Saturday, 16 February 2019

Apa itu Cita-cita?

Sejak kecil pasti kita pernah ditanya soal cita-cita oleh teman, orang tua, guru dan tak terkecuali orang asing yang menyapa kita. Begitu juga dengan si Kacang  (anggap saja tokoh ini namanya Kacang) sejak kecil dia pernah ditanya oleh orang tuanya. 

Foto via Brilio

"Eh nak nanti kalau udah gede mau jadi apa?" 

Yah meskipun sikacang itu masih kecil tapi dia sudah tau apa maksudnya. Ia kembali mengingat-ingat kalau di pikir-pikir selama ini yang ditonton nya hanya acara audisi dangdut yang sering ditonton sama emak ketika malam hari, jadi secara sepontan dia menjawab "eemm aku pingin jadi artis sama yang nyanyi kayak di TV mak" jawab Kacang. Dan kakak yang dua tahun lebih tua yang berdiri disebelahnya mulai menyinyir.

"Hhaha emangnya kamu bisa nyanyi ?"

" Nanti juga bisa kalo udah gede". Jawab Kacang yang merasa tersinggung. Lalu tak berapa lama kemudian emak datang membawa walkman. 

"Ayo siapa yang mau biskuit sama uang ambil tapi syaratnya joget dulu ya.." ketika lagu dinyalakan karena pusat perhatianya sudah tertuju pada sebungkus biskuit dan selembar uang sikacang tanpa pikir panjang mulai berjoget meskipun tidak seirama dengan musiknya. Sedang si Kakak justru diam saja, sikacang tahu kalau kakanya juga menginginkan hadiah itu. Tapi kakanya malu untuk melakukannya. Mungkin nanti akan terlihat konyol dan memalukan karena melihat tarian sikacang yang amburadul tak karuan.

Yah ini bagian awal sikacang ditanya soal cita-cita. Semenjak masuk ke SD sikacang mulai ditanya kembali oleh gurunya "oke sekarang giliran sikacang. Nah sekarang apa cita-citamu nak?" Si kacang mulai memikirkan kembali. 

Semua teman-temanya yang dikelas memiliki cita-cita yang keren menurutnya. Ada yang ingin jadi Dokter, Pilot, Tentara, Guru, polisi dll. 

Sejujurnya sikacang tidak tahu dan tidak yakin kelak besar akan menjadi apa, Karena takut diejek oleh teman-temanya maka si kacang menjawab "Aku pingin jadi ibu guru bu" jawab Kacang. Menurutnya menjadi guru itu lumayan menyenagkan kerjanya juga tidak terlalu menyusahkan dan lagi emak juga lebih sering memuji-muji kalau sikakak itu cerdas dan mengharapkannya untuk menjadi insinyur. Ia tidak tau apa itu yang dimaksud dengan insinyur. 

Menurutnya insinyur itu pasti orang yang cerdas, dan menurutnya ibu guru juga orang yang cerdas. Jadi ia menjawab kalau dia ingin menjadi guru. Cita-cita ini bertahan sampai akhirnya tercatat di buku kenang-kenangan alumni SD. 

Kemudian sikacang melanjutkan sekolahnya ke SMP. Karena dikampungnya tidak ada sekolah lanjutan maka ia melanjutkannya dikota. Disana sikacang mengalami culture shock. Ia tidak bisa beradaptasi dengan anak-anak kota lainnya, sehingga dia banyak menghabiskan waktunya di perpustakan untuk membaca buku. 

Disana dia mulai tertarik dengan buku dan mulai mengenal nama-nama pengarang, mulai dari Asma Nadia, Andrea Hirata, Raditya Dika, dan tentu saja  tak tertinggal Enid Blyton yang sangat ia kagumi. Ia mulai memikirkan menjadi pengarang buku itu keren tapi ia tidak pernah memikirkan untuk menjadi seorang penulis. Menurutnya saat ini cita-cita itu tidak pasti suatu saat akan berubah-ubah jadi ia berfikir bahwa ia hanya tinggal menjalani kehidupannya saja. Dengan sesekali memimpikan apa yang dia suka. 

Dan ketika ia mulai menyukai kpop seperti anak remaja pada umumnya. Dan menonton salah satu drama korea. Akhirnya ia menginginkan untuk tinggal di Korea dan akhirnya tertulis di buku kenang-kenagan tahunannya. 

Kembali melanjutkan sekolah menengah atas atau SMA  ketika pengenalan sikacang mulai ditanya oleh kakak pembinanya "eh kamu yang mirip kacang apa cita-citanya?" “Jadi author komik kak" begitulah jawabnya dan sering berubah-ubah sesuai apa yang sedang ia sukai. Kemudian saat nya menulis cita-cita yang ada di buku kenang-kengan SMA ia mulai bingung kali ini apa yang ingin dia tulis. Teman sebelahnya melihatnya "udah tulis aja pingin jadi pemulung elit kek, nih kaya punya aku." Sikacang mulai memikirkan kembali kali ini ia harus memikirkan kembali matang-matang soal cita-citanya yang sering disebut sebagai tujuan hidup kita kelak. Temannya tampak ada yang serius dan ada juga yang asal menjawab. Tidak seperti biasanya. Kali ini ia merasa tidak bisa bermain-main lagi. Ia juga tidak ingin dibuku kenang kengannya tertulis hal-hal yang aneh. Apa yang akan dipikirkan orang tuanya dan anaknya kelak ketika membaca history ibunya. Ia ingat ketika emak melihat cita-cita nya yang ia tulis waktu SMP. Sikacang mendapat omelan dan nasehat besar dari emak soal cita-cita yang ia tulis. Dengan kemampuannya dan prestasinya saat ini baginya mustahil untuk bermimpi tinggi. Sikacang mulai mendiskusikannya dengan emak agar tidak kena omel lagi. "Bukankah dulu kamu ingin menjadi seorang guru?" Tanya emak. Sikacang mulai memikirkan kembali dengan nilai yang ada sekarang dan situasi yang sudah ia lalui  sikacang mulai tidak bergairah untuk menjadi guru. Tetapi karna emak menanyakannya, mungkin emak menginginkannya untuk menjadi seorang guru. Yah apa salahnya mencoba untuk sekarang ini. Ia pun menuliskan cita-citanya untuk menjadi seorang guru.

Namun ketika melanjutkan ke Universitas pilihannya, ia justru masuk ke jurusan Ekonomi Syariah, sikacang semakin merasa tak menentu. Sejujurnya ia merasa iri dengan orang-orang yang memiliki cita-cita dan tujuan karier yang jelas. Namun apalah daya ia tidak bisa mengontrol tindakan dan pemikirannya. Seperti lirik lagu Que Sera-Sera, apapun yang akan terjadi terjadilah, masa depan bukanlah hal yang bisa untuk kita lihat. Untuk saat ini cukup jalani semuanya dengan baik, sebaik yang ia bisa.

***

HALIMAH


Gadis yang lebih suka mantengin layar laptop dari pada buku pelajaran, kagak tau apa-apa kayak kertas polos dan kadang jadi sok polos, dan pengetahuan yang minim soal dunia luar yang hampir ribet seribet  pikirannya. Yang lebih suka duduk berjam-jam ngelamun sendirian dan marah tiba-tiba karena kalah debat dengan pikirannya sendiri.

0 comments:

Post a Comment