Wednesday, 3 May 2017

Perkara 3,14 dan Apa-apa Yang Tidak Bisa Dilindungi Sastra

Sebelum Novel ‘AL-KUDUS’ karya sahabat saya ini dicekal, diblack-list, dan ditarik dari peredaran, saya sarankan anda harus segera memilikinya!” Tulis salah seorang user instagram @anesprabu yang kemudian direpost oleh @asefsaefulanwar, sosok di balik kecanggihan buku Al-Kudus ini.


Sebelum kamu berpayah-payah membaca ulasan ini, ada baiknya jika kamu mengkosongkan pikiran dan letakan hatimu di tempat yang paling netral. Dimana di tempat tersebut, tak ada setan, tak ada malaikat, tak ada konflik bathin. Karena tulisannya baru sampai disini, tidak baik jika belum apa-apa, kiranya kita sudah enteng saja menarik kesimpulan. Hingga menemui akhir ulasan lantas kamu tetep aja nggak bisa netral dan manyun jelek, sungguh kamu berhak kesal ataupun setuju lalu cari tahu. 

Perihal Novel Al-Kudus, yang entah bagaimana buku itu luar biasa apik nan canggihnya. Dan (lancangnya) selepas membaca novel ini, efeknya cukup mengerikan. Seperti ada yang melakukan khotbah terus-terusan di kepala saya (walau mencoba membacanya sambil diiringi dangdut bergaris lembut, haha) fokus tak pernah menjadi dua. Buku ini memuat semesta, pemimpin, Mada dan Waha, sekaligus memanusiakan sifat manusia itu sendiri, mengajari yang baik dan melontarkan larangan-larangan yang manusiawi. Sesungguhnya dalam garis keras ‘experimental’,  ada usaha kira-kira yang betapa menghasilkan suatu yang sukses, sebuah pencapaian yang patut dipertanggung-jawabkan, tanpa menanggalkan keindahan sastra itu sendiri. Tidak bermaksud menghiperbolakan Asef Saeful Anwar ini, beliau memang sudah terbukti keren, tanpa dikarang-karang, tanpa di huru-hara.

Berawal dari suatu akun jual buku yang mengadakan give-away buku Al-Kudus yang memang lagi saya incar karena sedang on ‘dighibahi’ sana-sini. Selain karena Al-Kudus ini merupakan contoh untuk gaya bercerita baru pada event sayembara cerpen di suatu media massa, rasa penasaran saya juga dipercik oleh Mas Irfan Rizky (kerabat saya dalam komunitas Hello Authors) yang dengan enteng main kirim foto Al-Kudus dengan mencak-mencak, tersipu-sipu kagum, kiranya begitu.

Kampret! Novel bergaya Al-Kitab.” Ucap Mas Irfan waktu itu. Kemudian Mia (yang udah terlanjur kagum-pesimistis) menimpali. “Karena udah ada yang macam begini, bener-bener udah nggak ada yang baru lagi soal nulis ☹,” katanya. “Mungkin nanti aku mau bikin novel dengan gaya (yang kalo dibaca pembaca) harus dari kanan ke kiri) hahaha.” 

Kita yang bacanya cuma bisa haha-hehe, kirim emot ketawa, senyum, yang kita tahu itu adalah fake karena sebenarnya masing-masing dari kita merenung dan lecekin muka. Mempertanyakan pada karyanya masing-masing, sekiranya apa lagi yang ‘baru’ dan masih awam digarap? Menurut Eko Triono pun, konsep baru disini bukanlah yang benar-benar baru. Pembaruan yang diciptakan manusia adalah pembaruan dari yang sudah ada sebelumnya. Sedang Tuhan menciptakan hal yang disebut baru dari ketiadaan. 

Kembali pada acara give-away Novel Al-Kudus ini, saya dengan teman-teman sesama penulis ikut berisik di komentar. Ungkapan kami yang sungguh bikin geleng-geleng kepala dan betapa kekreatifan pun bisa menggila dan nggak cuma cinta. Disitu kami berusaha menjawab pertanyaan juri; jika kamu diberi mukjizat, apa yang akan kamu lakukan?  

