Thursday, 18 May 2017

Sayur Tauco Khas Medan dan Kerinduan Kepada Ayah

Macetnya jalanan kota memang selalu menjadi penghalang untuk bisa selalu tepat waktu di Jakarta ini. Sore itu, aku harus menghadiri kuliah tepat pukul tujuh malam, sedangkan aku baru bisa beranjak dari meja kerjaku pukul lima sore. Bergegas kuberlari ke pelataran parkir. Kuambil jaket di dalam jok sepeda motor, memakai helem dan masker, lalu kunyalakan sepeda motor yang sudah hampir tiga tahun menemaniku ini. Akupun berangkat ke kampus. Butuh lebih kurang lima puluh menit dari kantorku menuju kampus, mengendarai sepeda motor dengan kondisi jalan normal. Sore itu, tiba di Perempatan Harmoni ternyata jalanan sungguh padat bahkan merayap pun tidak. Macet parah.


Azan maghrib berkumandang, sudah hampir sejam aku di sini. Aku berencana shalat di masjid kampus sebelum masuk ke kelasnya Ibu Tuti.

“Alamat terlambat” gumamku dalam hati. 

Dalam kondisi macet ini, aku baru sampai di dekat kantor Bank Indonesia Jakarta. Di sana terdapat sebuah kafe yang menyediakan menu lontong Medan. Lontong sayur yang menggunakan sayur tauco khas Medan sebagai sayur dan kuahnya. Baunya sampai ke jalan, sangat menyengat hidungku. Baunya mengingatkanku pada ayahku yang sangat suka dengan sayur tauco khas Medan. 

Ibuku memang sangat gemar memasak, jenis masakan apapun bisa dibuatnya. Sayur tauco khas Medan buatannya selalu mengigatkanku tentang ayah. Bagaimana tidak, di kampung halamanku, untuk membuat masakan ini kami bisa memperoleh semua bahannya di pekarangan dan kebun belakang rumah kami. Sebagai pelengkap, kami hanya perlu mengeluarkan uang lima ribu rupiah untuk membeli sekantung kecil bumbu tauco, sepotong tempe, dan beberapa kerat tahu di warung sayur Uni Imas. Semua bahannya sudah lengkap. Hidangan ini sangat nikmat disantap saat makan malam ditemani dengan nasi hangat dan kerupuk merah. 

Aku kembali teringat liburan menjelang wisuda S1 dulu di Universitas Andalas. Waktu itu kami memasak tauco khas Medan untuk makan malam dari bahan-bahan yang kami peroleh dari kebun dan pekarangan rumah kami. Seluruh anggota keluarga ada di sana, ada Ayah dan Ibu, Uda, Aku, adik perempuan, si bungsu adik lelakiku, dan Meng Mong, kucing hitam yang selalu datang pada saat kami akan makan bersama. Pulang kampung tidaklah akan terasa lengkap, apabila makanan ini tidak terhidang di meja makan. Sebenarnya hanya ayah dan aku yang tergila-gila dengan masakan ini, setiap pulang kampung Aku dan ayah akan saling mengingatkan untuk mempersiapkan bahan-bahannya, apabila semua anggota keluarga sedang berada di rumah. 

#####

Untuk menikmati menu ini di meja makan, kami harus mempersiapkan bahan-bahannya satu hari sebelumnya. Sore hari, Aku akan memasang perangkap ikan berjenis bubu atau lukah sebagaimana orang kampungku menyebutnya di sebuah parit tepat di kaki bukit yang membatasi sawah kami dan kebun tetangga. Diperlukan ampas kelapa yang sudah busuk ataupun tempoyak sebagai umpannya. Perangkap ikan ini biasa kupasang di sore hari dan hasilnya baru dapat dilihat pada esok paginya. Di sekitar parit ini terdapat banyak jenis ikan yang mencari makan di malam hari, udang air tawar yang sebagai pelengkap menu kesukaan ayah ini adalah salah satunya. 

Pagi itu aku mendapati sepuluh ekor udang air tawar, tiga ekor ikan lele kecil, dan dua ekor ikan puyu pada dua buah perangkap yang aku pasang. Sepuluh ekor udang itu sudah cukup untuk membuat menu ini berasa sempurna. Ikan jenis lainnya bisa digoreng ataupun dibakar. Mereka masih dalam keadaan hidup. Udang-udang hasil tangkapan ini, biasa akan direndam di dalam satu ember air bersih dari pagi sampai sore untuk menghilangkan bau amis dan bau lumutnya. 

Sebelum siang, Aku dan ayah berangkat ke kebun, melihat tanaman-tanaman yang kami tanam di sana, tanaman utamanya adalah jeruk manis dan beberapa batang pohon sawit. Di disela-selanya kami tanami tanaman untuk kebutuhan sehari-hari. Di sinilah kami memperoleh bahan-bahan untuk sayur tauco khas Medan ini. 

