Friday, 26 May 2017

SOSOK AMRU

Aku mengapit buku fisika di depan dadaku. Alih-alih takut terlambat, aku sengaja datang lebih awal ke sekolah. Semata-mata, demi menyalin PR fisika milik temanku, Anggit, siswa nomor satu di kelas. Maksudku, dia bernomor absen pertama di kelas. Hehe. Kelasku berada di lantai 2. Ya, harapanku tak muluk-muluk lah, karena aku tahu, jika kita terlalu berharap tinggi, kalau jatuh sakitnya bukan main. Harapanku sendiri, aku ingin kelas yang kucintai dan kusayangi sepenuh hati dapat dipindahkan ke lantai 5. Sudah kubilang apa, harapanku tak tinggi, bukan?

pinterest
Untuk menuju ke kelas, kalian harus melewati ruang BK dengan aura horornya, tak perlu jauh-jauh hingga ke kuburan untuk merasakan sensasi menakutkan. Cukup datangi sekolah kami, di SMA Taruna 15, lalu datangi lokasi ruang BK. Lihat dan rasakan sendiri sensasinya, hehe. Tak hanya melewati ruang BK saja, kalian harus berjuang melewati 15 anak tangga untuk sampai ke kelas. Kelasku memang istimewa, makanya layak untuk diperjuangkan. Emang hati aja yang layak diperjuangkan?

Setelah melewati serangkaian rute perjalanan, akhirnya aku telah sampai di kelas yang kucintai dan kusayangi ini. Suasana sekitar tampak masih sepi. Sayup-sayup, kudengar bunyi angin menghampiri. Jujur, aku terkesan! Aku mungkin telah memecahkan rekor siswa teladan tahun ini, bagaimana tidak? Hari ini, aku sebagai siswa satu-satunya yang datang ke sekolah jam 4 pagi. Jelas saja, aku berhasil mengalahkan semua siswa kelas 3. Mengapa? Karena, mereka saja yang mengikuti bimbel datang ke sekolah jam 5, sedangakan aku? Satu jam lebih awal loh dari mereka. Ah, lupakan. Menurutku ini adalah sesuatu yang tak perlu diapresiasi.

10 menit pun mulai berlalu, akupun akhirnya berhasil menginjakkan kakiku di kelas ini. Dinding kelasku bercat abu-abu dengan struktur kayu di sela-sela jendelanya. Disudut kiri, terlihat wadah sampah berdiri megah seolah-olah berkata “Tolong, bantu aku memuntahkan isi barang di tubuhku ini, aku sudah tidak kuat, Qish.” Eh, aku bergidik ngeri membayangkan, segera dengan kepekaanku yang cukup tinggi, aku segera membuang semua sampah di wadah itu ke dalam TPA milik sekolah yang ada di halaman belakang sekolah. Untung saja, aku memiliki kepekaan tinggi, coba kalau tidak?  Bagaimana nasibmu, wahai tempat sampah?

Payah. Sekembalinya aku dari TPA, aku mendengus sebal. Pintu kelasku masih rapat terkunci. Seolah-olah mengisyaratkan bahwa tak ada celah satupun bagiku untuk masuk ke kelas. Kuputuskan akhirnya, untuk menunggu Pak Jabrik, si penjaga sekolah datang. Dia biasanya datang, jam 04.35. Dan sekali lagi, aku menang lagi darinya untuk urusan tepat waktu. Hanya hari ini Qish, kau menang, tak usah besorak gembira dahulu, hm.

Yang ditunggu-tunggu pun tiba, dengan cekatan aku membuka engsel pintu, dengan kunci yang barusan saja kuterima dari Pak Jabrik. Dan ‘cekrek’, aku pun berhasil membuka pintu. Suasana kelas sepi, menyisahkan aku saja sebagai makhluk hidup. Untuk mengusir kesepianku, kukeluarkan headsett putih, yang baru saja kubeli dari sebuah toko yang sedang promo, lumayan dapat menghemat uang saku seminggu kedepan.

Seperti biasa, jari jemariku pun peka memainkan tombol-tombol mungil di smartphone. Terdengar lagu Symphony- Clean Bandit mengalir ke telingaku. Oh ya, kujelasin telingaku ada dua, jadi lebih tepatnya mengalir ke kedua telingaku, haha. Garing.

Kulihat, Amru. Siswa kelas XI IPA 1. Siswa nomor satu paralel melintasi kelasku sambil bertatapan manja dengan mata sipitku ini, maaf kata manja itu diralat teman, kesannya kek gimana gitu, hehe. Dag dig dug hati ini seakan mengalahkan lagu ciptaan Clean Bandit ini. Wah, alay ya. Emang alay, siapa suruh baca. Akhirnya, aku mengambil buku catatan mini untuk menuliskan kisah tentangku dengannya, haha. Namanya juga cewek, apa-apa baper, ya kan? Ditatap doi aja pake ditulis di buku segala, apalagi dilamar doi? Bisa-bisa ditulis di pamplet sekalian, haha.

Perlu kau ketahui, sudah lama aku mengaguminya. Ya, seperti judul novel karangan Dwitasari, ‘Jatuh Cinta Diam-Diam’. Itulah perasaan yang kugambarkan kepada Amru. Kadang, aku berpikir, ‘Mengapa mencintaimu harus sesakit ini ru?’, why? Dan pada akhirnya aku harus menjalani rutinitas mencintainya dalam diam untuk selamanya, karena tak lain dan tak bukan, Amru adalah saudara sepupuku. Miris? Sadis? Hiks. Ya iyalah. Sekian dan terima kasih.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Belqish sebagai pemenang.

Laura Belqish Fhirdaus 
Dia ditetaskan oleh ibunya dibulan September. Eh, salah kata, dilahirkan maksudnya. Selain menyukai lagu-lagu Bang Tulus, dia kini telah resmi berumur 17 tahun  di tahun ke-2 nya di SMA.

0 comments:

Post a Comment