Saturday, 20 May 2017

Pelajaran yang Singkat

Hari ini aku berangkat pagi sekali dari rumah menuju sekolahku. Niatku untuk mengerjakan tugas-tugas di sekolah yang belum sempat terselesaikan. Aku berangkat dari rumah pagi sekali tak seperti biasanya. Terlihat juga matahari yang masih malu-malu menampakkan dirinya.

pinterest

Seperti biasa aku menggunakan angkutan umum menuju sekolahku yang letaknya 10 km dari rumahku. Kata mama sih gak papa sekolahnya jauh asalkan pendidikannya terjamin. Iya, walaupun begitu setidaknya namaku tidak menjadi terkenal di sekolah karena sejak TK sampai SMA aku di sekolahkan di tempat yang sama. Gak bosan? Kalau ada yang nanya itu, maka dia menjadi orang yang ke 1001 menanyakan hal yang sama.

Angkutan umum yang kunaiki ini begitu unik rasaku. Terlebih karena tingkah sang sopir itu. Terlihat kekesalan di raut wajah sang sopir, yang mungkin karena penumpangnya hanya 2 orang saja, yaitu aku dan seorang ibu di sebelahku dengan barang-barang bawaannya di sebuah plastik besar yang baru saja siap berbelanja dari sebuah pasar. Sang sopir yang entah merasa bosan atau kesal melihat penumpangnya yang tidak bertambah-tambah sedari tadi, ia pun memasang musik DJ yang kuatnya melebihi suara sound system sebuah pesta pernikahan di pinggir jalanan. Untung aku sudah terbiasa dengan keadaan ini, dan bahkan terkadang kakiku dan badanku itu ikut menari-nari mengikuti alunan DJnya. Namun hal ini tidak berlaku dengan seorang ibu di sebelahku yang sepertinya merupakan garis keturunan suku Batak dengan logat bahasanya yang kental itu memaki sang sopir dengan musik DJnya itu. Kejadian ini sukses membuatku menahan tawa melihat ekspresi mupeng sang sopir menghapi ibu di sebelahku ini.

Akhirnya, setibanya di depan gerbang sekolah, kulihat si dia yang juga bersamaan denganku saat itu. Iya, si dia yang kumaksud adalah si kutu air yang sukses membuat hari-hari seperti terbang di udara. Kusebut kutu air karena sifat dan kelakuannya itu kecil tetapi mampu memikat hatiku. Dia adalah kakak kelasku yang sudah hampir genap 8 bulan aku mengincarnya.

Aku yang saat itu baru saja turun dari angkutan yang memalukan ini dan dia baru saja turun dari sebuah motor dan lelaki dewasa yang mengantarnya. Aku tidak tahu siapa laki-laki dewasa itu, tapi yang jelas ia turun tepat di sebuah gerbang sekolah.  Kulihat dirinya yang masih berbincang-bincang dengan laki-laki itu. Akhirnya dengan kegrogian tingkat dewa aku memutuskan untuk melewati mereka. 

Seperti ada suatu makhluk halus yang baru saja kutembus rasanya saat melewatinya. Entah kenapa aku menjadi malu-malu tak karuan begitu. Setelah beberapa langkah aku melewati priaku itu, kudengar gerekkan kaki yang seirama dengan langkahku. Aku yang tidak percaya saat itu berusaha untuk tenang dan mendengarkan lagi suara gesekan kaki itu, dan ia suara itu benar-benar terdengar jelas di telingaku. Speechless kakiku sebelah kanan terasa berat untuk melangkah dan kaki kiri pun sudah mengeluarkan getaran hebat. Aku tidak kuat berjalan, dengan keadaan seperti ini. Mungkin dia sudah merasakan keanehan yang kubuat, karena sekarang aku menghentikan langkahku dan berusaha untuk mendiamkan getaran kakiku dan sekarang kaki kananku ikut bergetar hebat. Aku menggenggam kuat lututku untuk beberapa saat, dan kulihat sepatu milik priaku sedang berjalan karahku dan sekarang melewatiku. 

Aku sempat menutup mataku untuk menahan maluku dan tidak ingin melihat ekspresi wajahnya melihat keanehanku ini. Saat aku tahu ia telah jauh dariku akhirnya aku memberanikan diriku untuk membuka mataku untuk melihat karahnya. Sekejap kurasakan jelas aliran darahku berdesis dan mulutku sedikit menganga melihat kejadian yang baru saja saksikan di depanku. ternyata sosok pria yang mampu membuat nafas, jantung dan kakiku tidak dapat bekerja sempurna yang ternyata pria itu bukanlah priaku. Hanya seorang adik kelasku yang sedang berjalan menuju arah yang sama denganku.

Akhirnya dari kejadian pagi hari ini, aku mempelajari agar selalu memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum akhirnya menahan malu.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Putriyana sebagai pemenang.

Putriyana Yoseva Carolina 
Lahir di Duri, Pekanbaru 06 Januari 2000. Hobi menulis cerita dunia nyata atau dunia khayalan semenjak duduk di bangku SD. Sekarang duduk di bangku kelas 2 SMA, dan umur 17 tahun. Masih muda dan cantik. Selalu bercita-cita sebagai seorang penulis ternama di Dunia terkhususnya untuk menggantikan posisi Raditya Dika sebagai penulis ternama saat ini. Selalu menyukai makanan tempe goreng keriuk buatan mama tanpa penyedap rasa yang kental. 


0 comments:

Post a Comment