Thursday, 11 May 2017

Yang Benar Saja, Semesta!

Namaku Annisa. Seorang mahasiswi setengah tua di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Yogyakarta.

pinterest

Senin, 28 November 2016 pukul 06.00 WIB
, Aku sudah terbangun dari tidur suciku. Lalu berjalan kearah balkon dengan handuk yang tersampir di bahu. Sesampainya di balkon, aku memegang pagar pembatas, memejamkan mata, lalu menghirup aroma pagi di daerah Gowok yang sedikit tercemar oleh sampah di sungai Gajah Wong. Tapi tak masalah, toh moodku sedang baik pagi ini. Aku bahkan mendengar pohon srikaya di depan kosan membisikkan ucapan “Selamat pagi” pada ku.
“Selamat pagi juga, Semesta !” teriakku.

Beberapa orang yang sedang mulai beraktivitas di sekitar kos ku terlihat kaget dan menegadah kearahku, lalu memberi tatapan “Kamu gila, ya?”, Aku hanya tersenyum ramah dan tak perduli. Pukul 06.30 WIB, aku sudah berjalan di bantaran sungai Gajah Wong menuju kampus. Kelas pertama dan satu-satunya hari ini memang dimulai pukul 07.00 WIB, dengan Dosen Killer yang tidak mentolerir keterlambatan barang semenit pun. Kelas pagi di hari Senin yang Luarr Biasaah !

Aku berjalan dengan riang. Moodku benar-benar berada pada posisi terbaiknya. Sebenarnya aku juga ingin berjalan sambal bersiul, tapi sayang sekali aku tak bisa bersiul. Jadi di sinilah aku, berjalan melintasi sungai Gajah Wong sambil melambai pada deretan rumpun bambu yang terus berderit dan bergoyang. Ku anggap itu sebagi balasan atas lambaianku pada mereka.

Di kelas, Dosen Killer itu justru memujiku habis-habisan. Dia bilang penelitianku tentang Bahasa sangatlah luar biasa, yah meskipun ada beberapa revisi di sana-sini, tapi Si Dosen Killer terus saja memujiku sampai aku jadi ingin membesarkan kepala. Setelah kelas selesai, aku keluar dengan senyum sombong yang terukir angkuh di bibirku. Salah satu guruku saat di Sekolah Menengah Atas pernah berkata, “Tidak apa-apa menjadi sombong, asal memang ada yang disombongkan”. Maka izinkanlah aku menjadi sombong kali ini, wahai semesta!

Dengan selesainya mata kuliah yang berhasil membuatku menyombongkan diri tersebut, maka selesai juga kuliahku di hari senin. Yang perlu ku lakukan selanjutnya adalah bermalas-malasan di kosan salah satu teman dekat ku yang memiliki jarak terdekat dengan kampus. Karena aku harus kembali ke kampus pukul 15.00 WIB untuk menghadiri rapat jurusan yang wajib ku ikuti. Mendekati pukul 15.00 WIB, aku segera bersiap-siap untuk kembali ke kampus. Aku memasang kerudung berwarna navy diatas kepalaku, memposisikannya pas di wajahku dan tak lupa mensejajarkan kedua ujung kerudung sampai benar-benar simetris. Ah, Aku benci ujung kerudung yang tinggi sebelah.

Setelah siap, aku segera keluar dari kamar kos teman dekatku itu. Namun aku harus kaget, karena ketika aku membuka pintu keluar, aku melihat bahwa hujan sudah turun dengan derasnya. Aku ingin mengumpat saat itu. Karena setiap kali berada di kos teman dekat ku itu, aku selalu merasa terisolasi dari dunia di luar kamar kosnya. Tak ada signal dan bahkan suara hujan pun tak terdengar. Dan parahnya lagi, selama menjadi mahasiswi, aku tak pernah memiliki teknologi perlindungan diri dari hujan yang biasa disebut payung. 

Aku menghela nafas sedalam yang ku mampu. Aku tak ingin merusak mood indahku hari ini hanya karena hujan yang sebenarnya merupakan fenomena alam favoritku.
“Bisa kau berhenti sebentar, wahai hujan? Bukan berarti aku tak lagi mencintaimu, tapi aku harus melakukan beberapa hal penting, dan aku tak mau hal yang kucintai justru menghalangiku.” Bisikku memohon pada hujan. Benar saja, 10 menit kemudian hujan pun berhenti. Aku bernafas lega sembari melemparkan kecupan mesra pada langit.

“Terimakasih hujan. Terimakasih semesta.” Ucapku. Lalu aku berjalan riang menuju kampus. Melewati beberapa rumah penduduk Sapen. Menyapa beberapa kucing dan ayam yang berkeliaran. Juga menyapa seorang wanita paruh baya pemilik Angkringan. Fakultas tujuanku sudah di depan mata. Hanya berjarak sekitar 100 m lagi saat hujan kembali turun dengan deras dan dengan semena-mena mengguyur tubuhku yang mematung tanpa ada niat untuk berlari. Mood baikku sudah benar-benar luntur kali ini. Aku basah kuyup dengan gigi menggeretak marah. Lalu aku berteriak sekencang-kencangnya.
“WAHAI SEMESTA ! APA KAU SEDANG MENGAJAKKU BERCANDA ?!!”
***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan Mei. Silahkan dibagikan jika menyukai Annisa Ayu sebagai pemenang.

Annisa Ayu Latifah 
Lebih suka disingkat menjadi Annisa Latif. Lahir dan besar di sebuah provinsi yang terletak di ujung Pulau Sumatra yang dekat dengan Pulau Jawa. Mencintai Saiki Kusuo dan Saitama dengan seluruh hidupnya. Tidak lupa juga mengangungkan segala jenis makanan berbentuk Mie. Dan saat ini sedang menjalani rutinitas akademisi di Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

0 comments:

Post a Comment