Tuesday, 16 May 2017

Oops!

Saat matahari mulai condong ke barat. Kami – sepuluh kawanan, bersiap ria bergumul dengan hamparan laut. Dikawal oleh seorang guide, kami menaiki speed. Speed adalah salah satu jenis kapal nelayan. Saat ini guide bersama seorang pengemudi speed membawa kami berkeliling pulau. Mencari spot untuk snorkeling. 


Aku merasa cemas dengan kondisi speed ini. Kenapa? Lihat saja tampilannya – tua. Mesinnya saja sampai terkentut-kentut.

“Walau speed ini tua, untuk keamanannya nggak perlu dikhawatirkan.” Pengemudi speed tiba-tiba saja bersuara. Mungkin karena dia melihat kecemasan di mataku.

“Eh, iya.” Aku menjadi tidak enak hati.

Berlibur ke pulau telah menjadi agenda kami sebulan yang lalu. Berkat restu dari Tuhan, akhirnya kami bisa menemukan waktu yang pas, menghabiskan liburan kami bersama. Mencocokkan waktu itu tidaklah mudah, apalagi latar belakang pekerjaan kami berbeda. Ada yang berprofesi sebagai pekerja kantoran, guru, perawat, dan pengacara (red: pengangguran banyak acara) seperti aku ini.

Kami memakai peralatan selam yang diberikan guide. Ada baju pelampung, selang, kaki katak. Dan lainnya.

“Kenakan baju pelampung!” Perintah Dwiki sambil mengejek. Dia tahu betul bahwa aku tidak bisa berenang. “Jangan lupa pakai ini!” Perintahnya lagi menunjukkan selang berbentuk huruf ‘j’ dengan pelindung mulut di bagian ujung sebelah bawah.

“Sial, lu!” Aku menjitak kepalanya. 

“Aww.” Dwiki mengaduh. “Syukurin!” Aku tersenyum puas membalas ejekannya itu.

Sembilan kawanku sudah mengenakan peralatan snorkeling. Sedang, aku hanya mengenakan baju pelampung dan selang. Ya. Aku memang tidak bisa berenang. Jadinya kaki katak itu tak berpengaruh bagiku. Berbeda dengan teman-temanku yang berpenampilan lengkap. Dan kurasa sebentar lagi mereka akan menceburkan tubuhnya ke dalam lautan itu.

Tepat! Satu-persatu dari mereka melompat dari speed. Tinggal aku yang masih ragu-ragu. Aku takut melakukan snorkeling. Bagaimana jika nanti aku tenggelam? Ah! Pertanyaan itu masih saja menyiutkan nyaliku.

“Woi! Sampai kapan lu mau di atas? Sini turun!” Teriak Sarah. Aku menggeleng.

Hampir dua puluh menit aku menonton sembilan temanku yang bersenang-senang di bawah sana. Tinggal aku dan pengemudi speed yang masih betah duduk. Sedang guide kami, sudah menyelam lebih dulu.

“Bagaimana rasanya? Airnya dingin nggak?” Aku penasaran. Ada keinginan untuk turun, tapi di sisi lain aku masih takut.

“Fantastik. Nggak kok. Masih lebih dingin air es di rumah lu.” Candra menjawab sambil mengancungkan jempolnya. Mencoba membuatku iri.

Candra benar. Aku memang iri kepada mereka yang sedari kecil sudah lihai berenang. Lah, aku? Boro-boro berenang. Melihat lautan aja sudah ketakutan.

Awalnya aku menolak kalau liburan kami dilakukan di pulau. Tapi karena satu banding sembilan. Alhasil, suaraku kalah. Ya sudah, akhirnya aku terima saja.

“Ah, Dasar! Laki-laki pengecut, lu.” Tiba-tiba saja ototku menegang. Aku marah mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Melati.

Aku tidak terima ada wanita yang menjatuhkan harga diriku dengan ucapannya. 

Baiklah, aku akan buktikan bahwa aku bukan laki-laki pengecut.

“Awas aja! Kalau gue udah sampe situ. Gue jitak kepala lu, Mel.”

“Coba aja kalau berani. Palingan lu juga nggak bakalan bisa kemari. Hahaha. Liat air aja takut. Gimana mau berenang dan jitak kepala gue.” Seloroh Melati.

Wanita itu, benar-benar membuatku naik darah. Dengan sedikit pemanasan ala atlet.

Satu. Dua. Tiga. Aku menempelkan kedua kakiku di atas air. Perlahan turun hingga kumpulan air itu menenggelamkan badanku sampai daguku. Wah! Dalam juga ternyata.

“Hore.” Semua temanku bertepuk tangan, menyambutku dengan mengguyurkan air asin itu ke puncak kepalaku. Dwiki membetulkan posisiku di dalam air. Lagi-lagi Melati jahil. Dia malah mecipratkan air ke wajahku. Sontak aku kaget. Aku pun membalasnya. Berusaha mengejarnya dengan susah payah. 

