Thursday, 11 May 2017

Mutiara Hati

Namaku Reza Setiawan, aku sekarang menjadi mahasiswa semester satu di perguruan tinggi baru. Aku menikmati setiap hariku disini, dan bersyukur bisa dapat beasiswa. Suatu ketika saat pembagian kelompok, aku bersama Yuni teman perempuan dari Sunda. Karena tuntutan tugas mau gak mau kita harus sering bekerja kelompok bersama, meskipun awalnya kita seperti air dan minyak pada akhirnya kita bisa akrab juga. Saat aku habis jatuh tersandung dari futsal, dia begitu perhatian padaku sampai-sampai membelikanku obat peradang nyeri.

docwriter.

"Makanya kamu itu hati-hati, udah tahu gak pake sepatu tetep aja main futsal". 
"Namanya hobi, mau situasi apapun ya tetap di lakukan". Setiap hari lukaku selalu di periksa dan omelannya selalu aku dengar, tapi aku cuma senyum doang. Mau gimana lagi ngelawan perempuan susah, entar omelannya makin banyak. Hari begitu cepat berlalu, kita semakin mengenal satu sama lain dan makanan favorit kita sama. Pernah kita masak nasi goreng sendiri di warung nasi goreng saat istirahat.

"Kalau dirumah aku sering buat nasgor loh, dan ayahku suka sama rasanya". 
"Aku jadi penasaran rasanya Yun, seenak apa sih?".
“Di tunggu ya”. Nampaknya dia begitu semangat memasaknya, memang aku penasaran dengan nasgor buatannya. Beberapa saat kemudian aku unjuk keahlian buat nasgor, nanti unjuk rasa mana yang lebih enak.
"Tukar dong Eja, biar tahu rasanya".
"Kalau gak enak ada hukumannya ya!".
“Ok, apa hukumannya?”.
“Mengabulkan satu permohonan, apa pun itu harus di kabulkan. Setuju ?”
“Ok”.

Kita mencoba nasgor satu sama lain, dan saling mengunggulkan nasgor masing-masing. Kemudian kita menyuruh orang-orang mencicipi nasgor kita, beberapa orang sudah menyoba nasgor kita.
“Yuni kamu tahukan siapa yang menang”
“Iya. Kamu mau apa?”
“Udah jangan cemberut gitu, nasgor kamu enak kok. Hanya saja kurang telor dan sedikit pedas itu saja kok yang lain udah ok”. Aku memberi dua jempol untuknya agar dia gak cemberut. Kita balik menuju kampus, dan permintaanku hanya segelas cappucino. Kemudian kita beli di coffee shop favoritku deket kampus kok, kita berjalan sambil minum capucino dan ngobrol. 
Banyak perubahan positif dariku setelah berteman dengannya, dan kenyamananku akan kehadirannya semakin besar. Tanpa kehawatiran aku dengan mudahnya menceritakan apa yang ada dalam hatiku, begitu juga dengan dirinya. Tapi ketika aku tak mau bercerita padanya, aku lebih memilih mendengarkan lagu favoritku.
"Eja, kamu dengerin lagu apa sampai-sampai mengabaikanku".
"Sini dengarkan lagunya, kamu pasti akan terpanah pada liriknya".
Yuni mulai menikmati music dan lirik lagunya, aku hanya tersenyum memandangi ekspresinya. Tanpa aku sadari kini dia yang mengabaikanku, tapi aku hiraukan lebih fokus memandanginya.

Sebelum UAS berlangsung, kelasku membuat acara makan bersama di asrama. Kita pilih taman buat masak, karena kita mau bakar ayam sama buat sate. Mumpung liburan sebelum UAS, maklumlah kampusku ini beda sama yang lain.
"Eja lagi ngapain?".
“Buat bara api, apa tugas kamu sudah selesai?”
“Udah dari tadi, mau di bantu biar ceper selesai”. Aku hanya mengganguk iya, aku ketawa kecil saat pipinya hitam terkena arang. Kemudan aku mengambilkan tisu untuknya.
"Ini buat ngilangin noda hitam di pipimu" ucapku sambil tersenyum, si Yuni cukup kesal karena aku menertawainya. Dengan cepat dia memalingkan wajahnya dariku, aku mencoba menahan tawaku tapi gak bisa. 

