Wednesday, 2 August 2017

Rindu pada Kesendirian yang Lain, Mama.

Tulisan ini terangkai di atas meja kala senja. Bercak-bercak, kusam, berminyak, berdebu, bergores, bercorat-coret tak karuan, menjadi penghias wajah meja itu. Yah! Namanya juga meja umum sudah begitu tertempatkan di halaman kampus, tepatnya di samping kafe kampus. So! Tangan-tangan jahil mahasiswa atau mahasiswi dengan segala rasa yang semu itu terlampiaskan pada meja yang tak bersalah itu, yang hanya diam, yang hanya tegak kokoh, memberi punggungnya pada mahasiswa atau mahasiswi untuk sekadar bersantai menikmati makan dan minum atau ruang nyaman bercanda tentang omongan-omongan kosong.

Nolm.us

Maaf! Paragraf pertama di atas hanyalah bentuk simpati saya kepada kondisi meja yang tak terawat, dekil, kusam, dan kotor itu, yang mana di atas meja yang semestinya seperti itu guna menunjukan kesederhanaan, keliaran, kesemi-profesionalan, dan kemerakyatan sang mahasiswa, kata-kata dalam tulisan ini terukir pada kertas putih bergaris berukuran B6 (paperline).

Fine. Mari kita tinggalkan perihal meja itu. Dalam tulisan saya kali ini ada dua hal yang ingin saya ‘curhatkan’. Hal pertama mengenai kegalauan saya. Masalah klasik, cinta. Hal kedua adalah tentang senyum seorang perempuan paruh baya yang menjual ‘alat-alat’ penyambung hidup di kafe kampus, dia hangat disapa ‘Ibu’.

….

Beberapa hari yang lalu, saya lupa tepatnya tanggal berapa (pura-pura lupa hehehe) saya hendak menyatakan isi hati saya kepada seorang perempuan yang sangat saya cintai, namanya Elany (nama samaran). Rasa cinta itu sudah lama sekali saya pendam, lama banget, hampir basi pokoknya!

Jadi, malam itu saya telah menuliskan sebuah puisi dan akan saya bacakan di hadapannya dalam sebuah warung kecil yang terletak tidak jauh dari kampus UKSW. Sangat klasik kan? Yup! Setelah saya bergumul panjang, saya sendiri mengakui hal itu sungguh menggelikan! Tapi, saya sangat mengaggumi puisi itu. Yah… biarpun menggelikan tapi puisi itu lahir dari jiwa-jiwa cinta yang bersemayam jauh di dalam sanubari saya (hehehe… yang mau muntah saya persilakan).

Nah, izinkan saya menuliskan ulang puisi itu, yang saya beri judul ‘Kecuali Kau’ :

semua hal semu,
kecuali kau.

Salatiga. Sumba.
jarak merangkul waktu.
membentangkan dinding-dinding 
curam.

bagi, menetak
memecahmu.
membelahku.
memisah cinta.
lalu,

memupuk rindu.
merawat mawar, duri
beracun.

malam hari, itu
kosong. 
mati.

kau, perempuanku.
gerak nalarku. darah nadiku.
napas tubuhku. rumah diamku.
di sisa usiaku.

dekat.
dekap aku, seperti
tanah memeluk mayatku,
kelak.

gelap membingkai kota Salatiga, juga
membungkusnya 
dengan kabut.

demikian.

inginku : peluk aku 
dalam,
selimut cintamu.

***

Salatiga, Warung BQ. 05/05/2017.
Aduh! Bapereeerrr dehh…. Hehehe… Nah, puisi itu berhasil saya bacakan kepadanya dengan seluruh tubuh, jiwa, dan roh. Bibir saya sungguh bergetar saat mengucapkan kata demi kata puisi itu dan dia hanya tersipu malu-malu usai mendengarnya.

Hari berlalu dan semua mengalir seperti biasa. Hingga tiba hari itu. Saya meminta, mengemis, dan memohon berulang-ulang kali agar Elany mau saya kencani. Pada permintaan, pengemisan, dan permohonan kesekian kali itu, dia akhirnya dengan rasa iba bersedia.

