Tuesday, 2 May 2017

Pacaran itu Adalah Cinta Tanpa Klimaks

Cinta, ya siapa yang tidak pernah merasakan getarannya. Seonggok rasa yang tak berwujud dapat menghampiri siapa saja. Muda-mudi, tua-tua keladi, bahkan nenek-nenek yang mau mati pun tak luput dari sentuhannya.


Setiap orang tentu pernah jatuh cinta. Terutama muda-mudi yang tengah mencari jati diri. Mereka berlomba menunjukkan kepada dunia bahwa ialah yang terbaik. Bercakap dengan nada penuh modus untuk meluluhkan hati lawan jenis.

Bila telah jatuh cinta, yang biasanya tidak pernah pakai minyak wangi, kini berubah total menjadi kepribadian yang rapi dengan wangian yang dapat tercium dari 20 meter jauhnya. Berbicara dengan kelas terbaik untuk mempertontonkan kualitas diri kepada dia yang tengah didekati.

Bagi muda-mudi, katanya tujuannya hanya satu, untuk pacaran. Bahkan tak jarang mereka mengorbankan banyak hal hanya untuk mengincar status pacaran, tak peduli sekali pun rusak masa depan.

Namun, ada yang harus kita sadari bersama, bahwa pacaran itu adalah cinta tanpa klimaks. Katanya cinta, tapi kenikmatan dari cinta itu tidak dapat terpenuhi sebagaimana cita-cita manusia, yaitu kepuasan. 

Berbicara pacaran, tentu berbicara cinta setiap saat. Filosofinya, dengan cinta tentu mengharapkan kenikmatan sebagaimana yang acap kali dibicarakan. Tapi pacaran tidak melegalkan perbuatan yang diinginkan atas dasar kenikmatan cinta.

Kemerdekaan cinta

Setiap orang tentu mengharapkan dapat bercinta dengan merdeka. Dan kemerdekaan itu hanya dimiliki oleh mereka yang terikat dalam ikatan pernikahan. 

Sementara pacaran bukanlah ikatan yang direstui oleh segenap norma. Walau hukum positif kita melegalkan berhubungan intim tanpa ada ikatan pernikahan, tapi hukum moral masih membatasi. Orang pacaran bisa saja bercinta, tapi tetap tanpa klimaks. Mengapa demikian? Karena klimaks merupakan puncak kepuasan yang tak ternilai harganya.

Kepuasan yang diinginkan tentu kepuasan yang merdeka. Sementara orang pacaran bisa saja merasakan kepuasan dari hubungan intim yang dilakukannya, tapi tetap saja tanpa klimaks. Sebab kepuasan yang mereka dapatkan masih bercampur beban moral dan ketakutan. Setelah bercinta yang demikian ada rasa bersalah karena telah melanggar norma, ada pula rasa takut karena telah berbuat tidak senonoh tanpa ikatan yang direstui agama.

Namun demikian, tidak sedikit juga yang berani coba-coba bercinta dengan ikatan pacaran. Pada akhirnya, penyesalan selalu menghampiri mereka yang melakukan. 

Pada dasarnya, hanya perempuan malang yang mau menerima percintaan dari seorang laki-laki tanpa ikatan pernikahan. Sebab perempuan itu ibarat telur. Rapuh dan mudah pecah. Bila telah retak sekali, orang-orang akan meninggalkannya. Sepintar apapun menyembunyikan keretakannya, itu tidak akan bertahan lama, sebab lama-kelamaan akan tercium bau busuk yang akan mengubah segalanya. 

Sementara laki-laki, mereka tidak akan rusak oleh perempuan. Sampai kapan pun, berapa kalipun mereka bercinta, bentuknya akan tetap sama. Walau tanpa pengaman sekali pun, mereka akan tetap baik-baik saja. Hanya saja, mereka juga dihantui hukum moral dan agama yang melekat pada masyarakat dan individu. 

Bila masih berlaku filosofi sewaktu saya kecil, maka laki-laki yang merusak perempuan adalah manusia tak berada. Sewaktu saya SMA, kawan-kawan saya selalu bilang, kalau perempuan yang akan dipakai itu adalah mereka yang tidak mereka sentuh sebelum ikatan pernikahan.

Katanya, kalau ia benar cinta, maka akan ditunggu sampai ada ijap kabul yang melegalkan. Semoga, kaum perempuan yang merupakan jelmaan dari hawa dapat mencerdasi setiap situasi. Jangan mau menjadi kaum yang bodoh karena menjual barang berharga dengan harga yang murah.

Dan semoga, kita semua dapat merasakan kenikmatan cinta yang hakiki. Menikmati cinta tepat pada waktunya, yaitu setelah segenap norma merestui kita untuk melakukannya. Dan jangan kawatir, setiap kita ada waktunya, jadi bersabarlah.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Antoni sebagai pemenang.

Antoni Putra

Mahasiswa stres tingkat akhir, amatir dalam urusan asmara. 

0 comments:

Post a Comment