Thursday, 4 April 2019

Menahan Rinduku Padamu Seperti Menahan Kentut!

Sudah hari keberapa ini aku memikirkanmu, dalam hati berulang kali aku mengutuk diri kenapa bisa kenal kamu? Kenapa bisa sedekat ini denganmu? Dan kenapa ketika aku sudah menerimamu dalam kehidupanku kau tiba-tiba pergi. Bukan, bukan pergi untuk selamanya memang, kita masih berada dalam suatu daratan yang sama dan sangat dekat. Saking dekatnya kita tak pernah ketemu, aneh bukan? Hahaa... memang hubungan kita hanya sebatas percakapan di layar handphone



Asal kamu tahu, alasanku menerimamu adalah aku takut kehilangan sosokmu dalam hari-hariku. Tapi sayangnya ketika aku sudah menerima, kau tetap saja menghilang kemudian tiba-tiba muncul dan menghilang lagi. Sudah, aku sudah menyampaikan unek-unekku ke kamu. Sering malah, tolong kabari aku sekalipun kau tak memperhatikanku tak apa. Seketika kau menjawab, kamu ini aneh banget sih! Kan udah aku kabarin kalau aku lagi nonton pertandingan bola, main futsal,  ngobrol sama temen, banyak deh kesibukan ku!

Saya jadi heran sendiri dengan hati ini tiba-tiba marah, jengkel terus sabar dari semua tingkahmu ini. Bagiku ini beban pikiran yang menghantui hampir setiap hari. Mungkin seketika kau berkata, ngapain dijadiin beban sih? Anggap semuanya ringan baik-baik saja. Aku sudah berusaha semampuku untuk membuat bahagia, menyenangkan. Tapi lagi-lagi aku gagal, berulang kali aku menjadi murung dan membuang waktu dengan percuma karena pikiran gak karuan ini. 

Memang benar dari hati terkecilku, aku ingin kamu selalu ada atau setidaknya ketika hari libur atau minimal memberikan kabar sekata dua patah kata kapanpun. Terkadang aku butuh teman curhat ketika malam-malam hening, tak lain adalah kamu. Namun lagi-lagi aku hanya bisa menatap handphone dengan harapan kosong. Kau tak berusaha untuk hadir. Mungkin ini salahku juga yang terlalu lemah jadi wanita, dikit-dikit merengek dan mengeluh ga karuan. Menumpahkan semuanya kapadamu, hingga kamu sendiri bosan dan berkata “ngeluh terus ke aku, kapan ngajak bahagianya?” ya maaf aku hanya butuh seorang yang bisa menjadi sandaran penguat ketika pikiranku ga karuan, ketika semua terasa berat dijalankan. Akupun siap menjadi pendengarmu bila kau sedang butuh teman curhat, butuh ketenangan, butuh saran dan masukan. Aku ga akan menyalahkan kamu sebagai seorang pria yang memang seyogyanya menjadi pelindung seorang wanita. Kamu juga manusia, berhak atas keinginanmu sendiri. 

Aku ga bisa terus-terusan seperti ini, aku ingin menjadi wanita yang ceria bahagia aktif dan mempesona. Memang kebahagian bisa diciptakan sendiri bagaimanapun caranya, atau aku bisa saja menciptakan semua itu dengan suatu kepura-puraan, toh orang lain tetap menganggapku sebagai wanita yang memiliki sifat-sifat tersebut. Tapi bagiku semua itu percuma kalau hati terus-terusan memberontak akan dirimu. Dalam hidup ini hanya ada dua pilihan ya atau tidak. Lanjut atau tidak. Tak ada yang namanya boleh ya boleh tidak alias setengah-setengah. Berulang kali aku mencoba untuk menanyakan dalam diri, apakah kamu masih sanggup bersabar? Apakah kamu nggak bisa menerima penejelasannya lagi? Apakah kamu bisa berdiri sendiri tanpa dia disampingmu? Apakah kamu ga akan menyesal nanti? Intinya, apakah kamu masih ingin bersamanya atau tidak?

Kau tahu perasaan yang sedang giat-giatnyaa menyerangku disebut apa? Kalau kebanyakan penulis novel, para sastrawan bilang sih rindu namanya. Itulah sebabnya janda bahasa jawanya adalah rondo, karena ia ditinggal oleh suaminya untuk selamanya dan mungkin ia merasakan rindu. Tapi aku tak ingin menyebut rasaku padamu ini sebagai rindu. Lebih dari itu, rindu yang amat mendalam. 

Untuk apa ada hubungan seperti ini meskipun dalam kenyataannya seperti tak ada apa-apa, hampa. Mengerti maksudku? Analoginya kamu lagi mancing, aku sebagai ikannya. Ketika kail dari pancingan tersebut merobek  mulut si ikan maka tersangkutlah si ikan pada pancinganmu. Tapi sayangnya kamu melepas begitu saja pancingannya, tak mengulurnya ke atas. Si ikan mau beranjak dari tempat tapi merasa kesakitan karena luka, tetap ditempatpun ia tetap merasa sakit. 

Andai aku bisa melepas rindu ini seperti melepaskan kentut, mungkin kita sudah menjadi taik yang ngambang di kali. Kemudian hancur lebur ketika arus air kalinya sangat deras. Memang benar katamu, seyogyanya kita menahan kentut alias rindu ini terlebih dahulu. Kita selesaikan dulu urusan dan kewajiban masing-masing, walau sakit dan berat rasanya. Tak usah tergesah-gesah melepaskannya, aku yakin disuatu waktu dan tempat yang tepat nanti kita akan melepaskan kentut ini bersama-sama. Walaupun toh pada akhirnya kita tetap jadi taik, namun setidaknya ia tidak hancur terkena derasnya air kali karena sudah diikat dengan lem paling rekat seantero per-leman, yaitu lem pernikahan. 
***


Nurul Fazriyah 
Asal Kota Santri, sedang memperjuangkan S.Far dan S.Ah denganmu. Terimakasih godok.id, telah membuka peluang nambah uang jajan anak kos ☺

Masalah yang Tidak Terlalu Dianggap Masalah

Sudah menjadi hukum mutlak bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan makhluk lain. Dan pada dasarnya manusia adalah makhluk pencari keuntungan. Hubungan antara satu individu dengan individu lain bisa dikatakan simbiosis mutualisme. Kebetulan inget materi UTS kemarin. Oke lanjut. Sebut saja hubungan pertemanan. Dalam sebuah hubungan pertemanan, setiap partisipannya pasti akan sama-sama mendapatkan keuntungan. Tidak mungkin tidak. Jika terdapat pihak yang dirugikan pasti dianggap bukan teman. Malahan bisa dianggap musuh. Lebih bahaya lagi jika di dalam selimut. Selimutnya ternyata punya tetangga. Bahaya tingkat siaga satu.


Jadi sebenarnya prolog di atas tidak terlalu berhubungan dengan apa yang ingin saya bahas. Biar panjang aja, sekaligus biar cepat sampai target. Baiklah langsung saja. Pernahkah kalian merasa bahwa komunikasi yang kita lakukan ini terkadang tidak berjalan efektif? Di saat tiba-tiba terjadi pertukaran peran yang berjalan dengan cara lembut dan halus, yang kelembutannya setara dengan kelembutan kulit bayi yang belum pernah main layangan dan kena debu. Jelas karena dia bayi jadi belum dapat izin dari orang tuanya. Oke ini apa banget.

