Wednesday, 2 August 2017

Film Biru

Grid.id

"Guru, aku ingin ke luar negeri."

"Mengapa begitu, Anakku?"

"Negeri ini banyak masalah."

"Coba sebut beberapa, Anakku."

"Satu. Pemilu Jakarta, Guru. Pemilu di Jakarta, orang Padang yang ribut. Dua. Banyak ustad yang alih profesi jadi pengganda uang. Guru pikir uang segalanya? Tiga. Penduduk negeri ini, gampang terhasut, Guru. Jadi, kita sulit bercanda."

"Ada lagi?"

"Nanti jadi seribu, Guru. Tiga saja dahulu."

"Yakin tak ada masalah lain? Ongkos-mu ke luar negeri bagaimana?"

"Itulah kenapa, aku menceritakan ini padamu, wahai, Guru yang tanpa pamrih."

"Bagaimana kalau kita menonton film, Anakku?"

"Oke, Guru. Sampai berapa lama?"

"Sampai kau berubah pikiran, Anakku. Harusnya, masalah dalam negeri juga dilakukan di dalam negeri, Anakku. "

"Aku mencintaimu, Guru. Mari kita menonton film."

"Film apa? Yang biru atau yang merah?"

"Yang biru saja, Guru. Aku menyukai langit."

"Kita menonton film biru?"

"Iya, Guru. Putarkanlah! Semoga masalah negeri ini dapat selesai dengan menonton film biru."

"Sabar, Anakku. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang sabar dan salat*. Sebentar, untuk film biru, kita harus belajar kepada Jepang, Amerika bagian selatan, dan Rusia. Kita butuh waktu banyak"

"Tidak ada pemain lokal, wahai Guru?"

"Ada. Tapi kualitasnya kurang."

"Putarkanlah, Guru. Aku mau itu. Sesungguhnya masalah dalam negeri, dibenarkan oleh orang-orang yang di dalam negeri juga."

"Sebentar, Anakku."

"Apa lagi, wahai Guru?"

"Kita butuh waktu."

"Waktu untuk apa, wahai Guru."

"Waktu untuk memikirkan, apakah kita, orang-orang baik ini, pantas kiranya menonton film biru."

"Kalau demikian, wahai Guru. Baiklah, Mari kita urungkan menonton film biru. Kita coba yang merah."

"Nah, aku setuju pendapatmu. Mari kita menonton film"

Film diputar. Darah-darah berserakan, seorang Jendral tapi pakai kain sarung, sedang dicongkel kepalanya oleh seseorang yang bersedia digambarkan dengan kualitas rendah. Darah mengucur keluar dari matanya, seperi es jaman dahulu yang dipencet kuat-kuat oleh anak SD dan sampai ke bawah kakinya.

"Guru, ada film lain?"

"Yang tersisa hanya film biru, Anakku."

"Putar yang itu, wahai Guru. Aku takut melihat darah"

"Baik, Anakku. Tapi, sekali lagi aku katakan, kita butuh waktu untuk berfikir apakah kita pantas menonton film biru."

"Apakah ini semata-mata karena kau bosan dengan ketololan negeri ini?"

"Tidak, tidak ada hubungannya dengan itu, wahai Guru."

"Lalu?"

"Putarkanlah, Guru."

"Baiklah, kalau kau memaksa."

Film biru diputar. Tampaklah langit dengan burung-burung. Tampaklah laut juga dengan burung-burung.

"Betapa indah, Guru. Betapa indah film biru."

"Itulah Anakku. Aku takut, kau terlena dengan keindahan, itulah kenapa, aku agak sedikit nyinyir bertanya, apakah kita betul-betul siap untuk menonton film biru."

Film masih diputar. Sampai tua, karena memang begitu, si Guru dan anaknya masih menonton film biru. Mereka keluar hanya karena, hanya kerena ingin keluar. Dan, kembali lagi masuk ke dalam untuk menonton film biru. Film biru masih memutarkan langit, laut dan burung-burung.

"Guru, Aku ingin buat kopi untukmu."

"Buatkanlah yang manis, Anakku. Semoga kekacauan negeri bisa dilupakan dengan minum kopi."

Ketaping, 2016

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Maulidan Rahman Siregar sebagai pemenang.

Maulidan Rahman Siregar

Lahir di Padang, Sumatera Barat, 03 Februari 1991. Menyelesaikan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol Padang. Kini tinggal dan bekerja di Padang Pariaman. Puisinya disiarkan Singgalang, DinamikaNews, Metro Riau, Harian Rakyat Sumbar, Mata Banua, DetakPekanbaru dan tarbijahislamijah.com.

0 comments:

Post a Comment