Wednesday, 17 May 2017

Tak Sekadar Meminjam

Bagiku dunia mahasiswa memberikan pengalaman yang luar biasa, apalagi masalah teman. Aku merasa beruntung karena ketika menjadi mahasiswa tinggalku bukan di kos tapi di pondokan. Tinggal di pondok yang baru berdiri sekitar tahun 2012 lalu, dengan jumlah penghuni 14 anak, terasa seperti hidup bersama keluarga.


Kebiasaan unik di pondok salah satunya adalah “barangku barangmu”. Eits,,,, jangan berpikir macam-macam dulu. “Barangku, barangmu” maksudnya karena kita sama-sama mengerti bahwa semua barang-barang dunia ini hanyalah titipan belaka, maka jika kita punya barang dan teman kita butuh, maka hendak kita rela meminjamkan.

Aku pun berusaha seperti itu. Ada satu cerita, ketika itu laptopku rusak pas banget mau skripsian. Akhirnya ku pinjam laptopnya saudara. Beruntung banget karena dapat pinjaman. Karena itu laptop pinjaman maka aku harus super menjaganya, takut kalau rusak atau gangguan semacamnya. Tapi, ketika salah seorang teman pinjam rasanya nggak tega kalau nggak dipinjami, teringat aku sendiri juga pinjam. Akhirnya kubiarkan laptop itu terpinjam. 

Pagi-pagi, pas mau keluar tahu-tahu laptopku tergeletak di aula. Pas ku nyalakan ternyata nggak bisa. Ku ambil charger dan segera ku tancapkan ke colokan. Perlahan ku nyalakan laptop, dan alhamdulillah bisa. Hati sudah ketir-ketir rasanya, takut laptopnya rusak, karena itu laptop pinjaman. Usut-diusut, kalau kejadiannya kayak gini, bisa jadi laptopnya nggak dimatiin pas udah selesai dipakai, tapi mati sendiri karena habis baterai. 

Rasanya jengkel karena itu laptop pinjaman, tapi nggak tega mau marah. Akhirnya aku hanya diam dan berusaha ngasih senyuman.

Itu cerita pertama, ada lagi yang membuatku lebih nggak tega. Saat itu ada seorang teman yang akan mendaftar sidang skripsi. Salah satu syaratnya adalah mengumpulkan pas photo 3 x 4 berdasarkan ketentuan. Pas photo bagi perempuan di kampusku harus menggunakan jas dan berjilbab hitam. Karena dia nggak punya jilbab hitam akhirnya dia pinjam ke temen-temen. Saat itu hanya sedikit orang yang ada. Pas banget jilbab hitamku siap pakai karena sudah bersih dan berbaris rapi di almari. Akhirnya kupinjamkan jilbabku. 

Jelang beberapa hari, giliranku mendaftar sidang. Aku juga harus mengumpulkan pas photo yang sama. Ku cari-cari jilbab hitamku di almari. Ternyata nggak ada. Baru kuingat kalau jilbab itu dipinjam salah seorang teman. Akhirnya ku samperin dan ku klarifikasi apakah benar jilbabku dipinjam. Ternyata benar, tapi saat itu jilbabnya dalam keadaan basah karena baru dicuci. 

Hati terasa kesel tapi nggak tega mau marah-marah. Toh hanya gara-gara sebuah jilbab hitam yang harganya tak lebih dari 25 ribu rupiah. Tapi pas banget, pas aku butuh pas nggak ada jadi rasanya pengen marah-marah. Tapi aku harus berusaha ngasih senyuman.

Akhirnya aku harus cari pinjaman. Alhamdulillah, beruntunglah aku karena masih ada teman yang punya jilbab hitam yang siap pakai saat itu. Jadi aku bisa ikut foto dan mendaftar siding skripsi.

Dari sini aku bisa belajar gimana tata cara meminjam yang baik. Ketika kita butuh suatu  barang dan kita tidak punya, tidak apa-apa jika kita meminjam. Meminjam itu hukumnya dalam Islam adalah mubah (boleh). Meminjam tak sekadar meminjam, namun meminjam yang baik hendaknya kita menjaga baik-baik barang tersebut, jika selesai memakainya maka harus segera dikembalikan supaya yang punya juga seneng dan nggak lupa kalau barangnya dipinjam.

Aku juga sadar, dari sini aku tahu kalau sikapku salah jika  aku hanya jengkel dalam hati dan diam. Hendaknya sebagai seorang teman yang baik yang tentunya kita pasti nantinya akan saling membutuhkan dan saling tolong menolong, serta demi kebaikan dan menjaga tali pertemanan, aku harus berani mengingatkan tentunya tidak dibarengi marah-marah, tapi mengingatkan sambil kasih senyuman. Seperti pepatah yang sudah menyebar di zaman sekarang ini “udah senyumin aja.” Lagi pula jika aku mengingatkan sambil marah, bukan malah didengar tapi yang ada malah kena marah balik.

Hal sepele tapi penting banget dan sering kali kita lupakan. Barang apapun yang kita pinjam, sekecil dan semurah apapun barang itu harus tetap kita jaga, karena itu menyangkut perasaan orang.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Evi sebagai pemenang.

Evi Nurjanah

Mahasantri PP. Darun Nun, Perum. Bukit Cemara Tidar Blok F3 No. 4, Karangbesuki Sukun, Malang, Memiliki hobi travelling dan merajut. Salah satu penulis antologi puisi dengan judul “99 Cinta Darun Nun dan salah satu penulis buku Jodohku Bersabarlah.

0 comments:

Post a Comment