Sunday, 7 May 2017

You Never

“Kak, I just wonder.. Why you so obssesed to be a writer?”


Sesekali kami mencoba menghindar dari hantaman lembut guguran bunga sakura. Dua hingga tiga kelopaknya sempat mampir di jilbabku, di lipatan sweater bagian belakang, juga kadang tersangkut pada rambut lelaki di depanku. Selanjutnya kami akan tertawa tawa, mengusir kelopak itu satu per satu.

“Hmm.. kenapa ya.. menurut kamu?” kubalik pertanyaan yang ia lontarkan. Dia membetulkan  rambut depannya yang sedikit menjuntai ke arah mata. Menyentuh bagian tengah kacamatanya sebelum kemudian menggaruk sisi bawah telinganya.

“Yeah, aku kan nggak ngerti. Makanya aku tanya Kak”

Mushasino dan sakura masih berpadu dengan langkah kami. 

“Well, did I have tell you about someone I loved?”

Dia mencoba mengingat, kemudian senyumnya pecah.

“You did, Kak”

Kami berjalan kembali. Sesekali singgah untuk sekedar mencari tahu primordia bunga sakura seperti apa. Mengambil gambar seperlunya, kemudian mengantongi beberapa kelopaknya di saku baju kemudian kembali menertawai hal bodoh yang kami lakukan.

“He still doesn’t know I guess” katanya setengah berbisik. Aku mengangguk.

“Cause you never tell him, Kak” sambungnya.

Aku mengangguk lagi.

“Dat not easy, Dek”

Kami berjalan lagi. Masih awal April seperti ini memang waktu yang tepat untuk menjelajah hujan kelopak sakura. Untuk selanjutnya ketika seluruh bunganya gugur akan digantikan dengan pucuk pucuk tunas kemudian menjelma menjadi daun. Dan akan gugur di musim selanjutnya.

“Kupikir itu mudah. Apa susahnya sih Kak cuma bilang –Hey, aku suka kamu- or hmm –Hey, many times I spend to thinking of you, your shades, your soul, your smile...”

“Kamu pernah menyukai seseorang?” potongku sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.

Dahinya berkerut, kutunggu reaksinya.

“Once, maybe” jawabnya, tanpa berani menghadapi mataku.

Kami terus berjalan. Tibalah kami di muka telaga Inokashira.

“Gimana rasanya suka sama seseorang?” tanyaku.

Dia menggeleng, seolah tak yakin bahwa dia benar benar pernah melakukannya.

“No, just tell me..” pintaku.

Lagi, dia membetulkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. Entah karena hawa dingin atau apa, perlahan ia menyisipkan kedua tangannya pada saku mantel.

“Seperti... apa ya Kak, seperti kita sedang berjalan sendirian menuju satu titik tapi perlahan titik itu meninggalkan kita”

Tokyo masih menyajikan sejuk seolah tak rela pengunjungnya dijangkiti penyakit lupa. Tokyo memang selalu menjadi penggoda yang cukup baik. Tokyo selalu begitu. 

“Don’t you know what I felt? Love in a silence..” kupancing opininya.

Dia mendesah, aku yakin ini lebih kepada tak tau kata apa yang harus ia kemukakan.

“Itu seperti.. rrr kamu merasakan apa apa yang nggak bisa kamu miliki sesungguhnya” aku menjawab pertanyaanku sendiri.

“Seems like, you can touch her hands but never, you can reach her smile but can’t, you can hear her song on your soul but nothing...’ lanjutku.

Aku tahu lelaki ini mendengar penjelasanku yang sedikit membosankan.

“The next ridiculous question is... pernah nggak Kak dicintai dalam diam?” dia bertanya sambil menggerak gerakkan kakinya pada tanah di bawahnya. Menyibak guguran bunga sakura yang terjatuh di hari hari yang lalu.

Reflek aku menggeleng.

“I don’t know” jawabku.

“Cause?”

“Cause, ya mana bisa tau kalo sedang dicintai dalam diam? Emang aku dukun?”

Danau indah di depan kami kabarnya menyimpan mitos bahwa setiap pasangan kekasih yang melewatinya akan mengalami putus hubungan. Namun memang indahnya menggoda siapa saja  untuk sekedar menyentuh airnya dari atas perahu. Menurut cerita di danau ini dulunya Dewi Benzaiten terkena kutukan  bersama kekasihnya, dan entahlah aku tak terlalu peduli.

“So, sampe kapan Kak mau nunggu orang itu peka? Sedangkan Kakak aja ngga pernah tau dia pernah baca tulisan Kakak atau enggak..”

Angin bertiup lembut sedikit menerbangkan sisi jilbabku. Aku menunduk, dan benar juga pendapat lelaki di sampingku ini.

Bagaimana dia bisa tau?

Sedangkan aku tak bisa memastikan apakah dia pernah membaca tulisanku atau tidak.

Bagaimana bisa?

“I don’t know, but I believe that he still be my big inspiration”

Sakura masih bertebaran. Entah sampai kapan musim semi akan berjalan. Mungkin hingga seminggu ke depan atau dua tiga hari lagi.

“Kak, ‘till your own book 'bout him have released.. Did you know how his color eyes?”

Aku kaget dengan pertanyaannya.

Warna matanya?

Jangankan warna matanya, aku belum pernah mendekat pada –dia- lebih dari sepuluh meter jaraknya.

“I guess... hazel?”

Lelaki itu tertawa.

“Kak, did you know how silly you was?”

Ya, aku memang konyol.

Mencintai seseorang yang bahkan hingga kini tak pernah tau warna matanya.

Tak pernah mengerti dia suka jenis musik apa.

Tak tau jadwal makannya.

Tak paham klub sepakbola kesukaannya.

Bukankah itu sangat konyol?

“To be honest, I don’t care about that. I loved him no matter what” kataku akhirnya.

Lelaki di sampingku memasukkan tangannya lebih dalam ke saku mantel. 

“And you never thinking about someone love you as much you love him, Kak”

Tokyo masih bergerak cepat. Secepat aku mengerti arah kalimatnya.

“Did you repeat your –secret love letter- to me?”

Tak ada anggukan atau kata –ya-. Aku dan lelaki di sampingku tenggelam dalam anak anak pertanyaan yang terus bercokol dalam ingatan.

Dan salah satu ingatanku yang tiba tiba merangsek pada satu lembar surat yang kutemukan di lipatan buku.
Tertulis jelas siapa pengirimnya.

Lelaki bermata coklat di sampingku.

-Kak, you never thinking ‘bout someone who loved you as much you love your crush-

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Mei. Silakan dibagikan jika menyukai Esti sebagai pemenang.

Esti Setyowati

Lahir di Wonogiri 26 Februari 1997. Saat ini sedang dalam masa studi di salah satu universitas negeri di Jawa Timur. Memiliki kegemaran menulis dan membaca serta mendengarkan musik. 

0 comments:

Post a Comment