Kembali ke topik awal. Hampir semua orang saya yakin pernah melakukan ini entah disengaja atau tidak. Tapi hampir ya, hampir. Misalnya saat kita sedang butuh seseorang untuk tempat curhat tentang masalah yang dihadapi, tapi orang yang kita curhati ternyata tidak memenuhi persyaratan menjadi komunikan yang baik. Wow ilmiah sekali ini. Lanjut. Jadi yang ada malah dia ganti curhat. Motong pembicaraan pula. Sebenarnya tidak semua orang peka terhadap masalah ini. Ada yang sadar dan ada yang sama sekali tidak sadar. Saya sendiri saat ini masih berada dalam tahap pembelajaran untuk menjadi pendengar yang baik. Sudah seharusnya jika seorang pendengar tugasnya adalah mendengar. Pada saatnya nanti ia akan berbicara juga kok. Entah itu memberi advice atau apapun yang tentu saja masih berhubungan dengan masalah mbak-mbak yang curhat tadi. Emang tadi mbak-mbak?

Di paragraf ini saya ingin curhat. Saya punya seorang teman yang suka sekali bercerita. Semua hal bahkan kegiatan sehari-harinya dia ceritakan kepada saya. Meskipun itu hal yang sebenarnya sama sekali tidak penting menurut saya. Seperti saat makan siang, nasi yang dia makan sisa delapan butir. Hmm sebenarnya tidak se-tidak-penting itu juga sih. Jadi dia selalu bercerita tentang hari-harinya. Pernah ia bercerita bahwa dia tadi membuka tutup galon. Yang ini serius. Dan saya kebingungan harus memberi respon seperti apa. Yang disayangkan adalah ketika dia suka sekali bercerita tapi dia tidak terlalu suka mendengar. Memang saat ini makin sedikit saja orang yang suka mendengar. Semua orang pada dasarnya ingin didengar tapi kurang mampu mendengarkan orang lain. Dia juga kurang suka memberikan respon terhadap cerita yang saya sampaikan sebagaimana mestinya, dan akhirnya cerita saya diakhiri dengan dia yang menguasai pembicaraan dengan tema kehidupannya. Dan babak final berakhir dengan dia yang menang telak. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika cerita saya sama sekali tidak ditanggapi. Suara saya laksana sebuah gelombang yang hanya bisa didengar oleh para kelelawar yang sedang tertidur di dalam goa. Dan keberadaan saya invisible alias tak kasat mata. Dan karena pengalaman itu, saya tidak pernah lagi curhat kepada teman yang tidak saya sebutkan merknya itu. Seperti pepatah yang mengatakan bahwa buaya tidak akan pernah jatuh ke lubang yang sama.

Baiklah, sejatinya untuk menjadi pendengar yang baik sangatlah mudah sekali. Semudah mencari sehelai jerami dalam tumpukan benang. Ehm sebenarnya itu susah dan tajam. Jadi sebenarnya untuk menjadi pendengar, syaratnya hanyalah mendengarkan dengan sabar dan mendengarkan tanpa interupsi. Dengan begitu seorang yang sedang berbicara kepada kita akan merasa dihargai, dan komunikasi yang terjalin akan berjalan efektif. Saat kita dibutuhkan untuk jadi seorang pendengar maka dengarkanlah, lalu saat tiba waktunya kita bicara, maka bicaralah. Seperti saat teman kita dengan curhat.
 
A: “Duuuh, aku dimarahin ayahku nih gara-gara jatah bulanan udah abis, padahal baru dua hari dikirim, mana bulan depan masih kurang 28 hari lebih 22 jam 15 menit 34 detik lagi. Gimana nih?”
 
B: “Gila cepet amat, buat apa sih?”
 
A: “Buat beli batagor sama cireng crispy. Gimana dong?”
 
B: “Yaudah aku pinjemin ke temenku ya, kebetulan dia rentenir.”
 
A: “Wah boleh tuh.”    

Komunikasi diatas terjalin dengan rapi dan pada tempatnya. Dimana pendengar dan pembicara tetap pada perannya masing-masing dan dapat memunculkan diri tepat waktu. Komunikasi diatas dianggap efektif. Berbeda lagi bila respon pendengar tidak seperti seharusnya. Seperti contoh dibawah ini.
 
A: “Duuuh, aku dimarahin ayahku nih gara-gara jatah bulanan udah abis, padahal baru dua hari dikirim, mana bulan depan masih kurang 28 hari lebih 22 jam 15 menit 34 detik lagi. Gimana nih?”
 
B: “Mending dua hari. Aku dua jam bayangin”

Komunikasi di atas kurang efektif karena respon dari B bukanlah tanggapan dari masalah si A. Namun pada kenyataannya, komunikasi jenis inilah yang sering sekali terjadi. Entah dilakukan secara sadar atau tidak. Kita cenderung merespon masalah orang lain dengan mengutarakan masalah kita sendiri sebagai perbandingan. Sebenarnya hal itu kurang tepat dilakukan. Karena yang dibutuhkan si A adalah respon atau bahkan jawaban untuk masalahnya. Berbeda lagi dengan contoh dibawah ini. Dan lebih parah dari yang di atas.

A: “Duuuh, aku dimarahin ayahku nih gara-gara jatah bulanan udah abis, padahal baru dua hari dikirim, mana bulan depan masih kurang 28 har……”

B: “Mending dua hari. Aku dua jam bayangin”

Sama sekali tidak efektif, karena A belum menyelesaikan bagiannya lalu tiba-tiba  B memotong pembicaraan. Dengan masalahnya pula. Lebih parah lagi dari contoh diatasnya. Tapi tidak lebih parah daripada contoh dibawah ini.

A: “Duuuh, aku dimarahin ayahku nih gara-gara jatah bulanan udah abis, padahal baru dua hari dikirim, mana bulan depan masih kurang 28 hari lebih 22 jam 15 menit 34 detik lagi. Gimana nih?”
 
B: ------
A: Invisible

Komunikasi dalam contoh nomor empat diatas adalah model komunikasi yang pernah saya alami dengan teman yang saya jelaskan keberadaannya diatas. Betapa menyedihkan suasana saat itu. Sampai tiba-tiba terdengar suara krik-krik dari para jangkrik di sawah yang keberadaannya sekitar 10km dari lokasi kejadian. Dan tiba-tiba terdengar juga suara detik jarum jam sebenarnya digital.
   
Oke, jadi tulisan ini merupakan suatu bentuk keprihatinan saya kepada cara berkomunikasi beberapa orang dan saya sendiri tentunya. Untuk kemaslahatan bersama, sudah seharusnya jika para pelaku memahami masalah massal ini. Memang terkesan sepele, namun terkadang masalah sepele seperti diatas dampaknya tidak bisa dianggap sepele. Jadi mulailah untuk tidak menganggap masalah sepele sebagai masalah sepele. Dan biasakan untuk memposisikan diri sendiri seperti posisi orang lain agar terjalin kesetaraan dalam berkomunikasi. Siapa yang mau diabaikan? Jawabannya tidak ada. Jadi budayakanlah adab berbicara yang sopan dengan merespon dan tidak memotong pembicaraan orang lain, terlebih mengabaikan. Percayalah bahwa dengan komunikasi yang efektif, suatu hubungan akan lebih terasa mutualismenya.

