Monday, 21 January 2019

Kita Sudah Hilang Ditelan Zaman



     Pernah tidak kamu merasa sepi ketika bersama orang yang ramai? Pernah tidak kamu merasa kehilangan ketika ternyata teman-temanmu tepat ada di depanmu? Jika pernah, maka baca dan dengarkan ceritaku berikut ini. Santai saja, tidak usah terlalu tegang, sebab ini menurutku adalah cerita yang hampir dirasakan oleh seluruh remaja di Indonesia. Baik, kita lanjutkan saja di paragraf berikutnya ya.
Image result for dampak penggunaan hp
Foto: GrimyLock
     Aku masuk di ruang kuliah, kudapati begitu banyak teman-teman telah siap untuk mengikuti perkuliahan pada pagi ini. Semua duduk pada tempatnya masing-masing, akupun mulai mencari tempat duduk. Lengang, begitu suasana kelas terasa, seperti ada yang aneh disini, aku mulai merasa janggal dengan diriku sendiri. Apa yang terjadi? Kudapati diriku diam sejanak, termangu dengan keanehan yang ada, seperti ada sebuah masalah yang besar sedang menimpaku.
       Seperti biasa, dosen yang mengajari kuliah waktu itu masuk kelas, lalu ia duduk di kursi depan, lalu meletakkan laptop di meja yang telah disediakan. Ia menyiapkan materi kuliah sembari menyuruh aku yang persis duduk di depannya untuk memasang kabel penghubung dari laptop ke infocus, aku mengikuti dan melaksanakan apa yang beliau suruh. Pelajaran dimulai, saat itu sang dosen memberikan pelajaran kuliah dengan semangat “45.” Ia begitu bersemangat untuk mentransferkan ilmu kepada kami sebagai seorang mahasiswa. Begitu juga dengan aku yang memang sudah siap untuk “melahap” semua ilmu yang diberikan.
     Beberapa menit berlalu, aku masih merasa ada yang aneh. Aku tidak tahu persis apa yang membuat aku semakin gelisah, dari semenjak aku pertama kali masuk di dalam kelas hingga pelajaran sudah dimulai. Tetap saja hatiku masih tidak tenang.
       Lalu batinku tersentak dengan beberapa teman di sebelahku. Rupanya dari tadi kelas tidak ramai, teman-temanku hanya sebagian orang saja. Kelas ini ternyata menyimpan misteri yang cukup menakutkan, misteri yang cukup menarik untuk ditelusuri. Tapi ini bukanlah tentang misteri menakutkan seperti di film-film horor  yang pernah kita tonton.
     Kelas yang terjadi pada zaman sekarang cukup jauh berbeda dengan saat aku masih duduk di bangku SMA. Hari ini kelas hanya diisi dengan berbagai cerita keseharian para remaja, kelas tidak lagi semenarik dulu. Hari ini aku merasa kehilangan hampir sebagian teman-temanku, mereka seperti ditelan ke dalam sebuah arus yang membawa mereka jauh. Jauh dari keluarganya, jauh dari teman-temannya, bahkan jauh dari dirinya sendiri. Mereka lebih asyik berteman dengan sebuah barang canggih bernama “gadget.” Bahkan saking mendominasinya barang ini, hampir beberapa orang rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk mendapatkannya. Yang lebih parah lagi ada yang memang sengaja gonta-ganti gadget ketika sudah muak memakainya atau barangkali gadget yang ia pakai sudah ketinggalan zaman. Hal inilah yang aku ceritakan tadi, sebuah misteri yang sangat mengerikan. Dimana saat ini kita hidup berdampingan dengan banyak orang, tapi kenyataannya kita sendiri, kita diperlakukan seperti zombie yang mengikuti apa yang menjadi keinginan kita sendiri, tidak memikirkan orang lain. Kita hidup tapi mati.
      Ya, keadaanlah yang membuat aku merasa tidak nyaman ketika berada di dalam kelas. Suasana belajar tidak lagi kondusif, semua sibuk memainkan gadget ketika seorang dosen atau guru mengajar. Sekarang guru dianggap hanya sebagai formalitas semata, guru mereka sebenarnya adalah gadget itu sendiri.

     Saat berada di rumah sekalipun, kita seolah sibuk daengan keadaan sendiri. Misalnya ketika sedang berkumpul di ruang keluarga, seberapa lamakah kita mengajak ngobrol orang tua dan keluarga kita dibandingkan lamanya kita memegang gadget? Pernahkah kita bertanya dengan orang tua kita tentang kabarnya melalui lisan secara langsung? Aku rasa tidak, kita lebih senang bertanya dengan orang yang jauh dari kita lewat chat saja. Orang yang dekat terasa jauh, orang yang jauh terasa lebih dekat. Itulah kenyatannya pada saat ini. Kita dipaksa untuk tunduk dan patuh pada barang buatan kita sendiri. Kita rela berjam-jam hanya untuk melihat informasi yang disajikan lewat gadget, kita kadang tanpa sadar tertidur ketika sudah sangat capeknya memainkan gadget. Hingga pada paginya kita baru sadar kalau baterai gadget ternyata sudah habis karena tidak dimatikan semalam suntuk. Begitulah keadaan kita saat ini. Demi mengikuti tren dan gaya hidup kekinian, kita tak ubahnya seperti robot yang dikendalikan. Kita sudah hilang ditelan zaman.



Suryandi Ramadhan
Lahir di Kota Tengah, Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau pada 19 Januari 1998. Kuliah di Jurusan Sosiologi Fakultas Fisip Universitas Riau Angkatan 2016. Motto hidup adalah “Sebenarnya tidak ada yang tidak bisa, hanya saja tidak ada yang mau untuk menjadi bisa.” Aku cinta dengan dunia tulis menulis, karena dengan menulis, aku menemukan duniaku yang tidak bisa dijamah oleh orang lain. Domisili di Pekanbaru-Riau. 

0 comments:

Post a Comment