Wednesday, 9 January 2019

Cinta Dunia Maya


Buat aku, cinta yang berawal dari dunia maya tidak akan pernah bisa menjadi cinta sejati. Judulnya saja “dunia maya” segala yang terkandung di dalamnya tidak ada yang nyata. Semuanya hanya untaian kalimat palsu dan ketidakjujuran. Dan aku terjebak dalam jalinan kasih tersebut. Suatu saat yang lalu aku berkenalan dengan seseorang dari media sosial, mabuk akan kata-kata manis yang disampaikan melalui pesan, tergila-gila dengan suaranya yang dikirim lewat media suara namun belum pernah bertemu langsung dengan wujudnya. Hanya bermodal foto buram membuatku kerap membayangkan dirinya dan berangan-angan sangat mengenal dia. Lalu semua berubah ketika pertemuan awal. Dia tidaklah setampan dalam bayanganku. Tidak setinggi angan-anganku dan tidak semanis dalam pesan teks yang kerap kubaca. Meski suaranya tetap membuatku gila namun kenyataannya dia tidak lagi sendiri. Dia sudah memiliki kekasih dan mengisi kejenuhannya dengan berpura-pura tertarik padaku. Sungguh ironis nasib percintaanku.

Image result for cinta dunia maya

Impian bertemu kekasih hati bak kisah yang viral di media sosial luruh berkeping-keping. Tetapi aku tidak juga belajar dari kisah tersebut. Aku malah membuat akun di sebuah situs jodoh. Situs ini memberikan banyak pertanyaan yang seolah tidak ada habisnya lalu menghitung kecocokan antara aku dengan seseorang. Entah hasilnya akurat atau tidak, yang pasti beberapa orang kemudian muncul dalam notifikasi. Hatiku melambung kegirangan sebab beberapa orang tersebut berasal dari belahan benua lain. Bayangan memiliki kekasih berkulit putih yang lagi-lagi viral di media membuatku senang bukan kepalang. Aku memulai percakapan dengan pria “bule” dan mengabaikan pria lokal. Walau pun dengan modal bahasa inggris yang pas-pasan tetap saja aku nekat. Dan yang melegakan lagi ternyata Si Bule sangat pengertian atas keterbatasan bahasaku. Kami lalu bertukar nomor ponsel, dan yang paniknya saat dia menelponku. Aku menjawab semaksimal yang aku bisa walau pun harus mengulang kata-kataku yang kacau berkali kali sampai dia mengerti. Setelah itu semuanya berjalan lancar. Dia semakin sering menghubungi aku lewat pesan pesan romantis yang membuat aku mabuk kepayang. Kami semakin dekat begitu pula dengan kamus usang yang tidak pernah jauh dariku. Yang paling menyenangkan saat dia berkata akan mengunjungiku dalam waktu dekat dan menetap di Indonesia. Rasanya luar biasa. Sebentar lagi aku menjadi salah seorang yang viral karena menikah dengan pria bule. Dia menentukan tanggal kedatangannya dan aku semakin tidak sabar. Beberapa hari sebelum tanggal kedatangannya, ia mengirim email yang menyampaikan kalau ia memberiku sepaket hadiah. Membaca daftar hadiah yang dikirimkannya membuatku melonjak senang. Sungguh romantis pria ini, kata benakku. Ia melampirkan beberapa digit angka untuk melacak pengiriman paket tersebut. Setiap hari ia memintaku untuk mencari tahu keberadaan paket tersebut alasannya karena ia menyertakan beberapa ratus dollar dalam paket itu. Dan uang tersebut bisa aku gunakan jika paketnya sudah sampai. Aku sempat bertanya kepadanya kenapa uangnya tidak dikirim lewat rekening saja. Alasannya karena lebih mudah jika aku mendapatkan tunai. Yah, karena sudah mabuk cinta akhirnya aku tidak mempermasalahkan hal tersebut. Aku tidak sabar menunggu paket tersebut tiba.

Tiga hari sebelum tanggal kedatangannya, ia sekali lagi memintaku untuk mengecek paket yang dikirimkannya. Setelah aku cek paket tersebut sudah berada di negara tetangga. Kemungkinan aku akan menerimanya esok hari. Aku menyampaikan hal tersebut padanya. Siang hari aku mendapat telepon dari nomor tak dikenal dengan kode negara berbeda. Kemungkinan sambungan dari luar negeri. Saat ku angkat ternyata dari pemberitahuan dari agen pengiriman barang. Mereka menemukan sejumlah uang yang disisipkan oleh si Bule dalam paket tersebut. Saat aku bertanya kenapa mereka melakukan pelanggaran dengan membongkar paketnya mereka menjawab kalau alat pendeteksi mereka yang menampilkan sejumlah uang sehingga paketnya harus dibongkar. Untuk hal itu aku harus membayar sejumlah uang agar paket itu sampai di tanganku. Aku buru – buru mengirim pesan ke Bule. Tetapi pesanku tidak dibalas hingga berjam-jam. Aku kebingungan. Sementara pihak agen pengiriman terus menerus menelepon untuk konfirmasi pembayaran. Harganya tidak tanggung-tanggung 500 dollar. Darimana aku dapat uang sebanyak itu. Akhirnya dengan putus asa aku mencari pinjaman ke sana sini. Demi paket impian, demi si Bule, demi statusku yang akan terangkat jika Bule datang, demi viral di media sosial. Beruntung aku mendapat pinjaman dan esok paginya uang tersebut aku kirimkan sesuai petunjuk agen pengiriman. Setelah uang terkirim aku memberikan konfirmasi ke agen pengiriman tersebut. Jawabannya melegakan. Paket segera dikirim dan diperkirakan akan tiba besok. Berarti paket tersebut datang bersamaan dengan tanggal kedatangan si Bule. Aku kemudian mengirim pesan untuk mencari kejelasan keberangkatannya. Pesanku tidak terkirim. Aku mencoba meneleponnya dan nomornya tidak aktif. Aku mulai panik. Saat mencoba melacak paket yang dikirimkannya aku tidak bisa lagi menemukan posisi paket tersebut. Aku nyaris pingsan. Sungguh ironis. Sekali lagi aku tertipu oleh cinta dunia maya. Dan kali ini rasanya lebih sakit.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan Februari. Silakan dibagikan jika menyukai Aan Yuliana Lambogo sebagai pemenang.
***

 Aan Yuliana Lambogo

Lebih senang kalau di sapa Alin.
Saya single parent dari 2 anak yang super kritis dan tidak bersedia punya ayah baru hehehe. Selain kedua anak saya, saya mencintai buku, musik dan baru beberapa bulan terakhir mencoba untuk menulis.

0 comments:

Post a Comment