Sunday, 7 May 2017

Stigma

Taehyung tidak pernah merasa sendiri semenjak kepergian sang ayah tercinta. Dirinya masih mengingat betul bagaimana kejadian di mana nyawa dari sang ayah terenggut meninggalkan raga. Tak ada yang lebih memilukan saat ia mengetahui bahwa kini seseorang yang selalu membuatnya tersenyum, bangkit dari keterpurukan, dan menjadi pundak saat duka mendera hidupnya telah pergi meninggalkannya. Sungguh hal itu  diluar nalar Taehyung.


Alih-alih merelakan sosoknya untuk pergi, ia kembali merasa perih dalam lubuk hati disebabkan berbagai kenangan indah yang ia torehkan bersama sang ayah selama masa hidupnya. Berbagai perasaan yang tertahan bahkan sudah pernah dicurahkannya pada sang ayah sebelum kematian menjemput. 

Sejak kecil, Taehyung kecil bahkan selalu mengadu karena di ejek oleh teman sebayanya karena tidak memiliki seorang ibu pada sang ayah tercinta. Beranjak remaja, usia yang sudah sepatutnya tidak berpikir kekanak-kanakan lagi, dengan senyuman yang merekah indah si ayah hanya mengelus surai Taehyung saat ia merengek untuk dibelikan sebuah ice cream.  Menginjak usia tujuhbelas tahun, ketika dirinya sudah mengenal apa yang disebut dengan cinta, dengan perasaan yang menggebu-gebu Taehyung selalu mencurahkan segala masalahnya pada orang orang yang ia sebut pahlawan dalam hidupnya yaitu sang ayah.

Jadi, bukankah wajar bila dirinya tidak rela jika ayah tercinta direnggut nyawanya karena sebuah peristiwa yang disebut dengan kecelakaan? Ini tidak adil bagi pria itu. Bahkan saat Taehyung sangat membutuhkan sosoknya untuk mencurahkan segala yang membuat pikiran dangkal ini buntu. Relung hati yang tidak habis-habisnya terus didesak oleh perasaan tertekan karena berbagai masalah—yang biasanya dibantu solusi dari sang ayah—dan sekarang harus  ia selesaikan sendiri tanpa adanya tuntunan tangan yang selalu diulurkan pria paruh baya itu. 

Taehyung tidak mampu.  Dirinya tidak bisa untuk sekedar bernapas karena orang yang selalu ia jadikan tumpuan untuk hidup telah tiada. Taehyung belum siap untuk menerima bahwa sosoknya kini sudah pergi dan berbeda alam dengannya.

“Ini tidak adil untukku. Bagaimana bisa ini terjadi?” Ucapan pemuda Kim itu tersendat karena kini ia kembali menangis untuk yang kesekian kalinya. Liquid bening yang mati-matian ia tahan untuk tidak turun kini sudah menjadi sebuah anak sungai yang lolos membentuk aliran deras pada kedua pipi tirus itu. Isakan itu terdengar memekakan telinga. Kesenyapan yang mendominasi seketika dipenuhi dengan tangisan penuh pilu. Menyesakkan dada dan membuatnya sulit untuk menghirup udara segar kendati jendela di ruangan itu terbuka lebar dan membuatnya terhempas membentur dinding karena angin yang berhembus. Ia meringkuk di sudut ruangan. Menenggelamkan rupa sembab itu pada kedua lutut yang ia tekuk dan memeluknya dengan kedua tangan. 

Tubuhnya bergetar hebat seiring dengan tangisan yang kian deras bersamaan dengan hujan yang sedari tadi menemani malam kelamnya. Otaknya sudah tidak berfungsi kembali ketika dirinya mencoba untuk berpikir jernih. Taehyung membutuhkan solusi atas duka yang melanda hidupnya. Namun, pertanyaannya sekarang, siapakah gerangan yang bersedia menjadi pundak dan tempat dimana pria itu mencurahkan setiap perasaan yang menekan lubuk hati?

Taehyung bukan tipikal orang yang pandai bergaul dengan sesamanya. Ia akan spontan menghindar tatkala seseorang mendekati sosoknya yang hanya terdiam di pojok ruangan dimana ia hanya terdiam tanpa beranjak dari singgasana. Jika ada yang benar-benar nekat untuk memulai sebuah konversasi ringan untuk membuka topic, Taehyung tidak akan segan untuk melayangkan tatapan tajam pada si lawan bicara. Maniknya yang dituruni oleh sang ayah dengan tatapannya yang setajam pisau bak elang yang sedang mencari mangsa untuk dimakan, pemuda itu tidak akan pernah menaruh simpati saat mimik si lawan bicara mencoba untuk membujuknya.

Peduli apa pada orang-orang yang hanya datang saat mereka membutuhkan bantuan dirinya. Mereka kira ia babu yang bisa dengan seenaknya diperintah dan dimanfaatkan begitu saja? Tentu Taehyung tidak akan mau untuk menjadi korban selanjutnya. 

Dentingan jarum menyapa indra pendengaran seiring dengan waktu yang berjalan. Sudah hampir setengah jam ia menghabiskan waktu untuk menangisi kepergian sang ayah dan merutuk takdir yang selalu tidak memihak pada pria itu. 