Kemudian kita semua bersamaan bakar ayam dan satenya, lucu juga loh kita bakar bersama kayak festifal bakar sate. Untung tadi aku buat tempatnya panjang dan muat untuk semuanya, beberapa saat kemudian semuanya sudah siap untuk di makan.
"Yuni ini buat kamu" aku memberi sate pesanan yang biasa dia minta, tanpa irisan bawang mentah di bumbunya.
"Terima kasih". Kita duduk bersandingan dan kita makan sambil ngobrol seperti biasanya, tiba-tiba si Kiky bikin gaduh.
"Weh, belum jadian aja udah sedeket ini. So sweet pake banget" ucap Kiky dengan keras.
"Reza cepet nyatakan perasaanmu" ucap si Barok. Semuanya pada jahilin aku sama Yuni. Padahal kita cuma temenan saja, tapi kalau memang jodoh ya gak papa hehehe.
"Kiky dengerin baik-baik ya, kita hanya teman." Jawab Yuni dengan menatap kesal Kiky, aku cuma ketawa kecil saja. Tapi si Yuni terus omelin si Kiky.
"Udah Yuni, Kiky jangan di omelin terus. Kasihan telinganya entar kebakar." 
"Iya benar kata Eja, maafin aku ya. Kamu kalau ngomel lama banget." 
“Kalau gitu lagi lihat aja entar, omelanku akan lebih lama”. Kita semua tertawa mendenga rancaman dari Yuni, dan melanjutkann makannya.

Akhirnya UAS tiba, semua pada sibuk baca buku dan latihan soal. Sesekali kita saling membantu untuk mahami materi. Hari-hari UAS terus di lewati, tak terasa UASnya sudah selesai. Sekarang tinggal berdoa dan merefresh otak dan tubuh saja.
"Eja, kamu mau pulang?" 
"Mungkin, tapi hanya seminggu liburnya. Tapi nanggung Yuni?". Jawabku sambil lihat kalender di ponselku.
"Kalau uang kamu cukup, ya pulang saja. Dan aku ada solusi tapi ini agak negatif"
"Apa? kasih tahu. Mungkin aku bisa pakai solusi dari kamu"
"Kamu bisa lebih lama pulangnya, dengan syarat kamu gak ikut pelajaran selama satu minggu" jawab Yuni dengan ragu-ragu.
"Absenku bagaimana? Kalau penjelasan dari dosen penting bagaimana?".
"Menurutku minggu pertama biasanya masih perkenalan, nanti aku izinkan kalau di absen. Udah jangan khawatir"
"Entar di pikir lagi".

Aku memikirkan solusi yang Yuni usulkan, mungkin pulang aja ya tapi memang benar yang dia katakan. Aku sudah konfirmasi sama bunda dan ayah, mereka setuju aku pulang meskipun absen satu minggu. Keputusanku lusa aku akan pulang, mengambil solusi dari Yuni. Tapi dalam hati kecilku ada sedikit kekhawatiran, sebab dalam dua minggu itu aku tak bisa bertatap muka langsung dengannya. Hari ini libur ngampus, agak gak enak karena biasanya ngampus ketemu Yuni. Aku hanya bisa chat dia yang lagi di asrama perempuan yang jauh di atas sana.

"Yuni besok aku pulang, selama aku belum kembali jangan bandel ya"
"Jaga diri ya teman, jangan lupa baca doa biar selamat". Akhirnya kita terus chat sampai siang, aku capek ngetik balasan dan kita mengakhiri chatnya. Siang berganti malam, dan kini pun malam berganti senja timur yang indah, aku bersiap untuk pergi ke bandara, mau pulang kampung ceritanya heheheSampai di bandara bunda dan ayah beserta saudaraku datang menyambut kehadiranku.
"Anak bunda sudah balik pulang, jadi jangan khawatir". Bunda memelukku untuk menghilangkan rasarindunya padaku, maklumlah satu-satunya anak bunda yang merantau ke pulau seberang untuk mencri ilmu. Kemudian aku memeluk adik kecilku yang aku rindukan ini, dia bisa menghiburku saat lagi suntuk ataupun kesal.

"Kak Eja, yang di sosmed kak perempuan cantik itu calon kakak baru aku kan?" Pertanyaan si polos kecil Ali ini membuat semuanya tertawa begitu juga denganku, aku membelai rambutnya sambil tertawa.
"Doakan saja, kalau berjodoh ya jadi kakaknya Ali yang baru" candaku pada Ali, dan dia begitu bahagia.
"Kakak Reza kuliah dulu lalu cari kerja baru nanti melamar kakak cantik, jadi Ali harus sabar nunggunya. Masih lama kakak Reza lulus kulianya" ucap ayah. Ali nampaknya mengerti maksud ayah. Kebersamaan kita berlanjut dalam perjalanan pulang. Bunda sudah masak makanan favoritku, jadi nafsu makanku lahap karena rindu sama masakannya bunda. Ayah menyuruhku makannya pelan-pelan saja, sedangkan bunda tersenyum gembira.

