Thursday, 4 May 2017

Senja yang Hilang

Hujanpun menutupinya.

Menutupi satu waktu yang disebut “Senja”. Senja yang harusnya terlihat indah dan merah, tertutup tebalnya awan gelap dan guyuran, tak terhenti dan terus membasahi semesta bumi, hingga semuanya tidak terlihat baik untuk dilewati.


Saat mata terbiasa dengan keindahan yang hakiki, tapi hati yang terpaksa harus berhenti mencintai, seperti harapan yang tiada berarti, seperti perjuangan yang sia – sia tiada arti. Apa yang salah denganku? Yang tidak bisa berlalu untuk melupakanmu, usahaku tidak menjaminkan kebahagiaanku. Kesetiaanku tak menjaminkan kesetiaanmu, kau mampu berpaling kapanpun kau mau. Seperti obat yang telah habis masanya, sebagaimanapun ia pernah mengobati sakit yang ada, akan tetap saja dibuang bila sudah habis masa berlakunya, dan itu aku... pelipur laramu, pelebur rasa sakitmu.

Tidakkah keberadaanku ini nyata?Apakah hanya terlihat nyata tapi tak pernah lagi terasa. 

Pernah ku menyatakan diri sebagai pelindungmu, penjagamu dari semua yang menyakitimu. 

Tapi aku tak tahu akan anggapanmu, mungkin bagimu aku memang pelindungmu, penjagamu hanya untuk fisikmu bukan pula hatimu. Jika iya ini terlihat mudah, lantas apakah perasaan memang hanya untuk dipermainkan, apakah kesetiaan hanya untuk dilecehkan.

Aku pernah dengan sejuta puisiku membanggakanmu diatas hatiku, aku pernah menggambarkanmu sebagai yang tak dapat diartikan dengan kata-kata. Tak kupungkiri ku dewakanmu diatas semua kekuranganku, bak kesempurnaan yang hanya dapat diartikan lewat lantunan lagu, aku luluh, hatiku memilihmu. 

Setelah itu, semuanya terasa normal. Tidak ada yang kekurangan, tidak ada yang berlebihan. Kumemberikanmu yang kupunya dan kaupun sama. Hingga akhirnya kusadari satu kebenaran yang kau tutupi. Bukan gara-gara ternyata kau seorang lelaki, ataupun karena kau menginginkan seribu candi. Sama sakitnya seperti itu, Hatimu terbagi!

Kau membagi kesetiaan dengan yang lainnya. Kau meniadakanku saat sedang bersamanya. Saat semuanya tidak lagi membaik, meninggalkan adalah satu keputusan yang terbaik, meskipun di atasnya akan selalu ada kata munafik untuk segera beralih dan berdalih. Akupun hancur, pecahanku seakan tidak akan mampu kembali, selalu berharap hujan membawa rasaku pergi. Padahal hujan hanya membawaku tidur, meninggalkan masalah ini sementara dan saat terbangun semua akan sama saja.

Senja itu indah, tapi tak bertahan lama karna akan ada gelap yang menggantikannya. Seperti hati yang tersakiti dan dikihianati, seperti kebaikan yang berbalas dengan duri, akan ada kebencian yang menyelimuti setelah semua hal yang terlewati. Saat itu tak dapat dipungkiri, mencoba membalas adalah pilihan terbaik agar meraih keadilan dan kepuasan hati. Seperti semuanya tak terkendali, aku tak menjadi diriku. Aku adalah monster, aku adalah keburukkan, aku adalah yang tidak pantas dimanusiakan, karna aku tercipta dari kebencian. Berfikirku hanya untuk dendamku, akal sehatku tak berjalan semestinya, aku bukan aku bila belum bisa membalasmu. 

Aku adalah pendendam, akulah seorang yang memegang teguh pembalasan. Kutunjukkan caraku untuk membalasmu, bukan dengan fisik yang sangat rendahan, tapi dengan merubah pemikiramu akan kekuranganku yang menjadi alasanmu untuk meninggalkanku. Semuanya akan membaik untukku dan mengecewakan untukmu, kupastikan itu!

Hey senja, apakah besok kau akan kembali? Atau masih akan berpaling dan digantikan oleh hujan? Keindahanmu tak pernah menipu setiap mata yang menikmatimu. Bila memang iya, hujan yang masih menggantikanmu, biarkan hujan membasahiku dan  membawa rasaku berpaling. Dari pedih, dari luka, duka, dan ketidakberdayaan. Seberapapun hujan membasahiku dan rasaku, datanglah sebagai obatku, pereda sakitku, dan pemulihku.

Hey senja, apakah tak bisa kau bertahan sedikit lebih lama? Sebelum tertutup oleh malam dan kegelapan, pada hakikatnya keindahanmu mampu menolongku meredakan sesak di dada, yang seakan berada di ruang hampa kedap udara.

Hey senja, apa iya kumampu melewatkanmu? Untuk menutupi rasaku yang membatu, dan melewati batasanku yang kelabu.

Hey senja, apa keindahanmu bisa melebur kebencianku? apa traumaku bisa terobati secepat itu?

Hey senja, segera kembalilah terlihat setelah petang, dan jangan cepat hilang seperti sebuah kasih sayang.

Hey senja, harapku tak lagi pada mereka yang menyakitiku, harapku hanya untuk melihat pancaranmu dan kemudian mengucap syukur padaNya, penciptamu dan penciptaku.

Hey senja, aku menunggumu. Di atas penderitaanku.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan bagikan jika menyukai Enggar sebagai Pemenang.

Enggar Dicky Yonanda

Lahir di Tulungagung, 17 Februari 1996. sulung dari tiga bersaudara ini memiliki kegemaran menulis karya tulis seperti puisi ataupun cerpen.
"I WROTE ALL FROM HEART, HURT, AND SORROW"
Intagram ID: @enggar.dckynda


0 comments:

Post a Comment