***


Foto di atas adalah foto terbaik dari beberapa foto yang ada. Karena entah mengapa saya merasa agak kurusan di foto itu. Btw saya yang berkerudung pink. Ehmm sebenarnya ada empat wanita berkerudung pink difoto itu. Dan itu dia saya. Yang sedang digendong ibu-ibu. Eh maaf maksudnya yang pose-nya paling terdepan dan paling tidak candid. Ya itu dia saya. Fitri. Biasa dipanggil Fitri juga. Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di salah satu Universitas di Yogyakarta dengan mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dan konsentrasi Advertising. Motivasi saya mengikuti lomba ini adalah karena syarat pelombaannya yang menurut saya sangat menarik. Dengan tidak boleh menulis permasalahan serius. Selain itu, dengan berlandaskan asas kejujuran, saya tidak memungkiri bahwa hadiah yang tertera cukup untuk menambah sesuatu yang perlu ditambah. Dan juga untuk mengisi portofolio saya.    

Sunday, 10 March 2019

Pemenang Arisan Godok

Dear sahabat godok yang baik hatinya,

Berikut ini kami umumkan pemenang Arisan Godok Periode 15 Desember 2018 - 15 Februari 2019.

Dengan perdebatan yang sengit antara crew godok yang pemalas, dengan mempertimbangkan syarat dan ketentuan lomba, maka kami memutuskan Philia Turnip dengan tulisan berjudul Megahkan Syukur sebagai pemenang Arisan Godok. Kepadanya diberikan reward berupa uang tunai sebesar Rp. 1 Juta.

Kepada namanya yang tertera di atas, silakan konfirmasi data diri ke email godok.id@gmail.com. Selambat-lambatnya 3x24 jam sejak pengumuman ini dipublikasikan.

Selamat kepada pemang. Buat yang belum berkesempatan menang, tunggu arisan berikutnya. Terus berkarya, jangan malas seperti kami. Hehe.

Salam hangat,
Crew godok.id

Catatan : Bagi yang membutuhkan e-sertifikat, silakan kirim data diri ke email godok.id@gmail.com

Friday, 1 March 2019

Pengumuman Arisan Godok Periode 15 Januari - 15 Februari 2019

Dear sahabat godok.id,

Foto milik side.id

Berikut beberapa informasi penting buat kamu yang telah berpartisipasi dalam iven Arisan Godok Periode 15 Januari - 15 Februari 2019.

1. Periode share artikel diperpanjang hingga 7 Maret 2019.
2. Pemenang Arisan Godok akan diumumkan pada 10 Maret 2019.

So, masih ada kesempatan buat kamu untuk menambah jumlah share, biar artikel kamu terpilih untuk masuk meja penjurian. Karena hanya 10 artikel dengan share terbanyak yang berkesempatan di-review oleh crew godok.id.

Salam hangat,
Crew godok.id yang malas

Sunday, 17 February 2019

Surat Kepada Aku di Tahun 2019 (Anggun Ahsani Taqwin)

Hay 2019, apa kabarmu? Aku berharap akan baik-baik saja.

Aku ingin bercerita padamu karna aku tak tahu pada siapa akan ku kadu keluh kesahku. Apa salah dan dosaku hingga usiaku 22 penuh dengan drama, Aku tak pernah membayangkan bahwa angka itu penuh cerita yang mungkin kutuliskan di sebuah buku mungkin tak sanggup orang-orang membaca dan jika kubuatkan film mungkin terlalu lama durasinya. 

Foto milik PXhere

Setiap awal tahun aku berharap akan baik-baik saja tapi sayangnya malah kebalikannya,Semua dimulai dari setelah lulus SMA aku selalu meneguk hal yang tak pernah aku rasa merasakan tak pernah lulus-lulus masuk universitas  semua seleksi ku tempuh tapi sayang tak kunjung lulus hingga aku mengulang nya lagi di tahun kedua tapi lagi dan lagi kata gagal itu datang lagi hingga membuat aku menyerah akan tetapi hinaan cacian dan hujatan aku terima dari yang tak ku kenal sampai dengan keluarga hingga membuat aku berkata jangan pernah menyetah yah dan akhirnya akupun kuliah di salah salah satu universitas tak ternama di pulau sumatra jauh dari rumah atas usulan dari salah satu keluarga sungguh tak di sangka-sangka ternyata uang kuliahnya amatlah gila tapi sayangnya aku mengetahui itu ketika sudah menjalani kehidupan kampus dan akupun terus berfikir positif. 

Di tahun kedua tak ku sangka januari membawa kabar duka salah satu orang yang paling berjasa meninggal dunia yakni IBU, tak pernah terbayangkan di benakku bahwa aku akan menjadi anak piatu, akupun mulai menyerah lagi untuk kuliah karna aku tak akan sanggup meninggalkan rumah karna dirikulah anak satu-satunya perempuan di rumah dari 4 bersaudara tapi kata-kata ayah meyakinkan semua akan baik-baik saja tapi bodohnya aku percaya hingga libur kuliah lebaran pun tiba, dijemput oleh abang dan ayah tapi dengan kendaraan yang berbeda membuatku menitikkan air mata hingga tangisku pecah saat sampai di rumah bagaikan gudang yang tak pernah di jamah tapi tangisan itu tak pernah aku tampakkan di wajah karna jika itu terjadi ayahlah yang paling menderita karna melihat satu-satunya anak perempuannya menangis. 

Lebaran pertama tampa sosok ibu membuat semua berduka tak ada tawa ataupun senyum bahagia bahkan ayah menitikkan air mata di malam takbit dan abang meniktikan air mata di pagi hari lebaran akupun tak sanggup melihatnya tapi bodohnya aku, aku tak bisa berbuat apa-apa hingga lebaran pertama tampa ibu membuat kami semua hampa. 

Akhir tahunpun aku mendapat kabar dari ayah bahwa ayah mau menikah tampa tau siapa dan bagaimana rupanya seketika aku mendapat kabar itu seolah hancur sudah otak dan hatiku aku hanya tau kabar ketika ayah sudah mau menikah, dengan raut wajah pasrah aku izinkan agar ayah dapat bergairah hidupnya dan semenjak ayah menikah ayah sering tertawa bahagia walaupun anak-anaknya menangis di dada. 

Libur kedua ayah akhirnya menikah dan semenjak itu rumah bagaikan tak berpenghuni abang yang sudah jarang dirumah karna kurang menyetujui pernikahan ayah, adik yang pertama yang sekolah jauh dari rumah yang mengharuskan ia ngekos, Ayah yang sering tidur di rumah istri barunya hanya akan pulang di setiap pagi subuh dan terkadang hanya kami berdua aku dan adik terakhirku yang tidur dirumah, kami layaknya orang yatim piatu yang tinggal berdua. 

