Monday, 25 September 2017

Menjemput Luka

Hari ini aku pulang. Sekian lamanya aku tak bisa memberi kabar, kepada mereka orang-orang tercinta. Aku terjebak di tanah rantau. Betapa rindu sudah begitu menggebu, ingin menapakkan kaki di kampung halaman.

Gambar via Vemale.com

Terbayang wajah cantik istriku. Ah, tak sabar aku ingin segera memeluknya. Dia pasti gembira bila mengetahui kabar tentang kepulanganku ini. Tapi biarlah ini menjadi rahasia. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

"Turun mana, Mas?" tanya kernet angkot ke arahku. Kebetulan aku duduk berhadapan dengannya.

"Tikungan depan, pom bensin," jawabku singkat.

Sekitar 20 menit setelah itu, angkot berhenti. Sudah sampai rupanya. Bergegas aku turun. Setelah kuulurkan selembar uang lima ribuan pada kernet, mobil itu kembali melaju mengantarkan penumpang yang lain pada tujuan masing-masing.

Memasuki desa tempat tinggalku. Aku lalui dengan berjalan kaki. Desa ini sudah banyak berubah. Beberapa bagian tampak asing di mataku. Sebagiannya lagi, masih sama, masih seperti dulu, waktu aku pergi meninggalkannya.

"Gelenon, Pak."

Bapak tua yang sedang serius meraut bambu di halaman rumahnya itu tersenyum.

"Eatore," jawabnya, santun, sambil mengendapkan kepala.

Aku sudah mau melanjutkan lagi langkah kakiku, tapi ....

"Hanafi?" Aku menoleh. "Kau masih hidup?" lanjutnya.

Aku mengernyitkan kening. Bapak tadi menghampiriku.

"Iya, Pak. Ini saya, Hanafi."

"Subhanallah. Ini keajaiban Tuhan," ucapnya, lirih. Aku tak mengerti apa maksudnya.

"Kau tak ingat siapa aku?" tanyanya lagi.

Tentu saja aku ingat. Pak tua di hadapanku ini adalah Pak Salim, orang tua dari seorang gadis yang cintanya dulu pernah kutolak.

"Ingat, Pak. Bagaimana mungkin saya lupa terhadap orang sebaik Pak Salim?" jelasku sambil mengulurkan tangan. Pak Salim menyambutnya, lalu memelukku.

"Mari, Nak, mampirlah ke rumah. Lama kau pergi meninggalkan desa. Aku ingin menceritakan banyak hal padamu."

"Terima kasih, Pak. Tapi saya ingin segera sampai rumah. Sudah tidak sabar ingin bertemu Istri, Bapak juga Ibu."

Pak Salim menepuk-nepuk bahuku sambil menarik napas panjang, kemudian dihempaskannya.

"Ibumu, sudah tiada. Tepat satu tahun yang lalu."

Seperti disambar petir aku mendengarnya. Lututku lemas.
"Benarkah?"

"Ya, tabahkanlah hatimu."

"Terima kasih, Pak. Saya pamit, saya harus segera sampai ke rumah."

"Ya, silakan, Nak Hanafi. Lapangkanlah dadamu," pesan Pak Salim berulang-ulang. Aku pun segera berlalu dari hadapannya.

Separuh kebahagiaanku telah hancur. Salah seorang yang aku rindukan telah pergi. Tak akan dapat aku temui meski sekarang aku telah bisa pulang.

Kuayun langkah kakiku agak sedikit tergesa. Hingga tiba di halaman sebuah rumah kecil, berdinding papan. Kumuh. Terlihat jelas tak terawat. Itu rumahku.

Kuketuk pintu rumah yang tertutup rapat itu beberapa kali. Tak lama, terdengar suara langkah-langkah berat menuju pintu.

'Cepat buka pintunya, Sayang. Abang rindu sekali denganmu,' bisikku dalam hati.

'Sreeeaat...!' Pintu dibuka. Di hadapanku, kini telah berdiri seorang perempuan, Ilma, istriku.

"Abang, kau?!"

Aku melihat keterkejutan yang luar biasa di wajah Ilma, wajahnya seketika pucat seperti mayat.

Aku sudah merentangkan kedua tangan, bersiap untuk mendekapnya erat-erat. Tapi..., tidak. Kuperhatikan perut Ilma, bulat dan penuh. Ilma sedang hamil? Oh, Tuhan.

Aku belum berkata apa pun. Aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri. Tapi Ilma sudah menangis tersedu-sedu.

"Aku tidak tahu kalau ternyata kau masih hidup, Bang. Orang-orang bilang kau sudah meninggal, tenggelam bersama perahu yang kau tumpangi dalam perjalanan waktu itu."

"Kau sudah menikah lagi?"

Dia menggeleng. Masih terus menangis.

"Lantas, anak siapa yang kau kandung itu?"

Ilma diam saja.

"Dia mengandung anakku," suara seorang lelaki dari belakang.
Aku menoleh.

"Bapak?!"

Madura, 25 Agustus 2017

***
Syahdu Tralala

Aku menulis untuk mengisi waktu luang, menguji kemampuan dan mengusir kejenuhan. Bagiku, menulis bukan hanya sekadar hobi, melainkan kebutuhan.

0 comments:

Post a Comment