Kami pun berjumpa di waktu dan tempat yang sudah saya tentukan.

Ah! Saya sedikit malu menuliskan kronologi kencan kami waktu itu. Pokoknya berantakan. Parah! Saya harus akui bahwa, kencan waktu itu adalah kencan pertama saya selama saya hidup 22 tahun di bumi sejak dilahirkan. Tapi, waktu itu sebelum Elany pergi dia sempat meminta saya menatap matanya, entah apa maksudnya? Yang jelas matanya sangat berbinar. Saya rasa ada yang hendak dia sampaikan, barangkali dia ingin meminta maaf atau memukul saya atas kelancangan mengajaknya kencan. Tapi, yang saya rasa matanya penuh cinta!

….

Salah! Itu adalah sebuah rasa, hanya perasaan. Perasaan saya. Perasaan yang tidak pasti. Rasa yang semu dan menipu! Bodohnya saya begitu polos untuk percaya begitu saja. Bermodalkan perasaan semu itu, saya memberanikan sikap untuk menyampaikan tiga kata mistik kepada Elany. “Sa Sayang Engko.” Terucap dengan keyakinan pasti. Kata-kata itu tersampaikan, Elany akhirnya tahu sudah bagaimana perasaan saya selama ini kepada dia. Saya begitu mencintainya.

Selama 1 hari Elany hanya membenamkan kata-kata itu dalam ruang ‘tahu’ saja. Dia belum menanggapinya. Lalu pada hari berikut dia pun akhirnya keluar dari ruang meditasinya untuk memberikan tanggapan atas tiga kata itu. Namun, jawaban dari bibirnya tidak seperti yang saya harapkan, saya kalah!

Dan, yang membuat saya mengidap kegalauan selama hampir seminggu adalah cara saya menjadi kalah. Kalau kita menyatakan cinta pada seorang perempuan penolakannya hanya ada dua sebab (menurut pengalaman sempit saya). Pertama, kehadiran orang ketiga yang telah lebih dahulu dia cintai. Kedua, tak adanya rasa yang sama. Dalam kasus saya Elany memilih  sebab yang kedua. Kalau hanya sebatas rasa yang tidaklah sama, saya sebenarnya kuat, sudah pula terlatih untuk menerima itu. Tapi, yang semakin menyayat hati, yang merubah rasa cinta menjadi racun mematikan yang merusak perlahan tubuh dari dalam adalah penolakan plus pembatasan dia kepada saya secara halus tapi sadis. “Maaf Kak! Sa tidak bisa balas rasa sayang Kaka lebih dari seorang SAUDARA.” Demikian dia membatasi saya.

Mendengarkan ucapannya seperti mematikan sistem syaraf tubuh. Dia seperti menuntun saya ke dalam sebuah sangkar. Kata-katanya seperti memberatkan langkah kaki saya. Ucapannya membekukan aliran darah saya. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi.

Barangkali sudah sejak awal saya sendirilah yang menciptakan kalimat yang diucapkan Elany itu. Sentuhan dan pelukan saya selama ini adalah pelukan seorang saudara.

No problem. Sekarang ini, saat tulisan ini terangkai, saya sudah berdamai dengan itu. Saya mempelajari dan mengerti satu hal bahwa, jadikanlah seseorang yang kita butuhkan karena kita mencintainya untuk menghabiskan sisa hidup bersama kelak, atau sekedar membuka pintu kala kita pulang atau menyampaikan salam dan pesan hati-hati saat kita hendak keluar rumah, maka jadikanlah dia seorang sahabat. “Tapi sa akan sayang seorang Elany lebih dari saudari.” 

Yup! Itulah cara saya kalah waktu itu. Kalah untuk menggenggam tangannya. Kalah untuk tidak dapat mengusap air matanya ketika dia bersedih suatu saat. Saya kalah, tak mungkin lagi memeluknya dengan cinta yang utuh. Tetapi, saya memenangkan satu hal, cinta. Saya tidak ingin mengalah dan akan terus mencintai seorang Elany melebihi rasa cinta seorang saudara kepada saudarinya.