Libur di tahun ke tiga kuliah hal serupa terjadi aku mengetahui kabar bahwa ibu tiri ku hamil tapi sayang seribu sayang aku mengetahui itu semua tak dari mulut ayah tapi dari gunjingan orang orang yang membuat telingaku begah, aku sabar menunggu untuk ayah mengabariku hal itu tapi sayang tak kunjung jua hingga akhirnya aku bertanya pada ayah tapi jawaban yang aku terima ia terdian cukup lama hingga akhirnya mengalihkan pembiacaraan dan tahun ke empat kuliah seorang bayi lahir jika biasanya kelahiran bayi membawa bahagia tapi tidak kali ini rasanya ingin mati saja karna bertambah lagi beban di keluarga ini.

Aku tak mengerti apakah ini semua cobaan tak hentinya menerpa keluarga ini,komunikasi adalah hal yang jarang terjadi hingga satu sama lainpun tak mengetahui aktifitasnya sehari hari,apa yang salah di keluarga ini.

Hay Aku di tahun 2019.

Jangan diam lagi seperti di sekolah yang banyak peraturannya mulailah berkreasi karna hiduf ini seni bukan aturan yang harus dipatuhi mulailah membenah diri,mulailah berpikir, mulailah bertanya, dan mulailah bertindak karna diam tak menyelesaikan masalah dan diam tak membuat keadaan akan jadi indah. Diam hanya akan mrnambah beban dan diam hanya akan memberatkan tantangan.

Hay aku di tahun 2019.

Jangan lagi diam yah.

Ingat dunia tak akan menolongmu jika kamu hanya diam.

Ingat tuhan tak akan tau jika kamu hanya diam padanya.

Dan ingat tak akan ada yang berubah jika kamu hanya diam saja.

***
Anggun Ahsani Taqwin

Penulis bernama Anggun Ahsani Taqwin kelahiran 7 november 1996 di desa P.aro yang  berada di Provinsi Jambi. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Bung Hatta yang berada di Sumatra Barat. Penyuka warna kuning ini mulai menyukai hoby tulis menulis salah satunya puisi, terinspirasi oleh sosok Bung Hatta dengan berbagai tulisannya.

Jangan Dibaca

D’ek d’ek d’ek……..suara jantung Antika yang terus berdenyut saat sebelum melihat hasil penerimaan siswa baru di SMA 2. Rasa cemas namun tidak di perlihatkan bergejolak dipikiran dan hatinya, karna di minggu yang sama ia gagal di terima di SMA paporit yaitu SMA 1 karna kebijakan dari pemerintah setempat.Walaupun karna hal itu tetapi ia tetap merasa cemas kalau tidak di terima untuk ke dua kalinya,bersama sang ayah ia menuju ke sekolah SMA 2 untuk melihat hasil kelulusan dan lagi lagi ia gagal di terima.

Foto Milik Pixabay

Ayah   : Tika papa lihat bagian atas kamu lihat bagian bawah ada ngak namamu(melihat daftar yang lulus).

Antika : ya pa, kok ngak ada ya nama tika di sini pa.

Ayah  : kayaknya kamu ngak keterima di sekolah ini,emangnya tesnya susah ya nak.

Antika : ngak kok pa,cuman saat tes wawancara, gurunya nanya “benar pengen sekolah di sini, kalau seandainya tidak keterima gimana?” ya tika jawab aja jujur tika udah daptar di sekolah lain.

Ayah : ya….. itu sebabnya kamu ngak keterima.

Walaupun begitu Antika tak merasa putus asa karna masih ada kesempatan dimana setelah ia mengikuti tes di SMA 2 ,ia juga mengikuti tes yang sama di sekolah yang berbeda yakni di SMA 3 dan pengumuman kelulusannyapun  di hari yang sama. akan tetapi setelah melihat hasil kelulusan di SMA 2 ia mulai ragu apakah dapat di terima di SMA 3 di karnakan SMA 3 juga termasuk sekolah paporit setelah SMA 1.pada hari itu juga ia mendaftar di SMA 4 yang tidak begitu sulit untuk lulus tes seleksinya.sesampainya di SMA 4 di dapat imformasi bahwa seleksinya hari ini dan pendaptarannya tutup juga hari ini,Antikapun mendaftar.setelah tes seleksi ayahnya antika mendapatkan kabar bahwa anaknya di terima di SMA 3,dengan wajah yang sumringah ayahnya Antika memberi tahu kabar baik itu pada antika.mendengar hal itu tak tampak lagi wajah kusut Antika,ia bersama sang ayah langsung menuju ke sekolah tersebut untuk mengurus administrasinya.karna sekolah yang SMA 3 jauh dari rumahnya terpaksa Antika harus menjadi anak kos untuk pertama kalinya.

Satu minggu kemudian.

Ibu : Antika…….. sudah siap, papa dan mama udah siap ni…. (dengan suara lantang).

Antika : iya ma (dengan suara keras dari kamar atas) adek ikut ngak?

Ibu : iya.

Setelah di antar bersama keluarganya antikapun tinggal sendiri di kos untuk beberapa hari karna teman satu kos belum dating ,walaupun di samping kosnya ada orang namun ia tetap merasa sedih sendirian dan hasrat untuk pulang tak kunjung hilang dari fikirannya.ke esokan harinya barulah dating teman satu kos yang ternyata kakak seniornya dan ia juga panitia MOS,dan bersama kakak seniornya itulah ia berangkat ke sekolah untuk mengikuti MOS karna Antika belum begitu kenal daerah tersebut. Bukannya untung tapi malah buntung karna ternyata kakak seniornya ini suka telat dan pada akhirnya ia sering di hukum karna terlambat.dan hasil dari kegiatan MOS tersebut Antika sakit karna kelelahan dalam kegiatan itu dan akhirnya pulang ke rumah karna di beri libur dua hari untuk beristirahat sebelum masuk sekolah pada hari seninnya.

Hari pertama masuk sekolah……….

Dengan penuh semangat Antika pergi kesekolah  dengan berjalan kaki sementara siswa-siswi di antar oleh kedua orang tuanya dengan kendaraan mereka.namun walaupun begitu antika tetap tidak putus semangat dan akan berlajar dengan giat agar orangtuanya bangga pada dirinya.sesampainya di kelas.

Antika: eeeehhhhhhhh (kaget setengah mati karna apa yang diharapkannya berbanding terbalik dengan apa yang terjadi dimana banyak teman” nya waktu SMP dulu satu  sekolah dengannya dan banyak di antaranya satu kelas dengannya.

Antika:eeeeeeeee perasaan gue ngak ketemu samalo deh waktu MOS kemaren,nahhhhh kok sekarang lo ada dan malangnya kok lo semua pada ssatu kelas sama gue.

Sintia : kemaren gue emang ngak ikut MOS karna sakit makanya gue ngak dating.

Elni : nah kalo gue males aja ikut kegiatan-kegiatan yang ngak bermutu gitu dari pada capek ikut kegiatan mendingan gue jalan jalan sama temen temen baru gue.

Dengan alas an yang hamper sama mereka menjawap pertanyaan Antika yang kepo setengah mati, kana dia berusaha mencari-cari sekolah yang tidak ada alumni siswa-siswi SMPnya.tapi takdir berkata lain.seminggu lebih akhirnya antika bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.
BERSAMBUNG……..

