Tuesday, 16 May 2017

Sebait Syair Ibu

Suara detik jam dinding menghiasa malamku di asrama ini. Aku duduk menghadap meja belajar usam yang selalu menemani malam-malamku.


“Males banget mau belajar.” batinku sejenak.

Entah mengapa aku sangat malas untuk membuka buku dan memulai belajar mandiri malam ini. Padahal ujian masuk perguruan tinggi tinggal dua minggu lagi. Aku dengan berat hati mencoba untuk membuka buku catatan berwarna merahku. Tiba-tiba selembar kertas yang terlipat jatuh. Aku pun segera mengambilnya dan membuka lipatan kertas tersebut.

“MENEJER BANK” begitulah tulisan yang ada pada kertas tersebut.

Tulisan itu tiba-tiba mengingatkanku pada nasehat ibu. Waktu itu adalah malam yang sunyi. Aku duduk di depan meja belajar rumahku dan bersiap untuk menulis pada selembar kertas polos.

“M-E-N-E-J-E-R B-A-N-K” aku menuliskan satu demi satu huruf. Entah mengapa aku ingin sekali menjadi seorang menejer bank. Sepertinya aku tergiur oleh informasi bahwa menejer bank memiliki gaji bulanan yang cukup tinggi. Sedangkan aku harus membahagiakan kedua orang tuaku.

Malam menjelang dan aku pun segera beranjak tidur. Hari ini adalah hari libur setelah ujian nasional, jadi aku dapat bangun tidur sedikit siang. Aku pun bangun dari tidurku dan menuju meja belajarku. Tampak tulisan yang aku tulis semalam masih tergeletak rapi diatasnya. Aku pun tersenyum sejenak.

Aku keluar dari kamarku dan bersiap untuk mandi. Setelah itu aku melihat ibu yang melakukan pekerjaanya sendiri. Aku pun segera menghampiri ibu untuk membantunya. Tidak ada kata yang terucap dari mulut kami selama beberapa menit.

“Bu, aku pengen masuk jurusan menjemen.” kataku memecah kesunyian.

“Itu mah terserah kamu.” jawab ibuku.

“Selain di Universitas Lampung, aku juga ingin di UGM yang di Jogja Bu.” tukasku.

“Iya gak papa Di. Kan di sana lebih bagus.” ucap ibuku lagi sambil melakukan pekerjaannya.

“Terus, kalo misalnya aku diterima di UGM, aku ke jogja gimana Bu? Kita gak ada saudara di sana.” ujarku.

“Itu mah gampang. Yang penting Kamu belajar serius di sana, Ibu sama Bapak di sini cari duit.” tukas ibuku.

“Kan ada bidik misi Bu, jadi agak ringan biayanya.”

“Emangnya cukup duitnya. Daripada kamu di sana kekurangan, lebih baik ada simpenan. Kamu gak ada siapa-siapa di sana.” ucap ibuku.

“Iya sih Bu, hehe” aku sedikit tersenyum.

Aku lega karna ibu menyetujui keinginanku untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

“Kamu harus bisa Di. Pokoknya Kamu harus dapetin cita-cita Kamu itu. Kamu harus sukses. Biar kalo Ibu sama Bapak udah gak ada, Kamu gak kerepotan hidup.” ujar ibuku.

“Tapi kan Kita gak tau Bu siapa yang bakal duluan pergi.” tukasku.

“Ngomong apa Kamu?” bentak ibuku.

Seketika itu ibu menghentikan pekerjaannya dan aku pun terkejut karena ibu membentakku.

“Ibu harus liat Kamu sukses dulu.” sahut ibuku.

“Iya Bu.” jawabku.

Aku sungguh terkejut dengan bentakan ibu. Tapi jujur aku juga merasa bersalah dengan kata-kataku. Ingin rasanya aku meninggalkan membantu ibu lalu menuju ke kamarku dan menangis.

Keesokan harinya adalah hari dimana aku harus berangkat untuk karantina belajar selama satu bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. 

***

Di asrama inilah selama satu bulan kedepan, aku bersama teman-temanku menempuh ilmu bersama. Ingatanku kembali ketika seseorang berjalan melewati kamarku di asrama. Kata-kata ibuku tetap terlintas dalam pikiranku. Setelah melihat tulisan tadi dan selama beberapa menit aku merenung serta teringat ibu, aku meneteskan air mata. Aku rindu ibuku. Siapa yang membantunya selama aku karantina di sini?

Aku memutuskan untuk keluar kamar dan mencuci wajahku. Segar air malam hari membuat tubuhku kembali segar seperti dahulu. Aku pun bergegas duduk pada meja belajarku. Masih tergeletak tulisan yang membangkitkan ingatanku terhadap ibu. Semangatku pun kembali. Aku segera mengambil buku pelajaran ekonomi dan berusaha memahami materi.

***

Pagi menjelang untuk kami kembali beraktifitas. Dengan penuh semangat aku bersama teman-temanku berjalan menuju tempat belajar kami. Tempat yang akan menjadi saksi kami dalam belajar untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.

SEKIAN

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Ardy sebagai pemenang.

Ardy Nugraha

Pria kelahiran Punggur, Lampung Tengah pada tanggal 19 Oktober 1996 saat menempuh pendidikan di Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung angkatan 2015. Pria yang hobi menulis sejak duduk dibangku SMA ini dapat dihubungi melalui no Hp 085789976195 atau Id Line ardynugraha1996. Ardy, begitu panggilannya sehari-hari memiliki email ardynugraha1996@gmail.com dan selalu memegang erat motto hidupnya “Jadikan Dunia Ditanganku, dan Akhirat Dihatiku”

0 comments:

Post a Comment