Thursday, 3 August 2017

Surat Abu-Abu

Tinta hitam menembus sampai ke belakang kertas tipis yang aku rentangkan di depanku. Tulisannya tampak diperindah dengan susah payah dengan bagian kaku di setiap lekukan. Aku menghargai usahanya. Sudah berkali-kali aku mengatakan tulisannya tidak dapat kubaca tapi dia tetap bersikeras ingin menuliskan sebuah surat. Surat cinta, dia bilang. Apa yang sudah dia tulis tidak langsung aku baca. Masih mengagumi kesanggupannya, sikap romantis yang aku ledek tidak ada di dirinya. Kertasnya bukan berasal dari sobekan bagian tengah buku tulis. Bukan juga kertas tipis bergaris dengan bagian pinggirnya yang berlobang-lobang. Kertas itu abu-abu, warna kesukaanku yang dia bilang membuatku tampak hangat untuk dipeluk (maksudnya adalah saat aku mengenakan hoodie abu-abuku itu, lho), bergaris rapat-rapat sehingga tulisannya tampak kecil dan ruwet meskipun memang tampak lebih baik. Dia menekuknya menjadi dua, tanpa amplop, hanya tergeletak begitu saja di meja sebelah infusku. Baik, aku akan membaca surat tidak penting agak panjang itu. Semoga dia tidak membubuhinya dengan lelucon garing yang membuat perutku semakin mual:

Wordpres

Untuk yang Selalu Disertakan dalam Masa Depanku, Kita pernah berangan-angan ingin tinggal bersama seperti Dupin di Faubourg St. Germain yang sepi dan terpencil. Atau John dan Sherlock di tengah bising nan kumuhnya London. Kita akan habiskan waktu dengan membaca, berdiskusi, menulis, makan, menonton, dan melakukan apa yang tidak bisa mereka lakukan, kita dapat terus berciuman. Aku juga ingin menjadi Tom Baker bagimu. Lelucon kami sama-sama menyedihkan, rasa cinta kami yang tulus juga sama, kamu sendiri kan yang bilang? Jadi itu artinya kamu juga ingin melahirkan selusin anak? Kamu sanggup? Aku sih sanggup saja. Asal kamu memaklumiku yang masih agak geli memegang pantat-pantat bau dalam kemasan mungil itu. Apa lagi yang kita angankan ya? Aku lupa saking banyaknya. Yang selalu aku ingat hanya saat air mukamu cepat berubah sewaktu bercerita, tanganmu yang tidak bisa diam memeluntir segenggam rambut hitammu berulang-ulang, dagu lancipmu yang mengkerut saat aku menceritakan angan-anganku yang bagimu menjijikkan. Kukatakan sekali lagi, aku adalah superhero yang akan selalu menyelamatkanmu saat kamu disandera king kong di atas puncak gedung. Aku anak keturunan bangsawan yang mencari ratunya, dan kemudian aku malah menemukanmu terperangkap dicomberan yang menutupi kecantikanmu. Kuberitahukan juga ya, aku jika sudah tua nanti, akan berdansa di pernikahan anak-anak kita tepat di depan toilet sehingga tidak ada yang bisa masuk ke sana kecuali mereka menonton sampai hampir ngompol! Karena aku bilang berdansa, itu berarti kamu yang akan berdansa denganku. Saat ini pasti dagu lancipmu berkerut lagi deh.

Untuk yang Selalu Diberi Kabar, aku merindukanmu dalam perjalanku yang jauh ini. Pagi ini aku pergi begitu cepat dari jadwal. Menaiki pesawat yang kamu takutkan. Bagaimana kalau aku menyuruhmu datang berkunjung kalau ketinggian saja tidak bisa kamu taklukan? Kamu mencintaiku kan? Kalahkan rasa takut itu untuk pertemuan kita segera! Tapi tak usah dipaksa. Aku juga akan bisa pulang dipelukanmu kelak. Badanku masih pegal dan hatiku tertinggal di samping bantalmu. Tolong jaga, aku juga akan merawat mata yang sedikit membengkak ini, tangan yang membeku ini, bibir yang menjadi terasa asam ini, kaki yang lemah ini karena harus berjalan menjauh barang sementara darimu. Yang masih sehat hanya telingaku, dia tidak membengkak seperti saat jika aku di sampingmu. Aneh sekali bukan?

Seperti janji kita dulu, jika sudah sampai di suatu tempat saat kita tidak bersama, jangan langsung memberi kabar lewat suara. Katakan dalam aksara bahwa sudah selamat sampai tujuan. Jadi aku akan meneleponmu dua hari lagi jika diizinkan. Aku tahu ini berat, menulis dengan baik dan indah ini juga terasa berat, jadi aku akan menyudahi tulisan romantisku ini yang pasti akan membuatmu kembali jatuh cinta padaku di setiap titiknya.

Haruskah aku menuliskan namaku di tandatangannya? Halah, ucapkan saja nama panggilanku yang kamu sayangi itu. Jadi, apa tulisanku yang meliuk-liuk ini bisa kamu baca, kekasihku?


Aku melihat ke arah jendela. Awan putih bergulung-gulung lezat berlatar biru pekat. Angin menghembuskan daun pohon dekat jendela. Aku ingin membuka jendela itu, merasakan angin, menghilangkan sedih. Ruang kamar pasien VIP begitu luas, dingin, menakutkan. Di luar cerah, hangat, menyenangkan. Aku ingin berlari, berenang, bersepeda, berjemur, berbelanja.

Aku ingin menciummu.

Aku ingin mencintaimu lebih lama lagi.

Aku ingin kamu menjadi Tom Baker di Cheaper by the Dozen. Dan meskipun kamu mungkin bukan Cary Grant dalam wujud Philip Adams yang aku gilai, lalu kenapa? Tidak ada yang bisa menandingimu nyatanya. Aku harus sadar hidup ini begitu singkat. Kamu adalah obat penawar dalam kelam. Janji abadi di tengah dusta penjabat. Teriakan bahagia di dalam kemalangan. Kamu, dengan nama panggilan kesayangan yang aku buat khusus untukmu, dengan ketidakkonsistenan-mu dalam hal merayu, awalnya romantis ujung-ujungnya ngeselin. Kamu yang dianggap tak pernah membahagiakanku, dapat melakukannya sembunyi-sembunyi dalam benteng pertahanan kita. Jadi aku bersyukur, kamu juga mencintaiku dalam setiap keisenganmu.

Maka, kekasihku, sambil melihat langit luas yang menakutkan, aku merasa nyaman karena awan merapat membentuk ilusi lucu yang bisa kamu tebak dengan ratusan nama benda, aku berdoa agar kamu bahagia di sana meskipun kelak aku mungkin sudah tiada.

Meski singkat, seperti surat dalam lembaran kertas abu-abu, aku sangat mencintaimu kekasihku, titik.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Agustus. Silakan dibagikan jika menyukai Nahdiana Dara sebagai pemenang.

Nahdiana Dara

Gadis berumur kepala dua. Menulis untuk melarikan diri sampai menemukan jati diri.

0 comments:

Post a Comment