***
Anggun Ahsani Taqwim

Penulis bernama Anggun Ahsani Taqwin, kelahiran 7 november 1996 di desa P.aro yang  berada di Provinsi Jambi. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa Universitas Bung Hatta yang berada di Sumatra Barat. Penyuka warna kuning ini mulai menyukai hoby tulis menulis salah satunya puisi, terinspirasi oleh sosok Bung Hatta dengan berbagai tulisannya. 

Surat Kepada Aku di Tahun 2019 (Naniek RM)

Hai, apa kabar? Semoga di tahun ini kamu selalu diberi kesehatan dan kelancaran untuk segala urusanmu, ya?

Foto milik Pixabay

Tahun 2019 akan menjadi tahun yang sulit buatmu, kamu tahu bukan? Tapi yakinlah kamu pasti mampu melewatinya. 

Tahun ini, kamu akan lulus dari SMA. Itu berarti perjuanganmu selama tiga tahun akan terbayarkan. Tapi sebelum itu, kamu akan melalui rangkaian ujian. Ujian praktek juga tulis. Belum lagi les-les dan tambahan pelajaran serta segala urusan tentang perguruan tinggi yang pastinya akan menguras emosi,  energi, dan pikiran. Kuatlah, karena ini adalah gerbang menuju kesuksesanmu kelak.

Kamu mungkin akan berpikir untuk berhenti karena lelah. Aku sangat tahu itu, karena aku juga sering merasakannya sekarang. Tapi tetap semangatlah!

Aku tahu kau bisa!

Tak banyak yang ingin aku katakan. Hanya kalimat penyemangat yang ingin berulang kali kuucap. Karena aku tahu, itulah yang kamu butuhkan.

Aku ingin kamu lebih mengutamakan apa yang memang harus diutamakan dan jangan mengurusi hal yang kurang penting. Kurangi memainkan ponselmu itu. Gunakanlah untuk mencari informasi dan pengetahuan. Carilah hal yang pantas untuk kamu lakukan. Hal yang dapat menambah pengetahuanmu dan juga wawasanmu. Berhentilah ‘fangirling’ disetiap waktu. Kamu tahu? Menyukai suatu hal itu wajar, tapi jangan sampai kamu kehilangan sesuatu hanya untuk kesenangan sesaat. Mereka yang kamu kagumi juga sudah mengatakan hal ini kepadamu, bukan? Jangan bilang kamu tidak tahu, ya. Mengerti?

Jadikan mereka sebagai contoh bagimu. Mereka juga berusaha dari nol dan mereka tak oernah mengeluh. Contoh hal itu dan terapkan sebagai semangat dalam dirimu. Kamu menyukai mereka, jadilah sukses juga seperti mereka. Jangan hanya menjadi penggemar saja dan melupakan realita hidup.

Aku katakan ini tidak lain untuk kepentinganmu sendiri. Masa depanmu, masa depanku.

Karena itu, berusahalah melakukan yang terbaik. Bekerja keraslah karena hal itu akan terbayarkan nantinya. Jangan lupa berdoa kepada-Nya, karena Ialah yang maha memberi.

Mengerti?

Jangan lupa sarapan, kamu selalu merapelnya dengan makan siang. Itu tidak baik untuk kesehatanmu. Jangan makan mie instan terus. Memang rasanya enak, aku pun suka. Tapi kamu tahu mengenai kandungan dari mie instan, bukan? Tak baik jika mengkonsumsinya teru-menerus. Kamu butuh banyak asupan yang baik agar otak kamu itu mampu bekerja dengan maksimal. Kamu perlu itu karena, seperti yang aku katakan tadi, tahun ini adalah tahun terakhirmu di SMA. Kamu tak ingin mengecawakan ibu, satu-satunya orang tua yang kamu miliki saat ini bukan? Juga kakakmu. Kedua orang yang paling penting bagimu, bagiku. Jangan kecewakan mereka. 

Maka berusahalah, berusahalah dengan sekuat tenagamu!

Lalu, tahun ini, tahun ketigamu di SMA itu berarti tahun ketigamu tanpa Ayah. Tahun dimana akan ada acara seribu hari mengenang kepergian Ayah. Apa kamu sudah dewasa sekarang? Maksudku, kamu sudah bisa menerima kepergiannya? Kamu sudah tidak lagi menangisi kepergianya? Aku ingin tahu, seperti apa ‘aku’, yaitu kamu sekarang. Karena aku masih sering menangisi hal ini meski aku tahu, dengan sangat, bahwa hal itu dapat membebani Ayah disana. Aku tak ingin membebaninya. Karena itu, kamu harus menjadi anak yang lebih kuat dan mampu menerima semuanya, ya? Jangan seperti aku. Maksudku, belajarlah dari ketidaksiapanku ini. Haha

Selanjutnya, apa lagi yang ingin aku katakan, ya? Ada banyak yang ingin aku sampaikan sejujurnya. Tapi, sepertinya ini saja yang ingin kusampaikan. Tak ingin terlalu panjang bertutur kepadamu. Aku tahu, kamu pasti paham akan apa yang ingin aku katakan. Dukungan dan penyemangat untuk membakar semangatmu untuk berusaha dengan keras. Setiap kata yang tertulis untuk menyadarkanmu untuk kembali bersemangat ketika nanti kamu lelah dan jatuh. Kamu boleh berhenti karena lelah, tapi berhentilah sebentar saja. Kembalilah ke jalanmu dengan api yang berkobar, jangan biarkan api itu berhenti membara di jiwamu. 

Ingatlah, teruslah berlari, terus berjuanglah, jangan berpikir untuk berhenti. 

Raih suksesmu dengan semua pengorbanan untuk saat ini. 
Fighting!

***
Naniek RM

Ga suka foto! Hehe. Naniek RM, biasa dipanggil Nan. Lahir pada tanggal 10 Mei. Asli suku Jawa dan tinggal tidak jauh dari Semarang. Tiga hal yang disukai : makan, menulis, dan tidur. 

Dear, Hari Kamis Malam Jumat!

Hari ini hari Kamis, seperti hari-hari biasanya kupikir. Tidak ada yang istimewa selain rutinitas biasa. Tapi, ternyata salah! Hari ini sangatlah menguras emosi dan tenaga. Aku bangun kesiangan pagi ini. Aku bangun tepat pukul 06.30, padahal seharusnya aku sudah berangkat ke sekolah. Tanpa pikir panjang aku langsung melompat dari tempat tidur, menyambar handuk dan berlari menuju ke kamar mandi. Mandi dengan kecepatan yang luar biasa kupikir. Aku pangkas waktu mandi menjadi lima menit saja. Benar-benar sebuah kemampuan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang terlambat. Masih dengan kecepatan tadi, aku keluar dan berlari ke kamar. Berganti dengan seragam osis, sedikit berdandan ala anak SMA pada umumnya, juga tak lupa menguncir kuda rambut hitam panjangku meski tidak kusisir sama sekali. Untung saja shampo yang kupakai benar-benar seperti iklannya, membuat rambut halus dan mudah diatur. Selesai bersiap, aku langsung mengambil ranselku dan memasukan tempat pensil dan buku-buku pelajaran hari ini. Setelah itu aku berlari keluar, mengambil dua potong roti dan menggigitnya, memakai sepatu lalu mencium tangan ibu. Sepedaku yang berada di garasi depan langsung aku kayuh tanpa ba-bi-bu lagi. Aku menyusuri jalanan dengan kecepatan yang tak kalah seperti kasus di kamar mandi tadi. 

