Wednesday, 16 August 2017

Rumah Kita

Jika berkata 'Rumah' yang terlintas adalah kampung halaman beserta pernak-pernik kehangatan di dalamnya. Semenjak kita dilahirkan, belajar berdiri hingga dewasa , rumah adalah asal usul keberadaan kita. Awal pembentukkan karakter diri pun bermula dari rumah. Rumah yang terbesar dan bagian dari kita adalah rumah Indonesia, tanah air kita.

6iee.com
Di tahun kemerdekaan yang ke-72 ini entah mengapa rumah ini seolah membuat penghuninya gerah bahkan dibetah-betahin menempatinya. Mulanya kita tak mengetahui kondisi ini. Berkembangnya media, terlebih teknologi membuat kita mengetahui segala gemerincing tingkah laku orang-orang diluar sekeliling kita. Membuat kita berfikir, 'Ada apa dengan rumahku?'

Betapa tidak? Mirisnya anak-anak sekolah bahkan mahasiswa, membully temannya sendiri karena hal sepele, kecemburuan sosial, merasa berbeda, dan entah apalagi yang mendasari semua itu. Diperparah dengan tawuran antar sekolah, berbagai geng di kalangan muda mudi kita. Lebih berbahaya lagi pahamnya soal 'seksualitas' yang bukan pada tempatnya. Ada apa dengan semua saudaraku didalamnya?

Bersenang-senang dengan obat-obatan yang mudah ditemukan membuat kita terlupa akan tujuan, 'kenapa kita diciptakan?'. Seolah kita terhanyut di dalamnya. Tak jarang artis pun dengan segala kegemerlapan membuat kita tercengang bahkan semakin hari semakin paham bahkan terbiasa. Seperti hidangan sehari-hari.

Sekolah bukankah menjadi sarana pendidikan dan pembentukkan karakter generasi muda, namun sadarkah kita bahwa tak semua pendidikan merata? Bahkan sarana dan prasarana di daerah terpencil jauh dari dinamakan 'sekolah'? Beruntunglah yang mengenyam pendidikan tertinggi. Miris, selembar ijazah ternyata hanya selembar kertas biasa, tersimpan rapi bersama ijazah-ijazah lainnya tak terpakai karena minimnya lapangan pekerjaan. Uniknya beratus-ratus orang luar negeri datang secara ilegal bekerja menyerobot pekerjaan saudara kita. Lucu bukan?

Tiada hari tanpa keluhan. Padahal rumahku adalah rumah terindah, tersubur, terkaya namun kenapa termiskin? Saudara-saudaraku memang bertahan dengan segala keterbatasan ekonomi bahkan berbagai tingkat ekonomi yang timpang membuat kita selalu berpikir hidup untuk makan atau makan untuk hidup?

Benarlah jika mengatakan semakin banyak penghuni rumah maka semakin banyak pula kejahatan di dalamnya. Tak ayal sedikitnya mengenal diri membuat kita terhempas pada nafsu diri. Pencuri kecil-kecilan berbeda nasib dengan pencuri yang meraup milyaran rupiah. Bahkan orang baik-baik pun dituduh mencuri bahkan dihakimi massa, ironis bukan? Tapi ini nyata. Bahkan sedikit demi sedikit tanah kita mulai tergadai. Tidak hanya merembes pada sektor ekonomi bahkan ke sektor-sektor lainnya.

Rumah yang berkembang bisakah menjadi rumah penuh kemajuan sedangkan segala 'Pekerjaan Rumah' belum terkondisikan? Kita bahkan tersenyum melihat rumah kita begitu mudah terpengaruh bahkan menjadi sarana 'Kepentingan' orang luar. Bukankah menjadi teratur bahkan semakin porak poranda setiap isi rumah? Bolehlah mengikuti segala perkembangan yang ada tapi kapan mulai membereskan 'Pekerjaan Rumah' kita? Bukankah bukan sekedar kesadaran tapi butuh kegotong-royongan bersama?

