Wednesday, 10 May 2017

Seni Menikmati Hijrah

Layaknya manusia biasa. Setiap orang tentunya pernah melakukan kesalahan. Setiap orang pun memiliki caranya masing-masing dalam menyikapi kesalahan tersebut. Namun, tahukah. Bahwa Islam telah menyusun segala aktivitas manusia itu berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits. Hijrah, merupakan salah satu perbuatan yang dianjurkan dalam Islam. Kata hijrah bisa ditinjau dari dua sisi, yaitu secara makaniyah (tempat) dan maknawiyah (sifat atau makna).  


Secara makaniyah, hijrah berarti berpindah tempat, yaitu seperti hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan  para Shahabat dari kota Makkah ke Madinah. Namun bagi kita diperintahkan untuk hijrah secara maknawiyah, yaitu  adanya perubahan di dalam hidup, dari yang buruk menjadi baik, dari baik menjadi yang lebih baik lagi. Sebagai seorang Muslim, tentu standar yang digunakan untuk menentukan baik dan buruk itu tidak lain dan tidak bukan adalah Al-Qur’an dan Hadits, bukan pendapat kebanyakan orang dan hawa nafsu manusia. 

Sahabat yang shalih dan shalihah sering kita mendengar kata “Hijrah” dalam kehidupan sehari-hari kita. Hijrah pun memiliki banyak macam. Namun Hijrah yang paling baik adalah Hijrah manuju jalan Allah S.W.T “Bahwasanya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berusaha bersungguh-sungguh pada jalan Allah, mereka itulah mendapat rahmat Allah dan Allah maha pengampun lagi maha pengasih” (2: 218)

Penulis pribadi adalah seseorang yang sedang menikmati Hijrah. Bagaimana kita Istiqamah, senantiasa selalu taat pada perintah dan larangan Allah SWT. Perubahan ataupun Hijrah, tentunya memang tidak mudah bagi setiap manusia. Termasuk saya. Akan ada banyak rintangan. Namun, tergantung bagaimana kita menyikapi dan menikmati proses itu. Masa muda adalah masa dimana pemikiran manusia sangat cermerlang, serba ingin tahu terhadap segala sesuatu hal yang baru. Semangat yang luar biasa mental yang kuat. Namun, harus diingat bahwa masa itu datang sekali dalam hidup. Sebuah hal yang sia-sia jika manusia terlalu sibuk dengan urusan duniawinya.

Sangat disayangkan jika waktu senggangnya hanya terbuang sia-sia dengan hal yang tak jelas. Merugilah bagi orang-orang yang menikmati masa muda nya dengan hal-hal yang tak ada manfaatnya. Dan beruntung bagi orang-orang yang menikmati masa mudanya dengan selalu taan pada Perintah dan larangan-Nya.

Pada realitanya manusia banyak menghabiskan waktu senggangnya dengan hal yang kurang bermanfaat. Bagaimana menikmati masa muda, masa dimana menikmati proses hijrah sedini mungkin. Tidak ada kata terlambat untuk sebuah perubahan. 

Penulis, dulu merupakan seseorang yang sering membuang waktu senggang, berfoya-foya dan lain sebagainya. Saat diasingkan oleh teman dan bahkan keluarga saat ‘Hijrah’ itu menghampiri. Saat penulis, pelan-pelan mengubah wajah diri dengan memakai jilbab yang sesuai dengan syari’ah. Itu banyak sekali lika-liku yang dihadapi. Saat diasingkan oleh keluarga sendiri, saat dijauhi oleh teman dan kerabat dengan perubahan-perubahan yang ada. Namun, semua itu dapat terlewati. Dapat penulis nikmati. Bahwa jalan dakwah memang tak mudah, bahwa proses Hijrah itu tidak semudah membalikan telapak tangan. 

Tergantung kita menyikapinya seperti apa. Pertama, bergegas melakukan hal yang diperintahkan Allah swt dan Rasul-Nya dan menjauhi larangannya. Tak mudah, tapi patut dicoba. Allah senantiasa melihat orang-orang yang berbuat pada kebaikan. Jangan takut untuk berubah. Kedua, lakukan hal-hal yang produktif. Masa muda adalah masa dimana semangat semakin membara. 

Hati semakin mengguncang. Sikapi hal tersebut senantiasa berdzikir, tilawah, dan mengingat Allah swt. Tahukan, bahwa pacaran jelas dilarang dalam Islam. Yuk Hijrah. Ketiga, Istiqamah. Setelah semua itu. Coba sahabat, biasakan apapun hal baik itu untuk tetap Istiqamah. Yuk jadi pribadi yang senantiasa meningkatkan kualitas diri, baik dari segi keimanan amal dan perbuatan, akhlak dan juga ilmu. Karena kematian siapa yang tahu. Yuk Hijrah selagi muda!

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Reni sebagai pemenang.

Reni Marlina

Mahasiswa, Pemerhati Ekonomi Syariah, Pengisi Opini di   Media  Cetak atau Online, Aktivis Sosial dll

0 comments:

Post a Comment