Monday, 15 May 2017

Waktu

Pernahkah dari kita mengharapkan waktu dapat berulang? Kembali ke masa lalu. Mengulang kembali kenangan yang telah berlalu. Atau setidaknya dapat menghapus segala kesalahan dan dosa kita pada masa lalu.


Ya, mungkin sebagian besar dari kita sangat mengharapkan dapat kembali ke masa lalu. Mengulang kembali waktu. Sekadar mengubah yang tidak di kehendaki, sekadar mengubah yang buruk menjadi baik, sekadar menyenangkan hati orang-orang yang kita cintai.

Tetapi faktanya tidak ada satupun dari kita yang mendapatkannya. Tidak ada satupun dari kita dapat merasakannya. Tidak ada satupun dari kita yang bisa melakukannya. Begitulah faktanya. Begitulah realitnya. Meskipun kita sangat menginginkannya. Meskipun kita sangat mengharapkannya. Dia tidak akan bisa kembali.

Allah telah banyak bersumpah menggunakan hal-hal yang berkaitan dengan waktu di dalam Alquran. Demi masa, demi siang, demi malam demi waktu dhuha, dan demi-demi lainnya yang berkaitan dengan waktu. Tetapi dari kita sadarkah apa arti dari semua ini? Apa arti dari sumpah ini yang banyak menggunakan hal-hal yang berhubungan dengan waktu? Jawabannya sederhana. Hargailah waktu tersebut.

Apa maksud dari mengahargai waktu tersebut? Dari sini tanpa kita sadari sebenarnya kita telah menemukan jawabannya. Dilihat dari keinginan kita yang menginginkannya kembali tanpa memerlukan tafsiran dari Alquran sekalipun untuk mendapatkan jawabannya. Dalam hidup ini waktu terus berjalan. Tidak ada kata henti, tidak kata kembali. Tanpa kenal lelah tanpa kenal salah. Waktu terus berjalan tetapi kita masih banyak menggunakan waktu yang terus berjalan tersebut dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna. Melakukan hal-hal yang tidak ada manfaatnya. Melakukan sesuatu yang membuat kita jauh dariNya. 

Sebagian besar manusia di dunia ini banyak menyianyiakan waktunya. Menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna. Dalam pepatah arab disebutkan bahwasanya waktu adalah pedang. Artinya waktu tersebut memiliki dua sisi yang berbeda. Bila kita dapat menggunakannya dengan baik maka kita akan selamat. Begitu sebaliknya jikalau kita tidak dapat menggunakannya dengan baik maka kitalah yang akan terhunus oleh pedang (waktu) kita sendiri. Sedangkan dalam pepatah orang eropa mengatakan waktu adalah uang. Yang artinya gunakanlah waktu dengan tepat untuk menyelesaikan segala pekerjaan maupun tugas. dengan penuh disiplin agar kelak mampu menikmati keberhasilan yang kita capai dan hindarilah pemborosan waktu yang tidak bermanfaat. Sehingga semakin hari semakin hanyut dan tenggelam dalam kerugian. dan dapat membuat penyesalan berkepanjangan jika melihat orang berhasil.

Kembali kepada statement awal, kita yang megharapkan waktu kembali. Pada dasarnya harapan kita untuk meminta waktu dapat kembali adalah untuk mengulang sesuatu yang telah kita lakukan. Sesuatu yang tidak lah bermanfaat, sesuatu yang membuat kita menyesal, sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Jadi kita hendak mengulangi waktu tersebut. Meskipun ada satu dua yang menginginkan waktu berulang agar dapat merasakan nikmatnya masa lalu yang telah dia lalui.  

Kemudi dan tidakkah kita sadar, hilangnya waktu berarti dengan hilangnya usia? Tetapi kenapa kita masih melakukan sesuatu yang seperti itu? Kenapa masih menggunakan waktu yang kita miliki digunakan untuk sesuatu yang tidak berarti? Hilangnya usia berarti dekatnya kita kepada kematian. Tapi kenapa kita masih melakukan hal-hal yang tidak berguna tersebut, sedangkan kematian kita semakin dekat?  

Pantas saja di dalam alquran disebutkan manusia dalam keadaan merugi. Ini berkaitan dengan kita yang tidak menghargai waktu itu sendiri. Bagaimana tidak, banyak manusia yang melalaikan jatah hidupnya. Mereka lebih senang mengejar hal-hal duniawi yang sudah jelas sementara. Sedangkan tujuan hidup yang sesungguhnya yaitu beribadah kepada Allah dilupakan begitu saja. 

Lalu pertanyaannya bagaimana menjadi orang yang beruntung? Di dalam Alquran surah al-‘Ashr ayat ke-2 ini Allah dengan tegas menjelaskan bahwa sesungguhnya seluruh manusia itu berada dalam kerugian. Tidak ada manusia di dunia ini yang beruntung. Namun di ayat selanjutnya, yaitu ayat ke-3 ternyata Allah memberikan pengecualian. Kepada siapa? Yaitu kepada orang yang memenuhi keempat syarat yang telah Allah gariskan. Yaitu beriman kepada Allah, mengerjakan amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, saling menasihati dalam kesabaran.

Karena itu, untuk menjadi orang yang beruntung, untuk jadi orang yang menghargai waktu, yaitu orang yang sukses di dunia dan selamat di akhirat, kita harus mampu melaksanakan keempat kriteria tersebut. Jika kita belum melaksanakan semuanya, maka kita belum menjadi manusia yang beruntung secara keseluruhan.

Wallahu a’lam  bishawab 

When we can control it (time) well and correctly we will grasp the world and the hereafter

***
Tulisan ini ikut atisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Arel sebagai pemenang.

Arel Nandito

Seorang pemenang yang telah terlihat ketika dilahirkan dengan bukti memenangkan lomba pacuan di rahim ibu. Sekarang berusaha mencari jalan lain agar kembali menjadi pemenang. #arn 

0 comments:

Post a Comment