Tuesday, 2 May 2017

Tidak Ada Seorang Anakpun Bercita-Cita Menjadi Buruh


Buruh bukanlah pekerjaan atau profesi yang hina dina, bahkan dalam perspektif moral yang terbatas, Buruh menjadi pahlawan bagi diri seorang Buruh itu sendiri, bagi keluarganya, bagi masyarakatnya. Menjadi pahlawan dari kenyataan bahwa Buruh sebagai pekerja upahan dengan upah hasil bekerja kepada orang lain seringkali tidak cukup untuk membiayai kehidupan masyarakatnya, keluarganya, bahkan diri Buruh itu sendiri. Maka yang ada adalah pengorbanan yang terus menerus membayangi kehidupan Sang Buruh tersebut. Namun apakah Buruh akan selalu bangga dengan itu semua? Bangga menjadi pekerja upahan? Bangga menjadi pahlawan yang selalu kekurangan? Bangga menjadi orang yang terus menerus berkorban sepanjang hayat? Bukankah dengan demikian menjadi Buruh adalah bergelut dengan penderitaan? Maka wajar jika tidak ada seorangpun anak manusia yang bercita-cita menjadi Buruh.

Jerrytrisya.com

Apakah menjadi Buruh adalah taqdir Tuhan? Dilihat dari sisi menjadi Buruh adalah sebuah ikhtiar bertahan hidup dengan menjual tenaga kerjanya sendiri, mungkin iya. Namun dilihat dari sisi menjadi Buruh adalah sebuah nasib ketika menjual tenaga kerja adalah akibat dari ketiadaan kepemilikan atas sumber daya produksi dan tuna kuasa untuk berproduksi tanpa relasi yang penuh intimidasi, maka itu adalah konstruksi! Ya, menjadi Buruh adalah menjadi manusia yang harus dilihat dari tiga dimensi: menjadi makhluk Tuhan, menjadi diri sendiri secara individual dan personal, dan menjadi bagian dari masyarakat manusia yang berrelasi sosial. Tuhan tidak menciptakan seorangpun manusia dengan ketetapan pasti menjadi Buruh ketika dilahirkan ke dunia. Tidak ada seorangpun anak manusia yang bercita-cita menjadi Buruh. 

Apalagi ketika menjadi Buruh dipahami sebagai posisi dalam struktur sosial yang secara politik-ekonomi adalah pihak yang tidak berdaya dalam relasi produksi, distribusi, bahkan konsumsi. Apakah Buruh punya pilihan untuk mengkonsumsi apapun yang diinginkannya? Mungkin tidak, kecuali upah atau gaji yang diberikan oleh yang mempekerjakannya atau yang mengupahnya ada tambahan-tambahan atau bonus-bonus yang melebihi standar upah atau gaji yang sudah ditetapkan oleh perusahaan atau korporasi dan negara atau pemerintah. Mungkin ada semacam insentif, namun apakah intensif? Sementara itu setiap manusia terus menerus mengonstruksi hidup yang konsumstif, sementara itu, tingkat keuntungan atau laba yang terus meningkat selalu menjadi ukuran yang disebut produktif. Sementara itu, Buruh, bekerja dalam situasi kondisi yang eksploitatif dan intimidatif.

Menjadi Buruh adalah ketika tanah-tanah dan sumber daya alam lainnya sebagai anugerah dari Tuhan dikuasai dan dimiliki oleh sebagian manusia serakah yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Penguasaan dan pemilikan itu seringkali dilakukan melalui berbagai bentuk perampasan bahkan disertai dengan kekerasan. Ketika tanah-tanah dan sumber daya alam lainnya yang seharusnya menjadi berkah bagi seluruh umat manusia dari Tuhan, dan Tuhan menyuruh seluruh manusia untuk memakmurkan dunia serta menyuruh setiap manusia menjadi khalifah di muka bumi, mengapa dunia, bumi, dan segala yang ada dipermukaan dan dikandung di dalamnya, bisa dikapling-kapling untuk dikuasai dan dimiliki oleh sebagian (kecil) manusia? Apakah itu taqdir Tuhan? Tentu saja tidak, bukan?
 
Bagaimana perampasan atas sumber daya alam yang seharusnya menjadi sumber daya produksi bagi seluruh dan setiap manusia di dunia dan di muka bumi ini bisa terjadi? Ada segala cara yang tersedia dalam segala kemungkinan yang bisa dipikirkan dan dilakukan oleh semua manusia dan setiap orang. Termasuk dengan mengkhianati kejujuran dan segala hal yang dicap baik dan/atau benar dalam setiap ajaran moral apapun. Namun satu-satunya jawaban mengapa semua itu bisa terjadi dan mengapa ada Buruh sebagai profesi adalah karena keserakahan! Buruh dengan demikian adalah korban keserakahan manusia atas segala sumber daya anugerah dan berkah Tuhan untuk semua manusia dan setiap orang dengan menjajah, memeras, menindas, mengeksploitasi, atau apapun istilahnya. Oleh sebab itu, tidak ada seorangpun anak manusia yang bercita-cita menjadi Buruh. Sebab, tidak ada seorangpun anak manusia yang bercita-cita menjadi korban keserakahan dan kemunafikan manusia lainnya.

Selamat Hari Buruh se-Dunia! Panjang umur perlawanan terhadap keserahan dan kemunafikan! Panjang umur perjuangan untuk martabat kemanusiaan! Ketika satu-satunya jalan pembebasan adalah persatuan, maka jalan berikutnya adalah penguasaan atau pemilikan dan pengelolaan atau pengusahaan segala sumber daya alam anugerah Tuhan adalah kebersamaan untuk keberkahan. Sistem kapitalisme bukanlah satu-satunya sistem yang bisa diciptakan manusia dan diselenggarakan  terus menerus tanpa pilihan. Tidak perlu dan tidak penting lagi memperpanjang barisan perbudakan manusia melalui berbagai pranata maupun lembaga termasuk sistem pendidikan atau sistem sosial apapun, sebab yang lebih perlu dan lebih penting untuk dicatat di jidat dan di tanam dalam kesadaran di seru sekalian alam adalah... tidak ada seorangpun anak manusia yang bercita-cita menjadi Buruh.


***
Virtuous Setyaka

0 comments:

Post a Comment