan kembali ke alam masing-masing. Annisa tinggal di asrama kampus, sedangkan aku di kos jauh dari kampus. Aku berjalan di koridor kampus menuju lobby utama kampus. Ketika aku asyik memainkan ponsel, hingga aku tidak sengaja menabrak seseorang cewek cantik, hingga ponselku terbelah dua-casing dan battere.
“Maaf.” kata cewek itu sambil memungut hpku yang terjatuh tadi.
Gak apa-apa, ini salahku.” balasku halus.
“Ini hp kamu, maaf ya.”
“Nama kamu siapa?” tanyaku penasaran.
“Van De Hors.”
“Orang Belanda ya?”.

Dia hanya membalasnya dengan senyum manis dan cewek itu pergi menjauhiku. Jam menunjukkan pukul 6 sore, tiba-tiba aku melihat sebuah kalung liontin merah berada di hadapanku. Aku ragu untuk mengambilnya, apalagi suasana koridor kampus mulai serem, aku putuskan untuk mengambilnya dan memakai di leher. Saat aku hendak naik motor. Nampak dari kejauhan, cewek yang barusan aku temui di koridor sudah tewas gantung diri di pohon beringin dekat parkiran mobil: Van De Hors. Buru-buru aku langsung pergi dari kampus menuju kost.

Apa yang aku lihat itu benar? Atau ini gara-gara kalung liontin merah ini? Tidak bisa dipungkiri lagi, sebelum aku menemukan kalung ini, semua keadaan normal, setelah aku menemukan kalung ini dan memakainya, semua berubah 180 derajat lebih seram dari biasanya. Malam ini aku ada acara untuk menghadiri acara ulang tahun Novy di ballroom Hotel Galaxy Diamond Jakarta. Aku melepaskan kalung ini dan aku berniat untuk memberikan kepada Novy. Aku tinggal sebentar untuk mandi, selesai mandi aku bersiap-siap dan sempat memesan taksi. Setelah taksi datang, aku segera naik dan meluncur di jalan raya.

Taksi melintasi jalan raya ibukota Jakarta, suasana hiasan lampu memenuhi jalan raya. Tapi semua berubah ketika macet berada di depan. Ada kecelakaan truk yang melindas habis taksi, taksi itu sudah tidak berbentuk lagi. Dari mataku, nampak cairan darah keluar dari dalam taksi. “Pak tolong cepet, saya gak kuat liatnya.” Sopir taksi itu langsung menambah kecepatannya ketika sudah melewati kemacetan tadi dan tiba di hotel Galaxy pukul 7 malam. Setelah aku bayar, aku langsung masuk kedalam dan segera menemui Novy.
“Selamat ulang tahun Novy, ini kadoku.” kataku.
“Eh lo Ran, gue kira lo gak bakal datang.” katanya. Aku hanya memasang raut wajah datar.
“Eh temen lo si Annisa mana? Gak bisa datang ya ke acara orang kaya.” sindir Novy.
“Mungkin dalam perjalanan. Oh iya, aku minum dulu ya.” buru-buru aku menjauhi Novy agar aku tidak bisa mendengar kata-katanya lagi.
“Nikmatin ya minuman dari New Zealandnya di sana.”

Aku langsung menuju tempat minuman selagi menunggu Annisa. Tapi ketika jam sudah menunjukkan jam 9 malam, Annisa belum tiba di ballroom hotel ini, lalu aku putuskan untuk kembali ke kost karena besok ada kuliah pagi. Aku berjalan menuju lobby hotel dan menaiki taksi. Sesampainya di kos, pandanganku masih menangkap kejadian kecelakaan yang mengerikan. Aku berusaha tidur dan lenyap dalam bunga tidur.

Aku berjalan riang di koridor kampus, entah kenapa hari ini sungguh menyenangkan hati.
“Rani...” Tiba-tiba Van berada di depanku dengan suara serak.
“Ya?”
“Kembalikan kalungku!” Van murka dan berubah dengan wajah seram hingga aku berlari secepat mungkin untuk menjauhi Van. Tapi tertahan oleh Rahka yang barusan keluar dari ruang rektor kampus dengan raut wajah sedih.
“Rahka kamu kenapa?” tanyaku.
“Kamu yang sabar ya, Rani.” Rahka berbicara cukup aneh.
“Ada apa?” tanyaku penasaran selagi takut gara-gara hantu Van mengejarku.
“Annisa meninggal dalam kecelakaan di jalan raya, tubuhnya sangat mengenaskan hingga hancur tak berbentuk, lalu Novy meninggal tertabrak kereta api tadi pagi.”
“Jangan-jangan yang kemarin aku lihat di jalan itu…” aku sempat berpikir dengan sedih. “Gak mungkin Annisa dan Novy meninggal.”

Aku berlari menjauhi Rahka dengan air mata yang sudah jatuh duluan. Aku berlari hingga tiba-tiba hantu Van ikut mengejarku dengan wajah seram dengan membawa teman-temannya, aku sempat takut dan terus berlari hingga tiba di jalan raya.
Braakk
“RANI!!!”
Aku sudah tidak kuat melihat aliran darah keluar dari kepalaku dan siap menuju kegelapan untuk bertemu dengan temanku-Annisa dan Novy. “Selamat tinggal dunia.”
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Ibnu sebagai pemenang.

Ibnu Feriawan Herlambang 
Saat ini saya sekolah di SMKN 3 Tangerang dikelas 11 jurusan TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan). Hobby saya membaca novel, travelling, membuat cerpen. Saya lebih suka menulis cerpen dengan tema horror, karena pengalaman saya sering diganggu oleh makhluk ghaib. Terima kasih.

0 comments:

Post a Comment