Ada yang menjawab konsep Dualitas Tuhan surga neraka, berharap diberi pohon ajaib, ingin menjadi penyebar agama, dan punya kantong doraemon yang bisa mengabulkan mukjizat-mukjizat (amat terlalu) yang kami inginkan. Saya mikirnya betapa semua mukjizat menggila itu bisa diselesaikan dengan kantong doraemon. Mungkin bisa jadi lain kali mukjizat itu dimasukan pada kantung-kantung kecil dan diberikan cuma-cuma. Saya pribadi, ingin mukjizat yang bisa memanusiakan sifat Tuhan. 

“Bila saya diberi mukjizat, saya ingin memanusiakan sifat Tuhan yang lekat pada ‘ketidakterhinggaan’ itu. Yang agung, berjarak, dan di luar ambang batas logika manusia. Memasuki kode Etik Ketuhanan lantas kujejali kesemua sifat Tuhan ke dalam otakku yang sekian cc saja, tanpa sisa. Untuk apa? Terlepas dari persamaan polinomial dan koefisien bilangan bulat yang menjadi sebab-akibat kenapa 3,14 atau dua-dua per tujuh disebut tak terhingga, tak terhitung, transenden. Bilangan saja hampir menyerupai Tuhan itu sendiri. Lantas, kami ini harus sembah bilangan atau Tuhan?” Tulis akun saya pada kolom komentar.

Dan tentu saja, tulisan yang cukup sensitif ini mengundang sudut pandang yang beragam dari yang membacanya. Kita yang menulis, tentu hanya ingin menulis saja, karena tangan sudah gatal dan risih dengan suara-suara dalam kepala, ya tulis saja. Manusia diberi akal oleh Tuhan, dan lewat sastra, apa-apa yang tak mungkin, apa-apa yang tak pernah terpikirkan, mudah saja dibentuknya lewat kata-kata, bukan? Itu kenapa kata-kata bisa membunuh, bisa baperin kamu, dan bisa bikin (kita) marahan tiga hari tiga malam. 

Saya ingin bilang bahwa pernyataan saya dan perspektif pribadi saya soal Novel Al-Kudus ini adalah bukan untuk menyinggung pihak manapun, perspektif saya adalah personalnya saya. Saya berani bicara kalau kasus konsep Tuhan, agama, dan lain hal pada persoalan ini adalah sebatas pemikiran FIKSI pada FIKSI. Bukan pemikiran non-fiksi (nyata) lewat lintas imajinasi (khayalan). Salah kiranya jika kita lantas disebut-sebut sudah sampai tak menghormati Tuhan dalam dunia nyata. Tuhan disini adalah tuhan imajinasi, yang dibentuk oleh pemikiran kita. Tentu perkara iman tak usahlah ditanya dan dikoar-koarkan. Perihal iman, sudah menjadi urusan pribadi antara kita dan Tuhannya masing-masing. Satu kasus bisa jadi bermakna ganda jika dilontarkan pada masyrakat yang sifatnya umum.

Selang empat hari kemudian, pengumuman-pun berlangsung, saya memenangkan Buku Al-Kudus bertanda-tangan dan mendapat catatan juri yang cukup menyempurnakan argumen pribadi. Juri bilang bahwa komentar saya mampu mempresentasikan maksud ditulisnya Al-Kudus yang ingin mendekatkan pembacanya pada Tuhan masing-masing. Dalam novel itu, Tuhan terasa manusiawi, mengingat ia buah imajinasi pemikiran manusia, bukan keyakinan seperti Tuhan yang diyakini di alam nyata. Jawaban saya tidak berusaha memanusiakan sifat Tuhan sesungguhnya, namun semata ingin menunjukan keinginan yang dalam untuk dekat dengan Tuhan. Karena hasrat manusia yang ingin mengenal Tuhannya inilah yang menjadi akibat munculnya diksi ilmiah yang lebih banyak dari diksi agama itu sendiri.

Kita main jujur aja, deh. Bahasan juri sebenarnya nggak seserius waktu saya bikin kalimat soal mukjizat di atas. Saya sih, mikirnya, ngeselin juga, ya. Kenapa sih, dulu pas sekolah kita belajar mati-matian soal trigonometri, al-jabar, 3,14, dua-dua per tujuh. Buat saya sih, itu ngeselin. Berhubung saya suka mikir yang rada gimanaaa gitu, jadi itu mungkin sebentuk kecil yang kelihatan dari entah seberapa besar keanehan saya yang suka mikir iya-iya ini.