Ah! berlari di dalam air itu sangat sulit. Tubuhku begitu sulit seimbang.

“Berhenti, Mel! Lu nggak kasian apa sama Anjas.” Sarah membelaku. Untung saja masih ada diantara mereka yang masih peduli dengan laki-laki teraniaya sepertiku.

“Nggak usah lebay, deh!” Sarah mencubit pipiku. Ah! Kupikir dia berada di pihakku, justru malah bersekongkol dengan Melati. Jadilah aku bulan-bulanan dua wanita kembar itu.

Aku meninggalkan mereka dan mulai berkecipak sendirian. Kemudian menggerakkan badan melintas di air menuju temanku yang lain, Audrey dan Lara.

Audrey dan Lara sangat lihai berenang ke sana ke mari. Sering kali menenggelamkan kepala mereka. Aku menunggu mereka mengangkat kepala. Tapi mereka belum juga muncul. Hemm. Pasti mereka sedang melihat terumbu karang yang indah. Akhirnya aku mengikuti. Namun hanya hitungan detik, aku sudah mengangkat kepalaku. Aku tidak kuat berlama-lama di sana, meski memakai selang, tetap saja nafasku sulit diatur. Alhasil aku banyak meminum air garam. 

Aku merasa sesak di dalam air. Sayang sekali aku tidak bisa menikmati keindahan biota laut di bawah sana.

Audrey dan Lara memegangku lalu membawaku ke tempat lain. “Ini terlalu jauh dari speed, Drey.” Ucapku gelisah. “Nggak apa-apa, ada kita di sini. Jadi lu nggak usah takut, Jas. Pokoknya sama kita, lu aman.” Tambah Lara.

Aman apaan! Mereka malah asyik-asyikan pacaran. Aku malah ditinggal sendirian. Tenggorokanku kering. Aku harus kembali ke speed. Dengan susah payah aku berjalan di tengah-tengah air. Astaga! aku kehilangan keseimbangan. Baju pelampungku serasa tidak menggembung. Aku meminta tolong kepada Audrey dan Lara, panik. Namun mereka tidak mendengarku. 

Ada Melati di depanku. Tak tanggung-tanggung, aku langsung menjambak rambutnya. “Aww!” Dia merutuki diriku. “Sialan, lu, Jas!”.

Lalu aku memegang pundaknya dan bersandar beberapa saat. “Berat, Jas!” Melati teriak, lalu mendorongku.

Oops! 

Tubuhku jatuh terlentang. Sial! Aku sulit bangkit. Kakiku mengembak-embak, berharap badanku ikut bergerak.

“Aduh!” Kali ini Dwiki yang mengaduh. 

Oops! Baru saja aku menendang bokong Dwiki. Dan rupanya tendanganku berhasil membawaku hampir mendekati speed. Ada Sarah di depan sana. Baiklah, tendangan berikutnya akan kutujukkan kepadanya. 

Berhasil!

Selangkah lagi aku mencapai speed. Aku harus mencapai Rey. Sama dengan korban sebelumnya, Rey pun kutendang bokongnya.

Hore!!! Aku mengangkat tanganku senang, serasa habis menang lotre. Aku telah mencapai tangga kayu yang tergantung pada speed. Akhirnya setelah menendang bokong teman-temanku, aku berhasil berada di atas speed.

Oops! Sorry, guys! Hahahaha.

Sembilan temanku mengepal tangannya dan menunjukkannya kepadaku. Aku tersenyum simpul penuh kemenangan.

Pengemudi speed memintaku memakai lagi baju pelampung yang baru saja ku copot. “Ada apa?” Tanyaku. “Speed ini akan tenggelam. Ada lobang di pojok kiri.” Jelas pengemudi sambil menujukkan lobang itu.

“Loh! Tapi kan tadi Bapak bilang, meski speed ini tua, keamanannya nggak perlu dikhawatirkan. Lah! Ini. Kenapa tiba-tiba jadi begini?”

“Saya juga tidak tahu kenapa bisa ada lobang.” Pengemudi itu langsung terjun ke bawah. Dia tidak perlu alat bantu berenang, karena warga pulau ini hampir semuanya penyelam hebat.

Aku celingak-celinguk, apa yang harus aku lakukan? Sebagian speed ini sudah dipenuhi air.  Sial! Aku harus menceburkan diri lagi. Sembilan temanku pasti sangat menantikanku. Aku bisa melihatnya. Mereka akan menerkamku.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Nur sebagai pemenang.

Nur Azizah

Menulis adalah kegiatan yang menjadi kegemaran wanita yang bernama Nur Azizah. “Menulis adalah obatnya stres”, ujar wanita kelahiran Bekasi, 8 September 1992. Sama halnya dengan kerja, menulis perlu memiliki waktu, dengan kata lain harus meluangkan seperkian waktu kita untuk menulis. Wanita yang kini berprofesi sebagai guru SD akan tetap menulis sampai akhir hayatnya.

0 comments:

Post a Comment