Monday, 15 May 2017

Penomena Kaum Pelangi

Pernah dengar nama Nattapong Chinsoponsap dan Kitiwhut Sawutdimilin? Kalian para pecinta kaum pelangi pasti udah nggak aneh lagi dengan nama di atas. Ya, karena Both (Nama panggilan Nattapong Chinsoponsap) dan Newyear (Nama panggilan Kitiwhut Sawutdimilin) terkenal sebagai ikon pasangan Gay thailand teromantis. Saking populernya, mereka sudah memiliki banyak fanbase di berberapa negara besar dunia, seperti : China, Thailand tentu saja, bahkan di Indonesia pun banyak orang yang mendukung hubungan mereka. 


Bukan hanya itu saja, pasangan penomenal itu pernah mendapatkan penghargaan dari Zocial Award sebagai pasangan Gay paling menginspirasi.

Selain Both dan Newyear, ada juga Baozi dan Hana. Popularistas mereka hampir sama dengan Both dan Newyear, namun bedanya Baozi dan Hana lebih terkenal di kalangan para Cosplayer. 

Tulisan yang saya buat kali ini sedikit-banyak ada hubungannya dengan kedua pasangan penomenal tersebut. 

Peristiwa ini terjadi beberapa hari yang lalu. Pagi itu, ketika saya membuka akun facebook tiba-tiba saja pemberitahuan jebol karena seseorang menguplod foto. Karena rasa penasaran saya yang tinggi, saya pun membuka halaman foto itu. Dilihat ... tak ada yang aneh, hanya foto sepasang pria yang tengah saling merangkul. “Untuk apa dihebohkan wajar saja kan sepasang sahabat berangkulan.” ujar saya acuh tak acuh.

Namun ketika saya menscrool kursor, barulah saya mengerti mengapa foto itu menjadi sorotan beberapa Netizen.

Cinta tak pernah memandang usia, jabatan atau pun gender.

Caption si pemilik akun di bawah foto. Tanpa banyak bicara saya segera membaca komentar-komentar para Netizen, dan entah mengapa rasanya saya ingin sekali marah. Tidak, bukan pada si pemilik foto, tapi pada para Netizen yang mengomentari foto itu dengan bahasa yang tidak layak, kata-kata kasar, makian, cacian bahkan nama hewan pun ikut andil mengambil bagian.

Seperti inikah moral bangsa kita? Bukankah indonesia adalah negara yang beragama? Tapi mengapa dalam berbicara bahasa-bahasa yang tidak layak itu masih diucapkan? Bahkan beberapa anak dibawah umur pun ikut-ikutan menghujat si pemilik foto, hanya ingin terlihat benar padahal belum tentu apa yang mereka lihat itu sesuai dengan kenyataan.

Miris, rasa itu menggerogoti sebagian isi dada. Saya tak bermaksud membela si pemilik foto, saya hanya merasa kasihan pada para penerus bangsa yang belum tahu apa-apa tapi sudah dicekoki dengan contoh-contoh makian yang tak layak diucapkan. Lantas, apa yang akan terjadi sepuluh, dua puluh, dan tiga puluh tahun mendatang bila si penerus bangsa kelak menjadi pemimpin negara? Entahlah, hal itu tak dapat saya bayangkan.

Kembali lagi pada cerita. Setelah memantapkan hati saya pun mencoba berkomunikasi dengan si pemilik foto.
Are you Ok? Ketikku pada dinding pesan, beberapa saat tak ada balasan. Namun 5 menit kemudian sebuah balasan menyapa dinding pesan.

KENAPA, BELUM PUAS? MAU NGEBULLY GUE JUGA? Balasnya dengan huruf kapital.

Nggak, kalo pun mau, udah dari dulu aku nulis di foto, dan wall facebookmu. Sabar ya, mungkin itu cobaan dari tuhan untuk mendekatkan umatnya.

Loe nggak jiji sama gue?