“Ayah, aku merindukanmu,” Bibir itu masih bergetar hebat tatkala Taehyung mengucapkan sebuah kalimat. Perasaan rindu yang membuncah hatinya tidak mampu ia tahan. Ingin ia menyusul pria paruh baya itu untuk pergi dari kehidupan yang menurutnya sangat tidak adil ini. Namun, apa daya takdir lagi-lagi mempermainkan pemuda itu  yang sangat ingin untuk mengakhiri hidup. 

“Apa yang harus aku lakukan?” Ia menyandarkan kepala itu pada dinding disampingnya. Pandangan pria itu menerawang jauh pada langit malam yang disuguhkan oleh Tuhan dengan ribuan bintang dan rembulan yang sedang menebar cahaya. Kemudian tungkai itu mencoba untuk menopang berat badan yang kian menurun itu seraya tangan yang mencoba menahan dengan memegang dinding yang terkikis oleh waktu. Entahlah, ia merasakan dorongan kuat saat kedua telinga itu tidak sengaja mendengar sebuah bisikan. Kedua manik yang masih asyik memandang hamparan cakrawala dengan satu objek yang menjadi alasannya untuk menuju balkon flat mini yang ia sewa. 
“Bangkitlah dari keterpurukan.”

Kalimat itu menyapa indra pendengarannya selagi ia melangkahkan tungkai. 

“Lihatlah bintang itu. Dia bersinar diantara ribuan bintang lainnya. Tidakkah kau iri dengannya?” 

Ya, Taehyung memang melihatnya. Bintang itu, benda yang menjadi objek dimana tubuhnya tergerak untuk memandangnya dari jarak dekat. Dan di sinilah ia berada. Tempat dimana ia selalu mengingat sosok ayahnya. Merindukan presensi yang selalu berada disampingnya. Tempat yang menjadi saksi bisu kenangan dimana pundak itu menjadi sandaran Taehyung.

“Bangkitlah dari keterpurukan. Mulailah hidupmu seperti bintang yang bersinar itu.” Ia kembali mendengar kalimat itu. Kata demi kata yang membisikkan hatinya yang sedikit demi sedikit membuat pria itu memiliki keyakinan untuk memulai hidup baru tanpa kehadiran dari sang ayah tercinta. 

“Jangan membuang waktumu dengan hal yang tidak berguna. Bangkitlah dari keterpurukan.”

Sampai sekarang, Taehyung masih tidak tahu-menahu perihal bisikan itu. Suara misterius yang entah berasal darimana. Yang pasti, kini ia hanya mampu untuk mendengar alih-alih melihat sosok dari pemilik suara tersebut yang membisikkannya dengan sebuah kalimat penuh keyakinan. 

“Benarkah?  Jadi, apa yang harus aku lakukan?” Tanya pria itu dengan napas yang sedikit memburu. Ia mengedarkan pandang sesaat. Namun, kembali memfokuskan kedua obsidian pada bintang yang bersinar terang itu. Taehyung tidak gila. Jangan berpikiran yang tidak-tidak ketika pertanyaan itu ia layangkan entah pada siapa dan sedang menuntut sebuah jawaban. Alisnya mengerut dengan raut yang heran tatkala indra pendengarannya kembali mendengar sebuah bisikan yang sama.

“Bangkitlah dari keterpurukan. Mulailah hidupmu seperti bintang yang bersinar itu.” 

Taehyung tidak akan percaya jika bisikan itu berasal dari makhluk halus yang menghuni flat ini. Namun, kini ia percaya bahwa kalimat itu memang benar adanya. Taehyung harus bangkit dari keterpurukan. Duka yang ia rasakan karena kepergian dari sang ayah tercinta tak boleh berlarut-larut hingga membuatnya menjadi depresi seperti sekarang. Tidak, ini tidak benar. Taehyung tidak boleh melakukan ini. Ia harus merelakan sosoknya untuk pergi dan memulai hidupnya yang baru. Benar, dengan begitu ayahnya pasti akan tenang di alam sana dan ia bisa mencari kebahagiaannya sendiri tanpa harus menjadi benalu. 

Biarlah rasa rindu ini hinggap di relung hatinya. Biarlah kenangan indah ini menjadi sebuah film yang akan ia ingat dalam hidupnya tanpa adanya tangisan yang keluar. Karena dengan begitu, ia akan bisa terus menjalani hidup dan memulai hidupnya yang baru dengan senyuman yang mengembang tanpa adanya lagi beban hidup yang membuatnya tertekan dan menginginkan sebuah kematian. Dan Taehyung menyesal karena telah membuat dirinya dan orang lain akhirnya merasakan kerugian akibat tindakan bodoh yang ia lakukan.

“Maafkan anakmu ini, ayah. Aku merindukanmu.” 

*** 
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Windi sebagai pemenang.

Windi Inanto Putri

Lahir di Jakarta tepatnya pada tanggal 24 Mei 2003. Tertarik pada dunia kepenulisan saat menjadi kpopers. Baru memberanikan diri untuk menulis saat kelas enam sd. Itupun belum tahu apa yang namanya EYD dsb. Baru mulai mematenkan hobi ketika didukung oleh banyak teman di sosmed dan keluarga. Sekarang aku tinggal di kampung halaman tepatnya di Kota Brebes, Ds. Keboledan RT.21 RW.03. Mungkin cukup sekian biodata ini. Semoga aku bisa memenangkan lomba ini ^^ (Aamiin)

0 comments:

Post a Comment