Tuesday, 23 May 2017

Pura-Pura Punya

Sebentar-bentar ponsel bergetar tanda ada pesan dari sang pacar yang hobinya nanya kabar. Sebentar-bentar ponsel berdering tanda ada incoming call dari pacar yang selalu tanya lagi ngapain. Mau makan apa, mau jajan di mana, mau potong rambut pun harus ijin sama pacar. Kadang bingung itu pacar atau apa, ribet banget. Begitulah kehidupan teman-temanku di asrama ini.
pinterest
Sebagai perempuan yang paling muda aku sering dihina, lebih tepatnya hanya diejek karena tidak punya sandaran hidup yang mereka sebut pacar. Terus kenapa to kalau aku nggak punya pacar? Memang sedikit terganggu ketika tiap bangun tidur kalian (para perempuan penghuni asrama yang sekamar denganku) langsung meraih ponsel dan dengan nada aras-arasen menelepon pacar kalian. Kupikir penting sekali sampai akhirnya hanya 3 kata yang terucap ke ponsel itu. "Bangun 'sa'. Bangun!". Ha? Itu aja kalimatnya. Kau ini pacar apa alarm?

Belum lagi setelah sebelum si matahari nampak di sela-sela embun, ponsel mereka berdering memekikkan telinga  bukannya bangun dan mematikan alarm itu, mereka justru tenang-tenang saja tetap tidur nyenyak. Aku kadang sebal setengah mati, itu sangat mengganggu tidur. Jika tidak niat bangun pagi mengapa alarm di-setting sepagi itu. Lain halnya ketika masing-masing dari kalian selesai sholat maghrib. Headset langsung terpasang ditelinga. Sudah kuduga, suara sambungan panggilan dengan orang diluar sana itu akan berakhir lebih dari dua jam. Hai, dari pagi kalian sudah saling chatting loh.

Kadang pacar-pacar kalian itu hanya menjawab dengan sepatah dua patah kata-- ya, nggak, belum, sudah, ok, nanti, ya udah-- yang menurutku cukup singkat untuk sebuah balasan ke pacar. Ntah bagaimana kalian tetap saja ngoceh lewat pesan elektronik itu. Seakan-akan pacar itu hanya dijadikan sebagai lawan chatting. Heranku memuncak ketika salah satu temanku yang mau jajan tahu bulat harus meminta ijin ke pacarnya. Loh kok jajan aja harus diatur? Plis ini cuma pacaran, jajan juga pakai uang sendiri, kenapa harus ada ritual perizinan segala. Pacar apa ibu kos sih, musti izin dulu.

Aku sering berpikir tentang gaya pacaran kalian yang terlalu ketat. Mengapa tidak berpikir untuk menjalin hubungan yang bisa meningkatkan nilai integritas. Misalnya yang dibahas itu bukan lagi sedang apa, lagi dimana, atau udah makan belum, melainkan sekali-kali bahas tentang peradaban dunia hingga mencapai tahap sekarang atau pikiran gila seperti nyawa itu punya masa atau tidak.
Di tengah kegemesanku melihat gaya pacaran teman-teman sekamarku ini, aku memberanikan diri untuk mengaku lebih tepatnya pura-pura mengaku punya pacar. Hah? Ekspresi mereka konyol sekali. Oke. Akan kutunjukkan gaya pacaranku. Disaat mereka asik bertelpon-telpon ria, kumulai saja aksiku. Mengirim voice note ke seseorang di luar sana. Kukencang-kencangkan suara ku. Kubahas sedikit tentang rencana pertemuan kami yang sebenarnya hanya halusi.

Ntah bagaimana selanjutnya, aku menekan ikon add picture pada akun blackberry messanger-ku. Kata-kata yang sedikit menyinggung sebenarnya. Kita LDR dengan dasar kepercayaan. Kita sama-sama berpikir untuk masa depan. TIDAK PERLU REPOT dengan rencana kencan, nonton, atau chatting berjam-jam dengan topik bahasan yang monoton. Jika pada akhirnya kita tidak bersama, maka harus tetap besar komitmen kita untuk meningkatkan indeks pengembangan manusia dan menjalankan fungsi keluarga yang baik.

Ciee ciee. Kok gitu aja sih komentarnya? Haa. Dibandingkan mereka yang selalu update kata-kata rindu, aku merasa gambar yang aku upload di bbm itu lebih berkualitas.

Sampai saat ini teman-teman sekamarku itu tahunya aku sudah punya pacar. Padahal maksudku hanya untuk menunjukkan gaya pacaran yang lebih dewasa yang kurasa di usia mereka sekarang harus lebih dipikirkan. Bukan kalimat-kalimat pacaran basi yang sering diucapkan anak-anak SMP lagi. Tetapi lebih ke bagaimana berpikir kritis untuk kemajuan di masa depan untuk mewujudkan tujuan akhir dari hubungan pacaran itu sendiri.

Ya sudah lah memang pada akhirnya gaya pacaran masing-masing individu itu berbeda-beda. Kupikir itu mungkin bisa jadi tergantung pada siapa seseorang menjalin hubungan.
***Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Fransisca sebagai pemenang.

Fransisca Pintaku Utami Cahyaningtyas 
Nama yang panjang tapi memiliki arti yang luar biasa. Nama itu biasanya dipersingakat dengan kata “TATA” atau “PINTAKU”. Aku seorang mahasiswi semester 2. Lahir di Yogyakarta dan menuntut ilmu pun di Yogyakarta. Aku selalu bermimpi memiliki partner yang bisa merubahku menjadi seseorang yang lebih disiplin dan lebih rajin belajar. Bukan partner yang hanya menanyakan “Sudah makan atau belum?” setiap harinya.


0 comments:

Post a Comment