Tuesday, 1 August 2017

Malam Minggu Jomblo

Gue selalu penasaran apa arti sahabat yang sebenarnya. Apakah sahabat itu adalah teman yang selalu bisa membuat kita tertawa bahagia? Atau teman yang selalu ada di samping kita? Atau juga teman yang selalu ngutang tapi enggak bayar-bayar? Kita semua enggak lepas dari yang namanya sahabat, main bareng, berbagi rasa sedih, rasa galau dan senang sendiri. Okey-okey mungkin itu jahat namanya kalo senang sendiri. Ingatan-ingatan kita tentang sahabat akan tersimpan secara otomatis di kepala kita dan menjadi kenangan yang sangat berarti untuk dijadikan sweet memory maupun pelajaran, bahwa sahabat kadang enggak bayar utang. 

Dianarashid.com

Malam minggu adalah malam yang sangat dinanti untuk para pasangan-pasangan yang sedang dimabuk cinta. Kecuali gue yang teriak-teriak minta hujan. Nama gue Aditya dan biar pun gue jomblo gue enggan untuk menjadi homo. Sekitar pukul 09.00 malam. Pesan masuk dari Amar salah satu sahabat jomblo gue yang mengajak untuk main ke rumah Ben salah satu sahabat jomblo gue yang lainnya. Amar pun minta jemput untuk pergi ke rumah Ben. Gue yang tadi yang teriak-teriak enggak jelas bergegas mengambil kunci motor dan segera berangkat. Sekitar 15 menit lamanya di jalan akhirnya gue sampai ke rumah Amar. Pencet bell, ngetok pintu puluhan kali, pencet bell lagi, gue gedor-gedor pintunya, gue duduk sambil baca mantra dan bakar kemenyan buat manggil dia.  Amar pun muncul dengan keadaan mengenaskan, wajahnya loyo, baju kaya kain pel, celana robek-robek. “Lo abis ngapain? Kaya gembel di kolong jembatan aja.” Gue sedikit mundur dari Amar. “Si Caca tadi mau kabur?Jadi gue yang nangkep?” Sahutnya. “Si Caca? Oh… Badak piaraan nyokap lo itu, ya?” Kata gue sambil nginget-nginget. “Iya, Badak betina piaraan nyokap. Kayaknya dia inget sama mantan pacarnya Si Jhon, badak komplek sebelah piaraan Pak Suhaimin. Karna Si Jhon terlalu keren, Banyak badak-badak cewek yang suka sama Jhon. Ya, pada akhirnya Caca hanyalah badak gendut biasa.” Suara hembusan nafas yang marah terdengar dari dalam rumah. “Kayaknya Si Caca denger deh lo ngomong apa.” Kata gue mulai panik. “Iya nih, mending kita cabut aja, yuk?” Kami pun bergegas melarikan diri dari rumah Amar.  “MAA… AKU MAU JALAN DULU. TOLONG SI CACA DI IKET YA MA”. 

Breeeemmm…, Kami pun berangkat secepat papa di kejar istri karena ketahuan selingkuh. “Eh nyokap lo giamana? kalo badaknya ngamuk dan nyokap lo kenape-nape gimana?” gue khawatir karna tempramen badak lagi minta kawin itu labil. “Udah ah, tenang aja. Caca enggak bakal berani ngelawan nyokap gue,” kata Amar. “O-oh gitu, ya?” Dan gue sekarang malah khawatir sama Caca. “Eh di mana nih kita?” Tanya gue ketakutan, kali aja ada kucing-kucing lagi mabok dan minta uang untuk kawin. “Udah terus aja. Kita ke rumah Adi dulu temen gue. Gue mau minjam hard disk dulu buat ngecopy game GTA V,” katanya sambil tersenyum.

