Monday, 21 January 2019

Surat Kepada Aku di Tahun 2019 (Suryandi Ramadhan)


     Baik, pertama tepat pada pukul 21.07 wib malam minggu, aku melihat informasi di instagram tentang Arisan Godok. Aku mulai berpikir kira-kira ini kegiatan apa? Dilihat dari namanya memang agak menggelitik dan aneh. “Arisan Godok” namanya, informasi ini aku dapat awalnya dari sebuah akun bernama Writing Projects. Ketika dibaca ke bawah lagi, kelihatannya menarik dan patut dicoba kegiatan ini, karena di infomasi dikatakan bahwa jangan terlalu serius untuk memasukkan tulisan ke dalamnya, santai saja.
Image result for resolusi tahun baru
Foto: Liputan6.com
    Inilah surat kepada aku di tahun 2019 yang pertama, selamat membaca. Pertama kali yang ingin aku lakukan dan dicapai pada tahun 2019 yaitu bisa minum dan menyukai kopi, kenapa? Ya, karena salah satu cita-citaku adalah menjadi seorang penulis yang profesional dan tentunya itu memerlukan mata yang terus “melek” untuk terus menulis. Paling tidak jika aku sudah menyukai kopi, maka membaca yang merupakan modal dasar untuk menulis bisa terpenuhi, karena “katanya” kopi bisa membuat orang susah tidur. Tapi, resolusi ini sepertinya susah terwujud, karena sampai detik ini, aku malah lebih memilih minum teh.
   Sekedar informasi, namaku Suryandi Ramadhan, aku adalah seorang mahasiswa jurusan Sosiologi semester lima yang sedang menuntut ilmu di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Ibukota Provinsi Riau, tepatnya di Pekanbaru. Aku menyurati diriku untuk tahun 2019 agar bisa memiliki perpustakaan pribadi di rumah atau di kos. Mungkin resolusi ini bisa menjadi salah satu pemacu semangatku untuk terus berkarya dalam dunia kepenulisan. Salah satu hal yang aku terapkan untuk mewujudkan cita-cita ini salah satunya adalah mampu menamatkan minimal satu buku dalam seminggu, dan bisa membeli minimal satu buku dalam sebulan, terserah buku apapun itu, yang penting barang tersebut bernama “buku”
      Ketiga, ini juga termasuk salah satu alasan yang memotivasiku untuk membuat surat di tahun 2019. Pada tahun 2019 kelak aku ingin membuka salah satu usaha kuliner yang berjenis “street food” di tempat aku kuliah, paling tidak ini tentu akan menambah  penghasilan selain hanya menunggu kiriman dari orang tua. Salah satu alasan menarikku ingin membuka usaha pada bidang kuliner ini adalah karena aku sendiri sangat suka dengan dunia masak memasak. Bahkan saat di rumah, jika malam hari, akulah yang memasak, walaupun aku memiliki empat saudara perempuan, tapi begitulah kenyataanya. Hobi ini seperti sebuah motivasi bagiku untuk bisa membahagiakan keluargaku.
    Sudah banyak resolusi yang ingin aku capai di tahun 2019, sebenarnya agar membuat resolusi ini terwujud gampang-gampang susah. Pertama, jika resolusi ini tidak tertulis maka ia akan menjadi tidak berguna atau dalam arti lain menjadi sia-sia. Kedua, jika resolusi ini hanya sebatas keinginan saja, maka tidak usah dan jangan pernah membuat resolusi yang terlalu besar, karena yakinlah itu hanya menjadi seperti kertas kosong yang tidak ada isinya. Maka langkah ketiga yang ingin aku tawarkan kepada pembaca adalah, ketika anda ingin membuat sebuah resolusi untuk tahun selanjutnya, maka pastikan dirimu benar-benar butuh dan bukan hanya sekedar keinginan belaka, kemudian anda harus siap dengan segala kegagalan. Sebab untuk menemukan sebuah jalan menuju kesuksesan, kita butuh berjuta kali jalan yang bernama kegagalan. Lho, kok jadi cerita motivasi pula jadinya. Aduh, maaf ya.
    Lanjut, ini adalah resolusi terbaik yang mungkin aku punya untuk tahun 2019. Aku ingin menjadi seseorang yang berguna bagi orang banyak. Dengan apa aku wujudkan ini? Sabar, aku akan melanjutkan ceritanya, tapi pastikan diri kalian untuk fokus dan memperhatikan dengan seksama ya.
            Berawal dari kehidupan sekolah dulu, tepatnya sebelum aku masuk di perguruan tinggi. Aku adalah seorang siswa yang memiliki pacar dan sangat sayang sekali dengannya, bahkan saking sayangnya, nyaris setiap akhir minggu aku selau belikan pulsa untuknya, maklumlah zaman itu masih zaman SMS-an, belum ada yang namanya WhatsApp. Namun, singkat cerita, ketika aku gabung menjadi salah satu anggota Kerohanian Islam (Rohis) di sekolah, hal-hal yang bersifat merugikan seperti pacaran membuat aku sadar, bahwa selama ini aku hanya menghabiskan waktu untuk kegiatan yang unfaedah bernama “pacaran.” Jadi setelah menimbang, mengingat, dan akhirnya aku memutuskan pacarku. Tentu ini tidak mudah, hal pertama yang aku rasakan adalah merasa kehilangan, lalu merasa dibenci oleh mantan pacarku sendiri. Sakit.
    Tapi, ini menjadi awal kebangkitanku utuk mulai sadar, bahwa ada mimpi-mimpi yang harus dicapai di luar sana. Aku baru ingat bahwa ada orang tua yang harus dibahagiakan dulu sebelum pacar, aku baru ingat bahwa ada kakak dan adikku yang harus disayang dulu sebelum pacar, aku baru ingat bahwa ada agama yang harus diperjuangkan dulu sebelum pacar, aku juga baru ingat bahwa ada bangsa yang membutuhkan pundakku terlebih dulu sebelum pacar, pun juga aku baru ingat bahwa ada negaraku yang harus aku cintai sebelum pacar.

Inilah “Surat Kepada Aku di Tahun 2019.” Bahwa ada yang harus lebih dulu kita prioritaskan daripada hal-hal yang tidak memberikan kebermanfaatan bagi diri kita dan  orang lain. Dan aku sepenuhnya yakin bahwa menjadi bermanfaat bagi orang lain adalah jalan terindah yang Allah siapkan untukku. Terakhir, aku ucapkan maaf dan terima kasih kepada mantan pacarku, karena berkat kamu aku menjadi tegar dan bisa bangkit sampai detik ini. Semoga jika kita  berjodoh, dan kelak Allah pertemukan kita dalam sebuah jalan yang bernama “pernikahan.” Aamiin.



Suryandi Ramadhan
Lahir di Kota Tengah, Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau pada 19 Januari 1998. Kuliah di Jurusan Sosiologi Fakultas Fisip Universitas Riau Angkatan 2016. Motto hidup adalah “Sebenarnya tidak ada yang tidak bisa, hanya saja tidak ada yang mau untuk menjadi bisa.” Aku cinta dengan dunia tulis menulis, karena dengan menulis, aku menemukan duniaku yang tidak bisa dijamah oleh orang lain. Domisili di Pekanbaru-Riau. 

0 comments:

Post a Comment