Kami biasanya terlebih dahulu membersihkan berbagai gulma pada pohon jeruk manis dan kelapa sawit, serta menyiangi tanaman-tanaman kebutuhan dapur di kebun ini untuk beberapa saat sampai azan zuhur berkumandang. Setelah shalat zuhur, Kami berdua menyantap makan siang di sini menghabiskan bekal yang kami bawa dari rumah. Selain mencari kebutuhan untuk membuat sayur tauco khas Medan, sebenarnya tujuan utama kami ke kebun ini adalah untuk pergi makan siang. Berdua. Momen makan siang dengan ayah di kebun kami yang di atas bukit ini sambil memandangi hamparan sawah di kaki bukit dan di ujung lembah sangatlah berharga. Masih tercium di hidungku bagaimana bau asap sabut kelapa yang kami bakar untuk mengusir serangga agar makan siang kami tak terganggu. Momen ini sangat membekas, tak terbeli. Ini mahal. Sekarang jelas mahal, harga tiket P/P Padang-Jakarta saja berapa?

Setelah makan dan istirahat sebentar, kami memetik kebutuhan untuk menu kesukaan ayah di kebun ini. Kami memetik cabai sepuasnya. Cabai yang tak kujung berhenti berbuah, seakan mereka mengerti dan memberikan pesan “cabai merupakan kebutuhan pokok di Ranah Minang. Aku akan selalu berbuah untukmu, aku tahu pengeluaranmu sudah sangat banyak dan gajimu sedikit. Aku akan menolongmu wahai tuanku”. Berjalan ke sebelahnya, kami memetik kacang panjang dan kacang buncis secukupnya. Di pinggir lembah dekat dengan pohon kelapa sawit yang sudah berumur lebih sepuluh tahun itu, kami dapat memetik buah terong hijau dan rimbang sepuasnya. Di sebelahnya juga ada beberapa pohon kentang yang dengan mudah kami cabut. Sedangkan wortel, tomat, bawang merah dan bawang putih, serta daun bawang bisa kami peroleh di pematang sawah yang ada di lembah. Semua bahan-bahan itu kami ambil. Kami masukkan ke dalam tas yang terbuat dari bahan karung goni.

Sebagai pelengkap, aku dan ayah akan mampir dulu ke belakang rumah mengambil beberapa siung kecombrang, kunyit, lengkoas, serai, dan jahe. Kemudian kami dengan mudah bisa memetik beberapa helai daun jeruk purut di halaman depan rumah. Untuk santan, jangan khawatir! Nenek dan kakekku dulu telah menanam puluhan batang kelapa yang kemudian diwariskannya kepada anak cucunya. Termasuk di pekarangan rumah yang kami tempati sekarang ini, ibuku mewarisi enam batang pohon kelapa ditambah dengan lima pohon lagi yang ditanamnya belakangan. Kalau buahnya sedang berlebihan atau sedang banyak-banyaknya, kami juga biasa membuat sendiri minyak goreng dari buah kelapa ini.

Saat itu, Kebetulan satu-satunya pohon petai yang di samping belimbing wuluh dekat rumah kami sedang berbuah lebat. Selain bumbu tauco, buah petai merupakan pelengkap utama menurut ayahku. Kalau tidak ada petainya, itu bukan sayur khas tauco Medan menurutnya. Kamipun mengambilnya dengan galah. 

Sebelum ashar, biasanya kami sudah tiba di rumah dan memberikan semua bahan-bahan itu kepada ibuku untuk dimasak. Ternyata, walaupun belum diberitahu bahwa kami berencana mau makan menu kesukaan ayah ini nanti malam, ibuku sudah membelikan bumbu tauco, tahu, dan tempe di warung Uni Imas. Ternyata ibu sudah bisa membaca gelagatku dan ayah sejak kemarin sore. 

Telah tersedia sepuluh ekor udang air tawar besar, sejumput cabai rawit dan dua jumput cabai merah untuk diiris-iris lonjong dan beberapa jenis sayuran yang terdiri dari: seikat daun bawang, lima buah wortel berukuran besar, tiga buah kentang, seikat kacang panjang dan dua genggam kacang buncis, banyak terong hijau, dua genggam besar rimbang, tiga biji belimbing wuluh, dua buah tomat hijau dan merah, dan lima papan petai segar yang barusan kami petik. Disamping itu juga telah ada sepotong besar tempe dan lima kerat tahu.

