Tuesday, 21 November 2017

Sepuluh Sabtu

Sepi-sepi merangkap bisu, di antara derit kereta yang tertahan menuju Manggarai, aku mengingatnya dengan harapan yang sama bahwa di suatu kesempatan ia akan menjeda kalimatnya untuk kemudian bertanya, "Kamu pulangnya kemana?" Setidaknya agar ia tahu kemana aku biasa kembali. Jika memang selamanya ia tidak akan pernah mencariku, setidaknya ia memiliki ingatan dimana aku pernah berada.

pinterest

Sabtu itu berjalan seperti biasa. Perputaran aktivitas berkerja untuk sekumpulan mahasiswa mingguan, kadang-kadang mereka yang berasal dari kelas malam dan kelas pagi juga terlihat disana. Sekedar mengurus perkumpulan, organisasi, atau klub kampus. 
Aku selesai mengembalikan buku pinjaman sebelum mata kuliah pertama dimulai. Sabtu pagi yang cerah di luar kota Jakarta, lebih sejuk meski rasanya sama-sama menyesakkan. Kesibukan kantin telah dimulai sejak pukul tujuh pagi, dan diantara riuh rendah percakapan seru itu, seseorang memanggilku.

"Bulan!" Aku menoleh, ia Agha, seorang perempuan dengan perawakan mungil dan senyum yang terkesan centil. Tatapannya mengerling tatkala jaraknya denganku hanya tinggal selangkah saja, "Habis dari mana kamu?" Aku melirik bangunan sebelah yang tidak terlalu jauh, "Perpustakaan, ngembaliin buku. Kamu tumben udah dateng"

"Iya," ia mendesah, raut wajahnya mendadak tidak nyaman. "Mau bayar semesteran"

"Yah, jangan cemberut gitu dong, kan masih bisa bayar, daripada nunggak terus kena denda?" Aku menggodanya, tetapi Agha masih saja manyun.

"Iya sih. Tapi gaji bulan ini rasanya cuman lewat aja," kemudian ia geleng-geleng, merasa miris dan kasihan dengan dirinya sendiri.

"Kamu mau ikut ke loket?" Ke loket? Yang ramai banget itu? Aku menolak Agha dengan halus, dengan iming-iming akan mencarikannya posisi duduk yang nyaman di kelas, yang dekat dengan AC.

Agha mengiyakan dengan resah dan bibirnya kembali manyun, "Yaudah, terus kalau dosennya dateng, kamu jangan lupa izinin aku" Aku mengacungkan ibu jari, "Siap bos!", dan lima menit berlalu, Agha telah melesat ke gedung utama, menuju loket. Aku juga tidak langsung berlalu ke kelas, masih ada waktu dua puluh menit lagi, jadi aku memutuskan untuk membeli sarapan sebentar, kemudian baru beranjak menuju kelas pertama. Ah ya, perihal mahasiswa mingguan itu, akan kujelaskan. Kami, biasa disebut sebagai mahasiswa mingguan karena memang kami hanya menghadiri tatap muka seminggu sekali. Jadwalnya padat sejak pagi hingga sore, meski kadang-kadang memang senggang. Dan dapat disimpulkan dengan mudah, mahasiswa mingguan adalah mahasiwa yang juga menjadi karyawan atau pekerja lainnya di lima hari kerja, begitu dan termasuk aku.

Aku membeli segelas cappucino hangat dan roti keju, sepagi ini koridor-koridor lantai tiga masih lengang, hanya beberapa kelas yang telah terisi. Di depan kelas, seorang pria dengan setelan necis berdiri, ia menatap lurus punggung kelas yang memperlihatkan lanskap gedung utama dan biasan cahaya mentari pagi, dan aku tidak mengenali pria yang agaknya tengah menikmati pagi sendirian di kelas yang belum ada penghuninya.

"Per...misi?" ucapku ragu, takut mengganggu aktivitas sakralnya. Pria itu tidak segera menoleh dengan gerakan cepat, ia membiarkan pandangannya berpisah secara perlahan untuk kemudian sepasang matanya bertemu dengan sepasang mataku. Seperti sebuah gerakan lambat dalam film, senyumnya mengembang, diantara pendar sinar mentari yang membias ia berucap, "Selamat pagi". Apa katanya? Selamat pagi?

