Friday, 26 May 2017

PENJAGA PINTU OTAK RERE


Rere, siswi kelas XI SMA, sangat membenci mata pelajaran Matematika. Dia telah menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk Matematika. Sekarang dia harus menutup pintu otaknya untuk Matematika. Otak mempunyai dua pintu yang masing-masingnya mempunyai penjaga. Penjaga pintu otak kanan bernama Dilan, sedangkan penjaga pintu otak  kiri bernama Dolan. Rere telah memberikan pesan kepada hatinya untuk memberitahu penjaga pintu otak agar mengunci pintu rapat-rapat jika sebuah materi yang bernama Matematika mencoba masuk ke otak. Hati pun telah menyampaikan pesannya kepada kedua penjaga pintu. Akan tetapi, salah satu penjaga pintu otak Rere tidak terima dengan perintah ini. Yaitu Dilan (penjaga pintu otak kanan).

pinterest
“Wahai Dilan dan Dolan, aku menerima wahyu dari Rere untuk memberi peringatan, bahwa Matematika adalah hal yang tidak boleh masuk ke otak Rere. Matematika akan membuat seluruh organ tubuh menjadi lemah dan terinfeksi. Maka dari itu, jangan sekali-kali membiarkan Matematika masuk ke dalam otak. Sungguh, ini sebuah peringatan yang besar” perintah Hati kepada Dilan dan Dolan.

“Wahai Hati, bolehkah aku bertanya? Apa penyebab Rere memberi peringatan seperti ini?” tanya Dilan pada Hati. “Bukankah Matematika adalah pelajaran yang berharga dan sangat penting? Lalu mengapa Rere tidak ingin mempelajarinya?”

“Wahai  Dilan, Matematika memang penting, contohnya Kabataku. Akan tetapi, jangan sampai Aljabar, Trigonometri, bahkan Limit masuk ke otak Rere. Kabataku sudah cukup menjadi pelajaran bagi Rere. Dan lagipula, hal ini hanya akan membuat Rere lemah tak  berdaya. Tidak hanya otak, seluruh penduduk tubuh pun akan terserang lemah mendadak. Sungguh, ini peringatan yang besar. Jangan sampai kalian mengabaikannya.” ujar Hati tegas seraya meninggalkan Dilan dan Dolan.

“Hei, Dilan. Sudahlah, tak perlu pusing atau sok bijak. Patuhi sajalah perintah dari Hati. Hati itu adalah pusat perintah, Hati lah yang menjadi panutan kita. Apapun yang dikatakan Hati, itu semua murni dari perintah Rere.” hasut Dolan pada Dilan.

“Bukannya begitu. Aku ini hanya menginginkan yang terbaik untuk Rere. Aku ingin otak yang kita jaga ini dimasuki oleh ilmu-ilmu yang berkualitas dan bermanfaat” bela Dilan.
“Ah sudahlah, aku sih tidak mempermasalahkannya. Yang kupikirkan hanya menjaga pintu otak kiri, tidur, dan makan dari nutrisi Omega 3. Sudah cukup bagiku. Hidupku di dalam tubuh manusia ini sudah sulit, jangan sampai pula semakin sulit hanya karena perkara Matematika” ucap Dolan ketus.

“Dasar kau Dolan. Itu artinya kau tidak bertanggung jawab atas tugasmu. Kau tidak menginginkan yang terbaik untuk manusia ini! Padahal kau sudah enak bisa hidup dan makan dari Rere. Kau orang yang tidak bersyukur!”
“Ini bukan perkara bersyukur atau tidak. Kaulah orang yang terlalu sibuk memikirkan manusia! Pikirkan saja tentang dirimu, nutrisi yang kau makan, dan sudah cukupkah waktu istirahatmu dalam menjaga otak sialan ini!”. Triiing triiing triiing………..

Bel berdering menandakan pelajaran akan dimulai. Bu Asri selaku guru Matematika memasuki kelas Rere dan akan memulai pelajaran.  Ketika bu Asri sedang menjelaskan materi di depan, Rere menutup telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar penjelasan Bu Asri. Tetapi tetap saja, suara Bu Asri yang besar tetap dapat menembus telinga Rere dan tertangkap disana. Dari telinga Rere, penjelasan tersebut dialirkan ke otak. Ketika penjelasan tersebut ingin memasuki otak, Dolan mengusirnya dengan sangat kasar. “Hei, Matematika!! Kau jangan coba-coba masuk ke otak Rere!! Kami tidak akan pernah membiarkan kau masuk ke otak Rere!! Pergi sana!!” sarkasme Dolan. “Hei, Dolan. Kau jangan kasar begitu kepada Matematika. Matematika ini bagus. Dia pantas masuk ke otak Rere, kita harus membiarkannya masuk.” Bela Dilan.