Titik (.), saya berhenti menulis tepat di akhir paragraf di atas. Meletakan alat tulis lalu beranjak dari meja itu pergi ke dalam kafe hendak memesan segelas kopi, rokok, 3 tempe goreng, dan 3 ubi kayu goreng plus sambalnya.

“lho… kok tangkai Ibu hari ini layu?” Tanya Ibu kepada saya.

Ibu dan saya sudah sering bercanda. Tangkai adalah sapaan akrab ibu kepada saya. Hal ini karena suatu ketika Ibu aku goda, “Ibu seperti setangkai bunga yang kembangnya tidak hanya anggun tetapi menyimpan kehidupan.” Dari candaan inilah aku dinamakan tangkai.

Ibu berbalik menatap saya. Sambil tersenyum ia mengaduk-aduk gula agar larut menyatu dengan air juga kopi. 

“Iya Ibu, biasa masalah hati.”

“Itu kan, Ibu udah tahu… seorang ibu itu tahu apa yang dirasakan anak-anaknya.”

Tangan Ibu berhenti mengaduk. Sudah selesai. Ia meneteskan sedikit kopi di tangan, lalu mencicipinya. Tersungging senyuman manis di bibir Ibu, memberi tanda bahwa kopi terbaiknya telah siap.

Ia melangkah ke sisi ruang yang lain, menyiapkan gorengan yang sudah saya pesan. 3 tempe goreng, 3 ubi kayu goreng, ditambah 3 sendok teh sambal.
“Hati itu tempat paling murni dalam diri manusia. Hati, bukan yang berdaging dan darah itu… tapi, yang adalah ruang dimana ‘Yang Baik’ berdiam." Ucap Ibu lembut sambil tangannya mengatur gorengan di sebuah piring warna hijau tua berbentuk seperti daun pepaya.

Ibu berpaling menatap saya lalu tersenyum. Saya membalas senyumannya. Tapi, Ia tahu bahwa senyuman saya sendu dan ragu.

“Suara hati itu sangatlah tulus. Tapi, bias jadi penyakit kalau tidak tersuarakan dan ditindaki. Memang berat, terkadang kita hanya ragu, tapi, percaya sama Ibu… kalau kita mengatakan dan melakukan suara hati itu, kita sesungguhnya sedang membagi beban itu sendiri… Jadi, tangkai Ibu harus bisa mengungkapkan suara hati itu dan berkomitmen untuk menghidupinya… laki-laki sejati itu, bisa memegang ucapannya.” Ucap Ibu sambil meletakan dua batang rokok di tangan saya.

Mata saya berkaca, bukan karena kegalauan asmara, tapi hari ini Ibu dengan senyuman manis dan berwibawa, jilbab ungu tua, juga nasehatnya, seperti memangkas ruang dan waktu dimana saya boleh berjumpa Mama. 

Dalam termangu itu, saya menyadari hal mendasar bahwa. Perihal kegalauan, keeksisan diri, juga harapan untuk ada bersama orang yang kita sayangi. Bahkan usaha saya; membikin puisi, membacakannya di depan Elany, kencan yang berantakan, juga persoalan penolakan ia terhadap cinta saya, adalah melulu soal ketakutan menjadi sendiri. Kita takut asing, bahkan terhadapan diri sendiripun kita masih saja sangsi.

Mungkin Mama ada dalam diri setiap perempuan. Entahlah hingga saya kembali dan menyelesaikan tulisan ini, tiba-tiba saya rindu Mama.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Elyan Kowi sebagai pemenang.

Elyan Mesakh Kowi

Mahasiswa aktif FTI-UKSW. Angkatan 2013. Baru saja resmi dihukum (kembali) men-jomblo. Bersahabat akrab dengan kopi, rokok, dan buku. Sering berkawan pada malam (bat man, not bad man!). Tidak suka perubahan tanpa alasan. So!, sudah pasti kualitas kesetiaannya terjamin. Beberapa waktu terakhir kembali menghidupi dunia yang sejak umur 15 tahun di tinggalkan, ‘PUISI’.

0 comments:

Post a Comment