Tuesday, 1 August 2017

Apa yang Sudah Kulakukan?

Mataku terbuka, sinar mentari seperti lagi enggan menyambutku. Kini, ia tak seramah dulu. Ya, tak seperti dulu, kala sekolah. Ketika kokok ayam serasa alarm termerdu yang pernah ada, ketika sinar mentari pagi adalah paparan tersegar yang pernah aku dapat. Hidupku tak sesehat dulu, kini berbanding terbalik. Kokok ayam serasa pengganggu termenyebalkan yang pernah ada dan sinar mentari segar tak pernah lagi kudapatkan. Hidupku tak sesehat dulu, ketika rutin olahraga hingga lelah pun tak begitu terasa. Berbeda dengan sekarang, walau hanya dengan bangun tidur pun badan serasa sakit pegal, belum lagi kepala yang sering terasa pusing.

IDkaca

Aku menatap cermin kamar mandi dan melihat bayangan ekspresi yang tak menentu dari wajahku, dan seperti itu saja setiap harinya. Aku seperti menderita penyakit yang parah hingga kondisiku memburuk setiap pergantian hari. Bedanya, sakit yang parah itu ada pada hati dan pikiranku yang membuat setiap hariku terasa buruk. Hidupku memburuk, karna penyakit itu. Entah sejak kapan penyakit itu tumbuh hingga sekarang, hingga meradang. Penyakit itu adalah benci. Aku membenci diriku sendiri. Aku tidak tahu sebab dari penyakit ini. Aku tidak mau ini terjadi, tapi perasaan benci ini terus menyakiti. Apa memang aku seharusnya seperti ini? Membenci diri sendiri hingga mati?

Apa yang kulakukan saat ini?

Aku hampir menyerah dengan jalan hidupku, terlalu benci pada diri sendiri membuatku tak mengerti apa tujuan aku dilahirkan. Ya, itu salah satu dari berbagai pertanyaan yang berkerak di pikiranku. Untuk apa aku hidup? Untuk apa aku dilahirkan? Tumbuh besar, sukses kemudian mati? Kurasa itu bukan jawaban. Aku tidak punya sesuatu untuk kuharapkan, apalagi kubanggakan. Apa kuliahku sekarang ini dapat kuharapkan? Ketika dosen mengajar aku tertidur megabaikan pelajaran. Apa yang dapat kuharapkan, ketika jam kuliah mulai dijalankan mataku tak pernah sesekalipun melihat ke depan. Saat ini kuliahku tak bisa menjadi jaminan untuk masa depan. Sering kudengar cibiran di luar sana. Aku tak peduli apa yang mereka pikirkan. Walaupun sebenarnya aku ingin mempedulikannya, tapi benci ini tak mengizinkannya.

Aku pernah punya sesuatu yang menyenangkan, aku pernah punya sesuatu yang bisa kubanggakan. Itu dulu, ketika benci belum membelenggu hatiku. Walaupun aku tidak suka membaca, tapi aku suka menulis. Aku dapat membuat orang lain suka membaca, dengan bacaan yang aku tulis. Bukuku selalu saja penuh dengan coretan, penuh cerita yang kerap kurasakan. Kini, menulis tak semenyenangkan dulu, lebur persatu sajak durja dari masalah dunia, semestaku menghilang tak bersisa. Tulisanku tak lagi berarti apa-apa, kini ia hanya barisan kata. Tulisanku tak lagi berarti apa-apa, kini itu hanya coretan yang kuhaturkan pada semesta, yang tak kuharap nyata.
Saat ini yang menyenangkan bagiku hanyalah menonton film live actions Jepang. Entah apa yang kuharapkan dari film-film itu, tapi yang pasti kurasakan adalah aku tidak merasakan hadirnya benci yang sangat menyebalkan itu saat menontonnya. Itu seperti obat sesaat untuk hatiku. Walaupun aku tidak suka cerita yang berakhiran bahagia dan ada unsur cinta di dalamnya, tapi aku tetap menikmatinya. mengenai cinta, saat ini aku tidak memiliki cinta kepada orang lain. Bukan karena aku tidak mau, tapi memang karena pilihanku. Bagaiman aku mencintai orang lain sedangkan aku belum mencintai diriku sendiri. Bagaimana aku mencintai diri sendiri sedangkan aku membencinya. Alasan dari pilihanku itu adalah, karena aku tidak mau membagi benci yang kini tengah menyelimuti hati. Dan biarlah ini menjadi penyakit yang kualami sendiri.   

Apa yang akan aku lakukan setelah ini?

Mungkin aku akan mencoba menyembuhakan penyakit ini. Aku tidak mau selamanya diperbudak benci. Aku ingin bisa diandalkan lagi. Dimulai dari yang dulu menurutku menyenangkan. Aku akan mencoba menulis lagi, walaupun akan sulit. Setidaknya orang lain bisa memulai menyukai tulisanku dulu sebelum aku. Aku juga akan berolahraga lagi, walaupun awalnya akan menyiksa tubuhku, toh aku sudah terbiasa tersiksa oleh benci ini. Aku tidak akan berhenti menonton film live actions Jepang, itu sangat menyenangkan. Dan untuk masalah cinta, perlahan aku akan mencoba. Bukan pada orang lain, tapi pada keluargaku terlebih dahulu. Toh aku masih berkewajiban mencintai orangtuaku. Aku tidak perduli statusku yang masih sendiri. Aku hanya belum mau membagi cinta yang seharusnya itu untuk ibuku seutuhnya. Jadi,setelah semua yang kulakukan itu, apakah penyakit benci itu masih membelenggu?

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Aji Zheto sebagai pemenang.
Pras Aji Zheto

Lahir 21 tahun lalu. Hobi gua bikin caption-caption warbyasa. Nulis panjang-panjang bukan keahlian gua, tapi kalo ada duitnya bolehlah. Cita-cita gua pengen jadi seniman, penulis, engineer, pengusaha, banyak lah. Tinggal pilih salah satu. 
Ig : @aji_zheto

0 comments:

Post a Comment