Kenapa harus? Apapun yang kamu lakukan itu hakmu, aku nggak punya hak dan kuasa untuk mencampuri kehidupan pribadimu. Hidupku saja belum tentu benar, untuk apa mengurusi hidup orang yang belum kukenal. Bukankah lebih baik memperbaiki diri, dari pada membuang-buang waktu mengurusi hidup orang lain?

Percakapan kami pun berlanjut, sampai akhirnya dia meminta nomer ponsel saya. Saya memberikannya dengan catatan jangan disebarkan pada siapa-siapa, dia pun menyetujui. Dan malamnya dia menelpon dan mencurahkan isi hatinya.

Saya pun bertanya banyak hal, dan tanpa beban dia menjawab semuannya. Dia bilang, awalnya dia tak bisa menerima bahwa ternyata dia memiliki kelainan – menyukai sesama jenis. Dia juga merasa menjadi orang yang paling salah pernah dilahirkan kedunia, tapi ... rasa itu menghilang ketika ia berdekatan dengan orang-orang yang memiliki kesamaan.

Berulang kali ia mencoba menjalin hubungan dengan wanita. “tapi hambar tak ada getaran yang di rasakan.” akunya blak-blakan. 

Setelah sekian lama bertahan, akhirnya rasa frustasi  membelenggu diri. Kebetulan, secara tidak segaja ia pun berkenalan dengan seorang teman pria yang memiliki kesamaan. Berawal dari coba-coba, akhirnya ia pun terperangkap dalam dunia pelangi. Untuk terlepas ... bukanlah hal yang mudah, berbagai cara telah ia lakukan, namun hasilnya sama sekali tak ada.

Di tambah lagi dengan lingkungan sosial yang mengucilkannya, niat awal ingin kembali ke jalan yang benar terhapus sudah karena makian-makian yang selalu dilontarkan para tetangga. 

Ibarat kata, seekor kucing mencuri ikan asin sekali, namun seisi rumah sudah mencapnya sebagai pencuri. Jadi berhenti pun percuma, bila orang-orang terus memandangnya orang jahat. 

Keesokaan harinya, ia memberi saya kabar katanya ada pasangan Gay yang tengah jadi sorotan para Netizen. Dia memberi tahu saya nama akun pasangan tersebut. 

Saya pun segera On, berniat mencari akun itu. dan yang membuat saya kaget adalah pujian-pujian yang dilontarkan para Netizen, yang beberapa hari lalu memaki-maki foto si ... panggil saja Fulan. 

Beberapa komentar berisi pujian dan harapan tertulis di wall dan komentar statusnya, seperti : 

Long last ya!

Pasangan serasi kedua-duanya tamvan.

Awet-awet yaw hubungan kalian.

Kalo nikah jangan lupa undang-undang ya.

Jujur saja saya merasa agak sedikit bingung, bukankah mereka tak menyukai dan tak menyetujui hubungan pelangi? Tapi ... mengapa kali ini mereka bersikap seolah-olah mereka tak pernah menyuarakan ketidaksetujuan akan hubungan terlarang itu? 

Belum sempat pertanyaan-pertanyaan itu terjawab, sebuah pesan menyadarkan saya dari lamunan. 

Karena mereka memiliki wajah yang tampan, dukungan pasti akan mereka dapatkan. Seperti inilah kehidupan kaum pelangi, gue yang memiliki wajah tak setampan aktor thailand akan terus menjadi sasaran. Tulis si Fulan dalam pesannya.

Baiklah, sekarang saya mengerti. Prinsip hidup para Netizen  memang tak pernah berubah, hanya memandang sesuatu dari cangkangnya saja. Hubungan terlarang pria pemilik rupa biasa mereka larang, namun lain halnnya bila pria yang menjalin hubungan itu tampan pasti akan diagung-agungkan dan beribu-ribu pujian pun akan disuarakan.

Dalam keseharian ... memakai rok mini dikira wanita jalanan matrealistis, bila memakai cadar dan kerudung syar’i dikira teroris. Sungguh, serbasalah hidup di negara ini. Lantas, harus seperti apa kami kaum wanita berpenampilan? Begini salah, begitu pun salah.