"Hmm," pria itu masih tersenyum sambil mengangguk pelan, "Selamat pagi." ia seakan dapat membaca apa yang menyembul dalam benakku.

"Pagi.." balasku kaku, ketika ia memposisikan dada bidangnya kesamping dan memberi celah, aku segera berlalu melewatinya dan masuk kedalam kelas yang dingin. Pria itu mendekat beberapa langkah menuju meja yang ku tempati, aku bertanya-tanya. Apakah ia dosen? Mengapa aku tidak pernah melihatnya? Ataukah ia mahasiswa? Perawakannya atletis, iris matanya teduh meski sayu, dan senyumnya meneduhkan. Eh, tunggu! Mengapa aku dapat mendeksripsikannya dan mengapa aku diam-diam memperhatikan?

"Mata kuliah pertama apa?" pria itu bertanya.

"Fonologi" jawabku singkat. Kemudian ia hanya kembali takzim memperhatikan lanskap yang ada di depannya, aku mengutuk suasana beku ini. Mengapa tidak ada satu orang pun yang datang? Aku menyesap cappucino perlahan agar tidak menimbulkan suara, agar pria itu tidak bertanya. Namun itu tidak lama karena kemudian ia berbalik dan berlalu begitu saja meninggalkan kelas, dan aku sendiri di dalamnya. Kira-kira baru beberapa detik senyap melingkupi sampai sedetik kemudian pria itu menyembulkan kepalanya sambil berkata, "Nama saya Nugraha" Ia memperkenalkan dirinya, kemudian menghilang lagi. Aku menghempas napas pelan sambil membatin tentang Sabtu apakah ini?

Aku menceritakan hal aneh tadi pagi kepada Agha, ia terkekeh sambil menggoda mengapa aku tidak balas meperkenalkan diri, dan Agha benar-benar penasaran saat aku mendeskripsikan pria itu sekali lagi; atletis, bermata sayu, dan senyum yang teduh.

"Kalo aku jadi kamu pagi tadi, aku udah tukeran nomor handphone, saling follow di instagram! Payah kamu, Lan!" Aku mengerutkan dahi, "Suasananya aneh banget, kaku, beku, nggak ada celah untuk bertingkah centil!"

"Itu kamu!" Katanya sambil menyorongkan sendok kearahku. "Kamu yang kaku, yang beku". Halah, aku mendengus. Aku yakin, suasana aneh tadi memang datang dari aura pria itu kok. Bukan karena aku yang payah. Aku teringat satu hal lagi saat itu, "Aku belum pernah ngeliat pria itu sebelumnya di kampus."

Agha langsung memasang ekspresi menerka-nerka, "Mahasiswa baru?" Aku mengendikkan bahu, "Ah, terlalu rapih dan gagah"

"Dosen baru?" Agha memberi alternatif lain.

"Terlalu muda juga," ucapku sambil lalu menyuap makanan. Agha berhenti memberi tebakan soal siapa pria itu, kembali fokus pada santap siangnya. Sementara diantara ramainya kantin aku mencipta kesenyapan diriku sendiri, membayangkan bias sinar mentari pagi tadi, ingatan tentang betapa teduh senyumnya melintas secara otomatis tanpa bisa kucegah. Sampai sore, aku berkali-kali waspada pada setiap tempat yang aku lalui. Pria itu tidak ku temukan lagi.

Namanya Nugraha, dengan segenap tekhnologi mutakhir di abad 21, aku menemukan banyak pemilik akun dengan nama itu, namun tidak satupun yang memperlihatkan senyum teduh miliknya. Aku bermimpi melihat bias mentari pagi dan lanskap bangunan kampus, tetapi diruangan itu aku menikmatinya sendirian. Dalam lelap, aku bertanya-tanya apa yang seharusnya ada disini, aku tidak kunjung menemukan jawabannya. Aku cuma merasa kosong dan monoton.

Sabtu datang dengan lambat.

