Monday, 15 May 2017

Salah Bantal

Hari jumat, 5 mei 2017, pagi itu aku terbangun cantik dari tidurku, mengucek mata, dan duduk sebentar. tetapi aku merasa ada yang ganjal. Benar saja, leherku sakit. Awalnya susah untuk menoleh ke kanan. Tapi ya kubiarkan saja , karena aku yakin, itu akan hilang saat siang hari.


Nah, waktu di sekolah nih sobat, leher ini rasa sakitnya nambah, iya kaya rasa sakit aku tinggal olehmu. Eh ga deng. Aku serius. Jadi lah aku harus duduk dengan punggung menempel di dinding(menyamping gitu) supaya kalo dipanggil temen sekelas kaga capek liat kiri kanan depan belakang. Jam pun terus berjalan walau tak pernah ditatap, tibalah saatnya bel sekolah dilantunkan. Alhamdulilah pulang.

Sesampainya di rumah, ibuku bilang “dek, balek sekolah jangan langsung tedok, kalo langsung tedok ibuk tabok “(*balek = pulang, *tedok=tidur). Lah padahal pulang tujuan pulang sekolah biar tidur cepat buk, Cuma aku simpan kata kata tersebut dalam hati. Ya sudah akupun menjaga warung kesayanganku sambil menyelesaikan catatan kimia. Siang pun berganti sore, sakit di leherku bertambah, tak tahan lagi aku pun memberitahu kepada ibuku soal ini. 

“Buk, leher adek sakit nian sekarang, ngapo yo?”kataku.

“salah bantal tu” jawab ibuku tanpa berpikir panjang. “jemur lah bantal tu biak agek di pukul di leher”. (*biak agek= biar nanti *nian= banget)

Awalnya aku bingung, apaan coba hubungan bantal dijemur sama leher sakit? Ya udah deh, karena surga berada di telapak kaki ibu, aku turuti kemauan sang ibunda. Aku jemur lah bantal tersebut di belakang rumah. Kemudian, aku pun menggunakan minyak urut terkenal yang sering tampil di tivi untuk meredakan rasa sakit ku sementara. 

Tak terasa pukul 8 malam, aku ketiduran setelah aku mengoles minyak urut tersebut di leherku. Untung saja sang ibunda tercinta tidak mengaum bak harimau alias marah kepadaku karena aku terlelap tidur hingga malam. Rasa sakit di leher belum kunjung hilang. Aku pun teringat akan bantal yang dijemur tadi untuk menghilangkan rasa sakit. Eh tau nya ibuku berkata “eh telat lah dek, pas lagi panas atau hangat mukul ke lehernyo tu. klo bantal tu dak panas, dak biso”. Aku pun tabah mendengar itu dan ingin menyetrika atau menuangkan air panas di bantal tersebut. Tetapi aku memilih tidak melakukannya, karena aku tidak mau ibu malam itu menjadi seorang rapper, berbicara tanpa koma dan titik.

Keesokan harinya…

Mentari bersinar cerah, tidak diselimuti awan mendung tetapi rasa sakit di leher masih ada. Alhamdulilah. Aku bergegas untuk pergi sekolah dengan kakakku. Dan jam pertama mata pelajaranku di sekolah adalah olahraga. Setelah berdoa dan pemanasan guruku memberitahu bahwa tema pembelajaran hari ini adalah senam lantai. Awalnya aku anggap santai saja karna aku pikir senam lantai hanya guling guling di lantai saja. Setelah memasuki ruangan berlantai , ya iya lah bro masa lumpur. Guruku memperagakan gerakan senam lantai. Jleb! Pikiranku sangat salah , ternyata senam lantai bukan guling guling, ternyata gerakan dasarnya adalah tangan harus saat kaki dalam posisi lurus sambil duduk. Gila, rasanya urat leher sama di bawah lutut mau putus. Pasrah, untung aku bisa walaupun hanya sepersekian detik. Thanks god. Nah selanjutnya, ini tema yang tidak aku duga, yaitu adanya roll depan roll belakang. Waduh, pikiran aku di situ hanya mikirin leher tersayang ini sobat. aku bisa roll depan Cuma kan tumpuan pas mau roll itu bagian belakang leher bukan kepala. Jadilah aku di situ, Cuma ngeliatin temen. Aku pun menghindarkan diri untuk melkukan roll dengan cara ngerumpi bareng temen, pokoknya dimana banyak orang disitu aku berada biar ga di panggil. Nah pas semua orang udah nyoba semua, ntah dari mana salah satu temanku, dia tahu kalo aku daritadi belum nyoba roll, dia berkata dengan nada yang agak besar “yun, kau lah nyoba dak?” kampret nih temen, pengen di santet kali ya sama aku. Aku udah bersusah payah menyembunyikan diri agar tak mencoba malah dia dengan mudahnya berkata seperti itu. aku pun memberanikan diri untuk berdiri tuk membuktikan aku bakalan roll depan di depan kawanku yang manggil aku tadi. Tapi terkadang aku ragu, karena udah mengkhayal kalo leher ini nantinya patah setelah melakukan gerakan tersebut.

Akhirnya keputusan pun aku ambil. Aku tidak jadi roll depan diakibatkan oleh khayalan ku tadi. Untung saja, kesempatan kali ini hanya untuk sesi testimoni saja bukan untuk mengambil nilai.
***
Matahari telah menenggelamkan dirinya di ufuk barat, saatnya mengambil bantal dijemuran belakang, Akhirnya. Prosesi pemukulan bantal ke leher ini di lakukan dengan tempo yang sesingkat singkatnya bray. Mukulnya selow aja, kaga usah kuat kuat. Dan alhamdulilah besok paginya, rasa sakit di leherku menghilang. Thanks emak, atas saranmu.

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari cerita saya yaitu, jemurlah bantal jikalau leher anda sakit. Kalau masih sakit hubungi dokter spesialis terdekat. 

Ini cerita (konyol) ku mana ceritamu

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Yuni sebagai pemenang.

Yuni rahayu

Sekarang aku duduk di kelas XI SMA di kota jambi, hobi membaca novel, Suka makan dan tidur juga. Termasuk golongan jomblo sampai halal.

0 comments:

Post a Comment