Friday, 26 May 2017

STAND UP COMEDY SANG DOSEN


Hari ini pertama kalinya Aku masuk kelas kuliah setelah lebih dari setahun Aku vakum dari dunia kampus. Lama banget ya? Bukan karena tertidur 300 tahun seperti Ashabul Kahfi atau hibernasi selama musim dingin seperti tupai. Aku sakit setahun lebih, itulah alasannya. Mau tahu sakit apa? Sepertinya nggak perlu dibahas disini ya? PM aja!

oneonta.photoshelter.com
Didominasi oleh mahasiswa semester 6, Aku yang bergelar mahasiswa abadi di kelas itu harus memendam rasa malu sedalam palung laut. Siapa yang nggak malu coba, Aku yang udah semester 12 ini harus berada dalam satu kelas bareng adik tingkat semester 6 yang notabene berbeda 3 tahun angkatan. Teman-teman seangkatanku udah pada nikah, kerja, bahkan lanjut S-2. Tetapi ada beberapa sih yang belum lulus, sekitar 8 orang. Hmm… serasa paling tua, emang pasti paling tua. Yang semester 6 masih imut-imut (peralihan dari wajah remaja ke wajah dewasa), masih bersih, masih ceria. Lha aku bulu-bulu di wajah udah rimbun.

Di sebuah kursi pojok depan Aku duduk sebatang kara. Adek-adek semester 6 nggak ada yang mau duduk mendekat atau sekedar bertegur sapa, “Pagi Mas…”. Nggak tahu kenapa. Karena Aku bau, karena mereka takut Aku udah kayak kera sakti (karena rimbunya bulu di wajah), atau karena ga mau ketularan lulus lama. Entahlah.

Diawali dengan doa bersama, sang dosen pun mulai beraksi menjelaskan materi perkuliahan yang tampaknya sudah di luar kepala. Tinta hitam pun berkali-kali beliau tempelkan pada papan putih besar persegi panjang yang menggantung di tembok depan. Perpaduan huruf, angka, dan goresan gambar menunjukkan kelihaian sang dosen dalam mengajar. Tak mau kalah, seluruh mahasiswa dan mahasiswi pun mencoba menunjukkan keenceran otaknya dengan menerjemahkan mantra-mantra sakti sang dosen.

“Kamu ngelamun apa?” tiba-tiba sang dosen berhenti menjelaskan dan melontarkan pertanyaan kepada salah satu mahasiswi yang bertengger di kursi deretan belakang.
“Tatapan matanya tajam pak” sahut mahasiswi sebelahnya mendukung sang dosen.
“Tajam, setajam pisau pak” dukungan lain berdatangan.
“Hahahaha...!” paduan suara ketawa seisi kelas mecairkan suasana.
“Masalah rumah tangga kok ya di bawa-bawa” celoteh yang lain.
“Hahahaha…!”
“Saya perhatikan ga pernah kedip” tambah sang dosen.
“Saya mikir pak” jawaban singkat tanpa beban dari sang mahasiswi tersangka. Gelak tawapun bertambah kencang “Hahaha…!”
“Ya, jadi untuk menggambar kontur….” perkuliahan dilanjutkan.

Sinar mentari pagi yang sesekali mengintip kelas bereaksi dengan udara dingin AC yang berhembus sepoi-sepoi tampaknya meringankan kelopak mata hampir seluruh warga kelas.
“Siapa yang ngantuk?” selain pertanyaan “Ada yang belum jelas?” kali ini sang dosen juga menanyakan hal satu ini kepada anak didiknya.
“Riky pak!” jawab seorang mahasiswa.
“Adi pak!” tambahan jawaban mahasiswa lainnya.
“Jam segini kok udah ngantuk!” sang dosen menanggapi dengan nada suara yang menekan, membuat kelas hening.
Kalo jam segini kalian udah ngantuk, saya juga” lanjut sang dosen.
“Hahahaha…!”lagi serius-seriusnya eh ternyata sang dosen memancing ketawa lagi. Bahkan durasi ketawa ini lebih lama beberapa menit dari yang sebelumnya.  

“Kalau jam segini saya ga kuliah, saya pasti masih tidur. Pasti kalian juga kan? Kalau jam segini saya masih tidur, berarti malamnya saya nggarap kerjaan. Bukan nggarap istri lho ya?” sang dosen menambahkan jawaban atas pertanyannya sendiri. Layaknya komika sedang stand up comedy beliau berhasil menggelorakan tawa untuk yang ketiga kalinya bergema di kelas. Sang dosen benar-benar berhasil meramu suasana belajar lebih menyenangkan sehingga materi-materi kuliah yang sulit tersebut terasa mudah untuk diserap.

Seketika ketegangan-ketegangan perkuliahan berevolusi menjadi senda gurau. Sinar mentari yang tadinya malu-malu kini sudah berani menampakkan diri bersinar sampai sudut ruangan menandakan waktu kuliah sudah usai. Itulah cerita yang tidak disangka terjadi pada kuliah pertamaku setelah satu tahun rehat. Aku tak perlu berlebihan memendam rasa malu karena menjadi paling tua dan harus membuang jauh-jauh negative thinking. Aku yakin pasti dosen juga memaklumi keadaan kita. Mereka tidak akan menyulitkan mahasiswanya untuk menyelesaikan masa studi dengan sewajar-wajarnya. Ayo semangat menyelesaikan studinya wahai semua mahasiswa abadi, jangan malu!
Eh lucu ga sih, tulisanku ini? kalian ketawa ga? Jawab lewat PM aja ya!
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Dhany sebagai pemenang.

Dhany Pangestu
Saya (masih) menjadi mahasiswa S-1 yang sedang berjuang untuk segera lulus. Suka membaca, menulis, traveling, dan berkompetisi. Mudah bosan terhadap sesuatu hal. Terobsesi keliling lima benua. Ingin banget mengabadikan kisah hidupku dalam sebuah buku dan dibuat film layar lebar. Masih punya mimpi untuk melanjutkan studi ke luar negeri.

0 comments:

Post a Comment