Sesampainya di rumah Adi, kami pun berdiri di depan pintu dan membunyikan bell, ngetok pintu, pencet bell lagi, ngegedor-gedor pintu rumah orang, pencet bell lagi. Kayaknya gue pernah ngalamin kejadian ini deh. “Tunggu bentar, ya? Gue punya cara khusus untuk panggil dia.” Amar pun berjalan ke luar pagar. Dia membeli roti isi kacang dan roti isi keju. Amar pun menari dengan roti di kedua tangannya. Sepertinya Amar sedang menarikan tarian womba-womba yang lagi ngetrend di kalangan para gajah. Pintu pun terbuka. Sreekk…sreekk…, Seseorang yang keluar dari pintu itu mengambil roti di kedua tangan Amar dan jujur gue agak terkejut melihat orang yang bernama Adi. “Mar. Ini badak piaraan lo juga, ya?” tanya gue ke Amar. “Bukan Dit, dia kuda nill” sahut Amar. “Oh gitu, ya?” Kata gue yang lagi bengong. “Eh enak aja. Baru juga datang nyebut gue kuda nill”. “Mar kuda nillnya bisa bicara. Gue takut mar” Bisik gue ke Amar. “Tenang. Dia temen gue Adi. Jinak kok” Kata Amar sambil tertawa. “Eh gue manusia tau. Enak aja lo Mar manggil gue kuda nill”  Adi mulai sewot. “Sorry-sorry, gue bencanda aja. Ini Aditya temen jalan gue malam ini” kata Amar. “Oh jadi lo udah jadi homo, ya mar?” Tanya Adi. “Gue masih normal tau” sahut Amar. Gue pun mulai berkenalan dengan Adi. Adi memiliki tubuh yang agak sedikit gendut, paling kalo dia lagi berjemur di pantai orang-orang akan mengira dia ikan paus yang terdampar atau singa laut kembar siam. 

Oke setelah kami mengobrol lama sesuatu yang enggak penting-penting amat, Amar pun berhasil mendapatkan hard disk impiannya dan kami pun melanjutkan perjalanan ke desa Konoha, Maksud gue ke rumah Ben. Adi pun melambai pada kami, mungkin dia melambai pada hard disk nya yang mungkin akan lenyap dan takkan kembali. Oke gue cuma becanda ya Di, kalo lo baca gue cume becanda (Mungkin). 

Setelah 30 menit perjalanan dari rumah Adi menuju rumah Ben, akhirnya kami pun sampai setelah melewati gunung lewati lembah sungai mengalir indah ke samudera. Kami pun berjalan menuju depan pintu rumah Ben setelah memarkir kendaraan di bawah pohon beringin dan gue pun langsung teriak “BEN. KELUAR LO BEN”. Sreezzz…, Seseorang muncul di belakang kami dengan berkerudung kain putih sambil membawa kantong plastik hitam yang mencurigakan. “KYAAAAAAA………,” Kami yang terkejut langsung berteriak dan gue langsung lompat ke pelukan Amar. “Woyy. Ini gue, Ben” Kata Ben sambil cengengesan. Gue pun turun dari pelukan Amar dan kami bersikap seperti tak terjadi apa-apa. “Ngapain lo pakai kain putih segala, Bikin kaget aja” Kata Amar dengan nada kesal. “Iya nih” sahut gue. “Gue tadi lagi asik nakutin orang pacaran di dekat tukang sate” Ben sambil berjalan menuju pintu dan mengambil kunci rumah dari kantong ajaibnya. “Engga ada kerjaan lo ah” Kata gue yang hampir kencing di celana. “Udah ah. Kita masuk aja” Ben pun mempersilakan kami untuk masuk. 

