Thursday, 25 May 2017

”Oh Tuhan Dimana Jodoh Ku”

Hal yang paling ditakutkan cucu Hawa saat sudah beranjak dewasa adalah siapa, di mana Adam pendamping hidupnya. Sangat lazim fikiran itu melanda kaum hawa yang memiliki perasaan halus dan mudah merasa takut, takut kehilangan, takut dikecewakan, takut di permainkan dan takut salah pilihan. Sebenarnya perempuan tidak usah takut, karena Tuhan dalam firman-Nya telah mengatakan, “bahwa Manusia itu diciptakan berpasang-pasangan”, lalu kenapa risau wahai kaum perempuan. Ibarat pepatah minang, “nan buto pa ambuih lasuang, nan lumpuah pa alau ayam, nan pakak palapeh badia dan indak dapek bagian basaba dahulu”, semua kita dapat bagian, namun menunggu sampai saatnya tiba, tentu jika normal yaa..

Seloroh kawan yang belum menikah sering kita dengar, misalnya saat naik kendaraan, awak alun baralek lai aa...jan kancang-kancang na..., memangnya orang yang sudah menikah itu banyak nyawanya!, tidak takut juga dia jatuh dan kehilangan orang yang dia cintai!. Atau kata-kata yang sering didengar saat sudah selesai satu tahap pendidikan, teman, keluarga, kenalan dan kadang orang yang hanya sekedar iseng mengatakan, wisuda baju merah lai..., bilo babini ko...., bilo balaki ko..., memangnya wisuda itu menjadi tolak ukur untuk mandapat calon istri dan suami...., nggak kan!. 

Sebagai pengamat perjodohan, telah banyak saya lihat hal-hal yang kadang berat menjadi ringan, kadang ringan menjadi berat dalam pertemuan perjodohan. Bahkan sampai dicampuri persoalan mistis sehingga suasananya menjadi ngeri-ngeri sedap. Ada yang sudah kesana-kemari mengejar dambaan hatinya, namun akhirnya jodohnya ada didekatnya, ada juga yang telah lama mengintai teman dekat, teman kerja dan teman dari temannya, namun kiranya jodohnya bukan itu. Ada juga yang sudah lama menjalin hubungan, tapi hanya gara-gara sepele, sang pujaan hati menikah dengan orang lain. Parahnya lagi, sudah ada ikatan dua keluarga, namun karena perbedaan warna baju, cara berkifir, pemahaman agama, janji naik kepelaminan gagal di tengah jalan. Lebih parah lagi entah apa sebabnya dia tidak tertarik sedikitpun untuk mencari dan berusaha mencari dimana jodohnya yang dijanjikan Tuhan Yang Maha Esa. Saya yakin yang baca tidak termasuk orang yang seperti itu....!

Namun ada juga yang menarik, hubungannya seperti timbul tenggelam, orang sekarang bilang putus nyambung, kenapa tidak, mesranya senin sampai kamis, jumat sampai minggu sudah bertengkar lagi. Tentu iya, karena Jumat sampai minggu si pangeran sudah merencana jalan dengan yang lain, senin kembali lagi sama yang pertama. tetapi akhinya naik ke pelaminan juga, ya katakanlah pertengkaran itu bagian dari mencari dan mencocokan dua hati dan kepala yang berbeda. Saya ungkap lagi, ada yang sejak kuliah sudah seperti suami-istri, setelah tamat kembali ke kampung masing-masing, hubungan dilanjutkan dan jarak jauh. Awalnya tentu tetap mesra, lama-kelamaan akan berubah menjadi saling curiga, saling tidak percaya dan akhirnya saling mencari penggantinya.  

Maka ilmu saya membisikan bahwa, saat hatimu sudah mantap untuk menuju pelaminan, pasti akan mudah saja jalannya, karena pernikahan bukan hanya sekedar kedewasaan, kemapanan, ketersediaan calon suami atau istri, dia suka, saya mau, tapi soal susu anak siapa yang akan membuatkan, pipis anak siapa yang mengabehkan, rekening listrik siapa yang membayar. Memang semua itu tidak terasa saat “berpacaran”, semua terasa enak, dunia milik berdua, hujan patuih ditampuah saja, asal bersama si dia. 

Berdasarkan hal diatas itulah, Tuhan memilih hamba-Nya yang sudah siap untuk menjalani itu semua. Maka sangat mungkin, jodohnya yang diimpikan belum bertemu juga sampai saat ini, karena anda, calon jodoh anda belum bisa menerima itu semua. Wajar saja, dia mengulur waktu, lari dari masalah, tidak mempertahankan hubungan, membuat banyak alasan, maka orang yang nekatlah, menyadari rumah tangga hanya dapat dijalankan dengan keyakinan, hilangkan prasangka tidak bisa memberi makan, takut tidak bisa makan, takut kehilangan, takut hidup miskin dan lain sebagainya. 

Jika itu semua sudah hilang dalam pikiran anda, saya yakin, jodoh anda akan segera datang, yakinkan diri anda bahwa Agama anda akan sempurna saat sudah menikah, Tuhan juga telah janjikan bagi hambanya yang melaksanakan sunnahnya dengan menikah, maka rezekinya sudah menjadi dua sumbernya, Tuhan akan berikan rezeki itu dari pintu yang tidak diduga-duga. 

Kok saya jadi ceramah ya, pasti sebagian berkata dalam hatinya, ceramah model itu sudah sering didengar dari ustad-ustad, namun tetap saja ada hal yang terasa namun sulit untuk di ungkapkan. Apa itu, pasti soal orangnya kan? Kadang kita suka, namun dia tidak, saat dia suka kita tidak. Sudahlah, toh teman saya dia menginginkan seorang gadis dambaannya sejak sekolah SMA dulu begitu inginnya, dengan berani dia sampaikan pada orang tuanya, namun sepertinya orang tuanya tidak mendukung, karena dia belum bekerja, dengan apa akan dia beri makan anak orang, akhirnya dia hapuskan bayang semua perempuan dalam ingatannya, namun karena dia normal, maka akhirnya bertemu juga jodohnya setelah beberapa tahun kemudian, dia dapat yang lebih manis dari gadis dahulu, bagi saya itu memberikan bukti, bahwa si gadis memang tidak jodohnya, karena Tuhan telah tentukan jodohnya yang lebih baik tentu baik baginya. 

Atau anda ingin contoh yang lebih ekstrim, orang yang tidak diizinkan orang tuanya namun tetap melangsungkan pernikahan yang pada akhirnya hidupnya tetap bahagia dan akhirnya kedua keluarga menerima dengan lapang dada dan jadilah dia keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Sekarang anda menunggu apa lagi? Tetapkan pilihan pada jalan Allah SWT, turuti Sunnah Nabi Muhammad, langkahkan kaki anda dengan mantap, rangkullah tangan jodoh anda, bagi yang sudah ada pintu KUA terbuka lebar menanti anda sebagai keluarga baru dan menjadi pasangan yang bahagia dunia akhirat. 
Singgalang, 03.05.2017
Pukul : 23.15
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Ilham sebagai pemenang.

Ilham Jn
Pengamat Perjodohan




1 comment:

  1. Tulisan macam ini sudah banyak Ilham Jn. Cukuplah, ga usah kau permalukan dirimu dengan kejomloanmu.

    ReplyDelete