Wednesday, 2 August 2017

Konspirasi Garam

Perahu terkapar, membujur seurut laut; bendera merah putih lusuh terpancang miring dekat anjungan. Terkadang tiang bendera itu bergerak ke kanan ke kiri mendesirkan bau anyir ikan kering, apek, ngengat. Dengung lalat mengerubungi bagian geladak penuh bercak, jala kumal, temali jangkar, patahan ranting bergelantungan pada bentangan bambu penggulung layar. Langit turut mendung, awan hitam bergulung-gulung, sepertinya atap bumi sedang murung.

Antaranews

Sebuah gubuk tanpa sekat menghadap ke laut, beralas pasir putih, beratap anyaman daun lontar. Dengan tiang Penyangga yang hampir jatuh, menjadi tempat tinggalku.

Sementara di balik pintu dapur ada sesosok pria bertubuh tinggi, kulitnya sedikit hitam legam. Pria itu terlihat terburu-buru. Wajahnya seolah kebingungan mecari sesuatu. Dirinya terlihat begitu bersemangat dan penuh gairah.

“Dimana timba hitam yang biasa ku pakai?” ucap pria itu sambil berjalan berbolak balik hingga kakinya menendang sebuah cangkir.

“Di kamar  mandi, ini sudah mau hujan sebaiknya besok saja pergi," seorang wanita setengah baya menjawab dan menghampirinya.

Namun pria itu pergi ke kamar mandi dan tidak menggubris perkataan wanita yang menghampirinya. 

wanita itu hanya menatap kepergiannya dan berjalan menghampiriku yang sedang asik mengupas kulit kerang.

"Sini ibu bantu," ucapnya sambil duduk dan mengambil kerang yang ada dikeranjang merah didepan ku. 

Aku hanya mengangguk.

Aku membatin. "Oh ya tuhan terima kasih bantuan ini, rasanya jari jempolku sudah sangat pegal, dan lihatlah kukuku sudah dihacurkan oleh kerasnya kulit kerang.” Aku tersenyum kecil pada ibuku.

Semenjak ada berita yang baru-baru ini beredar, ibu berubah menjadi wanita yang begitu  penuh degan beban, wajahnya selalu muram dan penuh kekwatiran. Lingkaran hitam di bawah matanya juga terlihat seperti menyimpan resah, ketakutan atas sebuah kekecewaan.

Aku bergegas pergi ke tempat yang sudah tak asing lagi bagiku, angin kencang menerbangkan tiap helai rambutku. Sesampai disana aku dikejutkan oleh seorang anak kecil yang sedang menimba air bersama pria yang sebelumnya ada mencari timba di gubukku. Aku berdiri di belakang pria yang sedang menuangkan air di kayu panjang berbentuk cekung.

Belum sempat aku berbicara sepatah katapun. Namun sudah terdengar suara berintonasi tinggi.

“Aku hanya ingin hidup kita berubah.”

Daun kering yang diterbangkan oleh Angin seolah tertawa melewati antara aku dan pria itu. 

“Ini konspirasi,” ucapku dengan sedikit tegang.

pria itu langsung berbalik dan menatapku. 

Nyaliku mendadak ciut, tatapannya lebih tajam dari belati, aku hanya mampu menundukkan kepala.

Pria itu mendekati dan sontak memelukku. 

“Pulanglah nak,” katanya dengan suara pelan.

“Baiklah ayah,” ujarku lalu meninggalkannya bersama adikku.

Aku bukanlah orang berpredikat Mahapelajar. Cara berpikirku saja benar-benar minim. Tapi aku yakin ini konspirasi. Sebab, Bagaimana mungkin berita yang tersebar itu benar adanya. Indonesia saja lautannya lebih luas dari pada daratan. Jadi bagaimana mungkin garam bisa langka?

Beberapa hari  kemudian ayah memanen garam yang telah diolahnya, dia menjual pada agen garam. 

Ayah memiliki harapan tinggi untuk penjualan kali ini. karna dia sudah ekstra menghabiskan banyak waktu hanya untuk membuat garam.

Namun alhasil tidaklah sesuai dengan apa yang diinginkan. Seorang agen hanya membeli dengan harga biasa. Awalnya ayah menolak dan berkata “bukankah garam sedang langka, harusnya harga jual pasar lebih tinggi ?”

Si agen garam malah tertawa dan memegang pundak ayah lalu berkata, "bapak mau jual dengan harga biasa atau biarkan saja garamnya sampai mencair lagi? Atau buang saja ke dalam laut?” 

Pucat pasi menghiasi wajah ayah, dia bersandar di pohon kelapa dengan kaki terasa lemas. Rautnya seolah ada rasa penyesalan. Bermimpi akan menjadi konglomerat garam malah medapat kekecewaan. Konglomerat hanya untuk mereka yang berani memanipulasi fakta pada semua orang. kami hanya petani yang akan tetap hidup dengan aroma bau amis.

Ah,, sudahlah. Yang terpenting ayah, ibu dan adik masih ada di dunia, aku sudah cukup merasa mewah. Sisanya biarlah terserah tuhan.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Dwi Mastuti sebagai pemenang.

Dwi Mastuti

Dwi Mastuti adalah aku. Hasil karya cetakan pertama ayah dan ibuku yang
dibuat dengan rasa ketegangan di kamar pengantin. Kemudian
diterbitkan pada tahun 1998 disebuah sudut desa Sungai panji-
panji. Kec. Kububabussalam. Riau.
Ahhh. Apalahapalah 

0 comments:

Post a Comment