Kebetulan Mba Mia juga ikut menjawab kegundahan saya. “Aku setuju kalau maksud Tuhan disitu adalah Tuhan imajinasi. Kita, kan, diberi akal oleh Tuhan, nggak salahlah kalau kita bisa sekreatif itu. Jadi kalau Tuhan mau marah sama pemikiran kita pun, nggak bisa. Saya selalu merasa jadi anak kecil di hadapan Tuhan. Maka saya percaya, sekonyol, sebodoh, sekreatif apapun pendapat saya, Tuhan takkan marah.  Kalau tidak dibolehkan membuat asumsi (yang bodoh sekalipun) lantas apa gunanya akal? Jangan karena ini, kita menekan suara-suara yang ada di kepala kita.”

Dan ketika tak sengaja membaca salah satu repost-an instagram @asefsaefulanwar ini yang menyebutkan hal-hal serius dengan kata-kata ‘dicekal, di black-list,...’ itu sontak membuat saya (yang masih sepiyik) kaget. Kok, bisa? Dengan polosnya saya memberi komentar disana.

“@asefsaefulanwar bukannya semua bisa berlindung di bawah naungan sastra, ya? Eh, tapi, abaikanlah. Toh, saya udah punya bukunya...” komentar saya waktu itu. Aku sih orangnya heboh dan berisik jadi nggak perlu mikir buat mengcapture dan membagikannya di grup. Diiringi pertanyaan serupa ‘emang nggak bisa, ya, novel ini berlindung di bawah naungan sastra?’

Mas Aji (laki satunya yang serupa Mas Irfan) alhamdulilllah-nya menjawab dengan serius. “...kalau ada orang yang di tahan karena karya (bukan plagiat), itu menurut saya sebuah pencapaian abadi. Orang-orang hebat zaman ini, tidak disukai pada jamannya.”

Tak lama setelah itu, giliran komentar saya yang mendapat balasan yang (nggak kalah polos dan lugu dibanding pertanyaan saya) dari penulisnya.

Asef Saeful Anwar menjawab dalam akunnya. “@ka.aileen Setiap pembaca punya tafsirnya masing-masing, saya sekedar merepost. Yang jelas kita tidak bisa berlindung di bawah naungan sastra saat kehujanan hehe.”

Kebayang, nggak, muka serius saya yang lenyap. Disitu langsung nyadar kalau hidup nggak boleh serius-serius amat.

Jadi saya mengajak pembaca yang sudah bersusah payah membaca ulasan ini dengan ‘TIDAK SERIUS-SERIUS AMAT’oke.

Begitulah, kadang untuk menunjukan makna, entah karena terlalu canggihnya suatu yang dipaparkan, mampu melahirkan banyak sudut pandang yang kawin sama peperangan bathin. Pertikaian pun tak luput pada perihal hal-hal yang sudah lelah saya ketik subuh-subuh begini. Sekarang Bogor masih hujan aja, dari subuh, bikin sinyal hilang asal nggak kehilangan kamu. Suka kamu yang begitu aja walau kamu suka yang banyak macem, hehehe. 

Kesimpulan; Novel bergaya Al-Kitab ini wajib ada di tanganmu, baik itu penulis, pembaca, atau yang #hampirjadipenulis kayak saya ini. Di tanganmu penggiat sastra berat, sastra serius, sastra nggak serius, sastra yang wajib lucu, sastra yang akhirnya jayus, coba baca, deh. Syukur-syukur kamu setuju dengan pendapat saya atau menolaknya ogah-ogahan dengan muka yang dilecekin juga nggak apa-apa. Novel yang mengadopsi kebaruan dari experimental bentuk, dengan isinya yang sungguh kampret, dan penulisnya yang beraliran dangdut bergaris lembut ini, memang harus dimiliki. Nggak ngiklan, beneran! Tapi emang saya suka heboh sendiri soal buku-buku kece, cowok-cowok kece, sama makanan aneh tapi enak.
Ulangin biar greget. Bogor masih ajaaa hujan dan fakta bahwa kita tidak bisa berlindung di bawah naungan sastra—kalau kehujanan, saya amini dengan (setengah nggak ikhlas), kalau itu benar adanya.  

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Ka. Aileen sebagai pemenang.

Ka. Aileen

Mahasiswi Akuntansi yang suka nyeni. Suka mikir yang kepalang absurd, yang iya-iya, dan rada gimanaaa gitu. Penggemar sikat gigi yang punya obsesi parah sama telur ungu. Googling -> Ka. Aileen.

0 comments:

Post a Comment