Wednesday, 16 August 2017

Sungguh! Kita Tidak Sedang Bermalas-malasan Dalam Membesarkan Godok

“Banyak anak, banyak rejeki”.
Begitulah sabda dari pepatah lama yang entah siapa yang bilang. Tapi dari sabda tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa orang terdahulu tidak pemalas. Karena untuk menciptakan produk-produk manusia yang banyak pasti butuh energi yang besar dan tenaga ekstra, meski buah dari kerja keras itu adalah kenikmatan. Belum lagi harus memenuhi kebutuhan  keberlangsungan hidup keluarga besar yang sudah diciptakan. Semua itu karena manusia terdahulu tidak malas.

priangga.web.id
Lalu kita sampai di zaman modern ini.  Kita juga selalu dituntut untuk aktif bekerja oleh keluarga, aktif belajar oleh sekolah, aktif beribadah oleh agama, bahkan sampai negara sekalipun juga tak mau kelewatan mengingatkan kita untuk tidak malas. Terbukti dengan motto “Ayo Kerja”nya 70 tahun Indonesia. Kerja, kerja, kerja, kerja teruuuus sampai lupalah kita beristirahat. Sampai lupa pula kita bahwa buruh sedang ditindas dan dihisap oleh pemodal, petani dikriminalisasi kemudian dirampas tanahnya, mahasiswa di-DO karena mengkritik kampusnya. Yah, semua karena kita asik bekerja.

Kemudian muncul sebuah media, sebut saja Godok. Yang kerjanya tiap hari mengabdikan diri menampung segala keluh kesah, romansa atau cerita-cerita yang ingin dituliskan. Sungguh mulianya Godok. Sudah seperti Tuhan saja,  bedanya kalau yang ini lewat doa. Apa jangan-jangan Godok adalah perwakilan Tuhan di Bumi cabang Indonesia?

Kehadiran godok sebagai wadah penampung keluh kesah dapat secara nyata dirasa. Tulisan pertama yang kukirim untuk ikut Arisan bulan Maret langsung mendapat respon baik. Bukan seperti media sebelah yang sudah pernah bubar itu! Beberapa tulisan yang kukirim tak pernah dimuat, bahkan untuk direspon pun tidak. Dengan slogan “Membesarkan godok dengan malas” yang sungguh aku tidak mengerti. Bagaimana bisa pula Godok bisa besar kalau kerjanya bermalas-malasan? Bukankah ini bertentangan dengan “Ayo Kerja” nya Jokowi? Apakah ini cuma bahasa sastra? Bahasa kiasan? Ah! Sulit dipahami oleh orang sepertiku yang hanya bisa bermimpi menjadi bisa menjadi sastawan, setidaknya untuk tingkatan kecamatan saja aku sudah bahagia.

Di-era sekarang ini, saat minat baca masyarakat indonesia sangat minim tapi minat berkomentarnya sangat besar seperti tong kosong yang nyaring bunyinya. Godok hadir dengan menyajikan kepada pembacanya menu bacaan yang simpel, krispi dan gurih. Sehingga orang-orang seperti saya yang sulit memahami tulisan yang menggunakan bahasa ‘berat’ semakin berminat membaca oleh tulisan nan sederhana yang ditawarkan Godok.

Berbicara  tentang Arisan Godok, aku memandang ada semacam konspirasi didalamnya! Bagaimana tidak? Godok yang malas dan juga tidak serius mengadakan penjurian atas tulisan-tulisan dan menuai perdebatan panjang yang alot untuk menentukan pemenang. Mana bisa itu terjadi sedang mereka malas dan tidak serius. Dasar Godok!

Biar pun begitu, ketidakseriusan dan kemalasan yang selalu dipropagandakan Godok menuai kegagalan. Bayangkan, penulis-penulis yang menuliskan keluh kesahnya pastinya membutuhkan energi yang besar. Butir-butir air mata yang menetes jatuh akibat mengingat memori ketika ditolak gebetannya. Padahal tiap hari dalam hidupnya dicekoki kisah-kisah percintaan oleh perfilman Indonesia. Belum lagi saat menulis keluh kesah atas kasus DO mahasiswa yang membuka lapak baca demi menyadarkan kita untuk membaca, sedang disamping itu melihat banyak mahasiswa yang dianggap berprestasi padahal berselingkuh sambil bersetubuh dengan koorporasi demi kepentingan pribadi.

Di akhir kata aku ingin menyampaikan bahwa godok memang kawan baik untuk membagikan semua keluh kesah kita. Tapi apakah godok kawan yang baik juga untuk menyelesaikan masalah-masalah kita? Biar Godok yang menjawab!

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Lewis Siahaan sebagai pemenang.
 
Lewis Siahaan
Penulis adalah Mahasiswa biasa yang aktif di Kelompok Studi Mahasiswa BARSDem dan juga Sastrawan Daerah yang masih bermimpi punya Karya Sastra.  

0 comments:

Post a Comment