Pagi itu, aku bangun lebih awal dari biasanya. Segera membersihkan diri dan berkemas menuju halte, kemudian menyambung perjalanan dengan angkot lintas provinsi selama kurang lebih tiga puluh menit. Jarak antara rumahku dengan kampus memang cukup jauh, beberapa teman tidak bosan untuk menawarkan tumpangan, baik di kosan, maupun mereka yang masih satu atap dengan orang tua. Tetapi aku lebih nyaman untuk pulang pergi, aku akan menerima tawaran mereka jika memang keesokan harinya aku masih harus berkutat dengan tugas, atau jika aku benar-benar merasa lelah. Semenjak aku bertemu dengan pria itu, aku tidak bisa untuk memberitahu Agha tentang yang sebenarnya terjadi, sekelebatan ingatan yang selalu otomatis berputar, aku berusaha keras untuk tidak membiarkan diriku kosong dengan musik, dengan buku, dengan keramaian, dengan perbincangan, tetapi setiap pagi menjelang, aku selalu dapat mengingatnya dengan jelas. Aku tidak tahan lagi.

Aku akan menceritakan yang aku alami selama seminggu ini kepada Agha, tidak perduli jika nanti anak itu akan habis menertawakan betapa seperti remajanya diriku. Aku sampai sebelum matahari pagi meninggi, kantin masih sepi, baru diisi oleh satu dua mahasiswa, masih bisa dihitung jari. Aku seperti biasa, memesan segelas kopi hangat dan roti bungkus, kemudian membawanya menuju kelas. Agha belum juga dapat dihubungi, nomornya tidak aktif, dan koridor-kodridor masih begitu lengang. Ketika aku sampai pada ambang pintu, jantungku meletup, berdetak dengan kecepatan yang lebih, tidak ada siapa-siapa disana, tidak ada.

Pintu kelas masih tertutup, aku mengatur nafas, memegang gagang pintunya, dan membukanya perlahan. Bias cahaya mentari pagi yang telah meninggi memenuhi wajahku seiring dengan terbukanya pintu. Mataku tertuju kepada bayangan panjang yang hanya sendiri, ia menatap lanskap bangunan utama dan silaunya mentari dari jarak lima langkah dari jendela. Menyadari kehadiranku, ia menoleh dengan gayanya yang khas, tetapi bukan selamat pagi yang keluar dari bibirnya, melainkan sesuatu yang membuatku tertegun karena ia mengucapkan, “Akhirnya kamu datang”

Pagi itu, kami berbincang layaknya sepasang anak manusia yang telah saling mengenal selama belasan tahun, seperti teman karib yang lama tidak bertemu. Bagaimana tidak? Ia tidak sedingin yang aku bayangkan pada saat pertama, ia sehangat mentari pagi, kami berbincang tentang banyak hal, tentang buku, tentang film. Ia bahkan telah menyiapkan segelas kopi untuk dirinya sendiri pagi itu. Selaksa perasaan aneh menelusup saat dengan tenang ia bertanya, “Siapa namamu? Mengapa kau datang sepagi ini?”

“Bulan,” jawabku singkat. “Rumahku jauh, bisa sih berangkat siang, tapi pasti kejebak macet” Ia cuma mengangguk maklum, kembali melanjutkan obrolan. Sejak pagi itu, niatku untuk menceritakan perasaan aneh ini kepada Agha urung, ia tidak pernah tahu apa yang pernah terjadi. Dan setiap Sabtu, aku akan berangkat lebih pagi demi sepotong mentari pagi bersama Nugraha.

Berlalu delapan sabtu, satu modul perkuliahan selesai. Dan aku masih belum tahu banyak tentangnya, hubungan ini hanya sebatas mentari pagi, kopi, dan banyak hal tentang buku juga seputar sastra, kadang-kadang lelucon singkat. Tidak ada saling tukar nomor ponsel, tidak ada saling mengikuti di instagram, tidak ada. Senyum itu masih sama teduhnya, bahkan jika ia tengah menyesap kopinya sekalipun. Tetapi setidaknya, tidakkah ia ingin bertanya dimana rumahku? Pagi itu, setelah genap delapan mentari yang kami nikmati bersama, aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya hal yang lebih pribadi padanya, tentang siapa dia? Mengapa ia selalu ada disini setiap sebelum jam pertama dimulai?