Foto milik Popmama

Nyaris terlambat! Aku berhasil melewati gerbang sedetik sebelum pak satpam menutupnya. Aku mendengar Ia sempat menggerutu karena beberapa siswa terlambat. Aku parkir sepedaku di tempat biasa dan berlari menuju kelas. Aku mungkin selamat melewati gerbang, tapi entah di kelas nanti. Mungkin guru fisikaku sudah berpidato di sana. Benar saja, aku masuk ke kelas tepat setelah Bu Delta, sang guru fisika, duduk di tempatnya. “Untung ya, kamu, Dian. Pak Basro tidak menilangmu di depan?” ucap Bu Delta seraya senyum manisnya. Sontak teman sekelasku menahan tawa. Aku yang disindir malah asik senyam-senyum tidak jelas. “Biarlah, yang penting udah sampe kelas”  batinku disela mengumpulkan tenaga kembali. Melakukan hal dengan cepat ternyata melelahkan juga. “Ayo keluarkan buku PR kalian. Kumpulkan ke depan.” Bu Delta menitahkan perintahnya. Ini nih, alasan aku bangun kesiangan hari ini. Apalagi kalau bukan PR? Semalam suntuk aku begadang berjuang menyelesaikan rentetan soal-soal yang membuat urat saraf keriting. Beberapa temanku masih sibuk menuliskan jawaban, yang entah benar atau tidak, di buku mereka. 

Aku mah santai. Buat apa begadang semalam kalau tidak selesai? Jelas sudah rapi tertulis semua jawabanku di buku PR ku. Pelan aku buka ranselku dan melongok isinya. Kucari buku bergambar minions itu. Hm, tak ada? Aku menambah konsentrasi mencari buku itu. Masih tidak bisa kutemukan. Aku mengeluarkan semua isi ranselku. Menumpahkannya ke meja. Beberapa temanku, juga Bu Delta, memperhatikan. Aku mulai panik! Minions ku tidak kutemukan! Maksudku, buku PR itu. PR yang kukerjakan mati-matian begadang semalam, raib! Tak berjejak! Ah! Aku ingat sesuatu. Buku itu masih berada di meja belajarku. Tak sempat terciduk saat tadi buru-buru mengisi ransel.

“Dian, punya kamu mana?” Bu Delta menyadarkanku. “Hehe, hm, eh anu, bu,” aku berpikir keras. “Anu kenapa?” ah, jawaban ini. Pertanda bahwa tak boleh ada alasan untuk diucapkan. 

“Kamu lupa tidak bawa bukunya?” terka Bu Delta. “Eh, iya bu, kok tahu sih bu?” masih dengan cengiran tidak tahu diri aku menjawab. “Oh, ya sudah. Tidak apa-apa.” 

Hah? Apa ini? Apakah aku termaafkan? Hm, sulit dipercaya. “Kamu bisa kumpulkan besok. Tapi jadi dua lembar ya. Sama, sekarang kamu jangan duduk disitu. Berdiri gih di depan sini” Bu Delta menunjuk samping papan tulis dengan dagunya, memberi isyarat agar aku berdiri disana. Ah, mati aku. Dua jam pelajaran aku berdiri, pegal-pegal kakiku. Biarlah, mungkin ini suratan takdir.

Dhuhur tiba dan beberapa temanku mengajak ke masjid. Hujan tadi sempat mengguyur sebentar. Kini sudah terang lagi. Aku mengambil air wudhu lalu bergegas naik ke lantai dua, khusus untuk siswi. Kutunaikan shalat Dhuhur dengan tenang. Ketika hendak turun, sejenak aku mematung. Tangga yang menghubungkan ke lantai dua berada di luar ruangan, itu berarti tadi sempat terguyur air hujan dan sekarang masih basah. Aku tidak menyadarinya ketika naik tadi. Ditambah, baru sekarang aku sadar kalau tangga itu cukup curam. Hm, aku bergidik sesaat lalu berjalan pelan seraya memegangi pagar. Setengah anak tangga berhasil kulewati. Tapi kemudian, buk! buk! buk! Tiga dari lima anak tangga terakhir aku turuni dengan pantat! Aku terpeleset! Beberapa siswi di belakangku berteriak melihatku yang kini duduk. Ah, malu kali aku! 

Aku berlalu dengan cepat setelah memakai sepatu. Aku sempat tersenyum agar mereka yang bersimpati merasa lega. Diperjalanan menuju kelas, kurasakan beberapa mata menatapku. Aku cuek bebek saja dan terus melangkah. Hampir sampai di kelas, tiba-tiba ada yang menyentuh bahuku. Ah! Hampir aku berteriak. Dia, sang gebetanku, yang telah menyentuh bahuku. Dia tersenyum, uh manisnya. Dia sedikit mencondongkan tubuhnya dan baru kusadari, wajahnya dekat sekali denganku! Aku masih tak berkata apa-apa ketika dia menarikku ke kelas. Beberapa temanku, yang tahu bahwa aku menyukai dia, melihatku dengan senyum jail mereka. “Hei, apa kamu yang terjatuh di tangga tadi?” 

Duar!  Sepertinya ada gemuruh yang baru menyambar. “Kok dia tau sih? Dia liat ya?” 

Aku menunduk karena malu. Ia masih mentapku, lalu ia melanjutkan kalimatnya. “Cuma mau bilang, rok kamu sobek bagian belakangnya.” ia mengatakannya pelan, tepat ditelingaku, seraya menempelkan sebuah buku tulis, yang entah darimana dia bawa, ke bagian belakang rokku yang sobek. Dia meraih tanganku dan membuatnya menahan buku tulis yang kini menutupi sobeknya rok yang kupakai. “Besok-besok lebih hati-hati lagi yah,” ia tersenyum dan pergi. Gila! Tepat setelah ia keluar dari kelasku, teman-temanku yang sedari tadi mengamati langsung tertawa keras tanpa ampun. Payah!

Aku pulang dengan hati dongkol. Untung saja perjalananku aman-aman saja. Aku sampai rumah dengan selamat. Kuparkir sepeda dan mengucapkan salam. Bergegas ke kamar setelah mencium tangan ibu, lalu mandi dan istirahat. Aku berbaring dan meratapi nasib. 

Adzan Isya’ berkumandang dan membangunkanku. Ternyata aku tertidur. Aku turun untuk makan setelah shalat. “Dek, abang mau tahlilan dulu, ya. Ntar bukain pintu waktu pulang, oke?” bang Tio, kakakku, berpesan. Aku mengangguk cuek sebagai jawaban. Aku membawa makananku ke depan televisi. Aku ingin makan sambil menonton film, mungkin. Ternyata ada film Titanic, film favoritku, yang sedang tayang. Dengan semangat aku menontonnya meski telah berulang kali kutonton. Jam dinding menunjukan pukul sepuluh ketika abangku pulang. “Ah, aku ngantuk banget. Bapak-bapak komplek pada ngobrol panjang banget,” keluhnya ketika menjatuhkan diri di sofa. “Abang langsung tidur yah? Kamu mau tidur kapan?” bang Tio bertanya padaku yang sedang fokus pada film roman itu. “Oh, apa? Hm, nanti kalo udah selesai ni pilem” jawabku sekenanya. Bang Tio mengangguk dan berlalu. “Jangan malem-malem lho, ntar ada temennya,” ia tersenyum mencurigakan. Aku tak menanggapinya. 