Untuk bumbunya, tak lupa ibu telah menyediakan cabai giling, kecombrang dan serai yang sudah digeprek, kuyit, lengkuas, dan jahe yang sudah diiris kasar, bawang merah dan bawang putih yang telah dipotong sembarangan, minyak kelapa dan sedikit santan, bumbu tauco, serta sedikit garam karena bumbu tauco khas Medan sudah berasa asin, maka garam sudah tidak banyak lagi diperlukan.

Setelah shalat asar, semua bahan ini kami bersihkan, kami potong-potong. Sayuran yang telah bersih dan terpotong akan kami biarkan terendam di dalam air bersih untuk beberapa saat yang baru akan ditiriskan apabila ibu sudah beranjak ke dapur. Aku dan ayahku menikmati memotong-motong sayuran ini, sore itu kami juga dibantu oleh adik perempuanku. 

Setelah semua bahan dan bumbu yang diperlukan tersedia, pertama-tama ibuku akan menggoreng dulu udang yang sudah dikuliti dan telah dipotong-potong itu pada minyak kelapa. kemudian menggoreng tahu dan tempe setengah matang. Ketiganya kemudian ditiriskan dan dibiarkan dinging diatas piring. 

Setelah itu, barulah bumbu yang terdiri dari bawang merah dan bawang putih ditumis di atas wajan. Setelah baunya keluar, ibu akan memasukkan lengkuas, jahe, dan sedikit kunyit yang sudah diris kasar tersebut menemani bawang merah dan bawang putih. Beberapa saat kemudian, barulah cabai giling dimasukkan. Menyusul setelahnya, sayuran yang telah dicuci dan ditiriskan menemani bumbu ditumis di atas wajan. Setelah dirasa cukup dan bumbu dirasa sudah meresap kedalam sayuran, ibu akan memasukkan sedikit santan, didiamkan beberapa saat dan kemudian ditambahkan air. Setelah kuahnya mulai mendidih, barulah dimasukkan serai, kecombrang, belimbing wuluh, daun jeruk, dan daun bawang yang kemudian disusul dengan udang, tahu, dan tempe goreng. Sebelum proses memasak ini selesai, ibu tidak lupa memasukkan irisan tomat dan memperhatikan kadar garamnya. kalau masih terasa kurang, boleh ditambahi sedikit garam. 

#####

Makan malam setelah membaca beberapa lembar Al-quran selepas maghrib yang dihadiri seluruh anggota keluarga dan ditemani sayur tauco khas Medan serta beberapa keping kerupuk merah merupakan berkah tersendiri menurut ayahku. Begitu juga menurutku. Kalau anggota keluarga yang lain, entahlan. Aku tidak pernah menanyakannya. Adik lelakiku tidak terlalu menyukainya dia tidak akan mau memakannya kalau kacang panjang, kacang buncis, dan wortelnya tidak dipotong runcing-runcing. Engah apa motifasinya aku juga tidak tahu, dan tak mau tahu. Meng Mong si kucing hitam juga hanya suka udangnya saja. Yang aku tahu, ayah dan aku sangat menyukai prosesnya pembuatannya dan memakannya. Apakah ibuku juga menyukainya? Aku tidak pernah bertanya, semoga saja dia suka. Yang sangat pasti aku ketahui adalah, ibu suka memasakkannya untuk kami. 

#####

Sore itu aku terlambat lagi, kelas sudah mulai seperempat jam yang lalu, Ibu Tuti memberikan komentar lagi atas keterlambatanku pada kelasnya. Setelah satu jam setengah berlalu, kelas hampir berakhir, kami pun mengumpulkan makalah yang sudah dimintakan satu minggu sebelumnya dan kemudian pulang.

Sesampai di kontrakan, aku teringat lagi bau yang tadi kucium di dekat Perempatan Harmoni, bau sayur tauco khas Medan. Harum, menggugah selera, dan mengingatkanku kepada ayah. Pernah ku coba membuatnya sendiri dan juga pernah memintakan teman perempuanku untuk membuatkannya, namun ternyata rasanya tak pernah sama, seperti ada yang kurang. Meskipun bumbu, bahan baku, dan proses membuatnya telah sama dengan yang dilakukan oleh ibuku, namun rasanya tak pernah sama. 

Besok adalah hari Sabtu aku tidak akan tidak perlu berangkat ke kantor dan aku berencana besok akan membuat sayur tauco khas Medan sendiri sekedar mengobati kerinduanku padanya, walaupun ku tahu rasanya tak akan pernah sama. Malam itu aku merindukan ayah.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Aziz sebagai pemenang.

M Abdul Aziz

Seorang Advokat muda. Pecinta Ilmu Hukum, Kucing, Anjing, dan Musik. Sekarang sedang mendarus Ilmu Hukum HAM dan Good Governance. 
Twitter/IG: @azeezsiul

0 comments:

Post a Comment