Semua itu terjadi dalam rumah kita, rumah Indonesia, tanah tempat tinggal kita. Ingatkah? Kemerdekaan yang diraih para nenek moyang kita dahulu adalah berkat perjuangan tumpah darah dan pengorbanan? Bukan sekedar perjuangan pembebasan dari penjajah yang menjarah seluruh negeri tapi bentuk perjuangan membela ketauhidan. Sayangnya semua itu memudar sepudarnya warna pakaian ketika dicuci. Bukannya semakin bersih bahkan semakin kotor dan lusuh. Begitulah kita saat ini.

Semestinya setiap anggota rumah bahu membahu agar rumah tetap nyaman, aman dan tentram. Apa daya semua terpedaya. Semua terlena oleh keinginan dunia yang fana. Bukannya memperkokoh malah hampir meruntuhkan setiap sendi rumah sendiri. Siapa yang menjadi korban? Siapa yang disalahkan? Siapa yang bertanggungjawab? Siapa yang terluka? Kita. Aku, kamu, kalian, mereka adalah kita, orang-orang yang terluka mungkin tanpa disadari, entah menyadari aku tak tahu.

Membereskan segala isi rumah saat ini yang bisa kulakukan saat ini adalah menuliskan segores kesadaran dalam tulisanku. Rumah kita bukan dihuni oleh aku saja tapi segenap yang menempatinya. Diri kita adalah orang itu. Orang yang menempati rumah Indonesia. Estafet perjuangan tumpah darah nenek moyang kita. Harusnya bukan kita yang memutuskan rangkaian tali itu tapi menyambungkannya kembali dengan penuh kesadaran diri. Meski bukan dalam kondisi terjajah oleh penjajah tapi kita terjajah oleh kondisi rumah kita. Diri kita belumlah merdeka seperti yang dilakukan para pejuang kemerdekaan.

Terlalu mahal untuk melakukannya, terlalu tinggi menggapainya tapi semua itu 'KEBUTUHAN' bukan 'KEINGINAN'. Kebutuhan kita ketika ditanya oleh Sang Pencipta tentang amanah yang kita emban, apa jawaban kita? Ataukah kita benar-benar terlena hingga terlupa dan membutakan mata hati kita? Sayangnya kita diciptakan untuk menjaga, melestarikan, bukan merusak. Seyogyanya menjadikan rumah dan halaman kita tetap subur dan harmoni dengan penuh kesadaran dan bergerak mengubah, membereskan, dan menempatkan kekondisi semula. Pertanyaannya maukah melakukannya? Sungguh semua itu demi kepentingan bersama. Rumah ketika kita dilahirkan menjadi bagian dari jutaan penduduknya. Rumah aku, kamu dan kita. Rumah kita.

Ubahlah dengan dimulai dari diri sendiri beserta kesadaran bahwa diri adalah bagian dari penghuni rumah. Kembali pada tujuan untuk apa kita diciptakan, bagaimana menjalani kehidupan dengan tujuan dan cita-cita yang diharapkan-Nya, agar rumah menjadi layak untuk disinggahi. Ubahlah mindset dan tanamkan dalam hati kita bahwa semua itu benar-benar tanggung jawab kita dihadapan-Nya kelak, karena diri adalah pemimpin. Pemimpin bagi keluarga, pemimpin bagi lingkungan, pemimpin bagi ruang lingkup yang lebih besar lagi. Ayo perbaiki rumah kita.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Lita Wasiati sebagai pemenang.

Lita Wasiati  
Pernah sekolah di SMA YWKA Bandung, sekarang menetap di Kebumen, Jawa Tengah. Menulis awalnya sebuah keisengan, lambat laun berubah menjadi keseriusan. Jika ingin bersilaturahmi bisa invite facebook-ku Lita wasiati atau WhatsApp di 083128747311 atau di 08995131711. Email pun bisa di Lita.chan17@gmail.com
Terima kasih.

0 comments:

Post a Comment