Dan untuk kalian para Netizen bertangan panas, bermulut pedas. Cobalah posisikan diri kalian pada situasi seseorang, sebelum menyerukan makian. 

Sebelum menulis komentar ada baiknya mempertimbangkan, apakah komentar yang hendak ditulis menyakitkan atau tidak? Bila sekiranya tidak silahkan suarakan dan bila sebaliknya, alagkah lebih baik dipendam. Tak masalah timbul jerawat, daripada dosa yang memberat. 

Mulai sekarang belajarlah bersikap adil! Bila ingin menentang-tentanglah, bila ingin mendukung-dukunglah. Jangan menentang namun tiba-tiba berubah haluan hanya karena penampilannya menawan. 

Dan satu lagi, bila kalian memang membencinya jangan sakiti dia dengan kata-kata, karena rasa sakit makian itu selalu mengendap di dada hingga akhirnya menimbulkan dendam yang membara.  Lebih baik kalian membunuhnya, sakit ... tapi rasanya hanya sekali dan tak menimbulkan dendam dihati.

Barang siapa yang kamu dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth (Homo atau Lesbian) maka bunuhlah si pelaku.
(H.R Khamsah kecuali Nasai)

Membunuh? Tidak, saya tidak berani melakukannya. Lebih baik membunuh bendera pelangi di seluruh dunia, dari pada harus membunuh manusia.

Saya tidak memiliki sedikipun rasa benci, saya bukanlah penggemar kaum pelangi, saya pun tak memiliki maksud membela kaumnya. Karena saya yakin setiap kelainan  yang diciptakan, pasti ada sisi baiknya dalam kehidupan. Contohnya pesta Gay yang diberitakan akhir-akhir ini di televisi, banyak warga yang merutuki dan membenci namun ada sisi baiknya pesta itu berlangsung, para polisi dapat membekuk para pelaku. Sedikit demi sedikit para kaum pelangi pun dapat diungkap.

Dan ... jangan sekali-kali memandang Gay sebagai gulma yang harus diberantas, karena Gay bukanlah gulma melainkan kelainan yang harus diluruskan. Ibarat kata kaum Gay adalah sosok manusia yang terperangkap dalam labirin, mereka ingin keluar namun tak menemukan jalan yang bisa membebaskan mereka dari dalam labirin itu. Berulang kali berputar-putar menelusuri seisi ruangan, namun masih tak membuahkan hasil, mereka tetap keluar di tempat yang sama.

Sebagai manusia beragama bantulah mereka menunjukan jalan keluar, bukan memojokan dan mengucilkannya.

Bila kita memang ingin memusnahkan penyimpangan-nya, lakukanlah secara perlahan. Jangan gunakan sikap dan perkataan kasar, mulailah dengan berteman, selidiki penyebab awal. Karena Gay tak muncul dari dalam diri sendiri sesuai keinginan dan tanpa sebab, bisa jadi Gay memasuki diri karena trauma, lingkungan sosial, gen, ataupun kurang kasih sayang.

Perlahan-lahan berikan mereka pengertian bahwa Gay itu bukanlah hal yang benar, gunakan cara yang halus bukan menuntut dengan kata-kata kasar. Ajak mereka mendekatkan diri pada tuhan. Jangan sekali-kali memusuhi, tapi rangkul mereka agar kembali ke jalan yang benar.

Di sini saya hanya menuangkan isi pikiran, perasaan dan penilaian saya mengenai moral bangsa. Dalam setiap penomena di dunia pasti ada pro dan kontra. Jangan memandang sesuatu dari satu sisi saja, kenali dan teliti sebelum melakukan penilaian!

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Hesti sebagai pemenang.

Hesti Nur Intansari

Hanyalah penulis amatir yang sangat menyukai segala hal berbau Korea. Mulai gemar menulis sejak berada di tingkat 2 Sekolah Menengah Pertama. 

0 comments:

Post a Comment