Sunday, 17 September 2017

Narasi dan Tulisan Pendek untuk Cerita yang Pendek

Setelah sekian lama tidak menulis, saya merasa menjadi seseorang yang kikuk lengkap dengan label "kemandulan". Seperti biasa, saya berusaha sekuat tenaga untuk tidak terpancing emosional yang mengharu biru. Hari ini, tulisan pendek untuk cerita yang pendek akhirnya berhasil saya hidangkan untuk sidang pembaca sekalian.


Saya mulai tulisan ini dari mengutip percakapan -yang pesimis- antara Howard bersama temannya, tokoh ciptaan Paul Murray dalam novel Skippy Dies. Kutipannya seperti ini:

"Bukan seperti ini kehidupan yang aku ingini."

"Lalu kehidupan seperti apa yang kamu ingini?" Seorang teman menanggapinya.

Howard merenung; "Kurasa ini terdengar bodoh, tapi kupikir penjelasannya akan sangat menyakitkan, seperti tembakan busur melalau sebuah narasi." 

Tapi saya pikir apa yang dikeluhkan Howard sama sekali bukanlah hal yang bodoh. Meskipun, barangkali mungkin fakta tentang kehidupan seseorang, yang dipaparkan dari awal hingga ke ujung, tidak akan menyerupai sebuah narasi bagi seorang pengamat -luar- serta bagaimana seseorang memilih untuk menceritakan kisah kehidupan mereka, kepada orang lain dan -yang terpenting- pada diri mereka sendiri.

Saya pikir hampir selalu memiliki metode naratif ketika menceritakan bagaimana Aku menjadi diri Aku, dan siapa diri Aku yang sedang Aku jalani, bahkan bisa jadi ceritanya sendiri akan menjadi bagian dari diri Aku sendiri. 

Jika sampai sejauh ini, sidang pembaca menemukan kesulitan mencerna karena ruwetnya narasi dan diksi yang saya tuliskan, maaf diminta banyak-banyak.

"Saya pikir kisah hidup tidak hanya mencerminkan kepribadian seseorang. Sebab kisah hidup adalah kepribadian itu sendiri, atau lebih tepatnya, adalah bagian kepribadian yang penting, bersama dengan bagian yang lain, misalnya sifat disposisi, tujuan, dan nilai, "tulis Dan McAdams, seorang profesor psikologi di Northwestern University, bersama dengan Erika Manczak, dalam sebuah bab di Handbook of Personality and Social Psychology.

Dalam ranah psikologi naratif, kisah hidup seseorang bukanlah biografi fakta dan kejadian hidup seperti yang dijelaskan Wikipedia, melainkan cara seseorang mengintegrasikan fakta dan kejadian itu secara internal -memilah dan menyusunnya kembali untuk memberikan suatu makna. Narasi menjadi bentuk identitas, di mana hal-hal yang dipilih seseorang untuk disertakan dalam cerita, dan bagaimana menurutnya, dapat mencerminkan dan menggambarkan siapa dirinya. 

Kisah hidup tidak hanya menceritakan apa yang terjadi, tapi juga menjelaskan mengapa penting hal tersebut diceritakan, apa artinya seseorang, untuk siapa mereka nantinya, dan apa yang akan terjadi selanjutnya. 

"Kadang-kadang dalam kasus autisme ekstrem, orang tidak membangun struktur naratif untuk kehidupan mereka," kata Jonathan Adler, asisten profesor psikologi di Olin College of Engineering.

"Tapi mode bawaan kognisi manusia memang sudah diset dengan mode naratif." 

Ketika orang bercerita kepada orang lain tentang diri mereka sendiri, mereka harus melakukannya dengan cara bernarasi bukan? Begitulah manusia berkomunikasi. Tapi ketika orang memikirkan hidup mereka untuk diri mereka sendiri, apakah selalu dalam cara bernarasi, dengan sebuah plot yang mengarah dari satu titik ke titik lain?

Pepatah lama orang Eropa mempercayai  bahwa setiap orang memiliki buku di dalam dirinya masing-masing. 

Adakah orang di luar sana dengan kisah hidup yang sama sekali bukan berbentuk cerita?

Ini adalah pertanyaan yang hampir mustahil untuk dijawab dengan pendekatan ilmiah kata Monisha Pasupathi, seorang profesor psikologi di University of Utah. Bahkan jika kita, seperti yang ditulis oleh penulis Jonathan Gottschall, "bercerita tentang hewan," apa artinya satu orang dengan orang yang lainnya? Tidak hanya perbedaan individu mengenai bagaimana seseorang menceritakan kisah mereka, namun ada hal di mana individu terlibat dalam cerita naratif sejak awal.

Beberapa orang menulis di buku harian mereka dan sangat introspektif, dan beberapa orang sama sekali tidak, kata Kate McLean, seorang profesor psikologi di Western Washington University. 

Meski terkadang cara mendokumentasikan kisah hidup tidak selalu dalam bentuk narasi, namun seorang fakir yang sudah saya kenal sejak lama-Hadel D Piliang-telah menulis buku harian selama 15 tahun, bahkan ia masih mengatakan kepada saya, bahwa narasi bukanlah perkara yang mudah bagi dirinya. Namun demikian, para periset yang saya baca penelitiannya mengakui bahwa meskipun tidak 100 persen universal; melihat kehidupan sebagai sebuah cerita.

Naratif sepertinya merupakan metode pembingkaian yang tidak sesuai untuk menceritakan kekacauan hidup seseorang (saya:-)), sampai Anda sadar betul dari mana cerita harusnya bermula. 

Pada akhirnya, satu-satunya materi yang harus kita buat dari cerita adalah imajinasi kita sendiri, dan kehidupan itu sendiri. Mendongeng, kemudian-fiktif atau tidak fiktif, realistis atau dihiasi dengan ngalurngidul- adalah cara untuk memahami diri sendiri dan dunia di sekitar kita. Salam.

***

Depitriadi

Tengah melakukan misi rahasia. Maka tunggu saja.

0 comments:

Post a Comment