Sunday, 7 May 2017

Sebenarnya Corat-Coret Boleh Tapi...

Beberapa pekan ini sedang buming dan viral tentang corat-coret. Rasanya bosen membahas isu yang setiap tahun terjadi pada akhir pengumuman kelulusan terutama tingkat menengah atas. Ketika saya sekolah menengah atas, tempat belajar saya itu mendapat penghargaan sebagai graffiti terbaik se-kabupaten, apakah itu bukan corat-coret? Lagi pada tahun yang berbeda mendapat penghargaan yang sama. Dan saya lihat dengan mata kepala sendiri bahwa hasilnya sangat indah dan menakjubkan. 

docwriter

Namun masalahnya sekarang mengapa banyak yang menyalahkan orang yang corat-coret untuk menandai bahwa mereka bebas dari kekangan belajar? 
Ketika teman saya mendapatkan juara se-kabupaten, dia berkata pada saya yang kebetulan waktu itu saya ikut menemani perlombaan itu. 

“Andai semua orang yang punya bakat corat-coret mendapat kesempatan kayak gue ini.”
“Maksud loh?” Saya sedikit bingung dengan perkataannya.
Lu tahu kenapa suka ada corat-coret atau graffiti dibelakang sekolah?” tanyanya lagi. Saya hanya menggeleng.
“Mereka tidak punya tempat untuk melampiaskan kemampuannya itu. Mereka di kelas dipaksa belajar oleh guru, disebut bodoh lah, ga becus lah, dan yang lainnya padahal mereka bisa menggambar, bisa membuat lukisan huruf-huruf dengan indah.” Jelas Franky sambil memegang piala kejuaraannya.
Lu tau mereka hanya butuh pengakuan yang membuat mereka merasa dihargai, dihormati dan nada manfaatnya. Ini piala gue persembahkan buat mereka. Karena sebengis apapun mereka, mereka yang membantu gue merebut piala ini dari sekolah lain.”

Sampai di sini, saya masih sedikit janggal dengan penjelasannya, apa benar dengan mengadakan suatu acara yang membuat mereka merasa dihargai akan membuat corat-coret di belakang sekolah tidak kan terjadi lagi. Saya setuju dengan corat-coret masih 50%, masih belum ada bukti yang jelas dari perkataan Frankky itu. Ketika itu perjalanan pulang, saya iseng pergi ke toko kain dan membeli kain putih sepanjang 10 meter dengan lebar 2 meter yang akan diserahkan pada anak-anak yang sering corat-coret belakang sekolah. Pulang lomba saya datangi tempat corat-coret itu, dan saya beri pengumuman buat mereka agar besok ketika pengumuman setelah upacara dan pemberian hadiah secara simbolis. Esok harinya setelah semua selesai, saya berdiri diatas mimbar. 

“Saya membawa kejutan buat kalian para ahli corat-coret”. Pada waktu itu yang ketahuan corat-coret sedang dipermalukan didepan teman-teman satu sekolah dengan menjemurnya di bawah terik matahari. 
“Ada kain 10x2 meter ini untuk kalian, kalian tunjukkan pada semua siswa dan guru bahwa kalian tidak bodoh, bahwa kalian tidak sejelek yang dikatakan oleh para guru disekolah. Tunjukkan bahwa kalian bisa.” Teriakku dibawah terik matahari jam 12. Serentak teman-temannya yang berada dikelas membawakan cat atau pilok untuk menggambar diatas kain yang sudah disediakan itu. Awalnya ragu dan masih takut dengan keadaan yang ada, tapi saya yakinkan bahwa mereka bisa. 

Mereka mulai menorehkan pilox mereka di atas kain yang polos itu, semua warna ada, merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu dan yang lainnya. Mereka lakukan dengan canda tawa tapi pasti, pekerjaan yang terlihat santai tapi membuat semua pihak sekolah terpana bahkan tak merasa di bawah terik matahari, mereka semua seakan tersihir oleh gambar para pencorat-coret illegal ini. Bahkan sampai kepala sekolah datang dengan wajah yang tidak wajar tapi…

“Pak, saya mohon berikan mereka kesempatan untuk berkarya dan menunjukkan kemampuan mereka yang selama ini diremehkan oleh semua orang dengan corat-coret di sekolah.” Saya memohon pada kepala sekolah. Akhirnya beliaupun mengerti dan malah ikut menikmati alur gambar mereka, semakin akan selesai semakin ramai penonton disana padahal sinar matahari semakin panas dan terik menjilati bumi ini. Hanya butuh waktu 2 jam 30 menit, 10 orang pencorat-coret ini menyelesaikan gambarnya dengan indah dan tertata rapi, bahkan lebih baik dari pada coretan yang ada dibelakang sekolah itu. 

Mereka pun mulai menaikkan kain itu setelah kering untuk dipasang pada pagar lapangan futsal yang menjadi pusat perhatian itu. Dan semua mata terpana, bahkan banyak yang tak berkedip melihat hasil karya mereka. 
“Semua orang mempunyai kemampuan masing-masing, ada yang otaknya encer, ada yang main futsalnya bagus dan banyak lagi. Mereka semua diberikan penghargaan dan penghormatan yang tinggi sedangkan hal yang seindah ini tidak diberikan apresiasi.” Semua mata tertuju pada saya yang membelakangi coretan hasil pencoret tadi. 

“Mereka hanya butuh tempat untuk mencurahkan hobby mereka, keinginan mereka dan mereka ingin menunjukkan bahwa mereka pun bisa berprestasi dengan kemampuan mereka yang bukan berasal dari otak. Jangan pandang sebelah mata seseorang, karena mungkin saja ada kekurangan kita yang menjadi kelebihan untuk mereka.” Semua sorak sorai dan tepuk tanagan dengan meriah termasuk kepala sekolah dan para guru yang sedari tadi mengikuti alur pencoretan hasil penghargaan kita pada mereka yang tidak tahu mau melampiaskan hobbynya kemana lagi. 

Setelah kejadian itu, saya merasa bahwa perkataan Frankky itu benar, semua orang mempunyai kelebihan masing-masing dan tidak sama, maka jangan terpaku pada satu sisi saja. Tapi lihat potensi yang dapat dihasilkan dari seseorang. Saya setuju kalau corat-coret itu boleh tapi harus pada tempat yang tepat dan tidak mengganggu orang lain dan tidak menjadikan tempat orang lain yang menjadi tempat  coretan kita.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Abdul sebagai pemenang.

Abdul Latip A
Hobby corat-coret memberikan pencerahan pada teman dan bergabung dengan pencoret.


0 comments:

Post a Comment