Pukul 12 lewat lima menit, film roman nan tragedi itu selesai. Aku hendak beranjak ketika kudengar ada suara ketukan di pintu depan. Aku bergidik, reflek kumatikan televisi dan diam mematung. Ketukan itu tanpa henti terdengar, meminta dibukakan pintu kupikir. Tapi siapa yang datang di tengah malam seperti ini? Aku langsung teringat kata bang Tio tentang ‘teman’ tadi. Seketika bulu kudukku berdiri. Aku meringkuk di sofa. Brak! Ketukan itu berubah menjadi gedoran. Aku terlonjak dan hampir saja pipis dicelana. Aku berlari menuju kamar bang Tio lalu membangunkannya dengan paksa. “Bang! Ada orang gedor-gedor pintu!” ucapku pelan namun cepat. Bang Tio langsung terbangun mendengarnya. Kami berdua berjalan ke ruang depan. Pintu itu masih terus digedor. Aku mungkin benar-benar akan pipis jika saja tidak ada bang Tio disini. Aku ketakutan! 

“Coba kamu intip sana lewat gorden,” pinta bang Tio, yang masih setengah sadar kupikir. “Abang jagain dari belakang,” lanjutnya. Aku beranikan diri. Gedoran itu benar-benar menakutkan. Aku mengintip lewat gorden, remang-remang bagian teras rumahku terlihat. Pintu masih digedor, jantungku benar-benar ingin copot! Aku paksakan melihat apapun yang bisa kutangkap. Kulihat sebuah bayangan, bayangan yang menakutkan! Tanganku bergetar, gedoran berikutnya benar-benar akan membuatku pipis dicelana. Tapi, hal berikutnya yang terjadi malah membuatku terdiam dan seketika lenyap rasa takutku. “Meeeoonng,, meeeooong” kupikir begitulah cara menuliskan suara dua kucing yang asik berkelahi didepan rumahku. Aku tak habis pikir. Aku ketakutan hingga hampir pipis dicelana karena gedoran akibat perkelahian dua kucing? Lantas aku tertawa lepas. Bang Tio menjitakku, “Mangkanya, jangan asik nonton tivi mulu!” nasehatnya. Ia kembali ke kamarnya begitu juga aku. Aku naik ke tempat tidurku dan tak lama aku terlelap. What a day ! 

***
Naniek RM

Ga suka foto! Hehe. Naniek RM, biasa dipanggil Nan. Lahir pada tanggal 10 Mei. Asli suku Jawa dan tinggal tidak jauh dari Semarang. Tiga hal yang disukai : makan, menulis, dan tidur.

Surat Kepada Aku di Tahun 2019 (Nurkholisah)

Aku menulis surat ini dengan sebuah pengharapan agar apa yang tertulis dapat benar-benar terjadi. Dua hari yang lalu aku mengikuti sebuah acara Makrab (Masa pengakraban) sebagai syarat untuk menjadi anggota organisasi di kampusku. Dari acara tersebut aku  jadi  memikirkan banyak hal. Bukan karna acara tersebut berada dekat dengan gunung dengan udara sejuk yang dapat membuat hati kita bergerak dengan raga yang tetap diam. Atau karna aku yang memang hobi melamun, sehingga semua beban di dalam fikiran ini berpindah dan saling menyapa dalam fikiran ku. Sungguh bukan itu, tapi lebih karna ternyata perubahan tahun dari angka 18 menjadi 19 ternyata belum merubah apapun dalam diriku. 

Foto milik Pixabay

Oke baiklah, ada pepatah lama yang sangat terkenal dan mengatakan bahwa "tidak kenal maka tak kan sayang, kalau sayang sudah pasti kenal." Jadi izinkan aku untuk memperkenalkan diri. Nama ku Nurkholisah orang-orang biasa memanggil ku Kholisah. Aku merupakan mahasiswa semester 4 jurusan Manajemen di salah satu universitas terkenal di kota Serang.  Di tahun 2019 ini  akan ada banyak perjuangan, pengorbanan dan rasa lelah yang berkepanjangan. Maka kutuliskan sebuah pesan yang akan mengingatkan diriku untuk tidak pernah berhenti dalam segala perjuangan, untuk selalu mengenang segala rasa sakit dan memancunya menjadi sebuah pecutan untuk dapat meraih segala angan. 

Aku ingin kau berdamai dengan rasa takut mu dari angka-angka yang berderet diam yang harus di selesaikan dengan rumus-rumus panjang. Jangan pernah mengalah dengan mereka hanya karna gagal menyelesaikan atau tidak menemukan jawaban, atau malah tidak mencoba sama sekali karna takut salah. Percayalah bahwa tidak ada sesuatupun di dunia ini yang tidak ada jawabannya, semua memiliki jawabannya. Aku ingin kau mulai mencintai mereka, menikmati mereka, dan menghilangkan segala keraguan saat berhadapan dengan mereka. Ingatlah bahwa sekali kau kalah, maka akan ada banyak kekalahan lain yang menunggu di belakang dan akan semakin sulit kau untuk meraih impian mu. Percayalah dengan kekutan mu, karna aku mengandalkan mu. 

Kholisah, bertemu dengan banyak orang tidak seburuk pemikiran mu. Tidak semua orang akan membenci mu atau memiliki pemikiran buruk kepada mu. Maka kupaksakan engkau untuk bertemu dengan banyak orang untuk menjalin hubungan dengan mereka dan menikmati hidup mu dengan orang-orang yang kau percayai untuk bersama di dekat mu. Tidak akan ada lagi waktu mu untuk kau habiskan di kamar sempit mu. Tidak ada lagi waktu mu yang hanya kau habiskan dengan tulisan-tulisan mu yang mulai membosankan itu. Aku memaksa, sungguh kau mahluk sosial yang harus berinteraksi. Kau akan keluar menemui hidup yang sesungguhnya dan kau perlu banyak orang untuk bisa mewujudkan itu semua. Tolonglah mengerti bahwa aku ingin yang terbaik untuk mu, jadi mulai rubah pikiran kosong mu yang seolah akan menjadi nyata dan mulai bergerak untuk membuat  kebahagian dengan orang-orang di sekitar mu. Aku yakin akan ada banyak orang yang akan menerima mu. 

Kholisah, aku tau tidak akan mudah untuk bisa menghapus kenangan, tidak akan mudah untuk menerima semuanya dengan kata baik-baik saja. Apa yang terjadi, memang sudah terjadi, apa yang terbentuk memang sudah terbentuk dan tidak mudah untuk bisa mengembalikan semua seperti semula. Masa lalu mu adalah sesuatu yang sangat berharga yang tidak semua orang merasakan hal itu. Tidak semua orang akan bisa sekuat dirimu yang tetap berdiri tegak, tapi kamu juga mungkin tidak sekuat mereka yang berada  di bawah dirimu. Mereka yang tetap tersenyum saat hati mereka berdesis dengan banyak masalah. Semua orang punya kapasistas mereka sendiri-sendiri dan Tuhan tidak akan memberikan masalah di luar kapasistas yang kita miliki. Jadi berdamailah dengan masa lalu mu, anggaplah semua baik-baik saja. anggaplah semua adalah tantangan yang akhirnya akan membawamu pada sebuah pencapaian. Bukan kah hidup adalah tempat kita untuk mencari kebahagian ? Lalu kenapa kau sia-siakan hidup mu dengan bergelut dengan masa lalu ? Kenapa tidak kau lanjutkan hidup untuk mencari kebahagian ? Karna sejatinya kebagaian itu tergantung dari bagaimana kita mengangap semua itu suatu kebahagian. 

