Monday, 15 May 2017

Rindu yang Dinantikan

Tergambarkan sosok gadis yang masih duduk dalam lamunan di senja hari menatap betapa indahnya suasana kampus. Namanya Lia. Dalam lamunannya ia teringat sosok lelaki yang ia rindukan. Betapa tidak rindunya ia, sosok lelaki yang 14 tahun lamanya telah menghilang dari pandangannya dan tiada kabarnya. Ia pun meneteskan air mata kerinduannya akan sosok lelaki tersebut. Sosok lelaki yang ia rindukan bukanlah sang kekasih tetapi sang kakak. Ia membayangkan sosok lelaki tersebut di masa yang lalu. Yang ia ingat tentang sang kakak yaitu memiliki bentuk wajah yang tirus, mata yang bulat dengan rambut yang ikal. Sosoknya sangat menghantui hidupnya selama 14 tahun. 


Berjam-jam ia duduk dalam lamunan tersebut, ia tak tersadar waktu telah menunjukkan pukul 5 sore. Ia menangis tersedu-sedu mengingat sosok lelaki tersebut. Di dalam benaknya bertanya-tanya. “betapa malangnya diri mu kak! Apakah engkau baik-baik di negara orang? Lupakah engkau dengan adikmu ini yang selalu merindukanmu! Kabarpun tak pernah kudengar.” Sambil mengusap air matanya dengan kerudung ia gunakan. 

Ia pun bergegas pulang menuju kostnya. Sesampai di kostnya ia pun meletakkan sepatu dan tasnya dengan rapi. Dan berbaring di tempat tidur karena lelah aktivitas kuliah pagi hingga sore. Ia memasang alarm pada telepon genggamnya. Sejam pun berlalu alarm pun berbunyi . 

Setiap malam, ia berdoa agar kelak dipertemukan oleh sang kakak. Segala usaha yang ia lakukan untuk mencari kabar sang kakak yang pergi meninggalkan kampung halamannya. Ia pernah mendapatkan kabar dari salah seorang seorang keluarga dari teman sang kakak bahwa kakaknya berada di negara tetangga Indonesia. Yah tentu saja Malaysia. Ia berpikir “bagaimana bisa engkau pergi merantau yang terlalu jauh dan bagaimana nasib kehidupanmu di sana kak ?”

Ia hanya bisa berdoa semoga kehidupan sang kakak baik-baik disana. Ia sempat menyesal kejadian 14 silam yang lalu yang membuat sang kakak harus meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan orangtuanya. Pada saat itu, Lia masih kanak-kanak saat itu dan masih duduk di kelas 3 SD. Hanya mereka berdua yang ada di rumah. Kedua orang tua mereka berada di Sawah. 

Sang kakak berkata “maafkan kakak yah dik, kakak harus pergi sekarang”. Matanya berkaca-kaca yang menatap mata sang adik.

“kakak mau kemana? Nanti Ayah Ibu mencari kakak” Lia  memegang wajah sang kakak.

“katakan saja kepada Ayah Ibu, kakak hanya pergi sebentar dan akan kembali. Kakak sudah membereskan semua pekerjaan rumah. Jaga kesehatan yah adik.” Sambil memberikan surat kepada sang adik dan memberikan uang sakunya walaupun sedikit.

Lia pun meneteskan air matanya dan menangis terseduh-seduh dan mengiringi kepergian langkah kakaknya hanya sampai di halaman rumah. Dengan raut wajah yang sedih dan melambaikan tangannya dari kejauhan. Sang kakak hanya memberikan senyuman untuk yang terakhirnya kepada sang adik. 

Hingga tibalah kepulangan kedua orang tuanya di Rumah. Ibunya keheranan melihat mata Lia yang habis menangis dan sang ibupun bertanya:

“ada apa dengan mu nak dan mana kakak mu kenapa ibu tak melihatnya ?”

“kakak pergi dan memberikan surat kepada ibunya yang ia belum baca” .

Ibunya pun meneteskan air mata saat membaca surat tersebut. Dan mencari anaknya ke teman-teman yang sering bersama anaknya. Namun sudah terlambat, anaknya sudah meninggalkan kampung halaman dan bergegas menuju kota Sidrap dan akan meninggalkan Indonesia. Hati ibunya begitu hancur dan terkoyak-koyak mengetahui anaknya akan meninggalkan Indonesia dan tak tahu kapan ananknya akan pulang. Sang anak memiliki pergaulan yang salah dan memiliki konflik kepada sang Ayah. Setelah Ayahnya mengetahui bahwa sang anak meninggalkan Indonesia, betapa menyesalnya ia apa yang ia lakukan selama mendidik anaknya dengan terlalu disiplin.

Lia hanya duduk dengan tanpa kata apapun saat itu, seakan-akan ia menyalahkan dirinya dengan kepergian sang kakak. Ia berpikir mengapa aku harus membiarkannya pergi . ia pun tersadar sang kakak akan meninggalkan Indonesiadalam waktu yang lama. 

Dengan peristiwa 14 tahun silam tersebut masih membekas di benak Lia. Ia meneteskan air matanya setiap hari ketika mengingat sang kakak dan berkhayal jika saja ia bertemu dengan sang kakak seperti rindu yang selalu dinantikannya berharap bertemu sang kakak ataukah ia berharap bisa menelusuri Malaysia.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Tesilia sebagai pemenang.


Tesilia


0 comments:

Post a Comment