“Apaa?! Kau tidak dengar pesan dari Hati? Hati kan sudah bilang kalau kita tidak akan membiarkan Matematika masuk. Karena itu akan merusak otak Rere.” Teriak Dolan. “Bukan begitu, masalahnya sekarang kita harus berikan yang terbaik untuk otak Rere. Matematika ini kan pelajaran yang bagus, pasti akan sangat berguna bagi otak Rere.” “Heii,,kau jangan mengambil keputusanmu sendiri. Sekarang ini kita harus mengikuti perintah dari Hati. Pokoknya si Matematika ini tidak boleh masuk ke otak Rere. TITIK!!”

 “Sudahlah, kita biarkan saja dia masuk dulu”
“Eeiits, jangaan. Si Rere nanti pusing,”
“Itu kan belum tentu terjadi, makanya kita persilahkan masuk duluu”
“Tidak!!”
“Iyaa!!!”
“Tidak!”
“Iyaa!!!”
“Tidak!!”
“Iya!!!”

Dilan dan Dolan pun berdebat, mereka tidak sadar bahwa perdebatan itu sudah membuat kepala Rere pusing. Rere benar-benar pusing. Dia mendengar bisikan-bisikan aneh di otaknya. Dan penjelasan bu Asri di depan benar-benar tidak masuk di otaknya. Rere bingung.

Semakin lama kedua penjaga otak Rere berdebat, semakin besar pula rasa sakit yang dirasakan Rere. Rere bingung. Sakit yang dirasakannya luar biasa sakit, dia merasa otaknya mau pecah. Apa yang telah terjadi? Batin Rere. Tidak hanya otak, sekujur tubuh Rere pun tiba-tiba melemah. Ternyata perdebatan antara Dilan dan Dolan semakin sengit, sehingga menyebabkan penduduk tubuh lainnya ikut berkontraksi. Tak terkecuali Hati. Dengan langkah yang tergontai-gontai, Hati bergegas menuju ke otak untuk melerai mereka, sebelum Rere semakin menderita menahan sakit. Sesampainya disana, Hati langsung berteriak. “Cukuuup!!!! Wahai Dilan dan Dolan, kalian tidak kasihan melihat Rere??!!! Rere sekarang kesakitan karena kaliann!!!” teriak Hati. Dilan dan Dolan terkejut. Mereka sudah kelewatan. Tetapi semuanya terlambat. Seluruh penduduk tubuh sudah terserang lemah mendadak. Terdengar suara berdenyut dari Jantung.

“Tit..tit..tit..tit..tit..tit..tit..tit..tit..tit..tit..tit..tit” Bagai alarm pendeteksi api, suara denyutan itu menggema di seluruh Jagad Raya Tubuh. Dilan dan Dolan, Hati, Jantung, dan seluruh penduduk tubuh melemah secara mendadak.
DUBRAAAK!!!!!!!!!!!!!!!!
Rere pingsan.
THE END   
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Siti sebagai pemenang.


Siti Hardiana
Kelahiran Dumai, 10 November 1998. Biasa dipanggil Ana. Umurku 18 tahun. Aku suka menulis, berimajinasi, dan berekspresi dalam tulisan. Aku menulis kapan dan dimana saja (selagi mood nya bagus hehe). Salah satu cita-citaku adalah ingin menerbitkan buku sendiri. Karena buku merupakan karya yang bisa diwariskan dan tentunya akan selalu dikenang sampai kapanpun! Biarpun karya yang kubuat sejauh ini belum apa-apa. Dan aku juga sadar bahwa diri ini masih amatir dan masih perlu banyak belajar, lebih berani mengeksplor cerita, thinking out of box, dan terus menerus menulis. Yah semoga saja mimpiku ini bisa terwujud suatu saat nanti. Aku percaya bahwa semua orang bisa menulis. Tinggal diri kita sendiri yang harus menggali potensi dan karakter menulis masing-masing. Sekian dariku, semoga cerita ini dapat menghibur para readers! Ingat, jangan dibawa serius, karena ini hanya berdasarkan imajinasi penulis, selamat berimajinasi! Thank You! Wassalam. Salam berkarya!


0 comments:

Post a Comment