Aku tau, tidak mudah tapi cobalah memulainya dari sekarang. Aku hanya ingin kau bahagia, maka tolong yakin kan dirimu untuk menjadi seseorang yang berbeda, aku menunggu dirimu di penghujung tahun.

***
Nurkholisah

Lahir di Kab. Serang, Banten 15 Oktober 1998. Kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Manajemen angkatan 2017. Motto Hidup “Jangan pernah berhenti, karna Tuhan tidak akan membiarkan kamu sendirian.” Menulis merupakan hobi ku semenjak kecil, dengan menulis aku dapat mengungkapkan apa yang tidak bisa mulut katakan, dengan menulis aku bisa mengatakan tanpa perlu berlama-lama bicara. 

Diam Atau Berterus Terang

Cinta kadang menjadi sesuatu yang sangat rumit untuk di jelaskan dengan sebuah kata. Kadang cinta menjadi sesuatu yang sangat membahagiakan dan bahkan sebaliknya bisa menjadi malapetaka untuk diri sendiri. Bagaimanapun Cinta tetap Cinta, manusia tetap di takdirkan untuk mencintai dan di cintai, jadi wajar saja perasaan bahagia dan luka itu hadir karna cinta. 

Foto milik Pixabay

Lalu, kadang kalanya manusia di hadapkan oleh dilema saat dia jatuh cinta. Bukan karna dia tidak mengerti dengan perasaan tiba-tiba merindukan si doi, atau tiba-tiba senyum-senyum sendiri jika melihat si doi yang juga senyum. Tapi lebih rumit, yaitu keinginan mencuat untuk memiliki si pujaan hati. Jika kita sudah berada di tahap ini maka kita sudah berada di lingkaran dari apa yang dinamakan jatuh cinta. 

Mungkin sebagian dari kita akan mengatakan, “lah kok rumit ? Ya udah kali  kalau suka mah bilang aja langsung, gak usah di simpen-simpen”. Nasi saja kalau di simpen terlalu lama bakal basi apalagi perasaan kita. Tapi ternyata tidak semudah itu, karna ada beberapa faktor yang akhirnya membuat kita menjadi ragu untuk mencoba membangun hubungan dengan si dia, atau mungkin  sekedar jujur dengan perasaan kita sekarang. Terlebih-lebih kaum Hawa, kaum hawa punya rasa malu yang lebih besar untuk mengungkapkan perasaan  kepada laki-laki idaman mereka walapun kadang ada juga laki-laki yang lebih memilih untuk memendam kejujuran mereka. 

Lalu kenapa kita memilih diam dan tidak berterus terang dengan  perasaan kita ? 

Jawabannya tidak semudah membalikkan telapak tangan, jawabannya akan sangat panjang dan akan sangat beragam. Setiap orang memiliki otak yang terbungkus dengan kulit kepala yang isi satu orang dengan satu orang yang lain tidaklah sama. Kita masing-masing tentulah punya alasan dan pendapat yang bertumpu pada landasan yang jelas. Bisa di bayangkan bukan 7 miliar populasi mahluk hidup di dunia ini yang semuanya memiliki pikiran yang berbeda-beda yang antara yang lain tidak akan sama persis. Jadi keberagaman itulah yang tidak bisa menentukan satu jawaban yang pasti dari pertanyaan di atas. 
   
Jadi, jika ada salah satu  teman kita yang memutuskan untuk memendam perasaanya, tentu itu sangatlah wajar janganlah kita cemooh karna dia tidak gatleman atau tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang mereka inginkan. Manusia punya alasan dengan pendapat mereka masing-masing apapun itu alasannya hormati pendapat itu, karna tentulah kita tidak sama dengan mereka. Bisa jadi mereka hanya sedang menunggu moment yang pas untuk mengungkapkan perasaan mereka. Bisa jadi mereka memang tengah mempersiapkan diri untuk melakukan hal tersebut atau sebaliknya ada sesuatu yang akhirnya menahan mereka untuk melakukan itu entah itu apapun. 

Yang perlu di ingat adalah diam artinya kamu sudah siap hanya melihat dia dari jauh. Diam artinya kamu sudah siap menahan cemburu saat ada laki-laki yang lain atau perempuan yang lain yang dekat dengan dia. Diam artinya kamu sudah siap untuk bersedih karna tidak bisa dekat dengan dia, mengatakan dengan kejujuran hati bahwa kamu merindukan dia dan ingin mencurahkan kasih sayang berlebihan mu kepadanya. Diam artinya dia tidak akan tahu apapun selain dari nama mu dan syukur-syukur nomor WA mu. Memang sedikit menyedihkan Karna kamu hanyabisa melihat dia dari kejauhan.  hanya bisa sekedar mengagumi dan mungkin hanya bisa mengajak dia bertemu jika ada tugas kelompok yang harus di selesaikan bersama itupun jika kita sekelompok kalau tidak maka selamat menikmati kebisuan mu. Apa memang semiris itu ? Tentu tidak. Dengan kediaman mu kamu akan lebih menghargai perasaan mu sendiri. Kamu akan lebih terlatih untuk lebih dewasa, sabar dan menghargai segala sesuatu. 

Sedangkan Berterus terang, artinya kamu sudah siap dengan apapun jawaban dia dan segala konsekuensinya. Berterus terang artinya kamu sudah yakin dengan perasaan mu sendiri yang entah hanya sekedar suka, mengkasiani, atau malah benar-benar cinta. Ketika kamu memilih untuk mengungkapkan perasaan mu maka, selamat karna kamu telah satu langkah memperjuangkan apa yang kamu inginkan.  Selamat karna kamu telah menjadi seseorang yang telah berani untuk memtuskan berbicara di balik kebisuan kalian yang baik-baik saja. Tidak penting dia menerima atau tidak karna manusia tempatnya berpindah-pindah perasaan. Selama kamu menjadi manusia yang seutuh-utuhnya tanpa kepalsuan maka sebenarnya kamu menunjukkan bahwa itulah keunggulan dirimu. 

Jadi 

Setiap keputusan ada di tangan kalian. jika kamu merasa bahwa kamu yakin dengan keputusan mu percayalah bahwa apapun konsekunsinya sudah siap untuk kamu terima.  

***
Nurkholisah 

Lahir di Kab. Serang, Banten 15 Oktober 1998. Kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Manajemen angkatan 2017. Motto Hidup “Jangan pernah berhenti, karna Tuhan tidak akan membiarkan kamu sendirian.” Menulis merupakan hobi ku semenjak kecil, dengan menulis aku dapat mengungkapkan apa yang tidak bisa mulut katakan, dengan menulis aku bisa mengatakan tanpa perlu berlama-lama bicara.