“Siapa kamu?” Ia hanya tersenyum, mengendikkan bahu.

“Kamu mahasiswa disini? Pakaianmu terlalu rapi, bahkan lebih rapih dari dosen yang kebanyakan lebih suka pakai kemeja santai” Ia hanya menggeleng dan tertawa pelan.

“Kenapa kita selalu bertemu setiap Sabtu pagi?” Kali ini ia tidak tersenyum, tidak juga menoleh, tidak menunjukan respon apapun, hanya menatap matahari yang semakin meninggi untuk kemudian akhirnya berucap, “Karena rasanya lengkap”

“Lengkap?”

“Melihat mentari terbit dan berbincang dengan kamu sambil minum kopi”. Aku masih mencerna kalimatnya, lama. Tidak tahu, pipiku panas, sepertinya bersemu merah, bodoh sekali. Saat aku ingin mengulas senyum malu-malu, kulihat punggungnya telah lenyap dibalik pintu. Pagi kedelapan, ia pergi tanpa pamit.

Sabtu kesembilan, modul satu di semester ini berakhir.

Pagi itu, aku tidak menemukannya di kelas. Tidak juga sore hari. Aku gelisah. Pagi kesembilan, ia menghilang.

Seminggu lagi berjalan, aku berkerja seperti biasa. Hanya saja, ada yang berbeda setiap kali aku melewati pagi, kereta yang membawaku menuju tujuan kerap kali tertahan di sinyal masuk stasiun Manggarai. Jeda-jeda panjang antara derit kereta dan masinis yang tidak bosan member informasi bahwa kereta ini tertahan membuatku kosong dan menimbang; apakah aku akan menceritakan ini kepada Agha? Pria itu? Ia yang selalu bercerita tentang banyak hal tanpa pernah bertanya secuil pun tentang diriku, bahwa jika hanya sekedar, “Kamu tinggal dimana?” Aku mengambil ponsel, mencari nama Agha. Nada sambung segera terdengar, dan tidak lama aku mendengar suaranya.

“Gha…”

“Kebetulan kamu telpon, kamu tahu nggak?” Ia justru lebih antusias, aku tidak memotong momen dimana ia akan bercerita, aku membiarkannya. “Modul selanjutnya kita dapat dosen baru!”

“Oh, ya?” balasku kurang minat.

Yup, beliau sebelumnya dapat jatah ngajar di lantai lima, ruangan 502 keatas, jadi penasaran”

“Aku biasa aja” Setelah itu, yang terjadi adalah Agha curhat tentang pekerjaannya dan banyak hal lagi, seperti biasa juga, aku hanya mendengarkan, keinginan untuk bercerita yang telah terjadi menguap begitu saja. Lima menit kemudian, akhirnya Agha memutuskan untuk menyudahi percakapan ini, “Nanti lagi ya, aku udah mau sampai kantor, have a great day!”

You too

Kereta masih tertahan. Lengang. Setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri. Dari balik jendela, matahari pagi perlahan naik, sinarnya berpendar seperti biasa, kadang membuat silau. Perasaan aneh setiap melihat sinar mentari naik, antara degup jantung dan lebih cepat dan ingatan-ingatan tentang dialog setiap Sabtu pagi yang rasanya panjang sekali. Sialan! Mengapa secuil tentang dirinya yang tidak pernah terbuka selalu saja menghantuiku? Aku menghela nafas panjang, memejamkan mata…. Senyum teduh itu melintas dengan tenang. Hei, dapatkah sekejap saja kau pergi seperti yang selalu kau lakukan setiap menyudahi percakapan kita?.

Lagi-lagi, aku bertemu Sabtu. Nugraha tidak juga enyah dari pikiranku, bersama senyumnya ia selalu melintas. Sepotong mentari pagi setiap hari Sabtu seakan-akan telah mendarah daging dan menjadi ritual bagiku, selain karena itu satu-satunya waktu dimana aku dapat menemuinya. Pagi ini seperti biasa, mampir sejenak ke kantin yang belum ramai dan membeli secangkir kopi dan roti, melesat menuju lantai tiga yang senyap, memegang gagang pintu kelas dan memasukinya dengan semangat. Gelap.

