Saturday, 16 September 2017

Bumi, Percintaan, Punya Anak

Penduduk dunia secara pasti menuju angka 8 M. Saat ini tepatnya populasi kita 7,4 M. Tidak ada yang bilang ini baik. Sumber Daya Alam tidak cukup untuk menampung besarnya angka populasi ini. Luas perkotaan tempat manusia mayoritas hidup dan mencari nafkah, semakin buruk untuk jadi tempat tinggal. Polusi dan sampah yang dihasilkan menjadi masalah modern yang serius. Semuanya buruk.

Foto via RT en Espanol

Apakah bumi sungguh-sungguh tidak mampu menampung kita semua? 

Bumi planet besar kelima dari delapan planet dalam Tata Surya, sangat padat dan stabil dalam soal komposisi pembentuk. Apapun "kekacauan" dianggap bisa ditampung di atasnya, tapi bukankah kita ingin spesies kita dapat hidup sangat lama dan makmur? Kita menekan populasi dengan serius, berpikir dengan cara itu kita menekan apa yang "dibuang" manusia. Residu kita bukan cuma eek, tapi juga buangan yang tak nampak mata seperti suara dan radiasi. Kita berharap anak-cucu kita menikmati bumi yang tetap biru, sebuah indikasi warna yang menunjukkan kehidupan dan udara layak bagi spesies ini. Tapi kita terlalu banyak untuk dapat dikontrol. Jika sudah sangat banyak, alam akan bereaksi menyeimbangkan buangan yang membuat bumi tak stabil. Kita percaya ini, tapi kita tidak mudah menekan diri kita sendiri. Bahkan industri dan teknologi modern yang kita hasilkan justru mempercepat kerusakan tempat tinggal kita.

Gw berbincang tentang hal serius ini di akhir pekan dengan spouse. Melemparkan topik serius agar percintaan menjadi tanggungjawab, adalah variasi manusia yang tak tahu mau membincangkan apa lagi setelah agama bukan fokus pemikiran kami. Ketika agama dan urusan kelangitan bukan lagi fokus seseorang, ternyata mereka serta merta menjadi pemikir lingkungan dan kemanusiaan. Mereka melihat bumi sebagai planet sekarat, membayangkan bagaimana mungkin kita apatis dengan menyumbangkan kelahiran manusia-manusia baru, seolah penambahan populasi "bukan tanggungjawab saya", tapi urusan pemerintah negara dunia ke-3.

Well.

Bercinta tanpa menambah populasi nampaknya egois dalam pandangan gereja dan mesjid. Tapi bagi kacamata humanis yang peka isu global dan propaganda hijau, kita dalam kondisi sangat serius. Bersenang-senanglah dengan kelamin, tapi berhentilah memikirkan kesenangan sendiri yang menganggap punya anak adalah "hak saya dan kebahagiaan saya".

Ya, jika orang punya anak atas anggapan masa lampau dimana anak adalah penjamin hari tua, sungguh sangat memilukan. Atau menambah anak karena ingin jenis kelamin tertentu, atau punya anak karena ingin merasakan kebahagiaan menjadi orangtua, sungguh sangat selfish. Jika punya anak atas dasar dogma, it's double selfish.

You all, ga akan membenarkan pikiran gw ini.

Karena kita semua telah mengambil peran egois tentang punya anak itu di masa lampau, sebelum membaca ini. Tapi jika hari ini kita tetap tidak menyadari kekeliruan, untuk sekedar setuju dan ikut serius soal populasi, saya sangat kecewa.

Kecewa pada caramu memikirkan hidup manusia jangka panjang, friends.

***

Estiana Arifin (EA)

Creative Writer

0 comments:

Post a Comment