Saturday, 6 May 2017

Untold

Aku menyayanginya dengan seluruh nafasku. Hingga nafas ini tak bersisa untukku sendiri. Nafasku telah kuserahkan untuknya. Untuk hidupnya.


Hanya saja ia tak pernah tahu. Sebab akupun tak akan membiarkannya mengetahui begitu besarnya rasa sayang ini yang lantas membuatku sering lupa untuk bernafas sebab seluruh waktuku kudedikasikan hanya untuk menyayanginya.

Seperti malam ini.

Nafasku tercekat dengan hati tersayat melihatnya meringkuk lemah di atas tempat tidur. Demamnya tinggi sejak tadi sore. Erangannya justru membuatku luka saat secara perlahan kucoba mengompres keningnya.

“Badanmu panas sekali, Sayang,” tanpa sadar suaraku bergetar.

Aku tahu ia hanya demam biasa. Tapi rasa panik justru melandaku. Sebagai pria yang tak cukup pandai dalam hal merawat orang sakit, malah menimbulkan reaksi berlebihan sebagai akibat ketidakcakapanku.

Bahkan baru saja aku menumpahkan air di dalam baskom ketika akan membasahi lagi handuk untuk mengompres keningnya. Suara baskom yang terjatuh cukup keras ke atas lantai mengusik tidurnya. Kedua netranya lantas terbuka dengan sangat pelan.

Mata itu menatapku sayu. Sinar mata yang biasanya mampu hadirkan rasa damai, laksana lenyap tertelan kehampaan dan keputusasaan. Dan aku bersumpah, tatapan itu sangat mengganggu lantaran hatiku kembali sakit karenanya.

“Eung…” erangnya seraya mempertahankan kelopaknya agar tak kembali tertutup. “Ha-haus.”

“Raya haus?” Tanyaku cepat. Mengabaikan lantai di samping tempat tidurnya yang basah akibat tumpahan air.

Ia mengangguk dengan teramat pelan.

Dengan langkah terburu tungkaiku berderap ke luar kamar untuk mengambil air minum. Sekembalinya dari dapur, kubawa tubuhku ke kamarku dengan tergesak berharap masih ada obat penurun panas di dalam lemari obat. Dan sayangnya tidak kutemukan obat yang kucari. Maka kuputuskan untuk kembali ke kamar Raya yang pada akhirnya membuat alat pemompa darahku serasa mencelos saat mendapati Raya kembali terpejam di atas tempat tidurnya.

Tubuhnya berkeringat dingin. Dan seharusnya aku bisa lebih tenang mengingat hal ini memang wajar terjadi bagi penderita demam. Namun aku tak bisa menahan kedua tangankku yang gemetar sembari menyapu keringat di kulitnya dengan anduk kering.

Bagaimana bisa ia terserang demam hanya karena kemarin siang kehujanan saat pulang sekolah? Aku tak mengerti dengan anak muda jaman sekarang yang daya tahan tubuhnya tak sekuat kami dulu.

Usai memastikan Raya kembali tidur, kututupi tubuhnya dengan selimut hingga ke dadanya. Mengecup sekilas keningnya yang panas, kuusap puncak kepalanya dengan tangan yang masih gemetar seraya menatap wajah pucatnya yang terlelap.

Memoarku melayang ke masa di mana Raya masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Ia yang dulu kugendong ketika kami berjalan-jalan ke pasar malam, Raya yang sewaktu kecil sering menjadikan punggungku untuk bermain kuda-kudaan, serta tawa kami berdua saat mengotori dapur istriku—ibunya Raya.

Tak ingin menyebut diriku pria cengeng, namun harus kuakui setetes cairan bening lolos begitu saja tanpa bisa kutahan. Aku sering bertanya pada diriku sendiri. Sudahkah aku menjadi seorang ksatria untuk Raya? Sudahkah aku bisa menjaga Raya seperti ibunya dulu menjaganya? Sudahkah aku berhasil menjadi single parent?

Melenyapkan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung kutemui jawabnya, sekali lagi kukecup kening Raya. Menatapnya lamat-lamat sebelum kuputuskan untuk ke luar rumah membeli obat demam untuknya.

***

Aku mencintainya dengan rasa sakit.

Sakit disebabkan wajahnya selalu mengingatkanku pada mendiang istriku. Sakit karena aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan istriku yang dulu berjuang untuk melahirkan anak kedua kami, yang pada akhirnya istriku dan janinnya tak terselamatkan.

Dan dengan rasa sakit yang tak kunjung hilang, kuberikan segala cintaku dan seluruh hidupku untuk Raya. Putri pertamaku yang kini sudah beranjak remaja. Putri kecilku yang kini sudah duduk di tingkat pertama SMA.

Mencintainya dengan rasa sakit lantaran aku belum rela melihatnya tumbuh menjadi gadis remaja yang pada akhirnya akan jatuh hati pada pria sebayanya. Aku belum siap untuk itu. Aku belum siap jika putriku melihat pria lain untuk dijadikan tempat bersandar selain aku. 

“Ayah sudah bangun sepagi ini?”

Aku terperanjat mendengar suara parau di belakangku. Raya berdiri lunglai di samping meja makan. Kedua matanya setengah terpejam menatapku.

Kualihkan atensiku yang sejak tadi berdiri di samping jendela dapur, menatap tetes embun dari ujung daun ketapang di luar sana. Kuhampiri Raya dengan langkah tergesak dan langsung memeriksa keningnya. Tentu saja hal itu membuat raut wajahnya berubah cemberut.

“Bagaimana kondisimu? Sudah baikan? Atau masih pusing? Kalau begitu hari ini izin sekolah dulu biar nanti ayah yang menelpon wali kelasmu kalau hari ini—”

“Ayaaah,” rengeknya menghentikan ucapanku. Raya menurunkan tanganku yang masih bertengger pada keningnya. “Raya sudah baikan kok. Ayah jangan khawatir, oke? Hoaahmm…” Ia berjalan menjauhiku menuju kamar mandi.

Yah, beginilah sifat putriku. Sifatnya yang tidak suka jika ayahnya sendiri terlalu memperhatikannya. Sifatnya yang terkadang membuatku kesal. Meskipun begitu, aku tetaplah menyayanginya. Sebab ia putriku. Sebab ia putri istriku yang telah meninggal dua tahun lalu.

“Kalau begitu cepat mandi dan akan ayah buatkan nasi goreng untuk sarapan!” Seruku pada pintu kamar mandi yang tertutup bersiap dengan peralatan memasak dan juga bumbu dapur.

Setidaknya pagi ini aku bisa bernafas lega lantaran aku tak perlu lagi dilanda cemas berlebihan karena mengkhawatirkan kondisinya. Setelah ini kupastikan akan menjadi ayah yang lebih keren lagi untuknya. Menjadi pria nomor satu dalam hidupnya. Sebelum nanti ada bocah lelaki yang mengulurkan tangannya dan mengambil putri tersayangku dariku untuk hidup bersamanya.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Aisyah sebagai pemenang.

Aisyah Zahra

Lahir 23 tahun silam di Amuntai, Kalimantan Selatan. Penyuka kucing namun alergi pada bulunya.

0 comments:

Post a Comment