Thursday, 25 May 2017

Strategi Menjelang Tidur Yang Bagus

BANYAK beberapa pakar kesehatan dari luar negeri maupun dalam negeri yang agaknya masih saja ada yang kebingungan buat menyimpulkan, tentang strategi menjelang tidur yang bagaimana kah yang paling baik itu. 

pinterest
Sampai akhirnya banyak opini bermunculan, menjadikan tema tentang tidur menjadi santapan lezat bagi ahli berfikir maupun pakar kesehatan. Hingga terjadi polemik selama 5 hari berturut-turut, mengisi setiap rubrik koran maupun majalah, dengan masing-masing tetap berpegang teguh dengan ulasannya sendiri-sendiri, untuk bisa saling mengungguli satu sama lainnya. Bahkan ada yang sampai nekad surfing di internet semalam suntuk agar bisa mendapatkan referensi yang paling pas, agar nantinya diharap bisa mencetuskan gagasan yang terbaik keesokan harinya. 

Sebenarnya pertanyaannya sepele, namun telah menciptaan deru kontroversi panjang bagi sebagian umat manusia, berikut pertanyaannya: Bagaimana cara mengatur pencahayaan di ruang tidur agar sesuai? 

Memang telah banyak saran dan komentar yang telah dikemukakan oleh beberapa pakar kesehatan itu, yang rata-rata berasal dari luar negeri. Namun nyatanya justru membuat kita semakin susah dan kebingungan sendiri untuk mengikuti anjurannya. Karena terlalu panjang dan kebanyakan memakai bahasa inggris, yang tentu saja membuat kita warga lokal susah memahaminya. Jadi buat sementara kita lupakan sejenak tentang ulasan para pakar itu ya? Sekarang, mending kita beralih pada ulasan orang lain saja, oke.

Baiklah daripada penasaran. Yuk! Kita simak opini-opini unik dari beberapa narasumber lokal kita. 
Menurut narasumber kita: 
Sebut saja Jhon, pria berusia 40 tahun kelahiran Sumedang yang mengaku menyukai warna pink sejak kelas 5 SD ini, dia mengatakan: Tidur yang paling baik itu, tidur dengan menggunakan pencahayaan yang sedikit. Dengan begitu kita mendapat dua keuntungan sekaligus. Yang pertama, mata tidak silau, dan yang kedua kita jadi lebih hemat listrik. Dengan begitu tidur pun jadi lebih nyenyak karena tak perlu memikirkan tagihan listrik banyak-banyak nantinya. 

Lalu berikutnya, Kumala, seorang wanita karier penyuka jeruk bali ini mengklaim. Kalau tidur terbagus itu adalah yang menggunakan penerangan benderang. Alasan klasiknya, biar tidak mimpi seram. Soalnya setan yang mau mengganggu, tiba-tiba mengurungkan niatnya karena mengira hari masih siang. 

Tapi ada juga, Sanjaya, seorang pemuda bujang dengan rambut sedikit agak lurus, yang kini berprofesi sebagai pegawai fotokopi di Tasikmalaya. Pemuda ini dengan tegas menyatakan: Kalau tidur paling benar adalah dengan memadamkan semua lampu, alias gelap gulita. Alasan rasionalnya, biar mata cepat terpejam, soalnya mau merem atau melek tidak ada bedanya. Kalau sudah begitu, otomatis mata menjadi kebingungan sendiri merasakan situasi iklim, dan rasa kantuk akan cepat hadir.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, masalah tidur dengan pencahayaan yang bagaimana pun, itu sebenarnya tidak masalah, tergantung kesukaan orang itu sendiri-sendiri. Karena faktor yang paling utama adalah, dimanakah kita tidur? Dan dengan siapakah kita tidur? Contoh kecilnya saja, ada dua orang pengendara yang sedang kemalaman di jalan, sebut saja si A dan si Z. Keduanya lalu memutuskan mencari penginapan. Setelah mencari-cari, akhirnya mereka menemukan sebuah penginapan di dekat tempat pembuangan sampah yang menurut keduanya cocok. Sebuah kamar yang tak begitu luas namun dengan suasana yang comfortable, mereka langsung menyewa satu ruangan buat ditempati berdua dengan cara patungan. 

Sebelum tidur si A menyarankan tetap menyalakan lampu, tapi si Z malah kebalikannya, yaitu menyuruh memadamkan lampu. Karena tak ada yang mau mengalah, terpaksa keduanya melakukan suit. Ternyata A menang dan berhak membiarkan lampu tetap menyala. Sedang si Z hanya pasrah dan mencoba bersikap sportif. Karena kelelahan keduanya segera tiduran sambil mengobrol ringan, membahas tentang makanan kesukaan mereka masing-masing, lalu lambat laun topik beralih ke cerita flora dan fauna. 

Karena sudah mulai mengantuk si A pamit mau tidur dahulu, mungkin karena tak biasa dengan lampu benderang, si A menutup matanya dengan sapu tangan. Sedang si Z cuek saja melihat temannya berbuat begitu karena dia yang menang, dan tak berapa lama dia pun ikutan tertidur. 

Menginjak tengah malam. Tiba-tiba si Z terbangun sambil menutup telinganya. Ternyata oh ternyata, si A tidur sambil mendengkur dengan keras, bahkan 2 menit kemudian disusul suara kentutnya. Bagi si A 2 suara itu seakan berkolaborasi menciptakan suara berisik di tengah malam. Apalagi karena dalam ruangan tertutup, otomatis suara dengkurnya bergema, serta bau kentutnya itu terasa awet dan susah hilang, karena sirkulasi udara ruangannya memang sangat kecil. Terkadang waktu baunya mau hilang, si A kentut lagi, disertai suara dengkurnya yang terus-menerus. Otomatis membuat si Z tak bisa memejamkan mata, kalaupun bisa, itu pun dengan gelisah dan sedikit-sedikit terbangun. Karena merasa kesal, si Z memutuskan untuk terjaga sepanjang malam, sambil sesekali menutup hidungnya buat berjaga-jaga kalau kentut itu datang lagi. 

Keesokan paginya, si A melihat wajah temannya begitu pucat seperti kurang tidur. Kebalikannya dengan wajah si Z yang sangat ceria. Dan sewaktu keduanya sarapan, tiba-tiba si A berkomentar, besok-besok kalau hendak tidur disarankan buat memadamkan lampu saja, agar bisa tidur nyenyak seperti dirinya.

Buat cerita di atas saya persilahkan pembaca buat menarik kesimpulannya sendiri. Kira-kira langkah manakah yang paling baik itu: Memadamkan lampu atau justru mematikan lampu ketika hendak tidur. Karena bagi saya pribadi, strategi menjelang tidur yang bagaimana pun, mau begini atau pun begitu, semua tetap berada dalam kesukaan individu masing-masing.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Dwi sebagai pemenang.

Dwi Lanang 
Dengan nama pena Dann Monhettan, lahir di sebuah kota kecil di Jawa timur, tepatnya di kota Bojonegoro. Lelaki yang kini berprofesi sebagai Barber Man ini mengaku menyukai dunia tulis menulis sejak tahun 2012 yang lalu. Dari awal membaca buku-buku novel bergenre thriller dan fantasi, membuat sedikit-dikit imajinasinya tergelitik buat mencoba menulis. Dan terbukti, kini sudah banyak karya-karyanya yang telah dihasilkan lelaki penyuka warna hitam ini dan telah dimuat di beberapa majalah. 













0 comments:

Post a Comment