Thursday, 18 May 2017

Proposal : I Love You

Proposal, ketika kita mendengar kata tersebut terbayanglah dalam benak kita sepasang manusia keturunan Adam dan Hawa yang saling jatuh cinta, lalu sang lelaki berlutut untuk menunjukkan sebuah cincin yang disimpannya.  “Will you marry me?” dengan wajah berharap sang lelaki menunggu jawaban, dengan menangis terharu sang wanita dengan terisak – isak berkata “Yes, I will”, kemudian keluarlah teman – teman dari mereka berdua dan sanak keluarga untuk merayakan diterima sang lelaki menjadi suami masa depan sang wanita yang beruntung tersebut.


Tetapi di sini bukan itulah yang akan kuceritakan mengenai proposal, jenis proposal ini berbeda sedikit mempunyai kelainan tersendiri dan keistimewaannya juga. Cerita ini berawal ketika aku masuk SMA pada semester awal.

Terkadang kita ngerasa mengeluh akan suatu pekerjaan, salah satunya ya “PROPOSAL”, awal mula pengenalan dengan si dia (proposal) ini ketika aku duduk di bangku SMA, dimana aku pertama kali menjabat sebagai ketua OSIS, walaupun sebenarnya aku sering masuk organisasi, tapi untuk mengenal si dia ini baru sekitar 2 tahun belakangan.

Awal mula ceritanya ketika aku bersekolah di SMA swasta yang baru saja membuka pendaftaran dan aku adalah angkatan pertama di SMA swasta tersebut. 1 bulan aku bersekolah secara sepihak aku ditunjuk sebagai ketua OSIS dengan alasan pada saat MOS cara penyampaian materi presentasi itu menarik. Tidak habis pikir mengapa alasan itu menjadi patokan utama, walaupun aku memang ada niatan untuk menjadi ketua OSIS disana. Semua berjalan baik dan sampai saatnya aku mengetahui bahwa sekretarisku adalah seorang “cowok” dengan gelar nakal ditambah dengan kepala sekolah mendesak meminta program kerja. Disana aku langsung mengadakan rapat dadakan dan membahas semua yang dicita- citakan, memang terkesan memaksa tapi organisasi itu diminta dan dipaksa untuk ada. Kami pun menyusun apa saja yang diperlukan dengan pengalaman yang seadanya, sekretarisku bahkan bingung bagaimana membuat program kerja ini. Alhasil aku paksa dia untuk mencari contoh program kerja dan proposal ke semua guru yang ada. Nekadnya iya membuka seluruh file di laptop maupun komputer guru disana, bagaimana tidak dibongkar semua guru disana jika ditanya ada atau tidak jawabannya kayak nunggu keputusan dari gebetan “LAMA”, dengan perizinan dan modal nekad dibongkar semua file tersebut.

Dengan perjuangan itu kami mendapatkan file contoh proposal dan program kerja, berminggu – minggu aku memaksa sekretaris OSIS mengerjakan program kerja, dan dia langsung memasang muka memelas dan menginginkan belas kasihan seorang ketua OSIS ini. Tapi sayangnya tak bisa aku terus menagih program kerja hampir bisa 3 kali dalam sehari, jadi bisa dibilang seperti minum obat wajib saking kesalnya menunggu program kerja yang diketik tanpa diketahui pasti sudah berapa jauh pengetikannya. 

Aku pun menjadi serba salah setiap hari kepala sekolah menghantui dengan tagihan program kerja. 1 bulan terlewati tanpa kepastian dari pengetikan program kerja. Tanpa adanya program kerja aku yang masih tergolong awam sebagai ketua tidak berani mengambil resiko untuk melaksanakan kegiatan organisasi.

Dengan mantap dan menahan rasa ingin mencakar wajah sekretaris itu, aku pun mengambil USB dan meminta file program kerja segera pindahkan kedalam benda mungil itu. Dengan gerakan yang lambat ia memindahkan filenya. Dengan kesal aku menjelaskan bahwa program kerja ini akan aku kerjakan dan cukup aku malas melihat wajahnya yang memelas. Dalam waktu 2 minggu ku kerjakan program kerja tersebut dengan kesal ditambah dengan corat coret manis dari kepala sekolah dan kelabilan beliau. Akhirnya terselesaikan sudah program kerja itu.

Tak berhenti program kerja saja tetapi suatu hari OSIS akan mengadakan sebuah acara dan membutuhkan biaya dari sekolah, lagi dan lagi sekretarisku mengerjakan dengan setengah hati, embel – embel dia merasa tak pantas menjadi sekretaris karena ia seorang “cowok”, kembali lagi aku yang harus mengerjakan proposal. Sampai aku mengancam sekali lagi melakukan hal yang sama aku nggak akan segan – segan melayangkan tangan ini ke pipi dia. Mungkin karena ia capek setiap hari ku menagih pekerjaannya akhirnya dia sadar diri dan mencoba mengerjakan dengan sepenuh hati, dibalik kata “sepenuh hati” tersebut ada sebuah rasa yang ia pendam sebenarnya.

Waktu berlalu dan akhirnya masa jabatanku habis segala masalah telah dihadapi dan sang sekretaris dapat tersenyum bahagia karena tak akan ada tugas macam proposal  yang mengancamnya, tetapi dari proposal itu lah kami berdua belajar sesuatu hal seperti di cerita  remaja alay bahwa ketua dan sekretaris bisa mempunyai perasaan sama walaupun tertutupi oleh kerasnya lembaran revisi proposal.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulai Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Rachma sebagai pemenang.

Rachma Dhiyaa’ Arroyyan

Lahir di Bekasi 31 Maret 2000, masih tahap bereksperimental dengan dunia tulis menulis. Masih duduk di bangku SMA dengan berbagai macam aktivitas remaja.
Account social media 
Facebook : Rachma Arroyyan
Instagram : @radhiyaa31

0 comments:

Post a Comment