Bahkan belum ada yang membuka tirai jendela, belum ada seseorang yang meninggalkan jejak pagi ini kecuali aku. Aku menuju tempat dimana aku biasa duduk dengan Agha, berjalan menuju jendela dan membukanya, kembali duduk di meja sendirian, menunggu sesuatu yang sama sekali tidak pasti, menyesap kopi tanpa menimbulkan suara, menyaksikan pagi yang pelan-pelan naik dengan cahaya mentari yang berpendar dan silau. Pagi ini, seperti mimpi malamku saat aku pertama kali menemuinya, aku menikmati mentari pagi dan lanskap gedung sendirian, menunggu hal tidak jelas yang barangkali akan membuatku merasa lengkap.  Namun alih-alih menunggu, waktu terus saja berlalu. Tidak ada selamat pagi pertama untukku, tidak ada senyum teduh yang menggambarkan kelegaan saat aku membuka pintu. Disini, aku hanya merasa kosong dan monoton.

Mata kuliah pertama, akan segera dimulai. Kelas telah lengkap, tidak sesenyap pagi tadi. Pria itu, tidak datang, tidak menemuiku. Agha ceria seperti biasa, lagi-lagi obrolan tentang modul kedua di semester ini memenuhi ruangan. Keluh kesah perihal pekerjaan yang diemban sejak Senin sampai Jumat tertukar, langit-langit kelas penuh oleh percakapan sampai seseorang masuk dan membuka pintu, mengucap selamat pagi, dan tetiba kelas menjadi teratur dan rapih. Akhirnya kelas pertama dimulai.

“Apa kabar semuanya?” Aku mendongah, suara itu..

“Ini pertemuan pertama kita, ya? Sebelumnya memang saya mengajar di lantai lima, jadi…” Pertemuan pertama katanya?

“Nama saya Aditya..” Aditya?

“Aditya Nugraha” Dia?

“Tapi kalian bisa panggil saya Adit, itu cukup” Ia tersenyum.

Aku menatapnya dengan sejuta perasaan aneh yang melesak di dada, ingatan akan sembilan pagi di hari Sabtu yang kuhabiskan dengannya, percakapan remeh temeh, matahari pagi, dan betapa aku berharap ia akan bertanya di mana rumahku, saat-saat ia pergi pergi begitu saja.

“Bulaaan!!!” Agha berbisik histeris, menarik-narik lengan kemeja ku, “Dosennya manis banget, Tuhaaaan!” Aku menunduk, bertanya-tanya mengapa waktu itu aku datang terlalu pagi. Seharusnya aku tidak pernah menemuinya lagi semenjak pertemuan pertama, seharusnya aku tidak melihatnya saat ia tersenyum, seharusnya kereta yang kutumpangi setiap Senin sampai Jumat tidak perlu terhenti di sinyal masuk stasiun Manggarai agar aku tidak memiliki celah untuk mengingat segala percakapan. Seharusnya…

“Disini ada yang jarak rumahnya jauh sekali barangkali? Di luar dari kota ini, misalnya?” Seluruh kelas otomatis menoleh dan menunjukku, “Bulan, pak.. Bulan” Pria itu mengangguk, berjalan menuju mejaku, aku sungguh ingin bertanya mengapa ia tidak jujur sejak pertama. Aku sungguh ingin bertanya mengapa…

“Rumah kamu dimana?”

Agha menahan rasa kagumnya disampingku.

Aku balas menatapnya datar, “Jauh”
Di Sabtu yang kesepuluh, segalanya, terasa jauh.

***

Rolyta Nur Utami

Kopi Hitam, bukan nama asli, itu hanya nama pena dari seorang perempuan. Menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar, tengah mengenyam pendidikan lanjut sebagai mahasiswi mingguan di salah satu universitas swasta dengan prodi Sastra Indonesia, sehari-harinya berkerja sebagai Staff Development di salah satu perusahaan IT di bilangan Tebet. Penikmat senja dan kopi, juga puisi.

2 comments:

  1. Tulisan yang bagus. Sangat terasa ketulusan dalam paragraf-paragrafnya.
    you got skill. keep it up!.

    ReplyDelete