Friday, 12 May 2017

My Brondong

Aku baru saja selesai dari Ujian Akhir Semester yang sangat menegangkan, bagaimana tidak. Aku harus belajar semaksimal mungkin agar aku bisa mendapatkan nilai yang baik dan tidak mengulang saat kenaikan semester nanti. Hari ini aku datang terlambat saat ujian aplikom, tapi itu tidak menyurutkan harapan ku untuk tetap ujian. Aku sangat mengagumi Dosen mata kuliah aplikom, karena bagaimanapun beliau tetap sabar dalam mengajar, apalagi kalau mahasiswinya tidak bisa beliau selalu mengulang-ulang pelajaran yang belum kami pahami. Kadangkala aku juga tidak bisa, tapi aku malu untuk bertanya. Huuuft itulah aku, selalu ingin bisa tapi aku malu untuk bertanya. Payah kan?

pinterest

Hari ini aku sangat letih, sudah berapa film yang kutonton dan semua itu membuat kubaper (terbawa perasaan). Aku tidak tau, setiap kali aku menonton film percintaan aku selalu baper padahal filmnya biasa saja. Apa aku yang terlalu lebay? Oh tidak, mungkin aku juga salah satu korban sinetron picisan yang selalu menampilkan cerita anak alay. Sangat tidak etis ☹.

Ponselku baru saja bergetar ternyata aku mendapat pesan dari orang yang selama ini kularang untuk menghubungiku, baik itu BBM maupun SMS. Dia selalu saja setia mengirimiku pesan meskipun aku tidak pernah membalasnya, yah dialah si Brondong yang akhir-akhir ini dikabarkan menjadi “pacar” yang kusembunyikan. Aku sangat tidak menyangka bahwa aku bisa berpacaran dengannya, ya walaupun dalam satu alasan aku menerimanya karena rasa kasihan. Kedengarannya memang sedikit menyakitkan tapi aku tidak bisa memungkiri itu bahwa aku menerimanya karena rasa kasihan. Pagi ini dia mengirimiku pesan singkat yang tidak aku balas isinya “Say....”. Waow, kedengarannya memang sepele tapi siapa saja yang membaca pesan itu pasti akan beranggapan kalau aku mempunyai hubungan yang spesial dengannya. 

Tapi itulah kenyataannya bahwa dia adalah cowok termuda yang pernah menjadi pacarku, padahal aku baru saja dekat dengan beberapa cowok yang memang menjadi “TTM” (Teman Tapi Mesra) jadi aku tidak harus pusing dengan siapa aku bisa chattingan. Sangat menyenangkan bukan?☺. Berpacaran dengan brondong adalah hal yang sangat kuhindari dari dulu, betapa tidak? Aku paling tidak suka dengan cowok yang kekanak-kanakan apalagi selalu meminta izin setiap akan melakukan sesuatu. Apa menurutnya aku ini security yang setiap saat mendapat laporan yang akan dikerjakannya? Aku tidak habis pikir dengan semua itu. Pernah suatu kali aku baru saja keluar dari kelas setelah mata kuliah Hiperkes, tiba-tiba saja ponsel ku bergetar. Ternyata ada satu pesan masuk di BBM, pelan-pelan ku buka.

“Say, seperti biasa hari kamis aku ada Exschool volly jadi aku nggak bisa chatan sampai sore.” Ucapnya memberitahu, aku pikir itu cukup bagus agar dia tidak mengganggu waktu belajarku. Dengan malasnya akupun menjawab “Iya hati-hati”. Grrrrtt... ponselku bergetar lagi, dan lagi-lagi pesan darinya “Iya ☺” balasnya. Aku pikir hanya dengan keajaiban datang aku akan membalas pesannya.

Grrrtt.... ponsel ku bergetar, sudah bisa kutebak itu adalah pesan darinya. Dengan malas kuambil ponselku dari atas meja belajar “Say, lagi ngapain?”. Lagi-lagi itu adalah pesan pertama untuk mengawali obrolan dengannya, aku pikir apa hanya kata-kata itu saja yang terlintas di otaknya? Tidak adakah kata yang lebih penting dari sekedar menanyakan kegiatan ku sekarang? Oh no, aku bisa gila dengan semua ini. Dengan malas akupun membalas.

“Lagi duduk, kamu?” selalu kata itu yang aku balas untuk pertanyaan tidak penting itu.
“Aku lagi kumpul sama temen say, kamu udah makan?”
“Udah, kamu?” 
“Udah. Bentar lagi aku masuk kelas, udah dulu ya say.” 
“Iya.” Balas ku mengakhiri obrolan yang sangat garing. Bagaimana tidak, selalu seperti itu setiap kali aku chatan dengannya. Apa tidak ada kata lain yang lebih romantis dari sekedar menanyakan hal-hal yang kurang penting, atau karena dia baru pertama kali pacaran. Hellooo... di Indonesia Android sudah berkembang mbah Google juga sudah semakin canggih tapi masih saja ada orang yang pacaran dengan obrolan yang “Gaje (Nggak Jelas)”? sangat memalukan, dan yang lebih menyedihkan itu terjadi kepadaku :’(.

Aku baru saja keluar dari kampus setelah berjam-jam mendengar petuah dari dosen, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara yang tidak asing di telingaku.
Uuyyy...” ucapnya mengagetkanku.
Njiiir, ngagetin aja lu?” ucapku dengan nada suara sedikit meninggi.
“Hahaha, makanya nggak usah kebanyakan mikir. Muke lu dilipet-lipet kek perut mak gue aja (ampun mak)” .
Aku hanya memanyunkan bibirku seperti bimoli (bibir monyong lima centi), tanpa melihat kearahnya.
“Gimana ama si brondong?” tanyanya dengan senyum semanis mungkin agar aku mau menjawab pertanyaannya.
Ck, kayak maknye aje lu nanyain dia terus?” Ucapku dengan kesal.
“Jelaous ya? Kan itu dah topik yang paling menarik diantara topik-topik lainnya.”
“Sakit jiwa.” Jawabku dengan nada yang masih kesal. Saat bete seperti ini masih saja ada orang yang menanyakan brondong? Apa dia tidak mengerti perasaanku? Ya Tuhan, apa ini sebuah mimpi buruk yang menjadi nyata? Aku tidak bisa berpikir dengan semua keadaan  ini.