Ben pun menunjukan game-game terbaru dan terhits di Nusantara. “Wah, keren semua nih” Kata Amar yang matanya berkaca-kaca berharap Ben mau memberikan dengan suka rela. “Yoi lah. Gue gituh” Ben pun mulai nyombongin sesuatu yang enggak penting-penting amat. “Gue minta yang ini, ya?” Amar langsung nyolonong meng-copy game di laptop Ben. “Eitttss… Ngapain lo?” Ben langsung memegang tangan Amar “Biasa, sesajen malam minggu buat gue mana dulu?” Amar langsung menatap gue. “Dit, keluarin ‘itu’ dari celana lo?” Amar memberi kode keras pada gue. “Serius nih, Mar?”. “Iyee. Cepetan!” Kata Amar yang tangannya masih di tahan oleh Ben. “Oke deh” gue pun mulai membuka resleting celana gue. “eeh. Lo mau ngapain?Buka resleting segala”. “Lah? kata lo kan keluarin ‘itu’? ya, gue keluarin deh ‘itu’ gue” kata gue yang bengong dan sudah setengah terbuka resleting celana gue. “Bukan itu lo monyong, yang gue beli di minimarket tadi”. “Oh… bilang dari tadi kek” gue pun ngeluarin sesuatu yang kami beli saat menuju kerumah Ben. “Tat tara tara… Bon cabe level 30, ini khusus untuk yang mulia Ben” Gue pun nyerahin kayak babu ngelayanin raja. “nah lengkap deh” Kata Ben sambil membuka kantong kresek hitam tadi yang isinya adalah beberapa sosis dan nugget yang sudah di goreng ria dan Amar pun berkasi dengan cepat. “Ngomong-ngomong, panas banget nih di rumah lo Ben” gue sambil kipas-kipas. “iya nih Ben” Kata Amar. “AC gue lagi rusak, buka baju aja dulu, ntar juga dingin. Nih gue juga mau buka baju”  Akhirnya kami bertiga pun buka baju. Semoga rumah Ben enggak di grebek karena di kira para homo lagi ngumpul disini. 

Creencheng cheng cheng cheng…, terdengar kegaduhan seperti drum band lagi pawai di depan rumah Ben. Gue, Amar, dan Ben pun langsung keluar rumah untuk melihat yang kami kira pawai tengah malam itu. Ternyata di depan rumah Ben ada cewek yang sedang berebut smartphone dengan seorang cowok kurus item. “Wah, gawat tuh, Kayaknya tuh cewek dijambret deh” Kata Amar dengan nada suara agak aneh. “Cepetan kita tolongin” Kata gue. “Iya-iya cepet” Kata Ben dan kami pun berlari menuju depan pagar rumah Ben tanpa kami sadari bahwa kami enggak pakai busana. Melihat kami berlari, si cowok item itu pun berlari kencang dan kami pun tak tinggal diam, kami pun berlari kayak kuda nill ngejar kuda beneran. Segera, setelah kami mengejar dengan susah payah dan akhirnya setelah gue lempar tuh cowok pakai batu, akhirnya tupai pun jatuh juga dan kami gebukin cowok item tadi. Kami pun berhasil menagkap si kuda beneran, si cowok maksud gue. Warga pun berbondong-bondong mengejar ke arah kami dan kami pun berdiri bak pahlawan yang menyelamatkan Superman dari kejaran bencong pinggir jalan. Tetapi, entah kenapa, kami semua dibawa kerumah pak RT. Ternyata si cowok yang kami hajar tadi adalah pacar dari si cewek yang kami tolong dan kami bertiga, di sangka homo yang lagi nyari korban. Setelah kami memberi penjelasan pada pak RT, akhirnya kami pun bebas. Dan aneh nya enggak ada satu pun dari kami yang dikasih baju. Kabarnya setelah malam itu Ben masuk angin.  

Entahlah, gue udah mulai pusing mikirin apa aja yang terjadi. Pelajaran yang bisa gue ambil dari pengalaman tersebut adalah terkadang sahabat bukan cuma bisa membuat lo seneng sesaat. Tetapi juga bisa menorehkan kenangan yang tak akan terlupakan. Ngomong-ngomong waktu Amar beli bon cabe di minimarket dia ngutang ke gue dan belum bayar-bayar juga.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Ahmad Syarwani sebagai pemenang.

Ahmad Syarwani

Jl. Kupang RT 005/RW 002 kel. Amawang kanan kec. Kandangan Kab. Hulu Sungai Selatan Prov. Kalimantan Selatan. Status Perkawinan: Belum Kawin Tentang: Ketika bencong lebih cantik dari gadis pujangga dan lebih tampan dari kita. Itulah dunia. Hanya seserpih harapan untuk kita pegang dalam beratnya persaingan cinta.

0 comments:

Post a Comment