Tuesday, 16 May 2017

Sang Peminjam

Pertemanan menjadi sebuah cerita tersendiri dalam hidup kita, di kala sedih menjadi tempat untuk bercerita, tertawa bersama karena hal sepele, dan mungkin nakal bersama, begitu lengkap cerita kehidupan kita dengan adanya teman, lalu suatu saat, teman kita mengeluhkan membutuhkan pinjaman uang, sebagai teman, secara suka rela kita pasti akan membantunya, kemudian dijanjikanlah pembayaran hutang nanti pada saat gajian atau di akhir bulan, memang pinjaman tidak begitu besar, tetapi lumayan untuk menambah uang makan, hingga pada saat jatuh tempo, sang teman tidak kunjung mengembalikan, lewat seminggu masih ditoleransi, 2 dan 3 minggu masih sabar, sampai sudah sebulan, sang pemberi pinjaman juga membutuhkan uangnya, akhirnya memberanikan diri untuk menagih hutang pada teman sendiri, mulai saat itu seribu alasan dikerahkan oleh sang peminjam untuk mengulur waktu sampai dia mampu membayarnya.


Sang pemberi pinjaman sudah mulai jenuh dengan keadaan itu, bagaimana tidak, manusia juga butuh makan dan keperluan lain, dengan susah payah mencari uang, niat hati awalnya menolong teman, tetapi diperlakukan seperti debt colector atau pengemis hutang, malu, sebal, muak bercampur aduk menjadi satu. Pertemanan baik mereka mulai renggang karena masalah uang yang memang sensitif untuk semua orang. Bukan hanya sang pemberi pinjaman saja yang merasakan seperti itu, beberapa orang juga pasti pernah merasakan hal yang sama, pada akhirnya, mereka yang memberi pinjaman memiliki 2 penyelesaian, yang pertama adalah mengikhlaskan dengan harapan semoga menjadi amal ibadah, atau yang kedua adalah dipendam sampai nanti sang peminjam melunasi, dan tetap menganggapnya hutang.

Bagaimana perasaan sang peminjam sendiri sebenarnya? apakah mereka memang ingin melupakan hutangnya begitu saja tanpa membayar? jawabannya tidak, tidak ada satu orangpun yang lupa akan hutangnya sendiri kecuali dia amnesia, lalu bagaimana yang dirasakan sang peminjam sebenarnya?. Perasaan bersalah, malu, dan ingin melunasi pasti dirasakan semua orang yang meminjam, tetapi keadaan memaksa mereka mengeluarkan jurus seribu alasan untuk mengulur waktu, baik itu dikarenakan kesalahan mereka sendiri ataupun memang ketika sudah berusaha melunasi ada alasan yang lebih penting, sehingga terpaksa pelunasan hutang diundur kembali.

Kebanyakan dari mereka yang meminjam bukan karena alasan bersenang-senang, tetapi memang karena mereka membutuhkan uang tersebut, baik untuk keperluan pribadi seperti makan ataupun keperluan lain yang diluar ekspektasi mereka. Hidup ini keras kawan, tidak semua orang beruntung mendapatkan harta yang berkecukupan, mereka yang meminjam pun sudah berusaha tetapi masih tetap belum mencukupi.

Rasa bersalah dan malu sangat wajar dirasakan ketika sang pemberi pinjaman datang untuk menagih janjinya, sang peminjam sadar, sehebat apapun alasannya, pasti sang pemberi pinjaman sudah muak karena terlalu banyak alasan yang diberikan, tetapi sang pemberi pinjaman masih tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa, hal tersebut lebih membuat sang peminjam malu dan merasa bersalah. Andaikan ada hujan uang, pasti dia akan menampung semua uang itu untuk membayar hutangnya, karena memang hidup dengan hutang sangatlah tidak nyaman untuk sebagian orang.

Kami sang peminjam lebih memilih menghindar untuk menjaga perasaan sang pemberi pinjaman agar tidak malu karena berusaha untuk menagih hutang. Chat, telfon, meet up, semua dihindari, sedih melihat teman yang biasanya duduk bersama kini duduk bersama orang lain, mungkin sedang membicarakan sang peminjam berkaitan dengan hutang yang tidak kunjung dibayarkannya, ingin rasanya segera untuk melunasinya, apa daya, uang belum cukup, hanya menghindar menjadi solusi terbaik sampai nantinya terbayarkan.

Kepada sang pemberi pinjaman, maafkan kami sang peminjam jika waktu pelunasan hutang tidak sesuai yang dijanjikan, itu semua di luar kendali kami, mungkin kalian muak dengan seribu alasan yang kami berikan, tetapi kami jauh lebih muak dengan beban hutang, kami jauh lebih merasa bersalah. Kepada sang pemberi pinjaman, kami juga berdoa, agar tuhan segera memberi rizkinya yang nanti akan kami pergunakan untuk membayar kalian, janganlah anggap kami manusia tidak tahu diri karena telat membayar hutang, jangan pula kalian memutuskan pertemanan yang bertahun-tahun dijalani hanya karena sebuah ketidak sabaran dan pikiran negatif sebuah uang dan hutang.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Astari sebagai pemenang.

Astari Amalia

Kebanyakan orang memanggilku tari, padahal aku sama sekali tidak bisa menari. Menjadi lulusan dari Universitas Negeri Semarang, Jurusan Geografi, adalah sebuah kebanggan tersendiri, walaupun akhirnya bekerja di bidang yang berbeda. Suka membaca dan berimajinasi  sedikit sifat melankolis membuatku terkadang suka menuliskan hal-hal yang sepele, imajinasi, dan cerita abstrak yang hanya tuhan, aku, dan kertas putih itu yang tahu maksudnya.

0 comments:

Post a Comment