“Pengen putus dah gua.” ucapku spontan dan itu mengejutkan Maya sahabatku, yang selalu kepo dengan hubunganku selama ini.
“Putus?” Tanyanya dengan muka polos agak bego.
“Iya, kenapa? salah?” tanyaku meminta pendapat.
“Em, emang yakin lu? Ntar nyesel. Susah loh nyari anak yang mata minus, brondong lagi hahaha”
“Eh gua tuh udah minus keleuus, ntar kalo gua nikah ama dia gimana coba? Nggak memperbaiki keturunan you know?”
Lama tidak ada jawaban.
“Menurut lu gimana May?” tanyaku meminta kepastian.
“Entah, bingung dah gua. Ntar kalo lu putusin brondong susah nyari penggantinya. Lu kan kalo nyari cowo seleksinya kek mau masuk perguruan tinggi, harus memenuhi kriteria” Jawabnya sambil ketawa ngakak. Hampir saja ponsel yang ada di tanganku melayang ke wajahnya, dia hanya tertawa melihat sikapku seperti itu.

Maya Krismonica adalah sahabatku ketika aku masuk kuliah. Dia adalah sahabat yang selalu setia mendengar ceritaku dengan brondong (panggilan pacarku), menurutnya aku sangat konyol saat menceritakan bahwa aku berpacaran dengan seorang brondong. Mungkin di dalam benaknya bertanya-tanya kenapa aku bisa berpacaran dengan brondong, dan apakah berpacaran dengan brondong adalah pilihan terbaik yang kulakukan. Padahal tidak sedikit cowok yang dekat dengan ku, dan usia mereka juga lebih tua dari pada aku. Huuftt... sangat mengesankan, tapi inilah sebuah pilihan hidup kadang yang semestinya tidak harus dilakukan malah terjadi.

Aku adalah seorang mahasiswi yang sedang kuliah di salah satu kota istimewa di Indonesia, pasti anda tau kan kota apa?? Yogyakarta, yups bener banget. Disini aku merantau dari Purwokerto, Republik Ngapak yang sudah lama kutinggalkan karena pindah habitat ke Kalimantan. Pertemuanku dengan brondong sangat sederhana, ya dialah adik kelasku saat aku SMP. Kami bahkan tidak pernah saling melempar senyum ketika berpapasan apalagi sampai bertegur sapa. 

Berawal dari BBM (Black Berry Masanger) kami memulai hubungan, aku adalah tipe orang yang tidak mau ribet. Kalau memang mau pacaran ya pacaran aja nggak usah ngajak ketemuan, emang pacaran harus ketemuan? Nggak sewajib itu kan? Ucapku saat dilain kali dia membawa kami bertemu. Simple saja sih, kalau memang dia masih tetap ingin pacaran denganku ya ikuti peraturanku (Prinsip vroh, pacaran nggak harus ketemuan kan?).

Seminggu telah berlalu ketika aku berpacaran dengan brondong. Hari-hari kamipun dihiasi oleh bunga-bunga bermekaran layaknya iklan good day. Dua minggu berlalu hubungan kami masih dipertengahan musim semi, tiga minggu aku mulai merasa bosan dengan kelakuan dan sifatnya yang membuat kuserasa menjadi security. Pada minggu keempat aku mulai tidak tahan dengan hubungan yang kami jalani, aku memilih jalan yang memang itu adalah keputusan yang terbaik.

"Lu beneran mau end ama brondong?" Tanya Maya padaku.
"Iyalah, gua udah mikirin resikonya kok." Jawab ku serius seperti sedang diintrogasi polisi.
"Ya elah kalem aja kali bro nggak usah serius gitu, kek lagi mikirin negara aja lu." Ucap Maya yang membuatku memonyongkan bibir.
"Makanya Ney,  lu kalo mo cari pacar jangan kek mo bikin tahu bulat yang digoreng dadakan murah lagi hahaha."
"Paan sih lu, segala tahu bulat lagi. Nanti pas tahun baru gua putusin tuh brondong, gua bakalan jelasin semuanya." Seruku mantap.
"Oke, gua nggak ikut-ikutan loh. Selesaiin masalah lo dan sebagai sahabat gua tetep dukung lo apapun keputusan yang lu lakuin selama itu baik." Ucap Maya yang membuat aku semakin semangat dengan keputusan yang telah aku buat.

Malam tahun barupun tiba, dengan segenap keberanian aku ungkapkan semua keputusan yang telah aku buat, dimana malam itu menjadi saksi berakhirnya hubunganku dengan brondong. Malam itu adalah malam dimana aku menyakiti hati seseorang yang selama ini memberi banyak pelajaran berharga, bahwa aku sadar dalam setiap mengambil keputusan harus dipertimbangkan dan difikirkan terlebih dahulu. Sebelum akhirnya menyesal dan menyakiti hati orang lain.
***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan Mei. Silahkan dibagikan jika menyukai Lifa sebagai pemenang.

Lifa Riyanti
Lahir tgl 19 April, seorang mahasiswi jurusan kesehatan yang suka berimajinasi terlalu tinggi sampe kadang kebawa mimpi. Suka baca buku + komik, pecinta webtoon.

0 comments:

Post a Comment