Friday, 12 May 2017

Momentum Kehidupan

Sekitar pukul 00:42 dan diluar sedang turun hujan. Aku sendiri di depan laptop my lovely teacher yang dia pinjamkan karena tugas yang tak bisa kuberitahukan yang penting tugasnya tidak menyebabkan efek global warming.

polyvore.com

Malam ini aku merenung, merenung tentang ketakutanku terhadap sesuatu yang belum terjadi namun telah tervisual secara manusiawi di dalam otakku yaitu kesadaran bahwa mimpi-mimpiku mulai memudar. Benar kata status teman facebook “mimpi akan ditabrak oleh kenyataan.” Payahnya itu terjadi dan saat ini aku merasakannya.

Aku adalah orang terelegan yang berasal dari planet mocha-mocha, zodiakku gemini dan lahir di tahun kerbau api (menurut ramalan china di tahun ayam api ini. Tunggu aku keliru, ayam api atau ayam air) yang jelas tahun ini adalah tahun hoki bagi kerbau api. Hoki, hoki nyatanya di beberapa bulan ini aku sudah gagal 2 kali dalam interview, oh interview betapa bodohnya aku jika dihadapan personalia (rasanya ingin kubakar semua sertifikat penghargaan rankingku).

Statusku saat ini masih dalam misi pencarian cogan limbung yang jatuh cinta padaku dengan apa adanya bukan ada apanya karena aku memang tidak memiliki apa-apa, untuk saat ini. Satu kutipan keren dari novelku yang gak pernah kelar-kelar “cinta dapat berwujud dalam bentuk yang berbeda, kau hanya perlu menerima saat cinta itu datang dan saat cinta itu pergi.” Romantis apa alay, sebenarnya romantis sama alay beda tipis.

Tidak ada di dunia yang aku takutkan selain takdir yang mempertemukanku dengan monster yang masih hidup di abad moderenisasi, globalisasi, substitusi, eliminasi, warung nasi dan segala sesuatu yang berakhiran kata si. Jantung akan berdebar, mataku akan panas dan aku akan mengalami kecemasan berkepanjangan jika bertemu dengannya. Tinggiku 164 cm dan berat badan… (maaf pernyataan itu masih tabu dalam batinku) , postur tubuhku yang… yang… “oh god aku tidak sanggup jika harus menulis tinggi besar sebagai ciri utamaku.” Bayangkan saja aku adalah Sopiala Cuba yang terjebak dalam tubuh Sopiala Ci Luk Ba.

Sebenarnya menyebutkan namanya saja sudah amat pantang bagiku karena entah kenapa sepertinya kami memiliki radar yang menyambung. Jika aku menyebutnya, monster itu pasti datang. Aku tidak tahu mengapa sekujur tubuhku bahkan seluruh waktuku dapat lunglai jika aku bertemu dengan mahluk purba paling mengerikan yang bisa hidup 10 tahun lamanya tanpa memakan sesuatu dan lebih menyebalkan lagi klan si kecoa ini merupakan spesies yang populasinya paling banyak ketiga didunia setelah rayap dan semut, aku benar-benar sudah mati setelah mendengar kabar mengerikan itu.

Sekarang pukul 01:18 di luar masih hujan tapi sepertinya sudah mulai gerimis. Kembali pada topik yang akan kubahas. Aku adalah seorang pemimpi lebih tepatnya lagi sang pemimpi biar agak keren. Salah satu kutipan film yang selalu membuatku semangat untuk terus bermimpi ialah “kalau bukan semangat dan mimpi yang kita punya, manusia seperti kita sudah mati.” Namun aku kembali ditabrak lagi oleh kutipan film yang lain yaitu “ada tiga jenis manusia pemimpi; pertama, manusia yang mengejar dan meraih mimpinya. Kedua, manusia yang melupakan dan membuang mimpinya. Ketiga, manusia yang tetap menyimpan mimpinya.” Jadi inget masa-masa semut merah merayap di dinding.

Aku tidak bersyukur dengan menganggap seluruh diriku telah mati, sebenarnya itu sebuah kiasan yang berarti “kurang piknik”. Mimpiku ialah mengadakan pentas teater, membuat film, menerbitkan novel, memiliki ruang rahasia tempat untuk berkarya. Tujuanku ialah pergi ke Jogjakarta untuk candi, Thailand untuk Festival Lady Boy dan Jepang untuk Naruto dan Detective Conan yang kisah hidupnya nggak pernah kelar-kelar sepertiku.

Pukul 01:48 hujannya sudah berhenti namun rasanya menjadi sedikit mencekam, suara-suara aneh dan kesunyian yang menusuk telinga lalu rasa kantuk yang mulai memburuku. Kuakhiri dengan satu kutipan lagi murni dariku “siapapun diri kamu jangan pernah takut untuk bermimpi besar.” Ops… satu kutipan terakhir “apapun yang terjadi jika itu adalah milikmu maka akan tetap jadi milikmu.” Salam Petir.

Tetap optimis, ambisius, idealis, realistis, obesisus, positif thinkingus. No pesimis. Lakukan yang terbaik untuk mimpimu, semangat.
-mungkin sudah selesai-
***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan Mei. Silahkan dibagikan jika menyukai Della sebagai pemenang.

Della Nurfadilah 
Atau nama pena Della Petir Radian, tinggal di Tasikmalaya yang senang menulis. Pokoknya aku masih muda. 

0 comments:

Post a Comment