Selama aku pulang kampung Yuni lebih sering menghubungiku, kita lebih sering chat bersama, kalau baca sampai ketawa terbaha-bahak. Dan aku ketahuan sama ayah karena ketawaku terlalu keras, tapi aku pura-pura gak tahu dan perlahan menjauhi ayah. Perlahan ayah menghampiriku, mencoba berbicara pada ku.
"Eja, ayah mau tanya. Apa dia benar sudah menjadi mutiara hatimu?"
"Jawab saja, ayah gak akan marah!" Ayah menepuk tepuk pundakku, aku mulai menata hati dan bibirku untuk bicara sejujurnya pada ayah. Lagi pula ayah sudah bilang kalau bicara sejujurnya ayah gak akan marah.
"Mungkin dia sudah jadi mutiara hatiku ayah, tapi aku berkomitmen untuk menjadi temannya sampai akhir. Tapi jika Allah menghendaki dia sebagai jodoh Reza nanti, Reza gak akan menolak. Reza gak pernah memikirkan untuk menjadikan dia sebagai kekasih Reza".
"Tapi kamu ingin dia menjadi pelabuhan terakhir kamu kan nak?, tetap focus pada niat pertama yaitu mencari ilmu. Soal perempuan itu didoakan saja. Sesering solat istikhoroh, Eja  paham dengan itu?" Aku hanya mengganguk iya. Hatiku sedikit cemas dengan debaran jantung ini, aku mulai merindukannya. terasa ingin lebih cepet kembali kejawa untuk menemuinya. Ayah benar dia memang mutiara hatiku, baru satu minggu lebih di tinggal rindunya hampir sebanyak air di lautan.
Hatiku begitu bahagia karena bisa balik kejawa lebih cepat, Yuni gak tahu kalau hari ini aku kembali. Mungkin dia akan cukup terkejut dengan kedatanganku. Dari awal samapai akhir perjalanan aku hanya bisa tersenyum saja sebab rasa rindu akan segera terobati, sesak dalam dada akansegera hilang. Sampai di asrama yang teman-teman tanya hanyalah oleh-oleh dari rumah, kenapa gak tanya keadaanku agak kesal sih tapi tak apalah. Aku melepas rindu dengan berkumpul ngobrol dengan mereka, mereka udah kayak saudara sendiri. Sore hari aku ngampus, semua tanya oleh-oleh dan dugaan ku tentang Yuni benar, dia terkejut bahkan matanya sedikit berkaca-kaca.

"Oleh-oleh untukku mana?" Aku hanya tersenyum melihatnya dan rinduku terobati, dia juga tersenyum padaku dengan tatapan kerinduan.
"Aku udah bawah banyak untuk kamu, ini sesuai orderan". Oleh-oleh untuknya memang banyak, kita ketawa bersama karena dia nggak nyangka apa yang diinginkan ada semuanya. Ada kado dari Ali juga. Semester baru ini kita semakin akrab daripada sebelumnya, dan aku menyatakan keseriusanku padanya di cahaya jingga yang indah.

"Yuni, dengarkan apa yang aku katakan ini. Jika suatu saat kita berjodoh kamu mau jadi teman hidupku?". Yuni terdiam sejenak, dia menatap dengan dalam mataku. Sepertinya mencoba memastikan  apa bisa di pegang kat-kataku ini, nampak jelas dia menarik nafas dalam sebelum menjawab.
"Insyakallah iya Eja. Tapi tunggu dulu, apa kamu barusan melamarku?" ucap Yuni dengan tertawa. Aku pun ikut tertawa. Hari terus berjalan seperti biasanya, dan kita pun masih sama seperti dulu berteman dan saling komitmen. Menanti kebenaran takdir dari Allah, saling menjaga dan mendoakan. 
"Kita mengalir seperti air saja ya, kalau berharap lebih takutnya jatuh dan lukanya parah".
"Jangan cemas dengan perasaan itu Eja"kita tersenyum bersama.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Rissa sebagai pemenang.

RISSA LIZAH SUSANTI
Penulis amatir yang berusaha menerbitkan semua karyanya, Mahasiswa di salah satu perguruan di Jawa Timur. Lebih suka menulis cerita romance. Instagram @rissalizah24


0 comments:

Post a Comment